Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Jack dan Usahanya (Part 2)


__ADS_3

"Kamu tahu apa yang terjadi pada Dewi dan Cecilia?" tanya Clark saat ia mengantar Riani ke rumah Jack.


"Memangnya ada apa dengan mereka?"


"Aku sih hanya dapat bocoran dari Sam. Dewi dan Cecilia disiksa oleh Jack dengan cara harus bercinta dengan orang Afrika."


"Apa?"


"Jika mereka tak menyetujuinya maka Jack akan menyebarkan foto mereka tanpa busana yang diambilnya saat menangkap mereka pertama kali. Aku tak bisa membayangkan betapa jijiknya Cecilia. Kamu kan tahu kalau dia sangat membenci orang kulit hitam. Dan dia harus bercinta dengan gaya sensual. Menurut Sam, Jack akan meminta mereka mengulang setiap adegan jika dilakukan secara terpaksa. Jack melakukan semua yang mereka paksakan pada kau dan Daniel."


"Sampai segitunya? Aku bahkan sudah memaafkan mereka."


Clark tersenyum. "Jack pernah menjadi mafia. Bahkan mungkin sekarang ia masih memiliki jaringan dengan para mafia itu. Ia akan menjadi seperti singa yang marah dan tak terkendali ketika orang yang disayanginya dizolimi oleh orang lain."


"Aku tak meminta Jack untuk membalaskan dendam ku pada mereka."


Clark menatap Riani. "Hatimu terlalu tulus, Ri. Mungkin kau tak tega saat mendengar apa yang Jack lakukan pada mereka. Namun, tindakan mereka sungguh keterlaluan. Aku setuju dengan Jack kali ini."


"Bagaimana keadaan Dewi dan Cecilia sekarang ini?"


"Dewi sudah pulang ke Indonesia sedangkan Cecilia sudah pergi entah kemana."


Mobil Clark memasuki pekarangan rumah Jack. "Sampaikan salam ku untuk Cassie dan Reo ya?"


"Kamu nggak turun?" tanya Riani sambil membuka sabuk pengaman nya.


"Aku harus ke London. Ada janji ketemu dengan pangeran Philip."


"Sampaikan salam ku juga untuknya. Terima kasih karena sudah mengantarku."


Riani melambaikan tangan kepada Clark sebelum pria itu menghilang dengan mobilnya.


******************


Hari ini Jack sangat bersemangat karena ini hari Jumat. Itu artinya Riani akan tidur di rumahnya.


Sejak sore Jack sudah pulang ke rumah. Dan ia langsung bahagia mendengar suara tawa Cassie dan Reo yang ada di dapur. Jack yakin kalau Riani sedang membuatkan kue coklat yang merupakan kesukaan Jack dan Cassie.


"Daddy....!" panggil Cassie saat melihat Jack sudah pulang.


Hari ini Jack menggunakan kemeja batik. Kemeja ini dibelikan Riani saat ia pertama kali datang ke Inggris. Jack sebenarnya tak terlalu suka dengan warnanya karena memang Jack tak terlalu menyukai warna merah. Tapi kali ini ia ingin memakainya untuk menyenangkan Riani.


"Selamat sore semuanya." Sapa Jack sambil memberi kode dengan tangannya agar semua pelayan meninggalkan mereka di dapur. Jack langsung memeluk Reo yang sedang berdiri di dekat kaki Riani.


"Selamat sore daddy." balas Cassie.


"Selamat sore..." Riani pun membalas sapaan Jack karena ada Cassie di sana. Ia sedikit terkejut melihat Jack menggunakan kemeja itu.


"Harum....., kuenya sebentar lagi matang ya?" ujar Jack lalu berdiri di dekat Riani. Perempuan itu sedang menyiapkan minuman hangat untuk mereka.


"Sayang, kau sedang buat apa? Aku juga mau dong." kata Jack membuat Riani meliriknya dengan sedikit jengkel karena lelaki itu menggunakan kata sayang.


