
"Bagaimana? Kau suka kopinya?" tanya Philip saat ia datang ke ruangan Riani lagi ini sambil membawakan kopi.
"Ya. Aku suka. Terima kasih ya?" ujar Riani.
"Aku suka saat kau tersenyum Riani. Kau terlihat bersinar. Sangat berbeda jauh kalau kau melamun dan pikiranmu entah melayang kemana-mana." Philip mengambil tempat duduk di depan meja kerja Riani.
"Aku terkadang merindukan anakku yang tertua dan juga memikirkan orang tuaku. Mereka belum tahu kalau aku dan Jack sudah bercerai. Mereka pasti sangat sedih jika tahu kenyataan yang sebenarnya. Dulu, ayahku menentang pernikahan kami dengan alasan Jack dan aku kenalnya belum lama. Ayah takut kalau aku gagal lagi. Namun dengan melihat kegigihan Jack, dan juga kemauanku yang begitu besar, ayah pun mengijinkannya. Ternyata apa yang ditakutkan ayahku menjadi kenyataan. Aku gagal lagi."
"Kau masih muda Riani. Masih banyak pria yang akan mencintaimu dengan tulus. Jangan menjadi trauma."
Riani menggeleng. "Kalau aku membuka hati lagi untuk pria lain, itu berarti aku harus menikah untuk yang ketiga kalinya.Itu sungguh hal yang memalukan. Mungkin di sini, itu biasa. Namun di kampung ku, aku akan menjadi bahan gunjingan orang."
Philip tersenyum sambil mengangguk. "Aku mengerti kekhawatiran mu. Hanya saja, apakah selamanya kau akan menyendiri saja?"
"Aku akan berjuang agar Reo bisa tinggal bersama ku. Itu saja yang sekarang ingin kulakukan. Aku tak ingin memikirkan diriku dulu. Aku berjuang untuk anak-anakku."
"Aku tahu. Namun lepas dari semua keinginanmu untuk memproritaskan anak-anakmu, apakah kau tak memiliki perasaan untuk Jack lagi?"
Riani kembali menarik napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. "Aku membencinya. Tapi aku juga merasakan masih memiliki perasaan itu untuknya. Makanya aku lebih suka saat datang ke mansion, Jack tak ada. Karena jantungku masih terus berdetak cepat saat ia ada di dekatku. Mungkin butuh waktu yang agak lama untuk bisa membunuh perasaan ini."
"Ah, kau membuatku patah hati....!" Philip memegang dadanya.
"Maaf...!" Riani jadi tak enak. Namun ia juga harus jujur untuk mengatakan isi hatinya.
Philip terkekeh. "Jangan khawatir. Aku bukan tipe pria yang gampang patah hati."
Riani tersenyum lega.
"Oh ya, besok aku akan kembali ke London. Aku harus mempertangungjawabkan semua keputusan ku untuk mengahiri hubunganku dengan Anastasya. Omaku marah besar dan mengancam akan mogok makan sebelum aku pulang ke istana."
"Pasti juga karena berita kedekatan kita ya?"
"Mungkin. Tapi mamaku justru berkata lain. Dia bilang kamu cantik. Mungkin karena mamaku ada darah Asianya. Ibu dari mamaku berasal dari keluarga kerajaan Jepang."
"Oh ya?"
"Ya. Mamaku justru ingin kenalan denganmu."
"Tapi Philip bukankah hubungan kita hanya sebatas...."
"Aku tahu. Aku juga mengatakan hal yang sama pada mamaku. Dan dia bilang, berjuanglah!"
Riani tertawa melihat gaya Philip yang mengakat kedua tangannya.
Pria itu pun pamit dan segera meninggalkan ruangan Riani.
Tak lama kemudian Abigail masuk sambil membawakan rangkaian bunga mawar di tangannya. Mawar berwarna kuning.
"Wah, kau menerima bunga?" tanya Riani sambil keluar dari mejanya. "Bunga mawar kuning jarang lho ditemukan."
Abigail tersenyum. "Mana pernah pacarku mengirimi aku bunga? Orangnya kurang romantis. Bunga ini untukmu Riani. Oleh seseorang dengan dengan inisial J."
Riani mengambil kartu nama yang ada di bunga itu dan membukanya. Ia langsung mengenali tulisan itu.
Semangat bekerja..... J
"Siapa J?" tanya Abigail penasaran.
__ADS_1
"Nggak tahu." Riani pura-pura bingung.
"Kamu punya penggemar baru dong. Eh, tapi bunga mawar kuning ini sebagai lambang permohonan maaf, lho. Adakah seseorang yang pernah melakukan kesalahan padamu?"
"Aku tak mengenal banyak orang di Manchester ini. Mungkin salah kirim."
"Namamu sangat jelas tertera di sini sebagai si penerima bunga. Memangnya di kantor ini ada berapa nama Riani?"
"Ya sudah, kamu ambil saja bunganya kalau suka. Anggaplah itu permohonan maaf dari pacarmu yang nggak romantis."
