Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Murka


__ADS_3

Saat Riani pamit untuk ke toilet, Jack rasanya tak tahan untuk menyusul perempuan itu ke sana. Entah mengapa ia tak rela saat tahu bahwa Riani sudah melupakan semua masa lalunya bersama Jack.


Langkah Jack terhenti di depan toilet. Ia menepuk kepalanya sendiri karena merasa bahwa ia sudah gila sebab mau menyusul Riani ke sini. Ia hampir saja membalikan badannya saat mendengar percakapan Riani dengan seseorang. Jack mengenal suara itu. Itu adakah suara Cecilia.


Pintu toilet yang tak tertutup seluruhnya membuat suara kedua perempuan itu sangat jelas terdengar.


Jack merasakan jantungnya bagaikan berhenti berdetak saat mendengar apa yang dikatakan Riani pada Cecilia. Jadi kejadian di hotel itu hanya rekayasa untuk menyelamatkan Arma?


Kaki Jack terasa lemas saat ia mengingat semua penghinaan yang ia lontarkan pada Riani. Bagaimana ingin membalas rasa sakit hatinya pada Riani dengan melarang istrinya itu untuk bertemu dengan baby Reo.


Ya Tuhan, apa yang sudah ku lakukan? Rasa cemburu dan rasa marahku telah menutup semua kebaikan Riani yang selama ini ia tunjukan kepadaku.


Pintu toilet terbuka. Jack dan Riani sama-sama saling menatap. Namun Riani cepat berlalu. Jelas terlihat wajahnya yang emosi.


Jack masih terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya terkepal menahan emosi yang lain. Emosi terdalam saat tahu kalau Ia telah menjadi bodoh atas campur tangan Cecilia. Tentu saja Cecilia sangat tahu kelemahan Jack. Cecilia mengenal Jack sangat lama. Dan itu yang membuat emosi Jack tak terkendali lagi. Ia mendorong pintu toilet dengan kasar, mengagetkan Cecilia yang sementara memoles lipstick di bibirnya.


"Jack?" Cecilia terkejut atas kehadiran Jack namun merasa senang melihat pria tampan yang selalu menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya.


Plak....!


"Jack....!" seru Cecilia dengan mata yang berkaca-kaca sambil memegang pipinya yang panas karena tamparan Jack.


"Kau, Dewi dan semua orang yang telah membantu kalian untuk mengatur skenario penculikan Arma akan mendapatkan akibatnya." ujar Jack sebelum keluar dengan mata dada yang sesak karena rasa penyesalan.


"Di mana Riani?" tanya Jack saat melihat bahwa hanya Firuse sendiri yang ada di meja makan.


"Riani mendadak minta pulang karena perutnya tak enak. Jadi pangeran langsung menemaninya." ujar Firuse.


"Ya sudah. Kita pulang saja. Sebentar aku akan membayar dulu tagihannya."


"Sudah dibayar oleh pangeran Philip."


Jack hanya mengangguk dan segera melangkah. Ia hampir melupakan Firuse yang ada bersamanya.


*********


"Ah......!" teriak Jack sambil menghamburkan semua yang ada di meja kerjanya.


"Berteriak pun tak akan mengembalikan semua luka yang telah kau torehkan di hati Riani." ujar Sam sambil tersenyum kecut.


"Ingin rasanya aku membunuh Cecilia dan Dewi sekarang juga." Jack meninju meja kerjanya. Tak peduli dengan tangannya yang memerah karena itu.

__ADS_1


"Aku sudah memperingati kamu, Jack."


"Diam Sam! Tugasmu sekarang adalah menyeret Dewi untuk datang ke sini. Aku akan membuat mereka berdua berlutut di hadapan Riani dan meminta maaf atas semua yang sudah mereka lakukan. Ah....aku mau gila rasanya."


"Perkara gampang membuat Dewi datang ke sini." ujar Sam lalu segera keluar dari ruangan Jack. Ia menelpon seseorang.


**********


"Daniel?" Riani tersenyum senang melihat Daniel ada di ruang kerjanya.


"Apakah aku menganggu mu?"


"Tidak. Aku baru selesai makan siang. Ayo duduk." ujar Riani sambil menunjuk sofa yang ada.


Keduanya pun duduk saling berhadapan.


"Kapan datangnya?" tanya Riani setelah menelepon bagian pantry untuk menyiapkan minuman bagi mereka.


"Semalam. Ada bisnis yang harus aku kerjakan di sini."


"Terima kasih ya. Kau sudah mengajak Arma, ayah dan ibuku jalan-jalan ke Jakarta. Arma telepon. Dia senang sekali karena akhirnya bisa pergi ke Dufan, Taman mini dan juga ke Ancol. Ayah dan ibu juga sangat senang."


Daniel tersenyum. "Aku akan melakukan apa saja untuk membuat Arma senang. Kebetulan ada libur seminggu. Dan Arma mendapatkan juara di pertengahan semesternya. Jadi aku pikir kenapa tak menggunakan waktu ini untuk jalan-jalan? Hubungan ku dengan Arma bertambah baik sekarang."


"Bagaimana dengan kamu? Sudah aman kan untuk ketemu baby Reo?"


