
Clark terkejut saat memasuki ruangan kerja Riani dan melihat ruangan itu dipenuhi dengan bunga.
"Waw, ini sungguh luar biasa. Siapa lelaki gila yang sudah mengirimkan bunga sebanyak ini?" tanya Clark sambil meneliti bunga itu satu persatu.
"Dari Jack?" ujar Clark saat membaca semua inisial J itu.
"Siapa lagi?"
Clark menggelengkan kepalanya. "Saudaraku itu memang sudah gila. Mungkin baru sekarang ia menyadari kalau dia tergila-gila padamu."
"Dia membuatku pusing, Clark. Dalam sehari ia bisa mengirim 3 sampai 4 bunga."
Clark terkekeh. "Dia sekarang jadi nekad dan kurang waras karena kau mengacuhkannya."
"Kalau tak mengingat Reo, aku sungguh tak mau pergi ke sana lagi."
Clark duduk di depan Riani. "Apakah kau masih menyimpan hati untuknya?"
"Prioritas ku sekarang adalah Reo. Jika aku sudah mendapatkan hak asuh sehingga Reo bisa tinggal denganku, maka aku bisa lega."
"Kau takut mengakui kalau kau masih menyimpan hati untuknya?"
Riani menatap Clark. "Aku bukannya masih menyimpan cinta untuknya. Hanya saja, aku tak berani lagi membuka hati untuk orang lain. Aku sudah dua kali menikah. Rasanya bagaimana gitu jika harus menikah lagi."
"Usiamu masih sangat muda, Ri. Belum juga umur 27 tahun."
Riani menggeleng.
"Jika Jack memang serius ingin balikan lagi, apakah kamu tak akan memberikan dia kesempatan kedua?"
"Aku tak tahu. Aku takut disakiti lagi oleh Jack karena keegoisan sikapnya. Aku sudah sangat nyaman dengan kehidupanku yang sekarang."
Clark hanya bisa mengangguk. "Satu jam lagi kita rapat ya?" Clark melangkah menuju ke pintu. Tapi ia berbalik lagi. "Ada salam dari Philip. Katanya ia kangen."
"Apa kabarnya?"
"Lagi menemani omanya di rumah sakit."
"Omanya sakit?"
"Omanya sock karena ia memutuskan cinta dengan Anastasya."
Riani hanya bisa tertawa. "Ia pria yang unik. Banyak anak lelaki yang tak begitu peduli dengan omanya. Tapi Philip sungguh luar biasa."
"Dia calon suami yang ideal."
"Untuk gadis lain. Bukan janda beranak dua kayak diriku."
"Siapa bilang? Kamu adalah janda muda yang banyak diincar oleh para bule."
__ADS_1
Riani tertawa mendengar pengakuan Clark. Dia tahu kalau Clark selalu berkata manis untuk menghibur dirinya.
**********
"Kita mau ke mana? Aku mau pulang, Jack." ujar Riani protes saat melihat kalau Jack justru mengarahkan mobilnya ke arah lain.
"Kau akan tahu. Tenanglah."
Riani terkejut saat melihat Jack sudah menjemputnya begitu ia pulang kantor. Jack bilang kalau ingin mengajak Riani ke suatu tempat atas keinginan Cassie.
Begitu mobil memasuki daerah perbukitan, Riani mulai tahu kemana Jack akan membawanya.
"Kenapa kita harus datang ke sini?" tanya Riani saat mobil Jack berhenti di parkiran yang ada.
"Tahun ini, salju akan turun sekitar jam setengah enam sore. Ayolah turun." Jack langsung membuka pintu mobil dan turun, lalu ia memutar dan membuka pintu mobil bagi Riani." Ayo turun, sayang."
Riani pun turun walaupun wajah nya terlihat sembut.
Angin mulai berhembus. Riani merapatkan Jaketnya. Beberapa pasangan terlihat mulai ada di sana.
"Jack, untuk apa kita di sini? Kita kan bukan pasangan lagi?"
Jack meraih kedua tangan Riani, menatap mata indah istrinya secara mendalam. "Aku ingin kau mendengarkan pengakuan hatiku yang terdalam."
"Jack, sudahlah, pengakuan mu tak akan membawa perubahan dalam hubungan kita."
Riani terkejut saat merasakan sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh wajahnya. Perempuan itu menengadah ke atas dan melihat kalau salju memang sudah turun.
Ia terpesona untuk yang kedua kalinya melihat salju pertama datang. Sampai akhirnya ia kembali menatap Jack dan melihat kalau pria itu sedang berdoa.
Riani terpana. Jack kelihatan sangat serius ketika berdoa. Sampai akhirnya pria itu membuka matanya dan langsung menatap Riani. "Aku berdoa semoga Tuhan menolong diriku agar menjadi lebih sabar dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Aku berdoa agar Tuhan mau membuka hatimu untuk mau lagi bersamaku. Agar Cassie, Arma dan juga Reo bisa tumbuh ditengah keluarga yang utuh."
