
Air mata selalu berusaha ditahan Riani demi menjaga kesehatan ayah dan ibunya. Untungnya hari ini ayah Arya boleh pulang ke rumah. Sedangkan Arma harus konsultasi dengan psikiater untuk menyembuhkan traumanya setelah peristiwa penculikan itu.
Riani dan Daniel sudah membuat perjanjian dengan Dewi dan Cecilia bahwa mereka tak akan melaporkan penculikan itu asalkan Arma kembali dengan selamat.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Sulastri saat melihat Riani yang berbaring si sofa ruang tamu.
"Aku sedikit demam, bu. Mungkin pengaruh karena ASI-nya banyak ya? Pada hal aku sudah membuangnya."
"Memang yang lebih bagus adalah ASI-nya dihisap langsung oleh anaknya. Kalau begini nggak keluar semua. Apakah tidak sebaiknya kalau kamu pulang saja ke Inggris? Kasihan kan Reo. Ia pasti merindukan ibunya."
Riani berusaha menahan air matanya yang akan jatuh. Siapa bilang ia tak rindu Reo? Setiap malam ia menjerit dalam tangis yang tertahan karena merindukan anaknya itu.
"Aku ingin sampai terapi Arma selesai barulah aku akan pulang, Bu."
"Kan ada Daniel. Ibu lihat kalau Arma sudah bisa menerima bapak nya dengan baik. Biar Daniel saja yang mengurusnya. Kamu pulang ke Inggris."
"Nantilah, bu. Kan Jack juga nggak keberatan. Di sana Reo punya 2 suster yang akan menjaganya."
Sulastri hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, ibu mau ke tempat bu bidan untuk meminta obat bagimu. Kebetulan ayah dan Arma sedang tidur. Arma kangen dengan kakeknya sampai tidur pun berpelukan."
Riani tersenyum. "Ayah memang sangat menyayangi Arma."
Sulastri pergi meninggalkan rumah. Riani pun mengambil ponselnya. Sudah berhari-hari ia mencoba menghubungi Jack untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya. Namun sepertinya Jack sudah memblokir nomornya. Nomor Cassie pun tak bisa dihubungi.
"Selamat siang, apa benar ini rumah ibu Riani?" tanya seorang bapak yang berdiri di depan pintu.
Riani perlahan bangun. "Iya. Bapak siapa ya?"
"Saya Ruddy, pengacara yang ditunjuk oleh tuan Jack Almond untuk mengurus perceraian antara nyonya dan tuan Jack."
"Perceraian?" Riani terkejut.
"Ya. Tuan Jack ingin bercerai dari nyonya. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Inggris, maka setelah perceraian nyonya akan mendapatkan uang jaminan 25 juta/bulan sampai akhirnya Nyonya menikah lagi. Namun hak asuh Christen Haireo Almond, ada pada tuan Jack."
"Apa? Tidak! Siapa yang ingin bercerai darinya? Saya tidak mau dipisahkan dari anak saya."
Pengacara Ruddy meletakan berkas perceraian itu di atas meja. "Di dalam ada nomor telepon saya. Jika Nyonya sudah membacanya, bisa hubungi saya. Untuk proses perceraiannya nyonya tak perlu ke Inggris." Ruddy berdiri. "Saya pamit ya. Selamat siang."
Hati Riani bagaikan dicabik-cabik saat mendengar kalau Jack akan menceraikannya. Jack tak mau mendengarkan penjelasan Riani kalau semua itu adalah skenarionya Dewi dan Cecilia sehingga semuanya seperti Riani memang selingkuh dengan Daniel.
Ya Tuhan, haruskah aku menjadi janda untuk yang kedua kali? Usiaku saja baru 26 tahun. Tidak! Jack sungguh keterlaluan. Dia sungguh tak percaya padaku.
Riani mengambil berkas perceraian itu dan membawanya ke kamar. Ia segera ganti pakaian dan menuju ke kantor imigrasi untuk mengurus keberangkatannya ke Inggris.
"Maaf nyonya, untuk sementara anda di larang untuk pergi ke Inggris."
"Kenapa? Suami dan anak saya ada di sana. Kenapa saya tak bisa datang ke Inggris?"
__ADS_1
"Di data kami, anda dicekal untuk datang ke sana."
"Mengapa bisa begitu?"
"Kami tidak tahu. Namun pemerintah Inggris yang mengeluarkan pencekalan itu."
Riani keluar dari kantor imigrasi dengan perasaan bingung. Ia segera menelepon Clark. Ternyata Clark masih di Surabaya. Mereka pun bertemu di sebuah cafe.
"Kenapa kamu pergi dengan Daniel?" tanya Clark.
"Dewi dan Cecilia mengancam ku karena Arma masih ada bersama mereka. Cecilia tahu kelemahan Jack makanya ia mengatur strategi demikian. Ia tahu Jack pasti akan menemukanku di hotel itu. Dia tahu kalau kalung yang aku pakai ini ada GPS nya karena ternyata ia pernah memiliki kalung yang sama dengan aku. Tapi, adegan kami di kamar itu tak ada kelanjutannya. Dewi yang menghentikannya karena ia tak tahan melihat Daniel ingin bercinta denganku."
Clark mengangguk. "Kenapa kamu baru menghubungiku setelah hampir seminggu kejadian ini?"
