
"Sayang, kamu belum bisa melakukan perjalanan jauh, kamu kan sedang hamil."
Riani meletakan ponselnya di atas meja makan dengan kesal. "Aku tak bisa tinggal diam saat Daniel berusaha merebut Arma dari tangan kedua orang tuaku. Kenapa dia harus mengakui sekarang? Kenapa dulu dia meninggalkan aku dan menikah dengan Dewi? Pokoknya aku nggak rela Arma ada di sana."
Jack menyentuh pundak istrinya. "Tenang, sayang. Kamu kan sedang hamil. Kita akan cari jalan keluarnya bersama."
"Jalan keluarnya aku harus ke Surabaya, Jack."
"Sayang, ke Indonesia kamu akan menempuh perjalanan selama 16 jam. Itu nggak baik untuk kehamilanmu. Kamu akan kelelahan."
"Terus aku harus bagaimana, Jack? Aku nggak rela anakku bersama Daniel. Apalagi sampai ayah dan ibu tak memberitahukan sama aku apa yang terjadi."
"Mungkin ayah dan ibu punya alasan sendiri. Tunggulah sedikit lagi dan kamu bisa menelepon mereka untuk bertanya." Jack berbicara sambil terus mengusap punggung istrinya.
"Aku sungguh tak sabar, Jack. Jika Daniel ada di depanku saat ini, ingin ku tonjok wajahnya. Seenaknya saja memaksa Arma untuk datang ke rumahnya. Sialnya lagi aku sudah memblokir nomornya." Riani mencoba tenang namun ia kelihatan tak tenang. Ia langsung menghubungi Clark.
"Clark, bolehkah aku meminta nomor Daniel?" tanya Riani membuat Jack terkejut melihat istrinya itu sudah menelepon Clark.
" Ada apa, Riani? Setahuku Daniel dan Dewi sedang pulang ke Indonesia."
"Justru itu masalahnya. Daniel mengusik keberadaan anakku dan aku tak suka. Arma sekarang ada di rumahnya."
"Oh gitu ya..., nanti aku kirim nomornya dan juga nomor Dewi misalkan nomor Daniel tak aktif."
Riani menunggu dengan tak sabar. Begitu ia mendapatkan nomor Daniel, Riani langsung menghubungi Daniel namun Jack tiba-tiba merampas ponsel Riani dan memutuskan panggilan itu.
"Untuk apa kau menghubungi Daniel?" tanya Jack dengan wajah tak suka.
"Ini bukan saatnya kamu cemburu, Jack. Kembalikan ponselku."
"Ok. Aku akui aku cemburu namun yang paling pokok di sini adalah mengapa kamu menghubungi Daniel? Itu sama sekali nggak ada gunanya, sayang. Kamu pasti akan lebih sakit hati dengan apa yang akan dikatakannya nanti. Daniel akan merasa punya hak dalam kehidupan Arma karena dia papa biologisnya."
"Apapun yang dikatakannya, itu tak akan mengubah semua yang telah dia lakukan di masa lalu. Dia tak pantas menjadi ayah Arma. Kamu tak tahu betapa sakit nya kehidupan masa laluku, Jack."
Jack memegang kedua tangan istrinya. "Aku tahu kamu sangat terluka sayang. Makanya aku pun tak ingin kamu lebih terluka lagi."
Riani menarik napas panjang. "Aku lelah. Ingin tidur."
"Ayo kita tidur!" Jack dengan cepat mengangkat tubuh Riani. Tak ada protes dari Riani. Ia membiarkan Jack membawanya ke kamar.
************
Pukul 03 dini hari waktu Inggris
__ADS_1
Riani perlahan membuka matanya. Ia memang sama sekali tak tertidur. Ia membiarkan Jack beranggapan bahwa dirinya tidur.
Perlahan ia bangun dan menyingkirkan tangan Jack yang melingkar di perutnya. Ia pun keluar kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di meja makan.
Riani menghubungi orang tuanya. Namun nomor ayahnya tak aktif. Sementara ibunya sendiri tak memiliki ponsel.
Agak kesal, Riani pun menghubungi Arma kembali. Namun Arma tak mengangkat telepon darinya. Riani mengirimkan pesan.
Arma sayang, kamu baik-baik saja? Mama janji akan melakukan apa saja agar kau tak lagi datang ke rumah Daniel.
Setelah pesan itu terkirim, Riani pun menghubungi Daniel. Di sering kedua, Daniel sudah mengangkat teleponnya.
"Riri sayang, ada apa kamu meneleponku?" tanya Daniel dengan suara yang terdengar sangat lembut.
"Brengsek kamu, Daniel! Apa maksud kamu memaksa Arma untuk datang ke rumahmu?"
"Ri, Arma juga adalah anakku. Aku berhak untuk bersamanya. Aku berhak untuk merasakan perhatian dan cinta darinya."
"Jangan sok menjadikan dirimu sebagai lelaki baik, Daniel."
