
Arya menatap lahan sawahnya yang ada di depannya. Hari ini ia akan mulai menanam bibit padi yang sudah dipersiapkan. Ia harus mengerjakannya sendiri untuk menghemat pengeluaran yang ada.
Sebentar lagi istrinya akan datang dan membantunya di sini. Arma pun setiap pulang sekolah pasti akan menyusul mereka di sawah. Cucunya itu terkadang tertidur di gubuk kecil yang ada di tengah-tengah sawah.
Namun, baru saja Arya akan turun ke sawah, ia dikejutkan dengan kedatangan Jack. Pria itu menggunakan kaos tangan panjang berwarna coklat, celana pendek jeans sampai ke batas lutut dan sepatu boat. Tak lupa juga menggunakan caping.
"Hei bule, mau apa kamu ke sini?" tanya Arya sambil berkacak pinggang.
Jack tersenyum lalu membungkuk hormat dan mencium punggung tangan Arya membuat pria itu terkejut.
Jack membuka ponselnya dan menyebutkan sesuatu dalam bahasa Inggris lalu munculah terjemahannya.
"Selamat pagi ayah!" ucap Jack walaupun terdengar sangat kaku dan membuat Arya hampir tertawa.
"Kamu bisa bahasa Indonesia?"
Jack tak mengerti harus menjawab apa. Ia kembali berbicara pada ponselnya, kemudian membaca kembali terjemahan itu dalam bahasa Indonesia.
"Saya datang mau bantu ayah di sini."
"Nggak usah. Memangnya kamu bisa bekerja jadi petani? Lagi pula kamu aneh selalu berbicara dengan hp mu itu. Kayak orang gila saja." Arya langsung turun ke sawah, mengambil bibir padi yang sudah jadi dan mulai menanamnya kembali.
Jack memperhatikan cara bekerja calon ayah mertuanya itu. Lalu ia pun turun dan mulai melakukan hal yang sama.
Ayah Riani itu ingin menegur Jack karena takut nanti tanaman padinya rusak. Namun saat melihat Jack melakukan itu dengan. benar walaupun tak secepat gerakannya, pria itu pun membiarkan Jack ikut menanam bibir padi itu.
Mereka pun akhirnya bekerja tanpa bicara.
Tak lama kemudian Sulastri datang ke sawah sambil membawa kopi dan makanan. Ia terkejut melihat Jack ada di sana.
"Duh, kok bule ini bisa menanam padi ya?"
"Ayah, ayo istirahat dulu. Minum kopi. Bule eh...Jack, come on drink kopi." ujar Sulastri membuat suaminya itu terkejut.
"Jangan sok tahu bahasa Inggris."
"Harus belajar ayah. Kita kan akan punya mantu bule."
Arya menatap istrinya tajam. "Memangnya aku sudah bilang setuju? Nggak kan?" Arya langsung mencuci tangannya di tempat air yang mengalir dari gunung. Mereka memasang bambu dari gunung sehingga air bisa mengalir di sawah ini.
Jack pun ikut naik ke atas. Ia mencuci juga tangannya dan ikut duduk di gubuk kecil itu.
Sulastri menuangkan kopi yang dibawanya lalu memberikannya kepada suaminya dan juga pada Jack.
"Thank you." ujar Jack saat menerima gelas berisi kopi itu.
"You're welcome." kata Sulastri membuat Arya melirik istrinya dengan kaget.
Sulastri tersenyum. "Aku tanya-tanya sama Arma."
__ADS_1
Arya memutar matanya malas. Ia merasa kurang menikmati kopi dan pisang goreng buatan istrinya karena sang istri nampak lebih perhatian pada Jack.
Walaupun agak asing di lidahnya, namun Jack berusaha menikmati pisang goreng itu.
Setelah minum kopi selesai, Arya kembali turun ke sawah dan Jack pun mengikutinya. Sulastri memperhatikan cara Jack menanam padi dan dia terkejut saat melihat Jack yang sudah bisa menanam padi secara benar.
Sulastri ikut turun ke sawah dan ikut menanam padi juga.
Tak lama kemudian Arma datang. Ia pun kaget juga melihat ada Jack di sana. Wajah Jack terlihat merah karena matahari yang semakin terik menjelang tengah hari.
Jack sebenarnya sudah merasakan kalau punggungnya sakit. Ia bahkan hampir pusing karena tak pernah berada di bawa matahari selama ini.
"Nak, ayo istirahat dulu!" ajak Sulastri dengan gerakan tangannya. Ia dapat melihat Jack yang sudah mulai sempoyongan.
Walaupun tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sulastri, namun Jack mengikuti juga langkah perempuan itu karena ia memang sudah sangat kepanasan. Jack pun kembali mencuci tangannya juga wajahnya karena ia merasa sangat kepanasan.
Arma menahan tawa saat melihat wajah Jack yang kemerahan dan bagaimana Jack meminum air putih dengan sangat banyak.
"Ayah, ayo kita makan. Ini sudah hampir jam 1." Ujar Sulastri melihat suaminya yang masih terus bekerja.
Arya nampak cemberut namun ia menuruti perkataan istrinya juga. Ia pun naik ke atas dan membersihkan tubuhnya.
Saat Sulastri membuka rantang yang berisi bekal makan siang, Jack nampak terkejut melihat isinya. Makanan yang memang belum pernah dimakannya.
