Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Kedatangan Arma


__ADS_3

Sejak pagi Riani sudah sangat bersemangat karena Arma hari ini akan datang bersama kedua orang tuanya dan Dessi.


Berbagai macam makanan dan kue sudah Riani siapkan.


Jack sendiri yang menjemput mereka di London kemudian dari London mereka akan naik jet pribadi Jack menuju ke Manchester.


"Mommy, apakah mereka sudah tiba?" tanya Cassie yang memasuki ruang makan.


"Belum sayang. Tadi daddy telepon kalau mereka baru saja mendarat di Manchester."


Cassie tersenyum. Walaupun hubungannya dengan sang ayah tak akur selama beberapa hari ini, namun ia merasa sangat terhibur dengan berita kedatangan Arma.


Riani dan Cassie kompak menggunakan gaun berwarna hijau daun. Cassie memang sangat menyukai warna hijau.


Akhirnya rombongan yang dinanti pun tiba. Riani dan Cassie serta para pelayan sudah menunggu mereka di teras depan.


"Oh.....em......Ji......!" teriak Dessi saat turun dari mobil dan melihat rumah Jack Almond yang besar seperti istana ini. Apalagi taman bunganya yang besar dengan bunga-bunga yang indah dan segar. Matanya langsung melotot melihat semua keindahan ini.


"Mama....!" teriak Arma dan langsung berlari memeluk mamanya.


Riani tak bisa menahan rasa haru yang ada. Walaupun baru satu bulan lebih berlalu sejak Riani meninggalkan Indonesia namun rasa rindu tetap saja sama.


"Hallo sayang...!" Riani mencium putrinya secara berulang.


"Hallo Arma. Selamat datang." sapa Cassie dengan bahasa Indonesia.


Arma sudah tak terkejut mendengar Cassie yang bisa berbahasa karena mereka mereka sudah sering Videocall.


"Kamu sangat cantik dan tinggi!" ujar Arma membuat Cassie langsung memeluknya.


Arya dan Sulastri bernapas lega melihat bagaimana manisnya Cassie menyambut adik sambungnya itu.


"Opa, Oma, selamat datang." Cassie meraih tangan Arya dan Sulastri dan secara bergantian ia mencium tangan mereka.


Suasana tegang yang selama beberapa hari ini ada di rumah karena Cassie yang selalu bersikap diam pada papanya, jadi berubah. Apalagi dengan keheboan Dessy yang sok berbahasa Inggris.


"Bibi Dessy, kamu juga sangat cantik!" puji Cassie setelah memeluk Dessy.


"Oh thankyou my dear."


Riani melirik suaminya yang berdiri paling belakang. Ia langsung menyambut Jack sambil mengecup pipi suaminya. "Capek?"


Jack menggeleng. "Aku terlalu bahagia sampai lupa dengan rasa capek."


"Terima kasih sudah menjemput mereka."


Jack melingkarkan tangannya di bahu Riani. "Ayo masuk!"


Arya dan Sulastri terpana saat melihat bagaimana kayanya menantu mereka. Apalagi para pelayan yang berderet di depan pintu masuk dan menyapa mereka yang datang.


"Ya ampun Riani, ini rumah apa istana? Aku bisa tersesat jika berjalan-jalan di sini." ujar Dessy.


Arma tersenyum melihat fotonya ada di ruang tamu itu. Sejajar dengan foto Cassie.

__ADS_1


"Rumah ini sudah lama menanti kamu, Arma." ujar Cassie sambil menggandeng tangan Arma.


Mereka langsung di ajak ke ruang makan karena memang sekarang sudah jam 8 malam.


"Ri, ibu dan ayah nggak biasa makan malam dengan peralatan makan seperti ini. Kami kan juga biasanya menggunakan tangan." bisik Sulastri saat ia melihat ada pisau, garpu, sendok dengan berbagai ukuran yang diatur di sisi kanan dan kiri piring.


"Ibu lihat aku saja." ujar Riani yang menang sengaja duduk diantara kedua orang tuanya.


Dessy, Arma dan Cassie duduk tepat di depan mereka sedangkan Jack duduk di kepala meja.


"Riani, setiap hari kamu makan dengan suasana seperti ini? Dasar sultan....!" Dessy bicara sambil geleng-geleng kepala.


Semua tertawa mendengar perkataan Dessy. Jack yang memang sudah sedikit belajar bahasa Indonesia pun ikut tertawa.


Suasana di meja makan pun menjadi hangat dengan sikap Dessy yang terlihat kaku menggunakan semua peralatan makan yang ada.


Selesai makan, Dessy dan kedua orang tua Riani diantar ke kamar tamu yang memang ada di lantai dua. Sedangkan Arma di ajak Cassie untuk ke lantai dua karena ia sudah menyiapkan kamar Arma, tepat di sebelah kamarnya.


"Arma, kamu menyukai kamarnya?" tanya Cassie.


"Sangat suka. Tetapi terlalu besar. Aku takut tidur sendiri di kamar sebesar ini." ujar Arma sambil menatap mamanya yang berdiri berdampingan dengan Jack.


"Kamu mau aku temani tidur di sini?" tanya Cassie. Bagaimana pun Arma baru berusia 8 tahun. Tentu saja bukan hal yang mudah baginya untuk berinteraksi di tempat baru.


