
Tak ada satu pun para pelayan yang ada di rumah itu yang berani mengangkat kepala mereka. Semuanya tertunduk dan tak berani menatap wajah sang majikan yang sedang menyala menahan amarah.
Jack Almond pulang dua hari lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan. Dan itu karena sang istri sedang tak berada di tempat yang semestinya.
"Jadi kalian berani bersekongkol untuk menutupi kepergian istriku? Aku pecat kalian semua!" teriak Jack sambil berkacak pinggang.
"Daddy.....!"
Jack menoleh dengan kaget. Cassie sudah berdiri di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu seharusnya ada di asrama?" tanya Jack kaget.
"Mulai minggu ini, aku sudah diijinkan ada di rumah. Apa daddy lupa kalau sekarang sudah selesai ujian semester?"Cassie mendekat. Ia kemudian berdiri di depan semua pelayan yang ada. "Kalau daddy marah karena mereka tak menceritakan tentang kepergian mommy ke Indonesia, jangan salahkah mereka. Akulah yang memerintahkan mereka untuk tidak mengatakan apapun."
"Kenapa kau ikut campur masalah orang dewasa, Cassie?"
Cassie menoleh ke belakang. "Pergilah! Ijinkan aku dan daddy berbicara."
Semua pelayan pun langsung meninggalkan ruang tamu.
"Dad, mommy nggak tenang karena Arma dalam masalah. Aku yang mengijinkan mommy untuk pergi.Kasihan mommy menangis terus."
"Kamu nggak tahu bahaya apa yang akan mommy mu alami jika melakukan perjalanan panjang itu. Dia bisa kehilangan bayinya. Bukannya Daddy nggak peduli dengan masalah Arma. Namun daddy lebih mengkhawatirkan masalah kehamilan mommy."
"Mommy pasti bisa menjaga diri, dad."
Jack mendengus kesal. "Bagaimana mommy mu bisa pergi tanpa diketahui oleh daddy. Semua transaksi kartu kreditnya akan masuk dipemberitahuan nomor ponselku."
"Uncle Clark yang mengurus tiket mommy."
"Tuh kan...! Clark selalu ikut campur!" Jack kelihatan semakin emosi.
"Daddy, besok juga mommy akan kembali."
Jack tak menanggapi perkataan anaknya. Ia segera menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.
********
Di bandara, Arma kembali menangis sambil memeluk mamanya.
"Sayang, kamu ikut dengan mama saja." ujar Riani sambil membelai kepala putrinya.
"Nggak mau. Kasihan ayah dan ibu."
"Terus mama harus bagaimana? Mama harus kembali ke Inggris." Hati Riani terasa berat melihat mata Arma yang bengkak karena sejak semalam ia sudah menangis.
"Sebentar lagi kan mau libur penaikan kelas, ayah, ibu dan Arma akan liburan ke sana." bujuk Arya.
"Benarkah?" Arma nampak senang.
"Iya. Satu bulan lagi kita akan berlibur. Makanya Arma jangan bersedih ya?" ujar Sulastri lalu menghapus air mata cucunya itu.
Akhirnya, Arma melepaskan mamanya kembali ke Inggris. Riani pun tak lupa mengingatkan ayah dan ibunya agar jangan pernah mengijinkan Daniel membawa Arma. Daniel hanya diijinkan menjenguk Arma di rumah saja. Riani pun berpikir itu lebih baik dari pada harus melepaskan anaknya itu untuk pergi ke rumah Daniel dan harus mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Dewi.
Clark pun kembali bersama Riani. Ia tahu kalau Riani sedang galau karena Jack sama sekali tak mau mengangkat panggilan dari Riani apalagi membalas SMS yang Riani kirimkan.
__ADS_1
Saat mereka tiba di bandara Manchester city, waktu menunjukan pukul 5 sore.
Riani langsung kecewa melihat hanya Cassie dan sopir saja yang menjemputnya.
"Daddy ada rapat penting, makanya nggak bisa menjemput mommy." ujar Cassie. Nampak jelas gadis itu berusaha menyembunyikan sebab ketidakhadiran Jack di bandara.
Clark pun kembali sendiri karena memang ada sopirnya yang sudah menjemputnya.
Begitu tiba di rumah, Riani langsung mandi dan beristirahat. Ia tak mau kalau sampai harus keluar darah lagi seperti waktu itu.
Saat ia terbangun, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Riani merasa lapar dan ia pun memutuskan untuk turun ke bawa.
Di lihatnya lampu di ruang kerja Jack masih menyala dan pintunya terbuka sedikit. Riani pun menuju ke sana karena ia memang sangat rindu pada suaminya itu.
"Honey!" panggil Riani lalu segera mendekati Jack yang sedang duduk di kursi kerjanya. Riani memeluknya dari samping dan memberikan ciuman di pipi suaminya itu. Sayangnya, Jack sama sekali tak menanggapinya. Pria itu hanya diam .
Perlahan Riani menjelaskan pelukannya. "Jack, maafkan aku. Aku sungguh tak bisa meninggalkan anakku sendiri."
Jack menatap Riani. "Kalau sudah selesai bicara, tolong tinggalkan aku sendiri karena pekerjaanku sangat banyak."
"Jack....!"
"Please....!"
Riani tak menyangka kalau Jack akan sedingin ini padanya. "Baiklah." Riani pun meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu saat keluar.
Ia segera menuju ke dapur dan menemukan masih ada Lessi di sana.
"Nyonya, anda mau makan?"
Lessi segera menyajikan makanan yang ada di meja makan yang ada di dapur karena Riani tak mau makan di ruang makan.