"Aku suka kalau mommy dan daddy saling memanggil dengan sebutan kata sayang." ujar Cassie lalu ia mendekat Jack. "Berikan Reo padaku, dad. Kami akan menunggu di ruang keluarga. Daddy bantu mommy ya?"


"Mommy bisa sendiri." Riani langsung menolak secara halus.


"Biar saja aku menemani mu, sayang."


Cassie langsung meninggalkan dapur bersama adiknya. Riani mendengus kesal lalu membalikan tubuhnya dan menatap Jack.


"Memangnya kamu tak lelah dari kantor? Sana ganti baju dan beristirahat. Jangan ganggu aku!"


"Aku akan membantu mu, sayang. Kamu mau buat teh kan?"

__ADS_1


Riani yang sementara menyeduh teh kembali menatap Jack. "Berhentilah memanggil aku dengan kata sayang. Kita sudah bercerai."


"Aku ingin kita kembali bersama, Ri."


Riani kembali membelakangi Jack. Ia menuangkan teh dari ke beberapa gelas yang sudah disiapkan.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Jack sambil memegang tangan kanan Riani.


"Jack, sudah ku katakan kalau aku bisa sendiri." Riani menepiskan tangan Jack lalu segera membuka penutup oven dan mengeluarkan kue yang ada.


"Jack, jangan lagi mengusik kehidupan Dewi dan Cecilia. Aku sudah memaafkan mereka kok." ujar Riani sambil mengeluarkan kue dari tempat cetaknya.


"Siapa yang menganggu milik Jack, dia akan mendapatkan balasannya."


"Aku bukan milikmu."


Jack secara tiba-tiba memeluk Riani dari belakang. Menenggelamkan kepalanya di rambut tebal Riani.


"Jack, lepaskan!"


"Biarkan aku sebentar seperti ini, Ri." mohon Jack.


"Nanti ada yang lihat, Jack."


"Tak ada yang berani masuk ke sini kecuali Cassie."


Riani yang sudah selesai menuangkan kopi di beberapa gelas, akhirnya melepaskan tangan Jack yang ada di pinggangnya. "Lepaskan. !"


"Aku mencintaimu, sayang....!"


Riani berhasil melepaskan tangan Jack. Keduanya kini saling berhadapan.


"Kamu mau apa Jack?"


Cup...!


Begitu lama Jack mencium Riani. Ia melepaskannya saat merasakan kalau Riani sepertinya kehabisan nafas.


"Brengsek kau, Jack....! "Riani akan menampar Jack tetapi diurungkannya karena Jack sudah lebih dulu memegang kedua pipinya dengan tangannya.


"Sudah ku katakan kalau aku akan mengejar mu."


"Dan sudah ku katakan kalau aku tak akan pernah kembali ke padamu."


Jack tersenyum. "Mari kita buktikan !"


"Dengan cara apa?"


"Aku akan pegang dadamu dan merasakan detak jantungmu." Jack langsung memegang dada Riani.


"Jack....!" Riani akan mundur namun Jack dengan kuat menahan perempuan itu.


"Hatimu bergetar saat aku mencium mu, kan?"


"Brengsek kau, Jack!"


Ria langsung ke ruang tamu sambil membawa kue dan teh hangat di sebuah nampan.


Jack mengikuti langkah Riani. Di lihatnya Cassie langsung mengambil sepotong kue dan langsung menikmatinya.


"Ini enak sekali, mommy. Aku selalu suka. Ade mau coba?" tanya Cassie.


"Ma....mam...." Reo mengucapkan kata yang membuat Riani tersenyum. Ia memang selalu berbicara dengan bahasa Indonesia kepada anaknya itu.

__ADS_1


"Ade ngomong apa, mom?" tanya Cassie.


"Dia mau makan juga."


Reo menarik tangan Cassie dan langsung menikmati kue itu.


Jack tersenyum bahagia melihat anak-anaknya tertawa bahagia. Ia tak mau menukar apapun di dunia ini dengan kebahagiaan yang sementara dinikmati oleh kedua anaknya.


