Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Sifat Jack yang Keras


__ADS_3

"Daddy?" Cassie terkejut melihat papanya yang sudah pulang pada hal baru saja jam 2 siang.


"Kamu lagi beres-beres rumah?" tanya Jack lalu duduk di atas sofa.


"Iya. Temanku baru saja pulang. Dia kebetulan akan berkunjung ke desa ini bersama papanya."


"Oh.....!" Hanya itu yang Jack katakan lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Jack memijat kepalanya yang memang agak sakit akibat seringnya ia minum alkohol setiap malam.


Cassie memperhatikan papanya. Ia kemudian berdiri di belakang papanya sambil memijat kepalanya.


Jack tersenyum mendapatkan pijatan dari anaknya. "Terima kasih sayang."


"Jangan sering mabuk, dad. Nggak baik. Apalagi kalau pulang tengah malam. Kasihan mommy kadang menunggu daddy untuk makan malam tapi daddy pulangnya larut."


Jack diam.


Cassie pun tetap memijat kepala papinya. "Daddy sama mommy bertengkar ya?"


Jack masih diam.


"Dad, jangan marah-marah sama mommy, ya? Aku sering lihat mommy menangis diam-diam ketika selesai Videocall sama Arma. Mommy pasti rindu sama anaknya. Demi daddy dan aku, mommy meninggalkan Arma. Seharusnya kita berdua lebih sayang sama mommy. Benar nggak?"


Jack pun belum bersuara. Ia masih memejamkan matanya namun hatinya mulai risau memikirkan perkataan putrinya.


"Bagaimana kalau mommy menderita tinggal bersama kita dan akhirnya pulang ke Indonesia?"


Hati Jack semakin gelisah. Ia perlahan membuka matanya.


"Dad, ayo kita buat kejutan pada mommy, kita jemput mommy dan ajak makan di luar. Mumpung salju belum deras turunnya dan akhirnya kita hanya di rumah saja."


"Daddy.....!" hati Jack meragu. Jack memang begitu orangnya. Sangat gengsian dan sedikit emosian.


"Ayolah. Nanti setelah itu Daddy sama mommy pasti lancar ngomongnya."


Jack masih sangat ragu.


"Aku ambil jaket ya?" Cassie langsung berlari ke kamarnya. Begitu ia kembali, gadis itu sudah siap dengan topi dan jaketnya yang tebal.


"Ayolah, daddy!" Gadis itu mengulurkan tangannya.


"Nanti menganggu mommy di sana."


"Kita kan bisa menunggu jam kerja mommy selesai sambil minum teh hangat dan makan kue."


Jack pun berdiri. Ia tak mau membuat senyum di wajah anaknya menjadi pudar. Cassie sejak kecil sudah menderita. Ia bahkan beberapa kali dinyatakan kritis sebelum akhirnya ia bisa sehat dan kuat seperti sekarang ini.


"Asyik....!" Cassie bersorak gembira. Ia pun berjalan sambil memeluk tangan papanya. Hatinya bahagia.


Keduanya naik mobil menuju ke toko kue tempat Riani kerja.


Saat mereka tiba di depan pintu, Jack melihat kalau Riani sedang berjalan dan ada seorang lelaki yang mengikutinya. Jack mengenal lelaki itu.


Sejak pertama kali melihat wajahnya di sosial media miliknya, Jack sudah menghafal wajah pria itu. Daniel. Dada Jack langsung bergemuruh antara marah dan cemburu. Apakah diam-diam mereka sering bertemu di sini?


"Lepaskan, Daniel!" Riani dengan sangat keras menarik tangganya dari genggaman Daniel. Ketika ia menoleh ke samping, dilihatnya Jack dan Cassie berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Wajah Jack terlihat marah. Rahangnya mengeras. Matanya menyala. Tangan pria itu terkepal. Ia bermaksud akan memukul Daniel namun Cassie menahan tangan papanya.