Selesai makan, Riani pun memilih kembali ke kamar. Ia mengirimkan pesan pada Arma dan kedua orang tuanya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari namun Jack belum juga kembali ke kamar. Riani hampir saja menyusul Jack saat dilihatnya suaminya itu akhirnya memasuki kamar.
Riani yang sedang duduk di atas sofa, kembali mendekat Jack yang sementara membuka kemeja yang dipakainya.
"Sayang, aku tahu kalau aku salah. Tapi semuanya baik-baik saja kan? Masalah Arma selesai dan kandungan ku juga tetap kujaga dengan baik." Riani memeluk Jack dari belakang. Sungguh, ia rindu dengan harum tubuh suaminya itu.
Jack perlahan melepaskan tangan Riani yang melingkar di perutnya. "Aku mengantuk." Katanya masih dengan sikap yang dingin lalu segera melangkah ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu, ia langsung naik ke atas tempat tidur dan mematikan lampu baca yang ada di sebelahnya.
Riani ingin memprotes sikap Jack padanya namun ia berusaha sabar karena memang Jack terlihat sangat lelah. Perlahan Riani pun naik ke atas tempat tidur. Saat ia mencoba mendekati Jack, lelaki itu justru menggeser tubuhnya agar kembali tercipta jarak diantara mereka.
**********
Entah jam berapa Riani bisa kembali memejamkan matanya. Yang pasti saat ia bangun, Jack sudah tak ada. Jarum jam sudah menunjukan pukul 9 lewat 10 menit.
Riani memilih untuk mandi dan setelah berganti pakaian, ia turun ke bawa. Cassie sudah berangkat ke sekolah untuk mengikuti kelas renang.
Lessi seperti biasa langsung melayani keperluan nyonya nya itu. Usia mereka yang hampir sama membuat Riani memang merasa dekat dengan Lessi.
"Jam berapa suamiku berangkat?" tanya Riani.
"Jam setengah delapan, Nyonya. Kalau nona Chasie baru berangkat pukul 9."
__ADS_1
Selesai makan, ponsel Riani berbunyi. Ternyata itu adalah pengingat yang ia buat mengenai jadwal kunjungan ke dokter kandungan. Dan dari pihak klinik sudah mengirim pesan kalau jadwal pemerikasaan Riani adalah jam 5 sore.
Riani pun menelpon Jack. Namun suaminya itu sama sekali tak mengangkatnya. Riani kemudian mengirim pesan, mengingatkan Jack akan jadwal kunjungan ke dokter kandungan.
Hari ini aku ada rapat sampai jam 7 malam. Kamu saja yang pergi. Jangan ajak Chassie karena bisa saja ada wartawan yang menganggu kalian.
Membalas pesanku bisa, kenapa menerima teleponku nggak bisa? Apa sih maunya?
Riani kesal dengan sikap Jack. Namun dia berusaha mengontrol amarahnya karena tak ingin. pengaruh dengan bayinya.
Akhirnya, Riani pun berangkat ke dokter kandungan ditemani oleh Lessi dan dua orang bodyguard.
Mereka kembali ke rumah sudah jam 8 malam karena Riani mampir sebentar di sebuah mall untuk berbelanja beberapa kebutuhan bulannya.
Cassie nampak antusias saat melihat foto hasil USG itu.
"Daddy belum lama juga tiba. Ayo mommy segera tunjukan hasil USG nya. Daddy pasti nggak akan marah lagi." ujar Cassie.
Riani pun bergegas ke kamar atas. Begitu ia masuk, Jack terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. Sepertinya ia baru saja mandi karena rambutnya masih nampak basah.
"Sayang, ini hasil foto USG kedua anak kita. Kata dokter semuanya berjalan secara normal. Detak jantungnya terdengar sehat." ujar Riani sambil menunjukan foto itu pada Jack.
"Baguslah." mata Jack nampak berbinar melihat foto hasil USG itu. Namun tak lama kemudian, ia bersikap biasa saja dan segera meninggalkan Riani sendiri. Namun saat Jack baru saja memegang gagang pintu untuk keluar, Riani langsung berteriak memanggilnya.
"Jack....! Jangan kayak anak kecil! Kalau kamu marah karena sikapku yang membangkang karena pergi ke Indonesia, aku menerimanya. Namun, tak dapatkah kita berbicara dari hati ke hati? Kamu kan tahu kalau alasanku pergi karena Arma."
"Dan juga karena Daniel. Aku melihat foto mu bersama Daniel si sebuah cafe. Bagus juga, saling berpegangan tangan."
"Jack....!"
Jack menatap Riani yang nampak sudah emosi. "Aku benci kalau orang yang aku percayai begitu manisnya bersandiwara dan menipu aku. Aku sangat percaya padamu, Riani. Namun kau sudah mengecewakan aku."
"Kamu....!"
"Aku masih ada pekerjaan. Tolong jangan ganggu aku!" lalu Jack keluar kamar. Meninggalkan Riani yang matanya sudah basah dengan air matanya. Sikap Jack seperti ini sudah dua kali ia tunjukan. Pada saat Daniel pun pertama kali bertemu dengan Riani, Jack juga mengacuhkannya seperti ini.
***********
Cassie baru saja selesai dengan jelas renangnya. Ia sudah berganti pakaian dan siap untuk pulang.
"Cassie....!"
Cassie menatap wanita cantik yang berdiri di depannya. Tentu saja ia mengenalnya. Itu adalah Cecilia Smith. Salah satu wanita yang dekat dengan papanya dan yang paling Cassie benci.
"Ada apa?" tanya Cassie sedikit tak ramah.
"Aku adalah bibimu. Ibumu adalah adik kembarku."
**********
Hallo semua
selamat sore
Duh, masalah baru lagi nih
__ADS_1
Bagaimana menurut kalian ?