Riani masih terus menatap Jack. Ia terlihat masih bingung untuk berkata apa. Jack tersenyum. Ia membersihkan butiran salju yang mulai memenuhi kepala Riani. "Riani, aku mencintaimu dan akan terus mencintaimu." ujar Jack lalu membawa Riani ke dalam pelukannya.
Jack memejamkan matanya, menikmati pelukan itu walaupun ia tahu bahwa Riani tak membalas pelukannya. Jack bersyukur karena mereka bisa menikmati momen berdua di saat ini, seperti juga di tahun yang lalu.
"Jack, ayo pulang !" Riani akhirnya bicara. Jack mengangguk lalu melepaskan pelukannya dan sambil memegang tangan Riani, keduanya kembali ke parkiran.
Sepanjang perjalanan, Riani hanya diam tak bicara. Pandangannya lurus ke depan. Sementara Jack menyetel lagu romantis dari tape mobilnya. Lagu yang mengingatkan Riani saat mereka berdansa di rumah desa. Ah, Riani rindu dengan rumah itu.
Saat Riani mencoba kembali dari alam lamunannya, ia baru sadar kalau mereka sedang memasuki jalan kecil menuju ke rumah desa.
"Jack, kenapa ke sini?" tanya Riani heran.
"Anak-anak sudah ada di sana. Kita akan weekend di sini. Kamu mau kan?"
Riani tak menyahut. Ia hanya memandang Jack dengan perasaan yang bingung. Ia tahu kalau Jack berusaha mendapatkan hatinya.
Saat mobil akhirnya berhenti di depan rumah, Jack segera turun dan membukakan pintu bagi Riani.
__ADS_1
Cassie yang membukakan pintunya pintu sementara Leo sedang menyiapkan makan malam di ruang makan.
Ada yang berbeda dengan ruang tamu. Di atas perapian, ada foto pernikahan mereka. Kemudian ada foto mereka berempat saat liburan ketika Arma datang ke Manchaster. Di di dinding yang lain, ada foto kehamilan Riani, sampai pada kelahiran Reo. Yang terbaru ada foto ulang tahun Reo dimana mereka juga berfoto bersama dengan senyum kebahagiaan.
"Eh, Cassie, di mana Reo?"
"Sedang tidur di kamar, mom. Reo tadi sedikit rewel. Mungkin mencari mommy. Tapi setelah diberikan susu oleh suster Hanna, ia tidur dengan sangat nyenyak." jawab Cassie lalu melingkarkan tangannya di lengan Riani. "Ayo kita makan!"
Riani mengangguk. Ia memang sangat lapar karena tadi siang hanya makan sedikit karena banyaknya pekerjaan di kantor.
Saat Riani melihat menu makanan di atas meja, ia terkejut melihat ada nasi putih, ada kerupuk, ada ayam goreng dan sambal terasi.
"Leo?" Riani menatap Leo.
"Tuan yang memerintahkan saya untuk pergi ke toko Asia. Kalau kerupuk dan terasi di pesan khusus dari Surabaya. Nona Dessy yang mengirimnya lewat Vigo."
Riani terkejut. "Hubungan mereka masih berlanjut?"
"Vigo bahkan mau ke Indonesia akhir tahun ini."
Riani tersenyum. Begitu sibuknya ia beberapa bulan ini sampai ia lupa untuk menanyakan kabar sahabatnya itu.
Akhirnya Riani makan malam dengan sungguh lahap. Ia merindukan semua makanan Indonesia.
**********
Malam sudah larut namun Riani tak bisa memejamkan matanya. Beberapa waktu yang lalu Leo dan Hanna sudah kembali ke kota.
Riani tak mungkin tidur di kamar Cassie yang tak terlalu besar. Akhirnya ia tidur bersama Reo dan Jack di kamar ini.
Perlahan Riani bangun dan turun dari tempat tidur. Ia merapatkan jaketnya dan berdiri di dekat jendela kaca. Menyingkirkan tirai jendela dan melihat halaman yang sudah mulai ditutupi salju.
"Apa yang kau pikirkan?" Jack secara tiba-tiba sudah datang dan memeluk Riani dari belakang.
Sesaat Riani terdiam. Sudah hampir satu tahun semenjak mereka bercerai, dan ia sudah lama tak merasakan kehangatan pelukan Jack.
"Aku merindukanmu, sayang." bisik Jack lalu mencium tengkuk Riani dengan sangat lembut membuat buku kuduk Riani langsung berdiri.
"Lepaskan, Jack!"
"Aku tak akan melepaskan mu."
*********
Apakah Riani akan luluh?
Sudah berbulan-bulan lho Jack mengejarnya. Perlu usaha yang lebih keras lagi kah?
Episode berikut, Philip akan datang ke rumah desa ya guys...
__ADS_1