
Jack membuka pintu kamar. Di lihatnya Riani sedang berdiri sambil menatap ke luar jendela kaca. Ia mendekat dan memeluk istrinya itu dari belakang. "Sayang.....!" bisik Jack lalu mengecup leher Riani.
"Sam sudah pulang?" tanya Riani lalu perlahan membalikan badannya.
"Iya."
"Tadi dia bilang ada dokumen penting yang harus kau tandatangani. Apa itu?"
"Surat cutiku."
"Surat cuti?"
"Perusahaan memberikan libur pada karyawan nya mulai tanggal 24 Desember sampai tgl 26 Desember. Setelah itu kami masuk lagi dan nanti libur di tanggal 31 Desember lalu masuk lagi tanggal 3 Januari. Dan aku minta cuti dari tanggal 27 sampai tanggal 3 nanti."
Riani tersenyum. "Sebegitu pentingnya dirimu sampai Sam mencarimu?"
"Sam memang perhatian pada semua karyawannya." Jack membelai pipi Riani. "Oh ya, bagaimana gaunnya? Kamu suka?"
"Sangat suka. Itu gaun yang mahal ya? Merk nya saja dari rumah mode The Aslon."
"Nggak ada kata mahal untuk wanita yang aku cintai." Jack membawa Riani ke dalam pelukannya. Ia kemudian mengecup puncak kepala istrinya dengan sangat lembut. "Aku lapar. Kita makan, yuk!"
"Ayo!"
Sambil bergandengan tangan, keduanya keluar kamar. Sebenarnya ingin sekali mulut Riani bertanya tentang apa yang baru saja dibacanya di Internet. Namun entah mengapa ia menahannya sebentar.
"Sayang, jika libur natal, kamu dan Cassie biasanya kemana?" tanya Riani ketika mereka berdua sementara menikmati makan siang.
"Pagi biasanya ke gereja, setelah itu kumpul di rumah saja, menikmati kue dan makanan yang sebenarnya tak terlalu enak karena hanya dipesan saja."
"Oh begitu ya. Nggak ada tradisi saling kunjungan ke rumah saudara?"
"Saudaraku hanya satu. Itu pun di luar negeri. Biasanya aku dan Juliana hanya saking Videocall untuk memberikan ucapan selamat natal."
"Di desa ini nggak ada perayaan khusus?"
Jack meneguk air minum lalu menjawab pertanyaan istrinya."Biasanya di sini, menjelang musim salju berhenti, akan dilaksanakan festival bunga. Banyak turis yang datang. Sekaligus juga dengan syukur natal dan tahun baru."
"Sayang, sekolah Cassie itu adalah sekolah mahal ya? Aku baca di internet bahwa itu salah satu sekolah termahal di Inggris. Biasanya yang sekolah di situ adalah anak-anak konglomerat, kaum bangsawan dan anak orang terkenal seperti anak artis, model atau atlet terkenal. Apakah kamu nggak merasa berat membayar kebutuhan sekolah Cassie. Apalagi dia kan masuk asrama."
Jack tersenyum. "Semuanya bisa ku tangani dengan pekerjaanku. Aku ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi Cassie."
__ADS_1
Riani mencoba mencari akal. Bagaimana caranya ia bisa membuat suaminya itu mengaku. "Sayang, boleh tidak setelah liburan selesai, aku bekerja lagi?"
Jack melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang sang istri.
"Nggak, sayang. Kamu nggak boleh kerja lagi."
"Aku akan kerja di tempat lain. Aku mau bantu pendapatan keluarga kita."
"Sudah ku katakan kalau gaji ku cukup untuk membiayai kehidupan kita bertiga. Kenapa nggak di rumah saja. Sekarang kan kamu punya pekerjaan. Setiap hari tuan John datang mengambil kue buatanmu. Itu sudah lebih dari cukup. Bagaimana jika Daniel menemukan kamu lagi?"
"A...aku hanya ingin mendapatkan uang lebih agar bisa pulang ke Surabaya dan menengok Arma."
Jack menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Kamu sudah ingin pulang?"'
"Eh..., aku.....!" Riani menjadi bingung. Sebenarnya ia belum ingin pulang walaupun rindu dengan Arma. Dia hanya ingin Jack terbuka dengan kehidupannya.
Jack memegang kedua bahu istrinya. "Sayang, tak perlu kau bekerja untuk bisa pulang ke Surabaya. Aku pasti akan menyediakan semua keperluan mu. Percayalah kepadaku." Lalu Jack memeluk Riani dan mengecup puncak kepala istrinya. Riani pun hanya diam dalam dekapan suaminya.
**********
Hari natal akhirnya mereka lewati dengan acara keluarganya yang menyenangkan. Clark sendiri datang di hari natal yang kedua. Walaupun Jack nampak masih belum menyukai Clark, namun pria itu bisa membuat Cassie bahagia dengan kehadirannya.