"Lho, apakah aku yang jahat? Kamu tahu sendiri kan kalau orang tua ku yang membuat aku jauh dari kamu dan Arma. Aku mencintaimu, RI. Makasih sangat mencintaimu. Jika memang aku tak bisa bersamamu, apakah aku tak bisa bersama dengan anakku sendiri?"
"Aku tak ingin Arma tertekan dengan semua ini."
"Arma memang terlihat kurang nyaman. Namun aku pasti bisa memenangkan hatinya."
"Maaf, Ri. Aku nggak bisa. Aku sudah terlanjur menyayangi Arma dan aku ingin bersamanya. Aku rela meninggalkan pekerjaan dan bisniksu di Manchester hanya untuk Arma. Sangat berbeda denganmu yang rela meninggalkan Arma demi pria yang sebenarnya tak bisa mencintai wanita lain. Karena seumur hidup Jack, ia hanya mencintai Cecilia Smith. Bye....!"
"Daniel.....! Daniel.....! Brengsek kamu, Daniel! Ah...., aku membencimu!" teriak Riani kesal. Tangisnya langsung pecah.
"Honey.....!" Jack tiba-tiba muncul di dapur dan langsung memeluk istrinya. "Kamu pasti menghubungi Daniel kan? Kamu memang keras kepala. Lihat apa yang sudah siap lakukan padamu. Kamu hanya akan disakitinya."
"Jack....., ijinkan aku pulang ke Surabaya. Aku tak bisa tenang jika tak bersama Arma!" mohon Riani.
"Sayang, sudah kukatakan kalau ini sangat beresiko bagi kehamilanmu. Tunggulah sampai kamu selesai melahirkan."
"Aku tak bisa, Jack....!"
"Ok, tenang! Aku akan meminta salah satu pengacaraku untuk pergi ke Surabaya dan melihat bagaimana kasus ini."
"Tapi, Jack....!"
"Tenang, Riani! Biarkan dulu pengacaraku pergi. Andai aku tak akan mengikuti lomba 2 minggu lagi, aku pasti sudah pergi."
__ADS_1
Riani menghapus air matanya. "Jack, aku harus bagaimana?"
"Tenangkan dirimu. Serahkan semua padaku. Ingat bayi yang ada di kandunganmu. Stres adalah salah satu pemicu ibu hamil akan keguguran."
Riani nampak belum tenang. Jack kemudian membuatkan teh dan memberikannya pada istrinya. "Minumlah sayang. Setelah itu tidurlah lagi. Aku mohon padamu. Sayangilah dirimu sendiri yang sedang hamil."
Setelah menghabiskan teh yang dibuat oleh suaminya, Riani pun menuju ke kamar. Kali ini ia merasa sangat kelelahan.
***********
3 hari kemudian......
"Pengacaraku sudah sampai ke rumah ayah dan ibu, sayang. Menurut mereka, Daniel memiliki surat hasil tes DNA yang membuktikan kalau Arma memang adalah anaknya. Ayah dan ibu tak bisa melakukan apa-apa karena perintah pengadilan bahwa Daniel berhak untuk bersama Arma. Makanya setiap Jumat sore, Daniel akan menjemput Arma dan mengembalikannya setiap minggu sore." kata Jack saat ia pulang kantor dan menemukan istrinya itu sedang duduk melamun di depan jendela kamar mereka.
"Arma kemarin meneleponku, Jack. Ia mengatakan tak ingin ke rumah Daniel lagi karena ia tak suka dengan Dewi. Tak bisakah pengacara mu meminta surat dari pengadilan yang sekarang Daniel untuk membawa Arma?"
Jack menggeleng. "Daniel sudah mengatakan kalau dirinya sama sekali tak tahu tentang keberadaan Arma. Ia bahkan menyalahkan dirimu karena menyembunyikan keberadaan Arma selama ini."
Riani mengepalkan tangannya. "Aku membencimu Daniel....! Kau mengusik ketenangan anakku!"
"Sayang, kendalikan dirimu!"
"Aku tak mau sampai Dewi membuat anakku menangis. Aku tak rela Arma terluka."
"please...., tenangkan dirimu. Bukankah kemarin sempat ada darah yang keluar. Dokter sudah mengingatkanmu untuk tidak stres, sayang."
"Maafkan aku!" Riani memegang perutnya. "Aku akan berusaha tenang."
Jack memeluk istrinya. "Sekarang, aku mandi dulu ya?"
"Aku akan siapkan pakaianmu."
"Terima kasih, sayang." Jack memeluk istrinya, mengecup pipinya lalu segera melangkah ke kamar mandi.
Saat Jack mandi, Riani mengirim pesan pada Clark.
Clark, tolong aku untuk bisa pulang ke Indonesia. Hanya kamu yang bisa menolongku!
*********
Selamat pagi....
selamat Jumat Barokah
__ADS_1
hava a bless day all
Tetap dukung emak ya