"Abigail tertawa. "Benar nih? Nggak marah jika aku bawa ke ruangan ku?"
"Di bawa saja."
"Ok."
Abigail dengan senang membawa bunga itu kembali ke ruangannya. Sementara Riani menjadi tak tenang. Kenapa sih Jack kamu harus mengusik keberadaan ku? Aku sudah cukup tenang dengan keadaan seperti ini.
Menjelang sore, Riani dikejutkan lagi dengan kiriman bunga untuknya. Kali ini bunga tulip berwarna kuning juga.
"Riani, nggak mungkin orang ini nggak kamu kenal? Dia sudah dua kali mengirimi kamu bunga di hari ini dengan warna yang sama."
"Siapa sih? Aku nggak kenal seseorang dengan inisial J."
"Jadi, bunganya mau ku kemanakan?"
"Buang saja!"
"Eh, ini bunga cantik lho."
"Nggak menyesal?"
"Nggak."
"Ya sudah. Aku bawa ya?"
Riani mengeram kesal. Ia berpikir harus berbicara dengan Jack saat datang ke mansion nanti.
*********
Reo dan Riani bermain di halaman depan saat Jack pulang kerja.
Riani sedikit heran karena Jack biasanya pulang malam dan ini baru jam 5 sore.
Saat Jack melihat Riani ada di sana bersama Reo, ia pun mendekati mereka.
"Anak Daddy!"
Reo yang sudah bisa berjalan, mendekati Jack laku memeluk papanya sambil tertawa.
"Senang ya main sama mommy?"
Reo tertawa gemas saat Jack mencium pipinya dengan gemas.
"Hallo, Ri!" Sapa Jack lalu menurunkan Reo dan anak kecil itu kembali berlari. Pengasuhnya langsung membawa Reo ke dalam rumah saat melihat isyarat Jack untuk meninggalkan dia dan Riani sendiri.
"Jack, jangan lagi mengirim bunga untukku. Apa sih maksudmu sampai dua kali mengirim bunga untukku di hari ini?"
__ADS_1
"Sebelum kita menikah dulu, aku hanya sekali mengirimkan bunga untukmu di tempat kerjamu. Kini, aku akan mengirimkan bunga padamu. Kalau perlu setiap hari. Aku ingin memulai lagi semuanya dari awal denganmu, Ri."
"Tapi aku tak suka, Jack."
"Kau boleh tak suka. Tapi itu tak akan menghentikan keinginanku untuk mendekati kamu lagi. Untuk mendapatkan maaf darimu. Dan memenangkan hatimu lagi." kata Jack sambil menatap Riani dengan tatapan penuh cinta dan harapan. Riani segera memalingkan wajahnya.
"Jangan usik kehidupanku lagi, Jack. Kamu kan tahu kalau aku sudah membangun hubungan dengan Philip?"
"Ya. Aku tahu. Tapi itu pun tak akan mengurungkan niatku kembali mengejarmu."
"Kamu gila!"
"Katakanlah begitu."
Riani langsung meninggalkan Jack dan masuk ke dalam rumah. Udara mulai terasa dingin karena sebentar lagi musim dingin.
Jack menatap punggung Riani. Ia tersenyum. Entah mengapa aku merasa kalau kau masih mencintaiku, Ri. Dan aku akan terus memperjuangkan mu.
*********
Setelah baby Reo tidur, Riani pun segera pamit ke kamar Cassie untuk pulang. Ketika ia turun ke bawa, ia terkejut melihat Jack yang sedang m nunggunya di dekat mobilnya. Ia langsung membuka pintu mobil begitu melihat Riani.
"Ayo masuk, Ri!"
"Aku sudah pesan taxi."
"Aku sudah mengusir sopir taxinya."
"Jack...!" Riani jadi kesal. Namun Jack hanya tersenyum.
"Aku suka melihatmu marah. Kau tambah cantik saja."
Riani mengeluarkan ponselnya. "Aku akan meminta Clark untuk menjemputku."
Jack meraih ponsel Riani dnw memasukan kembali ke dalam tas Riani.
"Ayo....!"
"Aku nggak mau, Jack."
Namun Jack begitu kuat mendorong Riani untuk masuk ke dalam mobilnya. Riani pun akhirnya masuk meskipun wajahnya sangat cemberut.
"Jangan begitu, Ri. Ini sudah larut. Bagaimana kalau sopir taxinya jahat dan ingin mencelakai kamu?" tanya Jack sambil menjalankan mobilnya.
"Sopir taxinya baik. Kamu saja yang tak baik." jawab Riani ketus sambil membuang pandangannya keluar jendela.
"Aku memang jahat di masa lalu. Namun aku ingin memperbaikinya sekarang. Karena aku baru tahu hanya kamu wanita yang sanggup membuatku bahagia."
Riani tak menanggapi perkataan Jack. Ia terus diam sampai tiba di apartemennya.
*********
Hallo semua......
selamat menikmati hari ini
jangan lupa dukung emak terus ya guys
__ADS_1