
"Kalau kamu pergi, aku akan pulang ke Surabaya!"
Langkah Jack terhenti. Ia mengepalkan tangannya, mencoba tak terpancing atas apa yang baru saja diucapkan istrinya.
"Aku bersungguh-sungguh, Jack!" seru Riani lagi dengan suara yang lebih keras.
Leo yang sudah mendekat untuk memberitahukan bahwa mobil sudah siap terpaksa mundur lagi. Ia tak pernah mendengar sang nyonya bersuara keras sampai saat ini.
Perlahan Jack membalikan badannya. Ia menatap Riani tanpa berkedip. kedua kini saling berhadapan di lorong antara kamar mereka dan kamar Cassie.
"Jangan melawan aku, Riani!" ujar Jack pelan namun penuh penekanan.
"Aku bukan melawan, Jack. Namun kamu harus belajar memahami perasaan Cassie. Dia sudah remaja."
Jack masuk kembali ke dalam kamar tidur sambil membanting pintu yang ada.
Riani memejamkan matanya sesaat. Jack memang sedikit emosional. Sifat Jack ini tak pernah Riani bayangkan saat mereka bertemu si Bali. Jack terlihat ramah, penuh kasih pada Cassie dan sangat lembut saat berbicara.
Arma saja langsung suka pada Jack di pertemuan pertama mereka.
Setelah menenangkan hatinya sejenak, Riani membuka pintu kamar. Jack tak ada namun terdengar bunyi air dari kamar mandi.
Sambil menunggu Jack yang sedang mandi, Riani membereskan tempat tidur dan setelah itu menyiapkan pakaian Jack.
Pintu kamar mandi di buka dan Jack keluar hanya menggunakan boxer sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil di tangannya.
Riani menahan senyum. Ia selalu kagum melihat tubuh atletis suaminya. Rasanya ingin memeluk tubuh kekar itu dan menemukan kehangatan di sana. Entahlah, sejak hamil Riani sebenarnya sangat suka manja-manja di dekat Jack. Ia selalu mendapatkan ketenangan. Namun apakah pagi ini bisa?
Jack mengambil pakaian yang disiapkan Riani untuknya. Celana jeans dan kaos berwarna biru.
"Sayang, kamu mau sarapan?" tanya Riani.
"Nggak. Aku mau ke rumah keluarga Smith."
Riani terkejut mendengarnya. "Jadi kamu mau pergi juga?"
"Anakku ada di sana. Aku tak mau menunggu satu hari dan membuatkan mereka meracuni pikirannya sehingga ia akan menjadi lebih keras kepala." kata Jack sambil menyisir rambutnya di depan meja rias.
Riani memutar otaknya. Bagaimana caranya ia bisa menahan Jack agar tak pergi.
"Jadi kamu akan membiarkan aku pulang ke Surabaya?" tanya Riani dengan tatapan menantang.
Jack membalikan badannya. " Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi. Makanya pasport mu sudah aku simpan."
"Jack....!"
"Sopir akan mengantar kamu pulang ke mansion." Jack mulai melangkah untuk meninggalkan kamar.
"Ah .....!" Riani memegang perutnya.
__ADS_1
Jack langsung membalikan badannya. Ia mendekati Riani yang sudah duduk di tepi tempat tidur. "Ada apa, sayang?"
"Jangan perdulikan aku. Pergi saja!"
"Sayang, kamu kenapa? Ada masalah dengan perutmu? Kau merasa kram atau kesakitan? Di mana yang sakit?" Jack nampak panik. Ia langsung berlutut di depan Riani. "Sayang, apakah perlu aku menelpon dokter kandunganmu?"
Riani menepis tangan Jack. "Pergilah! Tinggalkan saja aku. Karena yang ada dipikiran mu hanyalah Cassie. Aku justru merasa kalau kau tak peduli denganku."
"Sayang, bukan seperti itu, aku...."
"Ah.....!" Riani memegang lagi perutnya.
"Ri.....!"
"Sikapmu membuat aku stres !"
"Sayang, aku bukannya tak peduli denganmu. Tapi Cassie....!"
"Aow.....!" Riani kembali mengusap perutnya.