"Kamu mau menemaniku?" tanya Arma dengan tatapan polosnya.


"Tentu saja. Kita adalah saudara, apa salahnya jika tidur di kamar yang sama?" Cassie tersenyum manis membuat Riani dan Jack bernapas lega melihat mereka berdua yang langsung akrab pada hal baru pertama bertemu.


Akhirnya setelah drama Dessy yang mandi air terlalu panas di bak mandi kamar mandinya, ayah Riani yang tak tahu menggunakan kloset yang serba diatur oleh tombol, Riani dan Jack pun akhirnya bisa beristirahat. Mereka mampir di kamar Arma dan melihat bahwa kedua putri cantik itu sudah tertidur dengan posisi Arma yang memegang tangan Cassie.


"Iya. Aku juga berharap demikian."


"Namun mereka hanya sepuluh hari ada di sini." Riani nampak sedih.


"Nanti kan bisa datang lagi, sayang. Tiap Arma libur sekolah, mereka bisa datang ke sini."ujar Jack. Ia membelai perut Riani. "Kata dokter Diana, besok kita sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya. Aku ingin Arma dan Cassie yang nantinya memilih baju untuk adik mereka."


"Iya. Aku juga ingin demikian."


"Kamu sudah mengantuk?" tanya Jack sambil mengusap lengan istrinya.


"Sedikit. Ada apa?" Riani mendongak dan menatap suaminya.


Jack tersenyum penuh arti. Riani memahami apa yang diinginkan suaminya. "Kepingin?"


"Sudah 3 hari lho...."


Riani tertawa. Ia membalikan badannya dan duduk di pangkuan suaminya. "Satu ronde."


"Dua."


"Nanti aku nggak bisa bangun pagi."


"Kan ada para pelayan yang akan menyiapkan makan pagi."

__ADS_1


"Aku malu sama ayah dan ibu. Nanti mereka pikir karena aku sudah menikah dengan orang kaya, aku jadi malas."


Jack membelai wajah istrinya. "Tugas istriku hanya dua. Menjaga kandungannya agar tetap sehat dan menjaga Palo supaya tak sakit kepala."


"Palo? Siapa itu?"


"Ini....!"


Riani terkejut saat tangannya di bawah Jack ke bagian inti tubuhnya. Keduanya tertawa bersama namun setelah itu tawa mereka terhenti karena Jack sudah mencium istrinya dengan sangat keras.


**********


Karena belum terbiasa dengan perubahan jam yang ada, Dessy sudah bangun jam 4 subuh. Ia merasa lapar dan mencari makanan di sana. Untunglah Leo sang kepala rumah tangga sudah bangun. Ia menolong Dessy dengan menyiapkan roti bakar dan secangkir coklat hangat.


Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Dessy mencoba berkomunikasi dengan Leo. Setelah menghabiskan roti dan minuman coklatnya, Dessy memilih untuk jalan-jalan ke luar rumah. Ia mengencangkan jaketnya karena merasakan udara yang dingin. Pada hal di Inggris sekarang sedang musim panas.


Pagi belumlah juga terang namun tak menghalangi Dessy yang kepo menyorot seluruh bagian rumah Riani dengan panggilan Videocall kepada semua karyawan di kantor. Maklumlah di Surabaya sekarang sudah jam 11 siang.


Begitu asyiknya Dessy ber-videocall sampai tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi.


Dan bukan Dessy namanya kalau tak menyadari. Ia mengahiri percakapannya dengan teman-temannya. Ia membalikan badannya dan menatap seorang cowok tampan berbaju serba hitam dengan badan yang tegap seperti seorang tentara.


"Hi..., how are you?" sapa Dessy.


"Fine. Thanks you. How are you madam? Welcome to Manchester."


"Oh ya...Welcome ya...."


Pria tampan itu, merupakan salah satu bodyguard Jack.


Dessy bingung harus bicara apa lagi, makanya dengan sedikit malu, ia mengulurkan tangannya. "My name is Dessy!"


"My name is Vigo."


"Duh Gusti, Vigo. Kamu tuh ganteng amat." ujar Dessy dalam logat Surabaya yang medok membuat Vigo jadi bingung.


Riani yang ternyata sudah bangun dan memperhatikan mereka dari atas. "Dasar Dessy gendeng. Diajaknya si bule bicara dengan logat Indonesia."


Jack yang ternyata ikut bangun pun menyusul istrinya ke balkon. Ia memeluk istrinya dari belakang.


"Ada apa, sayang?" tanya Jack.


"Dessy beraksi. Kamu kan tahu kalau dia ngefans dengan cowok bule sejak lama."


"Siapa tahu ada benih-benih cinta diantara mereka. Vigo itu masih jomblo. usianya baru 30 tahun. Dia pernah bekerja sebagai tentara bayaran namun aku merekrutnya dan memberikan gaji yang lebih tinggi, dia sudah satu tahun bekerja denganku"


Riani menatap sahabatnya itu. Akankah ada benih cinta antara mereka?


************


Selamat sore....


akankah ada kisah manis yang terjadi?

__ADS_1


Amanda bingung nih mau teruskan gimana cerita ini. Takutnya para pembaca bosan karena tak ada petunjuk dari emak lagi.


Berikan masukan ya?


__ADS_2