"Daddy....!" Cassie menggeleng.


Jack menahan dirinya. Ia tak mau terlihat jahat di mata anaknya.


"Honey....!" Riani langsung mendekati Jack.


Daniel terpana. Jadi ini suami Riani?


"Hi baby." Jack memeluk Riani dan memberikan kecupan singkat di bibirnya.


Hati Daniel menjadi sakit melihat adegan itu. Ia kemudian langsung pergi dengan tanpa berkata apapun.


Saat melihat Daniel keluar, Jack tiba-tiba menyusulnya.


"Hei....!" panggil Jack saat ia sudah berada di luar.


Daniel menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap Jack. "Ada apa?"


"Jangan pernah ganggu istriku! Kamu belum tahu siapa aku!"


Daniel tersenyum dengan gaya sedikit mengejek. "Aku tahu siapa kamu, Jack! Yang membuatku heran adalah mengapa kau membiarkan istrimu itu bekerja di sini? Apakah kau tak bisa membiayai hidupnya sampai ia harus bekerja juga?"


"Kamu ...!" Jack akan bicara namun Cassie sudah memanggilnya dari depan pintu masuk.


"Daddy.....!"


Daniel mengerutkan dahinya mendengar Cassie memanggil Jack dengan sebutan Daddy.


"Ayo masuk, sayang!" ajak Jack.


Sore ini pengunjung toko kue agak sepi. Jadi Riani pun segera berbicara dengan nyonya Elisa.


"Nyonya, bolehkah aku cepat pulang?"


"Boleh. Kamu juga berencana untuk tutup karena menurut prakiraan cuaca, mulai sore ini salju akan turun diikuti dengan badai."


"Terima kasih. Aku juga mohon, jika lelaki yang tadi mencari aku lagi, tolong katakan kalau aku nggak ada. Dia itu mantan suamiku. Aku juga tak percaya akan bertemu dengannya di sini."


Elisa terkejut mendengarnya. Ia memang sudah tahu kalau Riani dulunya pernah menikah. Riani sendiri yang menceritakannya. Namun ia tak menyangka kalau pria Asia itu adalah mantan suaminya.


"Dunia ini kok jadi sempit."Elisa menggelengkan kepalanya. "Baiklah. Aku tak akan mengijinkan dia masuk ke toko ini hanya untuk mencarimu."


"Terima kasih."


Riani segera membuka apronnya dan mengambil tasnya lalu segera menemui suami dan anaknya yang sudah duduk dalam toko.


"Aku sudah ijin ke nyonya Elisa untuk pulang lebih awal. Ayo kita pergi!" ajak Riani berusaha bersikap biasa karena memang ia tak mau Cassie tahu kalau Jack dan dirinya sudah beberapa hari ini saling diam.


"Kita akan makan malam di luar mommy." ujar Cassie sambil berdiri lalu menatap papanya. "Iya kan dad?"


Jack mengangguk walaupun terlihat di wajahnya kalau ia sedang malas sebenarnya untuk jalan-jalan.


Mereka bertiga pun meninggalkan toko kue itu.

__ADS_1


**********


Perlahan, Riani turun dari ranjang Cassie. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh gadis remaja itu lalu mematikan lampu dan akhirnya keluar dari kamar.


Cassie terlihat bahagia saat mereka makan malam tadi. Ia juga terlihat berusaha menciptakan percakapan antara Riani dan Jack. Sepertinya anak ini tahu kalau ayah dan ibu sambungnya sedang ada masalah.


Ketika mereka pulang tadi, Cassie meminta Riani untuk membantunya mengepang rambutnya. Akhirnya mereka asyik ngobrol tentang acara natal nanti dan Cassie pun tertidur.