"Aku telepon dokter sekarang ya?" Jack berdiri dan langsung mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menelpon dokter Diana.
Riani membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia merasakan perutnya agak kram.
Jack kembali mendekat."Sayang kamu mau minum? Atau ingin makan sesuatu?"
Riani memalingkan wajahnya. Ia sedikit kesal dengan Jack.
Riani memejamkan matanya.
"Sayang, bicarakan sesuatu." Jack menjadi semakin khawatir.
"Aku ingin minum teh hangat."
"Ok." Jack berlari ke arah pintu. "Leo....!" teriaknya keras.
Leo pun berlari menemui tuannya itu.
"Ada apa tuan?"
"Buatlah teh hangat untuk Nyonya. Tak boleh pakai lama!"
"Baik tuan....!" Leo segera berlari ke dapur. Untunglah rumah di desa ini tak terlalu besar sehingga Leo tak membutuhkan waktu lama untuk kembali ke dapur.
Jack pun kembali ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang lalu membelai wajah istrinya. "Sayang, apakah kamu masih merasa sakit."
"Mana teh nya, Jack?"
"Tunggu sebentar. Leo pasti sudah hampir selesai membuatnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Leo datang. Riani pun bangun dan meneguk teh itu secara perlahan. Lalu ia membaringkan tubuhnya lagi.
1 jam kemudian barulah dokter Diana sampai. Ia langsung memeriksa kandungan Riani.
"Ini biasa terjadi jika ibunya terlalu stres dan agak lelah." ujar dokter Diana. "Nyonya, usahakan istirahat yang banyak ya? Dan jangan memikirkan sesuatu yang akan menganggu emosimu." ujar dokter Diana sambil menuliskan resep untuk Riani.
"Apakah sebaiknya kami ke kota?" tanya Jack.
"Nyonya, apakah kamu ingin di sini atau ke kota? Pilihlah tempat yang membuatmu nyaman untuk tinggal."
"Aku ingin di sini!"
"Tapi sayang di sini...."
"Aku ingin di sini, Jack!"
Dokter Diana mengajak Jack keluar. Ia kemudian berbicara dengan pria itu. "Kehamilannya masih rawan, tuan Jack. Tolong jaga emosi nyonya Almond agar tak membahayakan janinnya. Aku bisa melihat kalau Nyonya Almond kayaknya sedang banyak pikiran."
"Kamu pasti sudah mendengar masalah ku dengan keluarga Smith kan?"
"Mereka akhirnya tahu tentang Cassie?"
"Ya. Dan sekarang Cassie pergi bersama mereka walaupun aku tak mengijinkannya. Riani membela Cassie dan kami bertengkar hebat."
"Please Jack, kalau kamu ingin kehamilan Riani berjalan dengan baik, jaga emosinya."
"Baiklah."
Dokter Diana pun pamit dan Jack kembali ke kamar sebelah meminta Leo menebus obat untuk Riani.
Di lihatnya Riani sudah memejamkan matanya. Jack pun ikut naik ke atas ranjang. Saat Riani merasakan sentuhan Jack di pinggangnya, Ia pun membalikan tubuhnya dan langsung tidur sambil bersandar di dada Jack. "Jangan pergi kemanapun, Jack."
"Aku akan di sini bersamamu, sayang." Jack mencium pipi Riani. "Tidurlah."
Riani pun memejamkan matanya sambil bersyukur di dalam hatinya karena kram di perutnya membuat Jack tak jadi pergi walaupun Riani merasa sangat ketakutan tadi karena ia tak ingin sesuatu terjadi dengan janin yang dikandungnya.
Saat Riani sudah tertidur, Jack pun perlahan melepaskan pelukan Riani dan mengambil ponselnya lalu berjalan keluar kamar.
"Hallo Sam, tolong jemput anakku di rumah keluarga Smith. Kalau pergi panggil polisi dan laporkan kasus pencurian anak."
"Jack, itukan keluarga Cassie juga."
"Lakukan perintahku, Sam." Jack laku menutup percakapan diantara mereka dan masuk kembali ke dalam kamar.
**********
Selamat malam
maaf ya Manda agak lambat hari ini up.
__ADS_1
Salam sayang semuanya.
dukung terus cerita ini ya guys