Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Like Father like Daughter


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Jack melalui panggilan telepon.


"Nona Cassie sudah berada di mansion. Aku menempatkan 4 bodyguard untuk berjaga di gerbang."


"Apakah dia memberontak?"


"Di rumah keluarga Smith, nona Cassie nggak memberontak walaupun awalnya dia menolak untuk pergi. Namun saat tiba di mansion, dia kembali memberontak. Semua barang yang ada di ruang tamu dirusaknya. Dan tak ada yang berani menghentikannya."


"Cassie kayaknya ikut sifatku, ya?"


"Lho, buah kan memang jatuh tak jauh dari pohonnya."


"Diam, Sam!"


"Lalu, apa lagi yang harus aku kerjakan?"


"Bereskan ruang tamu. Ganti semua perabotan yang Cassie rusak. Usahakan cari yang sama. Aku tak ingin Riani sampai tahu dengan semua kekacauan yang dibuat oleh Cassie. Aku juga masih ingin di sini bersama Riani. Nanti besok aku ke mansion."


"Ok."


Jack menarik napas lega. Bersyukur karena anaknya sudah kembali ke rumah. Sungguh, ia tak akan pernah tenang jika Cassie masih bersama keluarga Smith.


"Tuan, makan malam semuanya sudah saya siapkan. Sarapan untuk besok pagi pun sudah siap dan saya simpan di kulkas." lapor Leo.


"Ya sudah. Kalian semua kembali ke mansion. Biarkan aku bersama dengan istriku. Jangan lupa perhatikan kebutuhan Cassie di sana ya?"


"Baik tuan!" Leo pun pamit undur diri.


Tak lama setelah para pelayan pulang, Riani pun bangun. Ia tersenyum melihat suaminya sedang duduk sambil menonton Acara TV.


"Sayang..., ayo duduk di sini!" ajak Jack.


Riani pun duduk di samping suaminya. "Sepi?"


"Semua pelayan sudah ku suruh ke mansion, supaya kita berdua saja. Aku tak mau kemesraan kita diganggu oleh kehadiran Leo. Kamu kan tahu Leo seorang jomblo. Nanti dia iri melihat kita."


Riani tersenyum mendengar perkataan suaminya. Jack memang selalu tak terduga. Di satu sisi dia terkadang sangat keras kepala dan sering membuat Riani jengkel. Namun di sisi lain, ia begitu lembut dan selalu membuat Riani merasa begitu tersanjung sebagai seorang wanita.


Jack memeluk bahu Riani dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.


"Sayang, jika anak kita lahir nanti, dan dia seorang laki-laki, kamu ingin menamakan dia apa?"


"Apa ya? Aku serahkan kepada kamu saja ya?"


"Baiklah." Jack mengusap perut Riani. "Apakah dia sudah mulai bergerak."


"Aku kadang merasakan ada gerakan-gerakan kecil di perutku. Namun jika dia sudah 6 bulan, akan jelas terlihat. Saat aku hamil Arma, aku mengalami kehamilan yang sulit. Aku harus kuliah, menahan cemoohan orang karena tak ada suami di sisi, juga rasa sakit hati karena Daniel menikah. Namun hamil kali ini, aku justru merasakan perhatian yang sangat luar biasa darimu. Bahkan sangat berlebihan. Aku terlalu dimanjakan."


Jack meraih tangan Riani dan menautkan jari-jari mereka. "Aku ingin kau melupakan semua masa lalumu yang menyakitkan itu. Maaf kalau caraku mencintaimu kadang tak seperti yang kau inginkan. Entahlah, aku sudah banyak bergaul dengan wanita namun hanya denganmu aku selalu merasa cemburu yang berlebihan. Apalagi jika ada nama Daniel di sana. Dadaku langsung panas dan ingin rasanya aku menghancurkan apa saja yang ada di depanku."


Riani mencium punggung tangan Jack. "Sayang, aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu."


Keduanya saling berpandangan mesra dan entah siapa yang memulainya, mereka sudah berciuman mesra. Saling berbagi perasaan cinta melalui ciuman hangat yang pada akhirnya mulai membakar raga, membangkitkan percikan api gairah.

__ADS_1


"Jack...!" Riani menyudahi ciuman mereka saat dirasakan tangan Jack yang mulai liar membelai pahanya.


"Ada apa?" tanya Jack nampak tak rela Riani mengahiri ciuman mereka. Ia bermaksud akan mencium Riani lagi namun istrinya itu menghindar.


"Aku lapar."


Jack terkekeh. "Baiklah, kita makan dulu." Jack lebih dulu turun dari sofa lalu ia menunduk dan mengangkat tubuh istrinya itu. Riani langsung tertawa. "Sayang, aku bisa jalan sendiri."


"Aku lebih suka membawa istri dan anakku sekaligus."


Keduanya pun makan malam bersama. Jack menyuapi Riani dengan penuh kasih.


"Sayang, ada kabar dari Cassie?" tanya Riani saat keduanya sudah selesai makan malam dan kembali duduk di ruang tamu.


"Cassie sudah berada di mansion."


"Apa? Dia pulang sendiri?"


"Tidak. Aku meminta Sam untuk menjemputnya."


"Jack.....! Kamu tu keras kepala banget ya? Kenapa sih tak biarkan Cassie sehari saja bersama mereka?"


