
Tak terasa sebulan sudah Riani melahirkan anaknya. Kondisinya sendiri sudah pulih pasca melakukan operasi sesar.
Riani dan Jack sepakat memanggil anak mereka dengan sebutan baby Reo. Walaupun Arma dan Cassie sebenarnya lebih suka memanggil adiknya itu dengan sebutan baby Sen.
Hampir setiap hari Cassie melakukan videocall untuk melihat perkembangan adiknya itu.
Pernah suatu hari Riani bertanya pada Cassie kenapa dia tak pernah pulang.
"Bibi Cecilia tak akan mengijinkan aku pulang jika tak dijemput oleh daddy. Lagi pula aku takut pulang dan daddy akan menumpahkan kemarahannya padaku lagi." kata Cassie dengan wajah yang sedih.
"Daddy merindukanmu, Cas. Hanya saja dia gengsi untuk mengakuinya. Daddy sebenarnya sedih karena kamu tak ada di rumah ini."
"kalau memang daddy sayang padaku, mengapa daddy tak datang menjemput ku? Aku juga sangat kangen dengan suasana rumah, mom. Kangen dengan masakan Jems. Di sini makanannya tak seenak buatan mommy dan Jems."
"Daddy bukan nggak mau menjemputmu, sayang. Hanya saja daddy sedikit terluka saat kamu memilih untuk pergi dengan keluarga Smith. Makanya sampai saat ini walaupun daddy sangat kangen denganmu, dia mengeraskan hatinya. Sayang, mintalah opa atau oma mu mengantarkan kamu ke sini. Mommy juga sangat kangen denganmu."
"Aku juga sangat kangen dengan mommy. Ingin sekali mencium baby Sen"
"Ya sudah, carilah waktu dan datanglah ke sini!"
"Ok."
Mereka pun mengahiri percakapan itu. Riani berharap kalau Cassie akan datang. Apalagi Jack akan berulang tahun. Pasti kedatangan Cassie akan menjadi kado yang terindah baginya.
di rumah ini, Jack menambahkan 1 orang pengasuh bayi dan seorang perawat yang dulu pernah merawat Riani saat ia mengalami kecelakaan. Suster Hanna.
"Nyonya, apakah baby Reo sudah bisa ku pindahkan ke box bayinya?" tanya Lea, sang pengasuh bayi yang berusia sekitar 30 tahun.
"Ya silahkan!"
Lea mengambil baby Reo dari pelukan Riani lalu membawanya ke kamar bayi yang ada di sebelah. Sedangkan Hanna langsung menyiapkan air mandi bagi Riani sekaligus juga merawat luka bekas operasi itu. Lukanya memang sudah kering namun Hanna merawatnya agar bekas luka itu oleh tersamarkan. Ia juga yang memberikan pengobatan tradisional kepada Riani agar lebih cepat pulih setelah melahirkan. Hanna juga yang mengatur menu makanan yang bergizi bagi sang nyonya.
Selesai senam dan mandi, Riani pun turun ke bawa untuk melihat persiapan makan malam. Ia langsung tersenyum melihat Jack yang baru saja masuk dari pintu utama. Sepertinya Jack pulang cepat hari ini karena jam baru saja menunjukan pukul setengah lima sore.
"Sayang, aku merindukanmu sepanjang hari ini." Jack langsung memeluk istrinya lalu mencium bibir Riani dengan sangat lembut.
"Aku juga merindukanmu. Bagimana keadaan perusahaan hari ini?" tanya Riani.
"Seperti biasa saja. Dan , apakah Christensen Haireo merepotkan mommy nya hari ini?"
"Tidak. Dia akan tidur sangat nyenyak setelah minum asi."
"Daddy nya yang nggak bisa tidur nyenyak karena nggak bisa lagi menyentuh gunung...."
"Jack....!" Riani langsung membungkam mulut suaminya itu dengan tangannya. Ia takut nanti ada pelayan yang akan mendengar perkataan suaminya yang nakal itu.
Jack terkekeh. Ia mengambil tangan Riani yang ada di mulutnya lalu mencium punggung tangan itu dengan sangat lembut. "Rasanya tak sabar menunggu dua minggu lagi. Soalnya kamu itu terlihat semakin seksi saja setelah melahirkan."
"Masa sih?" Riani pura-pura terkejut pada hal sebenarnya ia sedikit tersanjung mendengar pujian suaminya itu.
Jack melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. "Benar istriku sayang."
__ADS_1
Riani memberikan satu kecupan di pipi suaminya.
"Kurang...." Jack pura-pura merajuk.
"Nanti sebentar malam aku akan memberikan service khusus" bisik Riani membuat mata Jack langsung berbinar.
***************
Hari ini Riani menghias rumah dengan sangat indah. Jack berulang tahun yang ke-36. Sejak tadi pagi beberapa fans club milik Jack sudah memberikan ucapan selamat ulang tahun dan mengirimkan kue, bunga dan beberapa hadiah lainnya.
Jack sebenarnya tak ingin pergi kerja hari ini namun karena ada wawancara khusus di salah satu stasiun TV mengenai penghargaan yang baru saja Jack terima sebagai pengusaha sukses dan juga hasil penjualan alat-alat olahraganya adalah yang paling laris di dataran Eropa.
"James, apakah makanannya sudah siap?" tanya Riani. Siang ini ia menggunakan gaun berwarna merah muda dengan sepatu berwarna senada juga. Rambut panjang Riani disanggulnya rapi dengan mengenakan jepitan rambut yang bertatahkan berlian. Jepit rambut ini dihadiahkan oleh Jack saat Riani ulang tahun beberapa waktu yang lalu.
