Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Sakit


__ADS_3

Semahal-mahalnya kata maaf


Ada yang lebih mahal


Yaitu kepercayaan


kamu mungkin dimaafkan


tapi kamu mungkin tak akan mendapatkan kepercayaan lagi


By :Rifandy


************


Pagi ini, Jack tak pergi main golf seperti biasa. Kepalanya sakit dan ia merasa sedikit demam.


Ini hari sabtu. Riani pasti datang lebih pagi dan akan seharian bermain bersama Reo. Apalagi sekarang Cassie sudah berada di rumah mereka pasti akan menghabiskan waktu bersama.


Sudah 3 bulan mereka bercerai. Dan Jack baru 1 kali bertemu dengan Riani. Saat Riani memberitahukan tentang pengembalian uang itu.


Sejujurnya Jack tak suka dengan perubahan rambut Riani. Jack sangat menyukai rambut panjang Riani yang terlihat seksi saat mereka bercinta. Walaupun harus jujur Jack akui kalau rambut pendek seperti itu Riani terlihat jauh lebih muda. Bahkan kalau dia mengenakan baju sekolah pun, Riani akan nampak seperti anak sekolahan.


Jack merapatkan selimut ke tubuhnya. Ia merasakan sedikit menggigil. Ia bahkan sudah menaikan suhu ruangan di kamarnya namun tetap saja ia merasa dingin.


Tak lama kemudian Riani datang. Ia langsung memandikan Reo dan menyiapkan makanan untuk anaknya itu. Cassie pun membantu Riani. Ia sangat suka menjaga adiknya jika Riani ada.


"Nona, ini sudah hampir jam 10 dan tuan belum juga bangun. Ini bukan seperti kebiasaan tuan. Biasanya kan sabtu pagi tuan akan pergi main golf." ujar Leo.


Riani yang baru saja meletakan Reo di tempat tidurnya karena anaknya itu sudah tertidur menatap Leo yang berdiri di depan pintu. Kamar Jack hanya bersebelahan dengan kamar Reo. Memang ada pintu penghubung antara dua kamar itu. Namun semenjak Jack dan Riani bercerai, pintu itu tak pernah lagi di buka.


"Mungkin daddy capek. Kan selalu pulang hampir jam 10 malam.


Berangkatnya pagi-pagi." ujar Cassie.


"Coba di cek."


Cassie pun keluar kamar dan menuju ke kamar papanya. Ia mengetuk pintu. Setelah tak ada jawaban, ia memutuskan untuk membukanya. Ia melihat papanya sedang tidur menghadap tembok.


Perlahan ia mendekat.


"Daddy......!" Cassie memegang bahu papanya. Ia terkejut saat merasakan kalau tubuh papanya sangat panas.


"Daddy....!" Cassie memutar ke sisi yang lain untuk melihat wajah papanya. Ia meraba dahi Jack. "Dad, kamu sakit?"


Jack membuka matanya perlahan. Namun ia menutupnya lagi saat dirasakannya kalau kepalanya pusing.


"Iya." jawab Jack lemah.


Cassie langsung berlari keluar kamar. "Daddy sakit. Badannya panas sekali."

__ADS_1


"Saya akan telepon dokter." ujar Leo lalu segera turun ke lantai satu.


"Apakah panas sekali?" tanya Riani.


"Iya, mom. Wajah daddy terlihat merah."


"Ambilkan air hangat dan handuk kecil. Daddy harus diberi komoresan air sambil menunggu dokter datang."


"Baik."


Cassie pun menelepon orang dapur dan meminta mereka membawakan yang Riani perintahkan.


"Ini nona..." ujar Lessy.


Cassie memegang baskom kecil berisi air itu. "Mommy, aku tak tahu cara mengompresnya. Mommy saja."


"Tapi Cassie...."


"Nggak, mom. Ini kan demi kemanusiaan."


Agak ragu Cassie mengambil baskom dan handuk itu. "Tapi Cassie ikut mommy ke kamar ya?"


Cassie mengangguk.


Saat memasuki kamar itu, hati Riani bergetar. Bagaimana pun kamar ini punya banyak kenangan bersama Jack. Namun Riani menepis semua perasaannya itu. Ia sekarang hanya akan mengobati Jack. Tidak lebih.


Jack membuka matanya saat mendengar suara Riani. Namun karena tubuhnya sakit, ia tak memberikan respon apapun.


Riani pun mengompres dahi Jack. Ia juga meminta Cassie mengambilkan minya Zaitun dan ia memberikan pijatan di kepala Jack.


Cassie tersenyum. Diam-diam ia meninggalkan kamar itu dan segera ke kamar adiknya lewat pintu penghubung yang ada.


