
Jack sudah berulang kali menghubungi ponsel Riani namun tak kunjung aktif juga. Anak buahnya bahkan tak bisa menemukan di mana keberadaan istrinya itu.
"Cassie, tadi mommy nggak bilang apa-apa saat menelepon dan mengatakan ada di toko Asia?"
"Nggak. Mommy hanya bisa bilang kalau ia sedang melakukan transaksi di kasir dan akan segera pulang." jawab Cassie. Gadis itu terlihat sedang santai sambil memainkan hp nya.
"Cassie, kamu nggak khawatir mommy belum pulang juga?" tanya Jack sedikit kesal melihat anaknya hanya sibuk dengan hp nya sambil duduk dan mengangkat kaki di atas meja.
Cassie menatap ayahnya. "Daddy, mommy kan sudah besar, pastilah bisa menjaga dirinya sendiri. Lagi pula, bukankah selama 1 minggu ini daddy nggak peduli dengan mommy? Setiap hari Daddy pergi sangat pagi dan pulang sangat larut malam. Kita bahkan tak pernah sarapan bersama lagi."
"Cassie....!"
Cassie meletakan ponselnya. "Jangan-jangan, mommy pulang ke Indonesia."
"Maksudnya?"
"Mommy mungkin kabur karena nggak betah dengan sikap Daddy yang keterlaluan."
"Cassie!"
Cassie menatap papanya. "Ini hanya andai saja lho, dad."
Jack semakin resah. Ia melangkah keluar rumah saat dilihatnya sebuah taxi memasuki pekarangan rumah. Ternyata Riani yang turun.
Kepala pelayan yang memang sementara menunggu di teras langsung mengangkat barang belanjaan Riani.
"Dari mana saja?" tak tahan Jack akhirnya bertanya.
Riani hanya menatapnya sekilas lalu kembali melangkah. Ia melewati Jack begitu saja.
"Mommy, kok baru pulang?" tanya Cassie lalu memeluk Riani. "Daddy pusing dari tadi karena mommy belum pulang." bisik Cassie.
"Khawatir juga dia?"
"Iya."
Riani tertawa. "Mommy mau istirahat dulu ya, sayang? Capek." ujar Riani lalu segera menaiki tangga.
Jack terkejut melihat sikap cuek istri nya. Ia hanya memeluk Cassie, berbincang dengan Cassie dan mengabaikan Jack. Bahkan pertanyaan Jack sama sekali tak dijawabnya.
Ia pun menyusul Riani ke kamar. Saat ia membuka pintu, dilihatnya istrinya itu sementara membuka pakaiannya.
"Riani dari mana saja kamu? Kamu seenaknya saja bikin orang rumah khawatir. Bahkan poselmu tak aktif."
Riani menurunkan gaun yang dipakainya. Jack langsung memalingkan wajahnya karena melihat tubuh istrinya itu yang nyaris polos.
Riani kemudian melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Jack yang nampak semakin dongkol saja.
Menikahi Jack, hanya bermodalkan kenekatan cintanya membuat Riani tak mengetahui semua sikap pria itu. Kini, Riani mengerti Jack orangnya sangat mudah marah dan cepat tersinggung. Jack tak suka dibohongi dan selalu ingin istrinya menjadi wanita yang penurut. Namun Riani juga ingin mengajarkan pada Jack, bahwa suami istri itu harus ada rasa saling pengertian. Riani berangkat ke Surabaya bukan karena mencari kesenangannya sendiri melainkan untuk kebahagiaan Arma.
__ADS_1
Selesai mandi, Riani keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang melingkari setengah badannya. Jack masih ada di kamar. Ia sedang duduk di sofa dan sepertinya memang sedang menunggu istrinya itu.
"Riani, kamu nggak punya mulut ya sampai tak mengatakan seharian ini kamu dari mana?" tanya Jack terlihat kesal.
Riani membalikan badannya. Ia menatap Jack. "Memangnya aku pernah bertanya, kamu pulang jam 11 atau jam 1 malam, dari mana saja? Memangnya kamu pernah menanggapi di saat aku berbicara selama satu Minggu ini?" Riani mengambil cream untuk kulitnya. Ia membalikan badannya sehingga membelakangi suaminya kembali.
"Kamu sudah tahu bahaya apa saja menimpahmu jika kamu pergi sendiri."
"Aku bisa menjaga diriku."
"Tapi RI....!" suara Jack mulai melembut.
Riani membuka handuk yang melilit tubuhnya. Ia kemudian mulai mengenakan pakaian dalamnya.
Jack menekan salivanya. Sungguh ia rindu menyentuh tubuh istrinya. Apalagi dengan perut Riani yang mulai membuncit. Istrinya itu terlihat seksi dan semakin menarik di mata Jack.
"Kamu tahu, Jack, kamu adalah orang paling egois yang pernah aku kenal selama ini. Aku selalu berusaha menerima semua rahasia kehidupanmu yang nanti terungkap setelah kita menikah. Kesalahanku hanyalah aku yang tak bisa menahan diri untuk menolong anakku. Coba bayangkan jika kamu ada di pihakku dan Cassie yang mendapatkan masalah. Apakah kamu hanya akan diam saja? Aku tahu kalau kamu ingin istri yang penurut. Tapi bukan berarti kamu seenaknya saja bersikap cuek seperti ini seolah-olah aku tak ada. Namun, jika memang kamu akan seperti ini, baiklah." Riani mengenakan gaun tidurnya. Sangat seksi dan merupakan gaun tidur yang paling Jack sukai saat istrinya itu memakainya.
