
Wajah Jack berubah kesal saat melihat siapa yang berdiri depan mereka.
"Jack, sungguh mengejutkan melihat kamu akhirnya datang ke sini di hari pertama salju turun. Seperti kenangan kita dulu." ujar Cecilia sambil melirik ke arah Riani. Perempuan yang di matanya hanyalah gadis biasa saja.
Jack tak menanggapi ucapan Cecilia. Ia hanya menatap Cecilia dengan pandangan dingin. "Masa lalu jangan diingat. Yuk sayang...!" Jack melingkarkan tangannya di pinggang Riani dan bermaksud akan mengajak Riani pergi namun istrinya itu memilih untuk tak bergerak.
"Sayang....?" Jack menatap Riani tak mengerti.
Riani melepaskan tangan Jack yang ada di pinggangnya. Lalu ia menatap Cecilia sambil tersenyum sangat manis. "Kamu mungkin pernah memiliki kenangan masa lalu bersama Jack. Kamu belum move on ya? Sayangnya Jack sudah move on. Kenangannya bersama mu sudah tak ada lagi. Sudah mati. Tak berbekas. Karena suamiku kini hanya akan mengukir kenangan bersamaku." Riani meraih tangan Jack. "Yuk, sayang. Kita pergi."
Cecilia terkejut mendengar Riani, si perempuan kampungan itu mampu berkata-kata seperti itu.
Jack tersenyum. Ada rasa puas di wajahnya saat melihat Cecilia yang terkejut mendapatkan perlawanan dari Riani.
Cecilia berdecak kesal. Ia bahkan mengepalkan tangannya. Hatinya sakit melihat pria yang dulu memujanya, kini menatapnya dengan dingin. Secepat itukah Jack berubah?
"Cecilia, terimalah kenyataan bahwa Jack tak menginginkan kamu lagi." ujar Clark saat melihat pasangan itu pergi.
"Tidak! Dia hanya ingin menyakitiku dengan menikahi perempuan itu. Kalau memang dia mencintainya, mengapa pernikahannya tak dipublikasikan? Mengapa harus tinggal di sana dan bukan di Manchester atau di London?"
Clark tersenyum melihat model cantik itu yang kini hampir menangis.
"Kau tahu rumah itu sangat berarti bagi Jack. Jadi wajarlah jika dia membawa seseorang yang sangat berarti di sana. Pernikahannya dirayakan saat ulang tahunnya beberapa hari yang lalu. Sayangnya, kita berdua tak masuk dalam daftar orang-orang yang diundangnya." Clark tertawa sinis.
"Jack masih mencintaiku. Dia tak mungkin melupakan aku. Lihat saja, dia mencari seseorang yang agak mirip dengan ku."
"Riani tak mirip denganmu. Usia kalian saja berbeda. Gadis itu cantik alami tanpa make up. Kalau dia berdandan, pasti ia akan mengungguli mu."
"Brengsek kau Clark!" Cecilia meninju lengan Clark dan langsung pergi meninggalkan pria itu. Clark pun tertawa semakin keras. Ia kemudian mencari pasangan itu.
Di tempat lain, nampak Jack berdiri di sebuah gazebo yang memang tersedia di areal perbukitan itu.
Riani membiarkan Jack dengan lamunannya. Kemudian ia berdiri dan memeluk Jack dari belakang. "Sayang, aku tak akan mengusik masa lalumu. Seperti yang pernah kau bilang, masa lalu biarkanlah berlalu. Jadi sekarang, hilangkan rasa kesalmu karena bertemu dengan perempuan dari masa lalumu itu ya? Kita kan sedang menikmati suasana romantis di tempat ini."
__ADS_1
Jack membalikan badannya lalu menggenggam tangan istrinya. "Maafkan aku, sayang. Seharusnya kita tak datang ke tempat ini."
"Aku suka tempat ini, sayang."
Jack menunduk dan mencium dahi istrinya. Ia kemudian memeluk Riani sambil mengusap punggung istrinya itu. "Ayo kita ambil beberapa foto dan kirim pada Arma. Sebentar lagi akan gelap. Ada banyak lampu yang akan dinyalakan di sini."
"Ok." Riani mengeluarkan ponselnya. Ia senang melihat Jack kembali tersenyum.
Mereka pun mengambil beberapa gambar Selfie bersama.
"Mari aku bantu!" Clark tiba-tiba saja muncul dan langsung mengambil hp Riani dari tangan Jack.
"Kamu!" Jack mulai emosi. Ia merasa Clark dengan sengaja menganggu mereka.
"Kau tahu kalau aku fotografer handal, Jack. Aku bisa mengambil beberapa foto dengan latar yang indah. Oh ya, soal Cecilia tadi, aku tak sengaja bertemu dengannya di tempat parkir. Kau kan tahu, tiap tahun aku pasti ke sini untuk berdoa. Dan setiap tahun, aku juga selalu bertemu Cecilia di sini. Hanya kau saja yang sudah lama tak pernah ke sini." Clark berdiri agak menjauh lalu mulai membidik pasangan itu. "Ayo Jack tersenyum manis. Masa kan mukanya asam begitu."
Jack akan bicara namun Riani langsung memeluk Jack. "Ayo sayang, kita buat pose yang manis agar terlihat baik hasil fotonya."
