
Cassie sudah kembali ke asrama. Riani merasa kehilangan karena selama ini Cassie sangat menghiburnya.
Namun semenjak Cassie sudah kembali ke asrama, Jack lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Ia akan ke perusahaan jika ada rapat penting. Asistennya yang selalu datang untuk membicarakan masalah pekerjaan.
Riani sudah merasa lebih baik. Rasa pusing di kepalanya sudah jarang ia rasakan. Ia bahkan pagi ini bangun dan membuat sarapan sendiri.
Para koki di dapur menjadi bingung melihat sang nyonya tak mau dibantu sama sekali. Jack pun melarang mereka untuk menganggu istrinya. Ia sendiri yang menemani Riani di dapur dan keduanya pun sarapan bersama.
"Honey.....!" panggil Jack. Riani yang sedang duduk di depan aquarium besar di ruang keluarga menoleh ke arah Jack.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jack melihat istrinya itu hanya diam saja. Ia mendekat lalu duduk di samping istrinya dan langsung melingkarkan tangannya di bahu Riani.
"Rumah ini sepi jika tak ada Cassie."
"3 bulan lagi Cassie akan tinggal bersama-sama dengan kita di sini." Kata Jack sambil mengusap pundak istrinya.
"Jack, ayo kita kembali ke rumah desa. Aku merasa tak nyaman selalu di layani. Aku tak terbiasa dengan kehidupan seperti ini."
"Honey, jarak rumah ini ke perusahaan ku hanya dekat. 10 menit juga sampai. Begitu juga ke sekolah Cassie. Perjalanan dari desa ke sini memakan waktu hampir 1 jam. Belum lagi kalau sedang macet. Aku ingin kamu mendapatkan istirahat terbaik di sini."
"Kan hasil pemeriksaan kemarin semuanya baik-baik saja. Aku juga sudah merasa sehat."
Jack menarik napas panjang. "Please......, kali ini saja dengarkan aku."
Riani menatap Jack. Wajahnya penuh permohonan. Namun kepala Jack yang menggeleng membuat wanita itu kembali harus menelan kekecewaan karena Jack memang tak akan mengijinkannya.
Jack meraih tangan Riani dan menggenggamnya erat. "Maafkan aku karena tak jujur padamu sejak awal. Aku mohon, berusahalah untuk menjadi istriku dengan keadaanku yang sekarang. Semua penduduk desa marah padaku karena membiarkan kamu bekerja. Tuan John dan istrinya pun enggan sebenarnya menerimamu namun aku yang memaksa mereka untuk menerima mu. Aku ingin menjadikan kau nyonya di rumah ini. Kau aturlah sesuka hatimu. Semua pelayan di sini akan tunduk padamu. Rumah ini sudah terlalu lama sepi karena sang nyonya rumah tak ada. Rumah ini memang rumah keluarga ibuku. Namun aku sudah merubahnya dengan hasil tanganku sendiri. Aku dengan bangga mempersembahkan ini padamu. Kita adalah suami istri. Bukankah apa yang menjadi milikku adalah juga milikmu?"
"Tapi Jack. Aku pasti tak akan bisa dengan kehidupan seperti ini. Apalagi jika harus menemanimu di acara-acara besar."
Jack membelai wajah Riani. "Aku yakin, dengan cintamu yang tulus untukku, kau pasti akan bisa menemaniku dengan semua aktivitas kehidupan ku. Kau wanita yang pantas untuk mendampingiku, sayang."
Riani tertunduk. Namun Jack memegang pipi Riani dan mendongakkan kepalanya agar menatap Jack. "Jangan tundukan kepalamu kepada orang lain. Apalagi kepada mereka yang pernah meremehkan mu. Kamu adalah istri Jack Almond. Bukan aku memintamu untuk bersikap sombong namun bersikaplah sebagai nyonya Almond yang sebenarnya."
Riani hanya menatap Jack dengan tatapan yang bingung. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap. Ia mencintai Jack. Namun Jack yang sederhana. Buka. Jack yang ada CEO dari 2 perusahaan ternama di Manchester dan seorang atlet yang masih aktif sampai sekarang ini.
***********
__ADS_1
Dokter melepaskan perban yang menutupi dahi Riani. Bekas operasinya telah dibuat tak terlihat oleh dokter ahli kulit ini.
"Sempurna. Kembali seperti semula.' kata dokter perempuan yang berusia sekitar 40an itu.
Riani akhirnya setuju untuk di operasi plastik, bagian dahinya yang dijahit saat operasi. Ia setuju dengan catatan hanya bekas operasinya saja yang dipoles tanpa mengubah bentuk apapun pada wajahnya.