"Jangan bahas itu lagi."


"Kalau begitu ayo kita pulang ke mansion malam ini. Kasihan Cassie sendiri di sana."


"Ini sudah larut sayang."


"Tapi....."


Riani hanya bisa menggelengkan kepalanya.


**********


"Mommy......!" Cassie langsung berlari dan memeluk Riani saat melihat mereka datang. Tak lupa ia mencium perut ibu sambungnya itu.


"Sayang.....!" Jack akan memeluk Cassie namun gadis itu langsung membalikan badannya dan pergi. Jack sungguh terkejut atas sikap anaknya.


"Cassie....!" panggil Jack sambil menyusul langkah Cassie.


Cassie terus melangkah sambil menaiki tangga.


Riani ingin menyusul ke atas namun ia merasakan kalau perutnya kembali kram. Ia pun duduk di ruang tamu sambil memperhatikan kalau ada yang berubah dengan penataan ruangan ini.


"Cassie....!" panggil Jack segera masuk ke kamar anaknya sebelum Cassie membanting pintu.


"Tinggalkan aku sendiri!" Ujar Cassie lalu naik ke atas tempat tidur dan menutup kepalanya dengan selimut.


"Daddy tidak akan meninggalkan kamu sendiri sebelum kita bicara." Jack duduk di tepi tempat tidur. "Buka selimutnya, Cassie."


"Tidak.....!"


"Cassie.....!"


Dengan kesal Cassie membuka selimut yang menutupi seluruh badannya itu. Namun ia tak mau menatap papanya.

__ADS_1


"Mengapa kau pergi dari rumah tanpa pamit?" tanya Jack.


"Memangnya kalau pamit, Daddy akan mengijinkan? Tidak kan?"


"Tatap daddy kalau bicara."


Cassie hanya menatap sekilas ke arah papanya lalu ia kembali menengok ke arah lain.


"Cassie, dengarkan cerita daddy, mengapa sampai daddy tak pernah menceritakan keluarga mommy Camila padamu."


Jack pun mulai menceritakan segalanya. Termasuk Cecilia yang awalnya adalah tunangan Jack.


"Daddy yakin, jika mereka tahu kalau kamu masih hidup, tentu mereka akan merebut mu dari tangan daddy. Saat itu daddy belum jadi siapa-siapa. Keluarga Smith adalah keluarga yang kuat. Mereka dengan mudahnya dapat merebut mu dari tangan daddy. Itu yang Daddy tak mau. Daddy akan menceritakannya saat kamu berusia 17 tahun."


Cassie menghapus air matanya dengan kasar. "Tetap saja daddy salah. Bertahun-tahun aku selalu merasa kesepian karena berpikir tak punya keluarga lain selain daddy. Aku selalu iri melihat teman-teman ku selalu menceritakan tentang liburan keluarga bersama opa dan Oma mereka. Selama ini juga opa dan Oma Smith selalu menangis karena kehilangan mommy Camila. Mereka hidup dalam kesedihan yang panjang. Coba seandainya mereka tahu aku masih hidup, bukankah itu suatu penghiburan bagi mereka? Daddy egois! Hanya memikirkan perasaan Daddy sendiri."


"Bukan seperti itu, Cassie!"


"Sekalipun daddy melarangnya, aku akan terus mencari jalan agar bisa ketemu dengan opa, Oma dan bibiku."


"Cassie!" Jack berusaha menahan emosinya.


Cassie membaringkan tubuhnya. "Aku mengantuk, dad. Semalam aku tak tidur karena merasa sedih harus meninggalkan oma dan opaku. Aku mau tidur."


Jack mengangguk. Ia menunduk dan bermaksud mencium dahi anaknya, tapi Cassie justru berpaling. Ia tak dicium oleh papanya.


Dengan langkah gontai, Jack menuruni tangga. Di lihatnya Riani sedang Videocall.


"Ok Dessi, salam untuk mereka semua di kantor ya? Ku nanti kedatanganmu!" ujar Riani lalu menutup percakapan diantara mereka.


"Dessi?" tanya Jack.


"Iya. Dia akan datang bersama dengan ayah, ibu dan Arma. Visa mereka semuanya sudah keluar. Aku tak sabar menunggu mereka semua."


Jack merasa senang melihat Riani begitu bersemangat.


"Sayang, uang Dessi kan tak cukup untuk membeli tiket pesawat pergi dan pulang. Jadi, aku yang akan menanggung tiket pulangnya nanti. Bolehkan?"


Jack membelai wajah istrinya. "Uangku, uangmu juga. Kau dapat menggunakan sebanyak yang kau mau, sayang. Kalau perlu tanggung semua biaya perjalanan Dessi. Aku tahu kalau dia adalah sahabat baikmu."


"Benarkah?"


"Orang sekampung mu akan datang pun, kita bisa membiayainya."


(Ada yang mau mendaftar? Di tanggung oleh Jack lho😘😘😍😍).


Riani langsung memeluk Jack dengan luapan kebahagiaan. Mungkin inilah untungnya menjadi istri orang kaya ya? Mau apa tinggal bilang saja.


Begitu bahagianya Riani sampai ia lupa bertanya tentang hasil percakapan Jack dan Cassie.


*********


Bagaimana kisah ini berlanjut


tunggu episode berikut ya guys

__ADS_1


love A M A N D A


__ADS_2