"Mulai malam ini dan seterusnya. Aku akan pindah kamar. Besok pagi aku akan meminta Lessi untuk memindahkan semua pakaianku di kamar tamu."
"Maksud kamu apa?" Jack mendekati istrinya, mendesak Riani sehingga istrinya itu tak punya ruang gerak lagi karena punggungnya menyentuh dinding.
"Kamu tak membutuhkan aku lagi kan? Kamu tak menginginkan aku lagi kan? Jadi untuk apa aku ada di sini? Aku juga punya perasaan Jack. Sengaja hari ini aku pergi jalan-jalan seharian. Aku ingin menenangkan hatiku."
"Siapa bilang kalau aku tak membutuhkan kamu lagi?" Jack semakin dekat. Ia menyentuh pipi Riani dengan sangat lembut.
"Kataku."
Riani menatap mata Jack. "Bagimu mungkin itu biasa. Kau diam karena takut mengeluarkan kata-kata kasar. Namun bagiku lebih baik kau bicara, tumpahkan saja rasa marahmu. Aku akan siap mendengarkan. Tak semua orang akan menerima sikapmu ini, Jack. Demikian juga aku."
Jack mendekatkan wajahnya ke wajah Riani. Menyatukan dahi mereka. "Maafkan aku, sayang. Maafkan aku. Tolong ajarkan aku untuk merubah sifatku ini."
"Mungkin sebaiknya kita pisah kamar dulu, Jack. Sikapmu selama satu Minggu ini sangat menyakitiku." Riani bermaksud akan melangkah namun Jack menahan tangannya dan langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku. Aku tahu kalau aku terlalu posesif padamu." bisik Jack lalu mencium puncak kepala istrinya.
"Aku memaafkan mu."
Jack tersenyum. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya. "Aku hampir gila seharian ini tak melihatmu."
"Selama seminggu juga nggak melihat aku, nggak masalah kan?"
"Siapa bilang? Aku sering memantau kamu lewat CCTV. Walaupun kadang kesal kalau kamu terlalu lama di lantai dua karena di sini nggak ada CCTV nya."
"Ih, dasar kamu."
Jack menunduk. Bermaksud akan mencium bibir Riani namun pintu kamar tiba-tiba saja terbuka.Cassie masuk.
"Makan malamnya sudah siap. Aku meminta paman Leo untuk mengatur makan malam di balkon atas. Sudah lama kita tak makan malam bareng. Dan supaya mommy nggak perlu ganti baju." ujar Cassie.
__ADS_1
"Sedikit lagi sayang. Masih ada sesuatu yang ingin Daddy bicarakan dengan mommy." Jack sebenarnya ingin mencium istrinya itu.
"Pembicaraan kita sudah selesai Jack. Ayo makan! Aku sudah lapar!" ajak Riani lalu memakai kimono gaun tidurnya.
Jack menahan dirinya. Sabar Jack, malam ini kalian akan punya malam yang panjang.
Selesai makan malam, Jack sudah senyum-senyum sendiri.
"Mommy, malam ini kita janjian kan mau tidur bareng sambil mommy akan ajari aku bahasa Indonesia." ujar Cassie.
"Besok saja Cassie, mommy kan capek." ujar Jack.
"Mommy nggak capek. Yuk!" Riani langsung meraih tangan Cassie dan meninggalkan Jack sendiri. Pria itu mendengus kesal. Cassie sudah mengambil seluruh perhatian Riani.
Pukul 23.30
Jack membuka pintu kamar Cassie. Ia bermaksud akan membangunkan Riani dan mengajak istrinya itu ke kamar mereka namun yang ia temukan, Cassie dan Riani masih asyik belajar.
"Besok saja belajarnya." ujar Jack.
"Tanggung, dad." ujar Cassie.
Jack duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Pukul 1 dini hari ...
Riani dan Cassie tersenyum melihat Jack yang sudah tertidur di sofa.
"Mommy, apakah kita sudah keterlaluan?" tanya Cassie.
"Nggak. Sesekali daddymu harus diberi pelajaran agar ia tak terlalu egois."
"Oh ya, tadi mommy ke mana saja?"
"Mommy pergi ke rumah desa. Kangen dengan rumah itu. Oh ya ulang tahun mu yang ke-13, kita rayakan saja di sana."
Cassie mengangguk setuju. "Terima kasih mommy."
"Sama-sama sayang."
"Apakah mommy akan tidur di sini?"
Riani mengangguk. Cassie pun langsung berbaring dan tidur sambil memeluk ibu sambungnya itu. Jack pun terlelap walaupun sambil menahan sakit kepala.
*********
.Hallo semua....
maaf ya episodenya agak kurang nyambung soalnya aku sendiri pusing mau meneruskan bab ini seperti apa. Si emak nggak kasih petunjuk apapun. Jadi aku tulis menurut perkiraan ku saja. Semoga suka ya....
__ADS_1
Love A M A N D A