
Untuk beberapa saat, Jack masih menatap istrinya. Riani yang masih tertidur dalam keadaan duduk dan Cassie yang berbaring di pangkuannya. Ada rasa takut saat membayangkan jika kebahagiaan yang mereka rasakan ini akan berakhir karena gangguan seorang Daniel.
Perlahan Jack menghapus pesan itu. Ia tak ingin Riani membacanya. Setelah itu ia meletakan kembali hp Riani di atas meja dan bermaksud akan ke dapur untuk membuatkan kopi. Pada saat itulah Riani membuka matanya.
"Sayang?" Riani terkejut melihat Jack ada di ruang tamu. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
"Aku ketiduran rupanya." Ia perlahan mengangkat kepala Cassie lalu meletakkannya di atas bantal sofa, memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh gadis itu lalu ia berdiri.
"Selamat pagi, sayang." Riani mendekat lalu memeluk suaminya.
"Selamat pagi juga, sayang." Jack mengeratkan pelukannya lalu mencium puncak kepala istrinya.
Untuk sesaat keduanya larut dalam pelukan kasih.
"Aku mau buat sarapan dulu." Riani melepaskan pelukannya. Jack mengangguk.
"Aku akan bantu." Ujar Jack lalu mengikuti langkah istrinya ke dapur.
"Sayang, kamu ingin sarapan apa?" tanya Riani.
"Roti saja. Aku ingin roti bakar dengan taburan sugar brown di atasnya."
"Ok." ujar Riani lalu mengambil roti dari dalam lemari makanan.
"Kenapa kalian bisa tidur di ruang tamu?" tanya Jack sambil memanaskan air untuk membuat kue.
"Aku tadi Videocall dengan Arma. Cassie ternyata bangun untuk minum air. Akhirnya kami berdua ngobrol di sana sampai akhirnya tertidur."
Jack tersenyum. "Terima kasih karena kamu mau menyayangi Cassie seperti itu."
Riani menatap suaminya. "Cassie menganggap aku seperti ibunya. Bagaimana mungkin aku tak menyayanginya?"
Jack mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. "Cassie mendapatkan seorang ibu yang baik. Sejak pertama ia melihatmu, ia sudah suka denganmu."
"Memangnya banyaknya Cassie belum suka juga?"
Jack terkekeh. Ia membalikan tubuh Riani. "Bapaknya Cassie bukan hanya suka tapi langsung tergila-gila."
"Aku tersanjung mendengarnya."
Jack membelai wajah istrinya. Ingin rasanya ia menanyakan perasaan Riani tentang masa lalunya, tapi dia tak mau menyinggung perasaan istrinya karena mereka sudah sepakat untuk melupakan masa lalu.
"Ada apa?" tanya Riani.
"Jika sudah tahun ajaran baru bagi Cassie, kita akan pindah ke Manchester, sayang."
"Kenapa? Aku suka di sini. Aku senang dengan pekerjaanku."
"Supaya kalau aku mau pulang rumah hanya butuh 15 menit untuk sampai dari tempat kerjaku. Cassie juga kan sudah bisa tinggal di rumah jadi kalau tinggal di kota Manchester, tak jauh juga jarak dari sekolahnya."
"Pada hal aku suka di sini. Mengingatkanku akan suasana di desaku yang damai. Aku juga suka bekerja di toko kue tuan John. Tapi tak apalah. Kemanapun kamu pergi, aku harus bersamamu."
Jack kembali membawa Riani dalam pelukannya. Ia lalu mencium kepala istrinya dengan penuh kasih.
"Sayang, bukankah besok hari pembacaan surat wasiat papamu? Kau akan pergi?"
Jack melepaskan pelukannya lalu mematikan kompor karena air sudah mendidi. "Tidak."
__ADS_1
"Sayang, bukankah sebaiknya kamu dan Cassie hadir? Bukan tentang apa yang akan almarhum berikan pada kalian melainkan menghargai keinginan terakhirnya."
Jack mulai mengambil gelas. "Kamu ingin kopi juga?" tanya Jack.
Riani tahu kalau Jack tak ingin melanjutkan percakapan diantara mereka. Ia pun hanya mengangguk dan tak melanjutkan topik pembicaraan itu.
*********
Keesokan harinya, Riani bangun pagi seperti biasa dan menyiapkan sarapan sebelum ia akan pergi ke toko kue.
"Good morning, mom." ujar Cassie yang sudah bangun dan langsung menemui Riani di sana.
"Good morning, honey. Mau pergi?" tanya Riani sambil menatap dandanan Cassie yang nampak rapih.