"Daddy, mengapa senyum-senyum sendiri?" tanya Cassie.


"Daddy berharap semua kebahagiaan ini tak akan tergantikan oleh apapun juga. Iya kan, sayang?" Ujar Jack sambil mengedipkan sebelah matanya pada Riani.


Riani hanya terdiam sedangkan Cassie langsung memeluk Jack. "Aku juga mengharapkan demikian, dad. Kita akan bahagia bersama. Apalagi jika ada Arma di sini."


"Akan daddy usahakan." bisik Jack di telinga Cassie namun pandangannya diarahkan kepada Riani yang nampak masih termangu.


**********


Jika Riani ada di mansion, ia akan tidur di kamar Reo.


Reo memang masih menggunakan tempat tidur khusus anak balita yang masih ada pelindung di semua arah karena anak itu tidurnya masih suka berguling ke sembarangan tempat. Sedangkan di sisi yang lain, Jack sudah menyiapkan tempat tidur khusus untuk Riani. Jika Riani tak ada, Jack lah yang akan tidur di situ untuk menemani Reo sedangkan pengasuhnya akan tidur di kamar bawa.


Sejak Jack keluar dari rumah sakit dan bertekad untuk kembali pada Riani, ia memang selalu berusaha memberikan waktunya untuk Reo.


"Ri, Reo sudah nggak asi lagi?" tanya Jack saat memasuki kamar Reo dan melihat Riani baru saja mengambil botol susu dari tangan Reo sementara anaknya itu sudah tertidur.


"Iya. Reo sudah 1 tahun, 1 bulan. Ia juga sudah makan tepat waktu. Jadi aku hentikan saja karena produksi ASI ku juga sudah nggak banyak." jawab Riani lalu memasukan botol susu Reo di tempat penyimpanan botol bekas pakai. Biasanya esok pagi pengasuhnya yang akan mencuci semua botol itu kemudian disterilkan lagi.


"Oh, begitu ya?"


Riani hanya mengangguk. "Jack, aku sudah mengantuk. Ingin segera tidur."


Jack menatap jam dinding. "Baru juga jam setengah sebelas malam. Aku ingin berbincang-bincang dengan kamu, Ri."


"Berbincang apa lagi?"


"Apa saja. Seperti dulu saat kita ketemu di Bali dan ngobrol sepanjang malam. Rasanya berbincang apapun dengan kamu akan terasa asyik."


Riani menatap Jack. "Masa lalu itu sudah nggak penting lagi bagiku."


"Namun tidak bagiku."


Riani pura-pura menguap. "Aku mengantuk, Jack."


"Baiklah. Tidur yang nyenyak sayang. Aku berharap suatu saat nanti kau tak akan tidur di sini lagi melainkan kembali ke kamar kita."


Riani membaringkan tubuhnya. "Jack, berhentilah mengirimkan aku bunga setiap hari ke kantor."


"Aku tak akan berhenti sebelum kau kembali padaku."


"Matikan saja lampunya, Jack." Riani langsung membelakangi Jack.


"Sweet dream baby." ujar Jack lalu mematikan lampu utama dan menyalahkan lampu tidur. Ia sendiri kembali ke kamarnya dan dengan sengaja tak menutup pintu penghubung antara kamarnya dan kamar baby Reo.


Riani membuka matanya kembali. Ia tak tahu bagaimana caranya menghindar dari Jack. Riani tak mau kejadian yang lalu terulang kembali.


Sementara Jack di kamarnya menatap sisi tempat tidurnya yang kosong. Sudah sebulan ia berjuang mendapatkan perhatian Riani. Namun istrinya itu terlihat dingin dan biasa saja. Apakah karena perasaan Riani sudah berpindah pada Philip? Rasanya aku tak sanggup membayangkan saat Philip memeluk dan mencium Riani.


Jack menarik napas panjang. Apakah aku perlu lebih extra perhatian lagi? Bagaimana caranya ya?


*******


Hallo semua...

__ADS_1


Ada yang mau kasih Jack ide?


komentar yang banyak ya....


__ADS_2