Baby Reo pun nampak ganteng dengan kemeja bewarna biru muda. Rambutnya yang berwarna coklat tua nampak indah karena sangat tebal.
Suster Hanna meletakan baby Reo di keretanya.
"Jack sama sekali tak tahu kalau aku menyiapkan semua kejutan ini padanya. Orang kantor juga akan segera tiba." ujar Riani senang karena akan memberikan kejutan pada suaminya itu. Hanna pun mengangguk setuju.
Tak lama kemudian semua orang kantor sudah datang. Riani segera meminta mereka untuk bergabung di halaman belakang dan segera menyingkirkan mobil mereka agar tak terlihat oleh Jack saat ia datang.
Saat Jack tiba, Riani menyambutnya di pintu masuk.
"Sayang, kamu ada acara di luar?" tanya Jack melihat istrinya yang berdandan sangat rapi dan nampak elegan.
"Tidak. Aku hanya ingin berdandan saja di hari ulang tahun mu. Memangnya tak boleh?"
"Boleh saja."
"Ok."
Keduanya bergandengan tangan menuju ke belakang. Saat pintu terbuka, Jack langsung terkejut melihat ada sebuah tenda besar yang di pasang di sana.
"Surprise....! Happy birthday....!"
Jack memandang istrinya. "Kau menyiapkan ini semua untukku?"
Riani mengangguk. "Kata Leo, kamu tak pernah merayakan ulang tahunmu secara besar-besaran karena terlalu sibuk bekerja."
Jack merasa terharu melihat seluruh pegawai kantornya ada. Bahkan ada beberapa kolega penting juga hadir.
Jack memasang lilin ulang tahunnya di temani Riani dan baby Reo. Semua nampak bahagia di hari itu. Namun Riani tahu kalau Jack sangat merindukan Cassie. Karena semalam, saat pukul 12 tepat dan Riani memberikan ucapan selamat ulang tahun, Jack memang tersenyum namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.
Selesai acara di taman belakang, hujan pun turun dengan deras. Untung saja para pekerja sudah selesai membersihkan halaman belakang.
Baby Reo tertidur sedangkan Jack dan Riani pun menikmati waktu berdua mereka dengan saling membagi kehangatan di sore yang hujan.
"hadiahnya aku minta sekarang ya? Kalau malam takutnya diganggu anakku. Dia sukanya bangun tengah malam dan tidur subuh." ujar Jack sambil membelai punggung Riani yang polos. Istrinya itu tidur di atas dada Jack.
"Begitulah anak bayi, sayang."
__ADS_1
Jack memejamkan matanya. Menikmati belaian Riani di dada polosnya.
"Sayang, besok kan weekend. Bagaimana kalau kita menjemput Cassie? Reo sudah hampir dua bulan namun Cassie hanya bisa melihatnya di ponsel."
Jack mencium puncak kepala Riani lalu perlahan bangun membuat Riani juga ikut bangun.
Jack melangkah ke kamar mandi. Ia mandi lalu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Ia kemudian masuk ke dalam walk in closet untuk mengenakan pakaian.
Perlahan Riani turun dari tempat tidur. Ia membereskan pakaian mereka yang berserakan di atas lantai lalu Riani membawanya ke keranjang baju kotor sebelum ia sendiri masuk ke kama mandi untuk membersihkan dirinya. Entah mengapa setiap kali Riani mengajak Jack berbicara tentang Cassie, suaminya itu selalu menghindar.
Selesai mandi dan ganti pakaian, Riani mencari Jack keluar kamar dan ia melihat Jack sedang memeluk baby Reo di ruang tamu lantai 2.
"Sayang, Reo tadi sudah haus namun kamu masih mandi makanya aku meminta pengasuhnya untuk membuat susu." ujar Jack sambil menunjukan botol susu yang sudah kosong.
Riani tersenyum. "Nanti sedikit lagi aku akan memberikan dia asi."
"Aku mau turun ke bawa untuk memeriksa makan malam ya? Ternyata ini sudah jam 8 malam."
"Ya. Aku memang sudah lapar."
Riani mengecup pipi Reo dan kemudian mencium pipi Jack sebelum akhirnya ia turun ke bawa.
Selesai makan malam, Riani langsung menidurkan Reo setelah terlebih dahulu memberikan anaknya itu asi.
"Sayang, ini sudah jam 11 malam, kamu belum ingin tidur?" tanya Riani. Jack sedang berdiri di depan pintu antara balkon dan kamar mereka. Hujan masih saja turun walaupun tak sederas tadi.
Jack memeluk pundak Raini. "Aku belum mengantuk."
"Aku mau tidur lebih dulu ya soalnya aku capek karena hadiah ulang tahunnya sampai 3 ronde."
Jack tertawa. Namun tawanya terhenti saat melihat seseorang yang berjalan memasuki halaman rumah.
"Itu kan Cassie?" ujar Jack terkejut.
"Iya. Itu memang Cassie. Kenapa sampai dia kehujanan?" Riani segera melangkah meninggalkan kamar untuk menuju ke bawah. Jak menyusulnya.
Ketika mereka membuka pintu, Cassie sudah berdiri di sana. Gadis itu sudah basah kuyub. Namun ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaket. Sebuah kue ulang tahun mini. Ia menyalahkan satu buah lilin yang ada di sana.
"Happy birthday, daddy. Aku belum terlambatkan?" tanya Cassie dengan air matanya yang bercampur dengan air hujan.
Jack tak dapat menahan air matanya. Ia meniup lilin itu lalu memeluk anaknya.
Riani pun ikut menangis.
***********
Hallo semua....
Jangan ada yang baper ya?
Semoga suka dengan part ini.
__ADS_1
Terus dukung emak ya...
Love AMANDA