"Aku terlalu fokus pada Arma yang mengalami trauma juga harus mengurus ayahku. Tadi, seorang pengacara datang menemuiku. Jack ingin bercerai dan meminta hak asuh Reo ada padanya. Aku tak mau dipisahkan dari anakku. Tapi, saat tadi aku ke kantor imigran, katanya untuk sementara aku belum bisa ke Inggris."
"Pasti Jack melaporkan mu sehingga kamu akhirnya dicekal."
"Aku harus bagaimana, Clark? Aku tak mau dipisahkan dari anakku. Aku harus menjelaskan segalanya pada Jack agar ia mengerti. Semua itu aku lakukan demi keselamatan Arma. Penculikan Arma bukan rekayasa."
"Kenapa kalian tak melaporkan Cecilia dan Dewi?"
Riani tertunduk. "Mereka membuat kami berjanji untuk tak melaporkan kejadian ini. Daniel setuju asalkan Arma kembali dengan selamat dan Dewi setuju akan bercerai dengan Daniel."
"Cecilia sudah gila. Dewi pun demikian." Clark menggelengkan kepalanya.
Clark meraih tangan Riani dan mengusapnya perlahan. "Kamu tenang dulu. Aku akan mencari jalan agar kamu bisa kembali ke Inggris. Memang ini tak mudah. Tapi aku janji padamu, kalau aku akan melakukannya. Besok, aku akan pulang ke Inggris. Aku juga akan mencari cara untuk bicara dengan Jack. Saudaraku itu memang selalu berpikir pendek. Karena terlalu posesif, ia selalu cemburu buta."
"Aku belum mengatakan apapun pada orang tuaku. Aku tak mau ayahku sampai sakit lagi."
"Apakah rekening bank mu masih aktif?"
"Aku tak tahu. Aku masih menggunakan uang yang akan dipakai sebagai jaminan namun Cecilia dan Dewi tak mengambilnya. Jadi aku belum pernah menggunakan kartuku."
"Ayo kita coba."
Keduanya melangkah ke galeri ATM yang ada di sana. Riani memasukan kartu yang biasa ia gunakan sebagai belanja bulanannya. Kartu itu ternyata sudah diblokir. Ia juga memasukan kartu yang menjadi rekening bersamanya dengan Jack. Ini juga sudah tak aktif.
"Jack sudah memblokirnya." ujar Riani.
"Aku tahu. Dia sudah meminta Sam untuk membekukan semua rekening mu saat kami masih ada di hotel."
"Clark, maukah kamu menghubungi Cassie? Aku tak bisa menghubunginya lagi. Aku rindu pada Reo. Sekarangkan kan di sana baru pukul 8 malam."
"Baiklah."
Clark menghubungi Cassie.
__ADS_1
"Hallo uncle." sapa Cassie.
"Hallo sayang. Sedang apa?"
"Lagi di kamar adikku."
"Daddy ke mana?"
"Daddy sedang bicara dengan dokter anak di bawah. Soalnya ade kan sedang sakit."
"Uncle ubah di panggilan Videocall ya?"
Tak lama kemudian terlihat wajah Cassie.
"Cassie, boleh mommy Riani bicara?"
Cassie terkejut. Namun ia mengangguk. "Tentu saja boleh." katanya lalu melangkah dan menutup pintu kamar Reo.
Clark menyerahkan ponselnya pada Riani. "Cassie sayang...."
"Mommy. Maaf, daddy yang memblokir nomor mommy di ponselku. Memangnya ada apa? Kenapa mommy nggak boleh lagi datang ke rumah ini?"
"Ceritanya panjang, sayang. Tapi mommy nggak bersalah. Daddy salah mengerti. Oh ya, boleh mommy melihat wajah Reo?"
Cassie mengarahkan ponselnya ke arah Reo. Bayi kecil itu nampak sedikit rewel.
"Adik sedang sakit, mommy. Sejak pulang dari Indonesia, adik demam. Selalu menangis. Pasti adik merindukan mommy. Jika Daddy nggak ada, aku selalu tunjukan video mommy. Saat mendengar suara mommy, adik selalu bisa diam."
"Reo sayang.....my son. Mommy merindukanmu sayang. Cepat sembuh ya, nak. Mommy akan berjuang untuk bisa datang ke sana. Reo tenang saja." tangis Riani pecah. Ia dapat melihat mata Reo yang menatapnya melalui layar ponsel. Tangan Reo terukur seperti ingin menyentuh Riani.
Pintu kamar terbuka, Cassie buru-buru menoleh. Ternyata pengasuh Reo yang datang.
"Tesa, nanti kita bicara lagi ya? Bye..." Cassie tersenyum ke arah pengasuh Reo. Ia kemudian menatap daddy nya yang baru masuk.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Jack melihat mata Cassie yang basah.
"Sedih. Karena adik sakit. Dia pasti merindukan mom...."
"Reo akan baik-baik saja." Jack menyela ucapan anaknya. Ia menatap Reo yang masih berbaring di tempat tidurnya. "Buatkan Reo susu." ujar Jack kepada pengasuh bayinya.
Cassie segera meninggalkan kamar adiknya itu. Hatinya sedih dan ia merindukan Riani.
***********
Hallo semuanya
semoga masih semangat walau tanggal tua ya?
__ADS_1
salam manis dari emak dan Amanda