Jack merasakan kepalanya yang tadi sangat sakit, kini mulai terasa ringan. Dia tahu kalau Riani sangat pintar memijat. Jack ingat, ketika ia capek bekerja, Riani akan selalu memijatnya bahkan sampai Jack tertidur.


Tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa Jack. Riani langsung meninggalkan kamar Jack dan kembali ke kamar Reo.


***********


Sore hari.......


Reo kembali tertidur setelah lelah bermain dengan Riani. Usianya yang sudah memasuki 10 bulan membuat baby Reo tak betah digendong. Ia lebih suka belajar merangkak ataupun mulai belajar berjalan dituntun oleh Riani.


Setelah baby Reo tertidur, Riani bermaksud juga akan tidur sebentar di kamarnya anaknya itu. Namun, baru saja ia membaringkan tubuhnya, ia mendengar suara gelas yang jatuh dari kamar Jack. Riani tahu kalau kamar itu kedap suara, bagaimana mungkin terdengar suara dari sana. Sampai akhirnya Riani melihat kalau pintu penghubung itu terbuka. Ia pun bergegas akan menutupnya saat ia mendengar lagi suara Jack yang merintih. Mau tak mau, Riani pun masuk ke sana.


Dilihatnya gelas yang pecah di lantai dan Jack yang berusaha untuk bangun.


"Sebentar ...!" kata Riani lalu segera memungut pecahan gelas yang jatuh itu.


"Panggilkan Leo." ujar Jack.

__ADS_1


"Leo sedang pergi dengan Cassie ke toko. Ada teman Cassie yang ulang tahun dan ia ingin membeli hadiah. Pelayan yang lain sedang libur. Yang tersisa hanya James dan dua orang bodyguard."


"Aow....!" Tangan Riani terluka.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Jack.


"Hanya luka goresan kecil." kata Riani. Ia mengambil tissue dan membersihkan darahnya.


Jack bangun dibantu oleh Riani. Tubuh mereka yang sangat dekat membuat keduanya menjadi salah tingkah.


"A...aku mau buang air kecil dan juga mau minum." ujar Jack.


Riani mengambil gelas yang lain dan menuangkan air putih di atasnya. Ia kemudian memberikannya pada Jack dan pria itu meminumnya sampai habis.


"Mau lagi?" tanya Riani.


"Tidak!" Jack menggeleng. Ia berusaha berdiri namun tubuhnya masih terlalu lemah.


"Ayo aku bantu ke kamar mandi." kata Riani. Ia tak tega melihat Jack. Semarang apapun ia pada pria yang sudah menyakiti hatinya itu, ia tetap adalah perempuan yang masih memiliki belas kasihan.


"Aku bisa sendiri." Jack berusaha bangun lagi namun tubuhnya memang belum kuat.


Riani dengan cepat mengambil satu tangan Jack dan meletakkannya di atas bahunya. Ia juga memeluk pinggang Jack. "Ayo....!"


Jack pun melangkah perlahan di tuntun oleh Riani. Lelaki yang biasa terlihat kekar itu, kini menjadi sangat lemah.


"Aku tunggu di luar." kata Riani. Ia melepaskan tangan Jack yang ada di bahunya namun hal itu justru membuat Jack hampir jatuh.


"Bagaimana kamu bisa buang air kecil ya?" tanya Riani. Ia tak bisa melepaskan Jack. Haruskah ia melakukannya?


Riani menatap Jack yang nampak juga gelisah. "Maaf Jack." ujar Riani lalu membuka kancing celana Jack, menurunkan baju dalamnya dan setelah menelan salivanya yang terasa pahit, Riani mengeluarkan junior Jack sehingga pria itu bisa buang air kecil.


Keadaan yang sebenarnya sangat mencekam bagi mereka berdua. Jack malu saat Riani menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ia juga tak tahan untuk buang air kecil. Sementara tenaganya begitu lemah.


Saat semuanya selesai, dan Riani kembali membaringkan Jack di atas ranjangnya, Riani bergegas ke kamar Reo, setelah sebelumnya ia mencuci tangan di wastafel. Jantung perempuan itu berdetak sangat kencang.


Sedangkan Jack pun hanya merutuki dirinya sendiri yang tak memiliki kekuatan apa-apa sehingga membuat Riani harus menyentuh juniornya. Ah, ini gila ..! Jack menepuk kepalanya sendiri sedangkan Riani hanya bisa duduk sambil menyentuh dadanya yang masih berdetak sangat cepat.


Aku membencinya. Aku melakukan semua ini atas dasar kemanusiaan. Aku tak mau seperti ini. Jack dan aku sudah bercerai.


Perempuan itu memutuskan untuk memanggil James dan memberikan makanan untuk Jack.


**********


selamat siang....


Bagaimana menurut kalian kejadian di kamar mandi itu 🤣🤣


Emak tunggu komentar terbanyak kalian ya

__ADS_1


__ADS_2