Untuk operasi yang menurut Riani hanya kecil itu, Jack mengeluarkan anggaran yang jika dirupiahkan di atas 100 juta.
Tapi sepertinya uang sebanyak itu bukanlah masalah bagi Jack. Sepulang dari klinik kecantikan, Jack mengajak istrinya itu untuk pergi berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan khusus kaum berduit. Jack meminta beberapa gaun khusus untuk istrinya, sepatu dan tas dari merk ternama.
"Sabtu ini, perusahaan ku akan merayakan hari ulang tahun. Sekaligus aku ingin memperkenalkan mu secara resmi pada semua orang." ujar Jack dalam perjalanan pulang mereka.
"Tapi, Jack. Aku malu. Aku belum siap. Bagaimana jika aku membuatmu malu?"
Jack meraih tangan Riani dan mengecupnya lembut. "Apapun adanya dirimu, aku akan tetap mencintaimu."
Perkataan Jack membuat hati Riani bergetar namun kini ia dilanda ketakutan. Bagaimana nanti ia bisa tampil sebagai istri Jack Almond yang adalah seorang terkenal?
**********
Cassie yang mendapat ijin pulang menatap kagum ke arah ibu sambungnya yang sudah selesai didandani oleh penata rias ternama di kota itu.
"Mommy, kamu sangat cantik." puji Cassie sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Terima kasih sayang." Riani berdiri sambil menatap seluruh bagian tubuhnya di depan kaca. Ia bahkan tak mengenali dirinya sendiri.
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Jack yang baru masuk ke kamar. Jack sudah selesai berpakaian. Ia terlihat tampan dengan jas berwarna abu-abu dengan kemeja dalam yang sama warnanya dengan yang dipakai Riani.
"Aku siap."
Jack terpana melihat istrinya. "Waw..., kau sangat cantik, sayang."
Cassie senang melihat ayahnya menyukai dandanan Riani.
"Daddy, ada yang kurang." ujar Cassie mengingatkan.
"Oh iya, sebentar." Jack mengambil sesuatu dari dalam walk in closet. Begitu ia keluar, ditangannya ada sebuah dompet mewah bertahtakan permata. Riani ingat. Itu dompet yang ia dan Cassie lihat 2 Minggu yang lalu saat mereka sedang membuka aplikasi tentang barang-barang mewah di internet.
__ADS_1
Riani langsung menatap Cassie. "Sayang, ini kan dompet pesta yang kita lihat waktu itu?"
Cassie mengangguk. "Ya. Aku meminta daddy untuk membelikannya untuk mommy. Kebetulan dompet itu dibuat dari toko tas brandit sahabat daddy di London. Maka tak sukar untuk menemukannya."
Riani merasa terharu dengan semua perhatian Cassie untuknya. "Terima kasih, sayang."
Cassie memeluk Riani dengan perasaan sayang. "Selamat bersenang-senang, mommy."
Jack langsung melingkarkan tangannya di pinggang Riani dan keduanya pun meninggalkan kamar.
Mobil Mercedes Benz C-Clasic berwarna hitam sudah menunggu mereka di sana.
Seorang sopir segera membuka pintu jok belakang lalu mempersilahkan Riani dan Jack untuk masuk.
Ini jenis mobil lain milik Jack yang baru pertama Riani lihat.
Waktu kemarin ia jalan-jalan keliling rumah, ia melihat di garasi ada 6 mobil yang terparkir. Salah satunya adalah mobil pickup yang biasa Jack gunakan.
"Ini mobil baru ya?" tanya Riani.
"Iya. Ini mobil baru. Aku beli atas namamu..Aku lupa mengatakannya padamu. Ini akan menjadi mobil yang akan kau gunakan setiap kali beraktifitas. Ada sopir perempuan yang akan siapkan untukmu. Namun jika kau mau, aku akan mengajarimu menyetir."
Riani hanya tersenyum memdengarkan perkataan suaminya. Sesungguhnya perempuan itu sedang gelisah karena harus bertemu dengan orang banyak di saat ia tahu siapa Jack yang sebenarnya.
Ketika mobil akhirnya sampai di depan lobby hotel yang menjadi tempat perayaan acara HUT perusahaan, jantung Riani semakin kuat berdetak.
Sang sopir turun lalu membukakan pintu untuk Jack dan Riani.
Jack turun lebih dulu. Lalu ia mengulurkan tangannya pada Riani, istrinya itu pun perlahan turun.
Semua orang yang ada di sana langsung menatap ke arah Jack dan Riani. Mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Siapa perempuan yang bersama Jack?
**********
Selamat malam
maaf ya terlambat up
__ADS_1