Riani segera ke kamar mereka. Jack tak ada. Mungkin suaminya itu sedang ada di ruang tamu dan menonton pertandingan bisbol atau sepak bola. Riani pun enggan untuk menganggunya. Sebenarnya Riani paling tak suka jika satu rumah namun saling diam. Tapi mau bagaimana lagi. Setiap kali ia berusaha mengajak Jack komunikasi, suaminya itu diam. Riani justru merasa kalau Jack sangat kekanakan.


Selesai dari kamar mandi, Riani hanya menggunakan handuk. Ia memang tak mandi. Hanya membersihkan bagian-bagian penting dari tubuhnya. Ia bisa membeku jika mandi di jam 11 malam seperti ini.


Saat ia baru saja membuka handuknya, pintu kamar dibuka dari luar dan Jack masuk.


Sesaat pandangan mereka bertemu. Jack terpana menatap tubuh istrinya yang polos sedangkan Riani juga kaget saat melihat Jack.


Dengan gerakan cepat Riani memakai pakaiannya. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Apakah karena hampir seminggu ini Jack tak menyentuhnya?


Riani pun membawa handuk yang digunakannya ke luar kamar. Setelah itu ia kembali ke kamar. Jack masih duduk di tepi tempat tidur seolah sedang menunggunya.


Riani memberanikan diri untuk duduk di dekat suaminya. Semoga makan malam tadi akan menghangatkan suasana diantara mereka.


"Aku ingin kau berhenti bekerja!" ujar Jack pelan namun penuh penekanan.


Riani terkejut. Ia menyukai bekerja bersama pasangan John dan Elisa. Riani bahkan sudah menganggap mereka sebagai orang tuanya sendiri.


"Tapi sayang, aku...."


"Tidak ada tapi! Kamu harus taat pada apa yang kukatakan. Sudah ku bilang kalau uang gajiku bisa membiayai hidup kita."


"Ini bukan soal gaji tapi tentang ...."


"Tidak ada bantahan! Aku tak mau kamu kerja di sana dan Daniel dengan seenaknya bisa menemui mu. Lagi pula Cassie masih liburan dan kamu tak akan kesepian."


"Jack, Daniel yang mencariku. Ia yang berusaha untuk menemuiku. Aku sudah menolak untuk bicara dengannya. Aku sama sekali tak pernah ada niat untuk berjumpa dengannya."


Jack menatap istrinya. "Jalan satu-satunya adalah kamu berhenti bekerja di sana. Dan aku tak ingin ada bantahan, Riani."


Riani menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Baiklah. Besok aku akan berbicara dengan tuan John dan istrinya. Aku juga minta maaf karena tak mengatakan padamu saat pertama melihat Daniel. Aku bukannya tak mau jujur padamu, namun aku sudah tak menganggap dia sebagai pria yang penting untuk dibicarakan." Riani pun segera naik ke atas tempat tidur. Ia tahu kalau sebagai istri, ia harus taat pada suaminya. Dan ia tak mau ribut dengan Jack.


Saat Riani sudah membaringkan tubuhnya. Ia merasakan kalau tempat tidur bergerak. Ia tahu Jack ikut tidur juga. Tak lama kemudian, lampu utama dimatikan.


"Maafkan aku juga yang terlalu cemburu padamu. Aku tak mengerti mengapa langsung marah padamu malam itu. Mungkin aku terlalu posesif atau juga tak bisa mengendalikan rasa marahku." Jack bicara pelan. Riani mendengarnya. Namun entah kenapa, hatinya justru tak ingin menanggapi perkataan Jack.


Keduanya pun saling diam. Sampai akhirnya sang malam menjemput mereka dalam dunia mimpi yang menenggelamkan mereka dalam lelapnya tidur.


***********


Di luar rumah, ada sebuah mobil yang berhenti. Memperhatikan rumah kecil itu dengan tatapan yang sendu. Riani, aku akan merebut mu kembali untuk bersama ku.


************


Selamat pagi


selamat Kamis manis ...

__ADS_1


jangan lupa dukung emak terus ya guys


__ADS_2