Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Perjuangan Riani (part 2)


__ADS_3

"Jujur sama ibu, nak. Ada apa Antara kau dan Jack? Mengapa ibu tak pernah lagi melihat kalian saling telepon? Kamu diam-diam sering menangis. Ini sudah satu bulan lebih sejak Arma kembali ke rumah. Memangnya kamu tak merindukan anakmu?" Sulastri yang masuk ke kamar dan melihat anaknya yang sedang melipat pakaian.


"Visanya belum keluar, bu. Kan aku menunggu itu."


"Yang lalu kan gampang-gampang saja. Katanya kamu bisa langsung pergi ke Inggris karena punya suami orang sana."


Riani pura-pura sibuk memasukan pakaian ke dalam lemari. "Ini prosesnya sudah nggak seperti dulu, bu."


"Jangan bohong, nak. Kamu nggak berani menatap ibu karena kamu bohong kan? Apakah karena kamu takut akan menambah beban ibu sampai tak menceritakan ini semua?"


Riani tak bisa berbohong di hadapan ibunya. Ia memang sangat tertekan selama ini. Ia butuh teman curhat terbaik. Dessy saja tak berani Riani ceritakan.


"Aku dan Jack akan bercerai, bu."


"Aduh neng, karena apa?" tanya Sulastri lalu duduk di samping putrinya.


Riani menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari kisah kedatangannya ke Surabaya yang tak menunggu Jack sampai semua skenario dari Dewi dan Cecilia yang harus mereka ikuti.


"Kenapa nggak jelaskan ke Jack kalau itu nggak benar?"


"Jack sudah memblokir nomorku, bu. Bahkan aku tak bisa berkomunikasi dengan Cassie. Ia juga mencekal aku untuk datang ke Inggris. Namun aku akan berusaha untuk datang ke sana. Apapun yang terjadi aku harus mendapatkan hakku sebagai seorang ibu untuk bertemu dengan anakku. Aku sangat tersiksa karena merindukan Reo. Aku tak mau menceritakan ini pada ayah dan ibu karena aku takut kalian akan sakit lagi."


Sulastri memeluk anaknya. "Nak, yang sabar ya? Yang kuat. Ini adalah ujian yang harus kau lalui."


"Aku tak mau menjadi janda untuk yang kedua kali, bu. Tapi kalau memang ini sudah suratan takdirku, aku harus apa? Yang penting sekarang aku ingin bertemu dengan Reo dulu."


"Berdoa, nak. Minta petunjuk dari Tuhan. Minta Tuhan lembut kan hati Jack. Ibu pun akan berdoa bagimu dan anak-anakmu. Semoga kita semua diberikan jalan yang terbaik dari sang Pemilik Kehidupan ini."


Riani menangis di pangkuan ibunya. "Tolong aku, bu. Rasanya aku tak mampu menghadapi semua ini."


"Kuatkan hatimu, nak. Anak-anakmu adalah sumber kekuatanmu."


Riani mengangguk. Ia sangat. Bersyukur memiliki ibu yang begitu bijaksana dan sabar.


*********


Daniel menemui Arma hari ini. Ia baru saja kembali dari Inggris. Ia datang membawakan beberapa hadiah juga memberikan uang kepada ayah dan ibu Riani untuk keperluan Arma lainnya.


"Ri, ada kabar gembira untukmu."


"Apa itu?" tanya Riani begitu antusias.


"Clark dan aku memasukan surat permohonan pada lembaga perlindungan perempuan dan anak. Juga beberapa yayasan yang melindungi hak-hak kaum perempuan di Inggris. Visa mu di kabulkan. Besok, kau bisa ke kantor imigran untuk mengurus keberangkatan mu ke Inggris."


"Benarkah? Terima kasih, Daniel. Kau dan Clark mau berjuang untukku." Riani tanpa sadar memeluk Daniel karena merasa sangat bahagia. Namun ia kemudian melepaskan pelukannya itu.


"Maaf. Aku terlalu bahagia sampai memelukmu." kata Riani diantara linangan air matanya.


"Kamu berhak untuk mendapatkan kesempatan ini karena kamu adalah ibu terbaik untuk Arma dan Reo."


Riani memejamkan matanya. Reo sayang, tunggu mommy ya?


**********


"Tuan, nyonya Riani terpantau CCTV baru saja keluar dari bandara." lapor Vigo. Kebetulan sore ini Jack sudah berada di rumah.


"Bandara mana?"


"Manchester."

__ADS_1


"Dia sudah bisa datang ke sini? Bagaimana bisa?"


"Pasti ada campur tangan tuan Clark. Tadi juga di bandara, tuan Clark yang menjemputnya."


"Bilang pada petugas yang berjaga gerbang, jangan buka!"


"Tapi tuan...."


"Tidak ada tapi-tapian Vigo. Siapapun yang mengijinkan Riani masuk, akan berhadapan dengan aku." kata Jack sambil menampar meja yang ada di depannya.


"Baik, tuan." Vigo segera meninggalkan ruang kerja Jack.


Pria itu menutup laptop yang ada di depannya. Pikirannya pusing. Ia bergegas ke kamar Reo dan meminta pengasuhnya untuk meninggalkan dia dan anaknya sendiri.


Baby Reo nampak sedang tidur. Wajah anak itu terlihat sedikit kurus karena ia memang sering sakit belakangan ini. Reo juga tak terlalu suka dengan susu formula. Jack bahkan sudah konsultasi dengan dokter anak dan mengganti beberapa susu dengan merk ternama, tetap saja Reo tak seantusias dulu dalam minum susu. Usianya yang sudah memasuki 6 bulan, seharusnya sudah bisa di beri makan. Namun anak itu tak mau.