"Ya. Jack tak melarang lagi. Sekarang aku ingin mengumpulkan uang agar bisa membeli rumah sehingga aku layak untuk mendapatkan hak asuh dari Reo secara total. Clark banyak membantuku. Dan aku sangat senang.


Daniel mengangguk. "Aku berdoa agar semuanya dilancarkan untukmu dan Reo. Soal kebutuhan Arma jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Aku juga sudah memindahkan Arma ke sekolah yang sangat ketat penjagaannya. Untuk sementara, ibumu yang akan menemani Arma di sekolah dan sopirku yang akan mengantar dan menjemput nya setiap hari. Jika aku kebetulan ada di sana, maka aku yang akan menjemput Arma."


"Terima kasih, Daniel."


"Jangan berterima kasih padaku. justru akulah yang harus berterima kasih padamu karena sudah mengijinkan Arma untuk dekat denganku. Rasanya sangat senang setiap kali ia memanggilku dengan sebutan papa."


"Kau pantas mendapatkannya." ujar Riani membuat Daniel ikut bahagia.


"Aku tak akan mengganggumu lagi. Ini aku bawakan oleh-oleh dari Surabaya. Aku membawakan rujak cingur dan tahu tek untukmu. Semuanya diatur dalam kemasan yang baik. Kau dapat memakannya nanti ketika tiba di apartemen mu."


"Terima kasih, Daniel!" Riani sangat senang mendapatkan oleh-oleh makanan kesukaannya. Daniel tentu masih ingat kesukaan Riani. Kedatangan Daniel sungguh mengobati mood Riani yang sempat bete tadi saat harus berhadapan dengan Cecilia.


*************

__ADS_1


"Sudah, ah. Mommy sudah capek. Kakak juga harus belajar. Nanti besok Reo belajar jalan lagi ya, sayang?" ujar Riani sambil mengangkat Reo dari lantai.


"Mom, aku buat PR dulu ya?" pamit Cassie.


"Iya sayang."


Riani kemudian meminta Hanna untuk menyiapkan baju ganti untuk anaknya itu. Sekarang memang sudah memasuki musim dingin jadi Riani tak akan memandikan Reo saat malam hari. Cukup dengan membasuh tubuh anaknya itu dengan air hangat menggunakan handuk tangan.


Jack memperhatikan aktifitas Riani dari balik layar ponselnya. Untuk lantai dua, hanya di kamar Reo saja Jack memasang CCTV. Itu pun hanya Jack yang tahu.


Ia melihat bagaimana telatennya Riani mengurus Reo. Pada hal ia sudah lelah kerja seharian. Siang hari Riani terkadang datang kembali ke rumah untuk sekedar menidurkan Reo. Tak ada kata lelah di diri Riani saat merawat Reo.


Jack sendiri sudah berada di rumah sejak jam 6 sore. Ia datang setelah ia tahu kalau Riani sudah ada. Begitu ingin Jaco mendekati Riani untuk meminta maaf. Namun ia sendiri merasa malu.


Jam 9 malam, Reo pun akhirnya tidur. Riani kemudian berpamitan dengan Cassie lalu ia sendiri akan kembali ke apartemennya. Ada sopir Clark yang akan menjemputnya atau juga Riani akan memesan taxi.


Saat Riani menuruni tangga, ia terkejut melihat Jack yang sudah menunggunya di bawa tangga sambil menatapnya tanpa berkedip. Perempuan itu berusaha cuek.


"Riani, boleh kita bicara?" tanya Jack dengan suara yang tak dingin lagi seperti biasanya.


"Mau bicara apa? Aku harus segera pulang ke apartemen. Aku merasa lelah."


Jack mendekat. Memangkas jarak yang ada diantara mereka. Tatapan lurus langsung ke manik mata Riani. "Maafkan aku...!"


Riani kini yakin kalau Jack memang mendengarkan percakapan Cecilia dengan dirinya.


"Maaf untuk apa?"


"Untuk semua tuduhan yang ku berikan padamu."


Riani tersenyum kecut. "Apakah dengan memaafkan mu akan ada gunanya lagi? Aku rasa tidak. Dan perlu kau ketahui, semenjak hakim mengetuk palu tanda perpisahan diantara kita, aku sudah memaafkan mu. Namun memaafkan bukan berarti aku akan percaya lagi padamu, Jack. Seperti yang ku katakan di restoran. Kamu adalah masa laluku. Dan aku tak mau hidup dengan bayangan masa lalu. Selamat malam." Riani melangkah pergi. Meninggalkan Jack yang terpaku di tempatnya berdiri. Hati Jack terluka. Dan itu rasanya sangat sakit. Sakit yang belum pernah Jack rasakan sebelumnya. Bahkan jauh lebih sakit saat ia tahu kalau Camila sudah meninggal.


Jack kejar Riani nggak ya???


**********


Emak sayang banget sama semua pembaca


walaupun belum 100 yang komen, emak up aja deh....


Ada yang mau tertawa untuk Jack?

__ADS_1


Menurut kalian, hukuman apa yang setimpal untuk Dewi dan Cecilia?


__ADS_2