Cassie pun kembali ke asrama dan Jack kembali bekerja. Riani merasa kesepian lagi. Walaupun setiap harinya ia masih membuat kue dan diantarkan ke toko kue milik tuan John namun ia masih saja merasa kesepian. Apalagi dengan keberadaan Jack yang masih menyembunyikan identitas dirinya.
Terkadang, jika rumah sudah sepi, Riani kembali membaca profil Jack yang ada di internet. Ia masih tak percaya dengan apa yang dibacanya.
Jack Everdin Almond itu adalah nama lengkapnya. Merupakan seorang atlit peselancar asal Inggris yang telah memenangkan berbagai pertandingan tingkat nasional dan internasional. Ia juga adalah model beberapa iklan yang berhubungan dengan alat olahraga dan CEO 2 perusahaan besar di Manchester. Salah satu adalah perusahaan kosmetik dengan merk yang sudah mendunia.
Di samping mengolah 2 perusahaan besar, Jack memiliki beberapa cabang toko yang berhubungan dengan produk kecantikan dan alat olahraga. Ada juga gambar beberapa mobil mewah yang Jack miliki.
Lalu, mengapa Jack tampil sederhana sebagai seorang karyawan biasa yang baik mobil pick up? Mengapa Jack memilih tinggal di desa ini dengan suasana yang jauh dari hingar-bingar kita besar seperti London atau Manchester?
Pertanyaan ini yang selalu menghantui pikiran Riani. Setiap kali mereka menikmati keintiman berdua, Riani ingin menanyakan pertanyaan yang sama. Namun mulutnya seolah tak bisa mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di otaknya.
Itulah sebabnya hari ini, Riani memilih untuk pergi ke toko Asia untuk membuat dirinya sibuk dan tak lagi memikirkan pertanyaan soal kehidupan Jack yang masih disembunyikan darinya.
Hari ini matahari nampak bersinar cerah walaupun tumpukan salju masih ada dan belum mencair.
Riani mengikat rambut panjangnya dan menggunakan sepatu boat serta mantel yang tebal.
Semalam Jack memberikannya uang bulanan yang lumayan banyak secara tunai. Tidak dalam bentuk kartu seperti yang biasa digunakan oleh mereka yang berada di tingkat sosial teratas seperti yang Riani ketahui tentang Jack.
__ADS_1
Begitu Riani turun dari taxi, ia melangkahkan kakinya ke sebuah toko olahraga yang pernah dilihatnya ada poster Jack. Sayangnya poster itu sudah tak ada. Riani pun memilih untuk jalan-jalan sebentar di pusat perbelanjaan itu sebelum akhirnya ia belanja beberapa bahan makanan. Betapa senangnya Riani saat melihat ada mie instan yang merupakan salah satu merk ternama di Indonesia. Perempuan itu sudah membayangkan ia akan makan mie itu sambil menaruh cabe yang banyak.
Saat ia baru saja keluar dari toko itu, Riani berpapasan dengan seorang perempuan yang wajahnya seperti tak asing dalam ingatan Riani. Keduanya saling berpandangan. Riani berusaha tersenyum. Namun perempuan itu sama sekali tak membalas senyuman Riani. Ia justru menatap Riani dengan alis yang terangkat sebelah. Dan sebelum Riani melangkah melewatinya, Riani mendengar suara perempuan itu.
"Dasar pelakor!"
Langkah Riani terhenti. Ia memang sudah menduga kalau perempuan itu orang Asia. Atau mungkin blesteran.
"Maksud kamu apa?" tanya Riani sambil membalikan badannya.
Perempuan yang berdandan seperti wanita berkelas itu menatap Riani.
"Jangan kau bawa kebiasaan dari kampung ke kota besar seperti ini. Kamu pikir dengan datang ke sini, kamu bisa mengambil Daniel dari sisiku? Kamu salah besar, brengsek!"
"Hei, kamu bicara apa?" Riani bertanya sambil terus mengingat siapa perempuan itu. Sampai akhirnya ia ingat sesuatu.
"Dewi?"
Dewi tersenyum dengan tatapan merendahkan. "Kamu akhirnya tahu siapa aku."
"Salah besar jika kamu berpikir aku akan menganggu hubunganmu dengan Daniel. Aku sudah menikah."
"Sudah menikah?" Dewi menatap dandanan Riani yang nampak sederhana itu.
"Bule mana yang suka dengan perempuan kampungan seperti dirimu?"
"Jangan menghina diriku, Dewi."
"Kau memang pantas dihina karena sekarang kau coba mengganggu suami ku!" Dewi mulai berteriak dengan suara yang keras.
'Dewi, Cukup!"
Dewi dan Riani sama-sama menoleh. Ada Clark yang berdiri di sana.
**********
Selamat pagi.
Semangat Senin
jangan lupa dukung emak
__ADS_1