Jack mengusap pipi Reo dengan punggung tangannya. Setiap kali ia mencoba untuk memaafkan Riani, bayangan perselingkuhan Riani dengan Daniel selalu bermain di pelupuk matanya.


Entah mengapa Jack begitu sulit berpikir positif. Hatinya selalu sakit dan membuatnya hanya bisa mabuk atau bekerja tanpa henti untuk melampiaskan seluruh kemarahannya.


**********


"Sampai di sini saja, Clark. Tolong bawa koperku ke hotel. Aku tak tahu apakah Jack akan mengijinkan ku masuk atau tidak. Yang pasti, aku tak mau melibatkanmu."


Clark menatap Riani. "Rasanya aku tak tega membiarkanmu sendiri di sini."


"Pergilah! Aku akan baik-baik saja. Lagi pula rumah Jack kan jauh dari tetangga. Aku mau berteriak pun tak akan membuat tetangga datang ke sini. Jika aku sudah selesai, aku akan menelepon mu."


"Baiklah."


Riani turun dari mobil Jack dan menatap pintu pagar yang berdiri kokoh itu. Ia melambaikan tangan ke arah Clark lalu segera menekan bel yang ada di dinding.


"Dwike, aku mau masuk."


"Maaf nyonya. Tuan melarang anda untuk masuk."


"Tapi aku mau bertemu dengan anakku."


Dwike terlihat tak enak hati. "Nyonya, kami semua akan di pecat kalau mengijinkan nyonya masuk."


"Jack....! Biarkan aku masuk....! Aku mau ketemu dengan anakku!" teriak Riani ke arah kamera CCTV yang ada.


Ponsel Dwike berbunyi. Ternyata ia diperintahkan untuk menutup pintu pagar yang ada.


"Maafkan saya, nyonya." Dwike menutup pintu dengan wajah penuh penyesalan. Bagaimana pun Riani adalah Nyonya yang sangat baik bagi semua orang. Ia sangat loyal dan suka memberikan hadiah-hadiah bagi semua pekerja.


"Brengsek kau Jack!" Riani memukul-mukul pagar yang terbuat dari baja itu. "Buka ...! Buka pintunya! Aku mau ketemu anakku."


2 jam telah berlalu....


Cassie yang baru pulang dari latihan koor terkejut melihat Riani yang ada di depan pagar.


"Mommy? Kenapa nggak masuk?" tanya Cassie begitu keluar dari mobil.


"Mereka tak mengijinkan aku masuk, Cassie. Aku merindukan Reo."


Cassie menekan bel. Dwike kembali keluar.


"Buka gerbangnya."

__ADS_1


"Tapi nona. Tuan Jack melarang nyonya untuk masuk!"


"Aku bilang buka ya buka...!" teriak Cassie emosi.


Dwike membuka pintu gerbang. Riani dan Cassie masuk ke dalam mobil dan mobil pun akhirnya memasuki halaman rumah Jack.


Tapi saat mereka sudah berada di beranda depan, Leo dan Lessy sudah berdiri di sana.


"Maaf nyonya, tuan Jack tak mengijinkan nyonya untuk masuk." ujar Leo dengan wajah sedih.


"Leo, buka pintunya!" kata Cassie yang sedang memegang tangan Riani.


"Nona, anda diperintahkan untuk masuk. Tapi tidak dengan nyonya


Riani." kata Leo.


"Apa-apaan ini. Mana daddy?" tanya Cassie.


"Ada di ruang kerjanya."


"Mommy, tunggu sebentar ya?" Cassie segera masuk ke dalam. Ia menemui papanya.


"Daddy, kenapa nggak mengijinkan mommy masuk?" tanya Cassie.


"Masuk ke kamarmu dan jangan pernah keluar sebelum Daddy meminta kamu untuk keluar. Jangan pernah mencampuri urusan orang dewasa."


"Tapi mommy mau bertemu dengan Sen. Mommy pasti merindukan Sen. Kok daddy tega sekali? Apa salahnya bertemu sebentar?"


"Pergi ke kamarmu, Cassie!" bentak Jack dengan mata yang menyala.


"Tapi kasihan mommy, dad."


"Cassie!"


"Daddy jahat!" Cassie langsung berlari ke kamarnya.


Sementara itu di luar pintu, Leo dan Lessy pun diperintahkan untuk segera masuk.


"Maafkan kami, nyonya!" ujar Lessy saat menutup pintu.


Riani mencoba membuka pintu yang lain namun semuanya terkunci.


"Jack....! Buka pintunya, ijinkan aku bertemu anakku! Buka.....!" teriak Riani sambil menggedor-gedor pintu yang ada.


Di kamarnya baby Reo terbangun dan menangis sangat kencang sehingga di dengar oleh Riani.


"My baby Reo.....Reo....!" Riani tersungkur di depan pintu.


Perlahan hujan pun turun dengan sangat deras membuat Riani mulai kedinginan. Ia masih terus memanggil Jack untuk membukakan pintu. Tenaga Riani mulai habis. Suaranya pun mulai parau. Ia yang sejak di pesawat belum makan apa-apa akhirnya kehilangan seluruh kekuatannya. Riani pingsan.


**********


Ada yang mau pukul Jack?


Diijinkan. Ini adalah puncak konfliknya ya....


Mungkin 5 episode lagi kisah ini akan berakhir.


nantikan kisah Edwina dan Reo ya?

__ADS_1



__ADS_2