Jack pun tersenyum. Menahan rasa kesal dalam hati karena harus mengikuti instruksi Clark dalam mengarahkan gaya mereka. Ia tak mau Riani sampai curiga kalau ia dan Clark memiliki dendam masa lalu.
"Kapan saja kamu mau, kita bisa memasaknya lagi." Riani memilih menjawab dengan bahasa Inggris karena tak mau membuat suaminya itu cemburu. Walaupun sebenarnya ia sangat rindu untuk berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Baiklah. Aku akan menelpon mu jika aku sudah punya waktu." Ujar Clark masih dalam bahasa Indonesia.
"Jack, sampai ketemu lagi ya?" Clark menepuk bahu Jack lalu mengedipkan sebelah matanya pada Riani sebelum akhirnya meninggalkan pasangan itu.
"Sayang, kamu dan Clark kan bersahabat, kenapa juga kamu terlihat kesal padanya. Apakah karena ia tadi datang bersama Cecilia?"
"Kau tahu namanya Cecilia?" tanya Jack kaget.
"Temanku pernah bilang kalau wajahku mirip Cecilia Smith. Model terkenal asal Inggris. Di situlah aku tahu tentang Cecilia. Waktu itu aku tak percaya. Namun saat tadi melihatnya, aku sedikit percaya kalau kami agak mirip." Riani menatap Jack. "Aku juga yakin, bukan karena kesamaan fisik kami yang membuat kamu menikahi aku kan?"
Jack merasakan kalau dadanya bagaikan tertusuk duri yang tajam dan banyak saat mendengar perkataan Riani. "Tentu saja tidak, sayang." ujar Jack lalu segera memeluk Riani. "Bagiku, kau sama sekali tak mirip dengannya."
__ADS_1
Riani tersenyum lalu membalas pelukan Jack. "Aku percaya." ujarnya sambil memejamkan matanya. Berusaha menghilangkan semua kecurigaan dalam hatinya. Riani tak boleh meragukan cinta Jack untuknya.
**********
Keesokan paginya, Riani terbangun dalam dekapan Jack. Sepulang dari daerah perbukitan itu, mereka mampir di sebuah restoran pinggir jalan. Riani berusaha menikmati makan malam yang memang masih agak asing di lidahnya namun ia berusaha menikmatinya. Mereka juga minum anggur yang ada kadar alkoholnya. Kata Jack itu untuk membuat tubuh Riani menjadi agak panas. Dan memang ia merasa hangat sampai akhirnya ketika tiba di rumah pun, keduanya sama-sama sudah terbakar gairah dan menghabiskan malam dengan bergumul di atas ranjang mereka.
Sentuhan Jack semalaman dirasakan Riani agak lain dari biasanya. Jack begitu memuja tubuhnya dan menunjukan rasa kepemilikan nya pada Riani dengan gaya bercinta yang berbeda dari biasanya. Entah berapa kali Riani mencapai puncaknya sehingga tenaganya sampai terkuras.
Perlahan Riani turun dari ranjang sambil mengangkat tangan Jack yang memeluknya. Ia mengenakan pakaiannya kembali lalu segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi mereka. Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
Hari ini Weekend sehingga Riani tak masuk kerja. Kemarin ia juga sudah membuat stok kue coklat sebanyak 20 bola agar bisa dijual di hari ini. Anak tuan John akan pulang setiap hari Sabtu dan dialah yang membantu orang tuanya di toko.
Saat Riani melihat dari kaca jendela, ia tersenyum melihat halaman rumah yang mulai dipenuhi salju. Riani tak tahan untuk keluar dan menyentuh salju itu. Tapi tak sampai 5 menit, perempuan itu masuk lagi karena udara yang sangat dingin.
Saat ia masuk ke dapur lagi, ia mendengar ada bunyi klakson mobil. Ia pun berjalan menyeberangi ruang tengah lalu melihat seorang pria turun dari sebuah mobil dan berjalan ke arah pintu rumah. Sebelum orang itu mengetuk pintu, Riani langsung membukanya.
Pria itu berusia sekitar 50 tahun. Ia menatap Riani dengan bingung. "Maaf, apakah ini masih rumah tuan Jack Almond?"
"Ya. Anda siapa ya?"
"Saya Felix Anderson. Pengacara ayahnya tuan Jack."
"Saya Riani Almond. Istri Jack Almond."
Pria itu menatap Riani dengan rasa terkejut yang tak bisa ia sembunyikan. "Tuan Jack sudah menikah lagi?"
"Sayang, siapa itu?" Jack muncul di belakang Riani. Saat melihat Felix, Jack langsung menunjukan rasa tak sukanya.
"Maaf menganggu anda tuan, Jack. Namun saya ke sini untuk memberitahukan bahwa tuan Ray mendapatkan serangan jantung dan keadaannya kritis. Dia meminta saya untuk menghubungimu dan berharap agar kau dapat datang ke rumah sakit untuk menemuinya."
"Katakan padanya, aku tak akan datang!" Jack menarik tubuh Riani agar berdiri di belakangnya lalu ia menutup pintu.
**********
__ADS_1
Selamat pagi
jangan lupa dukung emak terus ya guys..