Ada nasi, sayur asem dan Ikan lele yang dipepes.
"Arma, kalau bilang mari makan gimana?" tanya Sulastri.
Sulastri pun menatap Jack dan berkata. "let's eat together."
Arya kembali melotot ke arah istrinya.
"Ok." ujar Jack karena memang perutnya sangat lapar.
Namun saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya, Jack langsung tersedak karena merasa pedas. Wajahnya semakin merah dan Sulastri memberikan dia segelas air putih.
"Makanya, kalau nggak tahu makan makanan Indonesia, ya sudah, pergi sana! Buat selera makan orang hilang aja." Ujar Arya.
"Ayah, jangan bicara seperti itu." Sulastri memarahi suaminya. "Kasihan kan dia. Mungkin karena tak biasa makan makanan yang pedas."
"Pedas apanya?" Arya sedikit mengejek sambil menatap Jack yang masih terbatuk-batuk.
"Ayah!" Sulastri menggeleng tak suka.
Jack menatap Arma. "What do they say?"
"Poor Jack!"
Jack pun berusaha tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Arma. Ia perlahan mencoba memasukan kembali makanannya. Walaupun rasanya agak kaku menggunakan sendok karena ia terbiasa menggunakan pisau dan garpu serta duduk di depan meja makan saat makan.
__ADS_1
Selesai mereka makan, Arya nampak membaringkan tubuhnya untuk beristirahat sebentar. Jack pun duduk dan mencoba berkomunikasi dengan Arma. Gadis kecil itu sesekali bisa menjawab pertanyaan Jack walaupun tak semua percakapan mereka berjalan lancar karena belum banyak kosakata yang dipelajari oleh Arma.
Saat melihat Arya yang sudah tertidur, Jack melanjutkan pekerjaannya. Sulastri pun ikut membantu bersama Arma. Jack kagum karena gadis kecil itu sudah tahu bagaimana cara menanam padi.
Tak lama kemudian, Arya terbangun dan ia juga membantu mereka menanam padi. Sampai akhirnya pekerjaan di hari itu bisa selesai.
Jack pun pamit pulang dan Arma menterjemahkannya.
"Arma, undang Jack untuk makan malam di rumah." Kata Sulastri.
Arma pun mengatakannya pada Jack dan pria itu nampak senang. Ia mengangguk sambil menyebutkan kata 'ok'.
************
Riani yang baru pulang kerja, terkejut mendengar cerita ibunya tentang Jack yang ikut menanam padi.
"Ibu kasihan melihat ia sangat kepanasan. Walaupun ia menggunakan caping, tetap saja wajahnya gosong."
"Kenapa dia ke sawah?"
"Mungkin ingin bicara dengan ayahmu. Namun karena sepanjang hari ayahmu cemberut saja, ia pun terlihat enggan. Lagi pula ia berbicara bahasa Indonesia dengan batuan aplikasi yang ada di hp nya. Jadi agak lambat juga." Sulastri menatap anaknya. "Nak, mengapa kamu tak menerima lamaran Jack? Dia terlihat tulus denganmu."
Wajah Riani terlihat muram. "Daniel juga terlihat tulus padaku saat ia berani menentang orang tuanya dan melamar aku sendiri. Namun hanya 3 hari, ia justru meninggalkan aku. Ia lupa kalau aku sedang mengandung. Dan dengan teganya, ia menceraikan aku. Jujur, aku bahagia bertemu dengan Jack. Namun aku takut ditinggalkan lagi, bu."
"Nak, cobalah bertanya dalam doa-doamu kepada Tuhan. Minta diberikan khidmat untuk memutuskan mana yang baik. Ibu ingin kau bahagia. Entah kenapa hati kecil ibu merasakan kalau Jack lah yang akan membahagiakanmu."
"Baik, bu. Sepanjang hari ini juga aku terus memikirkan lamaran Jack. Kasihan dia, sudah jauh-jauh datang dari Inggris, meninggalkan pekerjaannya hanya untuk melamarku."
"Sepertinya dia pria romantis."
"Ih....ibu!" Riani tertawa mendengar ibunya berkata seperti itu.
Malam pun datang. Makan malam yang disiapkan sudah tersaji di atas meja. Sulastri dan Riani menyiapkan makanan yang tak pedas untuk Jack.
"Jack kok belum datang ya? Ini sudah mau setengah delapan malam." Sulastri nampak cemas. Ia meminta anaknya untuk menghubungi Jack.
Agak lama sampai akhirnya Jack menerima panggilan Riani. "Hallo sayang. Maaf, aku tak bisa datang ke rumahmu untuk makan malam. Aku di sekarang berada di rumah sakit. Perutku sakit dan aku mengalami diare."
"Apa? Di rumah sakit mana?"
"Kalau nggak salah, aku baca tadi di papan yang ada di halaman depan, puskesmas apa gitu."
"Aku tahu tempatnya." Riani pun segera mengatakan pada ibu dan ayahnya bahwa ia harus ke puskesmas untuk melihat Jack.
Arya nampak diam saat mendengar kalau Jack sakit. Tapi dia pura-pura tak peduli dan segera mengajak istrinya dan Arma untuk makan malam setelah Riani pergi.
**********
Selamat pagi.....
__ADS_1
Duh babang Jack sakit perut karena apa ya?
Jangan lupa dukung emak Guys