Cassie mengangguk sambil tersenyum. "Tadi daddy membangunkan aku dan mengatakan bahwa kita akan ke London untuk mendengar pembacaan surat wasiat dari opa."
Riani senang mendengarnya. "Benarkah?"
Cassie mengangguk. Tepat di saat itu Jack pun muncul di dapur. Riani langsung memeluk suaminya itu dan memberikan ciuman di pipinya. "Aku bahagia sayang."
"Kamu ingin ikut?" tanya Jack.
"Nggak bisa. Kemarin aku sudah terima pesanan kue coklat yang cukup banyak. Kalau aku pergi, kasihan Nyonya Elisa harus mengerjakannya sendiri."
"Ya sudah. Kami akan langsung pulang kalau begitu." ujar Jack.
"Jangan memaksakan diri, sayang. Kalau saljunya turun dengan deras, sebaiknya di sana saja."
"Nanti mommy kesepian." kata Cassie.
"Mommy nggak akan kesepian. Mommy akan menyibukkan diri untuk membuat kue natal. Setelah itu pasti capek dan langsung tidur."
Jack dan Riani pun tertawa. Cassie sungguh manja pada Riani. Dan itu yang membuat Jack bahagia.
*********
Pagi ini Riani bangun dalam keadaan sepi. Jack dan Cassie benar tak bisa pulang karena ada badai salju. Hari ini juga Riani tak masuk kerja karena hari Sabtu. Kemarin sore pulang dari kerja, Riani sudah membuat kue nastar, dan hari ini ia berencana membuat kue yang lain juga.
Setelah membersihkan diri dan sarapan Riani pun mulai menyiapkan bahan kue yang akan disiapkan. Tapi ternyata ada bahan yang tak lengkap. Riani pun memutuskan untuk pergi belanja. Ia memakai mantel tebal dan topi rajutan. Tak lupa juga dengan kaos tangan. Lalu ia pun memesan taxi.
Tak sampai 15 menit, taxi sudah datang dan mengantarnya ke toko yang dia inginkan. Riani memutuskan untuk pergi ke toko Asia. Walaupun memang ia harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar taxi. Ia menerima banyak bonus karena kue coklatnya banyak di pesan orang. Bahkan menjelang natal, pesanannya bertambah banyak. Lagi pula Jack pun selalu memberikan uang belanja yang lebih
Begitu ia tiba di sana, dengan penuh semangat ia mengambil keranjang belanja dan mulai berkeliling membeli apa yang ia butuhkan.
"Riani ...!"
Riani terkejut. Dunia ini sepertinya sangat sempit karena ia kembali bertemu dengan Daniel di toko ini.
"Jangan dekati aku, Daniel. Kita sudah sama-sama menikah."
"Mengapa pesan ku tidak kau balas?"
Riani kaget. "Aku tidak pernah menerima pesan darimu."
"Aku meminta nomormu pada pemilik toko kue. Dan pesanku sudah ada tanda centang biru. Itu tandanya kau sudah membacanya."
Riani terkejut, apakah Jack yang membacanya? Tapi kapan?
__ADS_1
"Kapan kamu mengirim pesan itu?" tanya Riani.
"Kemarin pagi."
Aku dan Cassie tidur di ruang tamu waktu itu. Berarti benar, Jack membacanya. Tapi mengapa dia tidak mengatakan apapun ya?
"Masa bodoh dengan pesanmu." Riani segera pergi meninggalkan Daniel dan menuju ke kasir. Namun rupanya Daniel mengikuti Riani. Bahkan saat perempuan itu keluar dari toko, Daniel masih mengejarnya.
"Ri..., Riri...!" Daniel memanggil Riani dengan nama panggilan kesayangannya saat mereka masih pacaran.
Riani menghentikan langkahnya dan menatap Daniel. "Mau kamu apa sih? Kamu sudah meninggalkan aku saat kita baru 3 hari menikah. Kamu pergi tanpa jejak disaat aku sedang hamil."
"Aku meninggalkan pesan untukmu yang kutitipkan pada sopir papaku. Aku tak bisa menelepon mu saat itu karena ponselku hilang dan aku tahu juga kalau ponselmu sudah dijual untuk menambah biaya pernikahan kita. Aku meminta ijin untuk menemani papaku ke Singapura untuk berobat. Namun justru yang aku terima adalah kau mengirimkan surat perceraian padaku karena kamu sudah mengugurkan anak kita. Aku marah padamu saat itu."
"Apa? Aku mengirimkan surat perceraian? Bukannya pengacara keluargamu yang datang padaku dan mengantarkan permohonan perceraian yang sudah kau tandatangani?"
Daniel terkejut. "Jangan memutar balikan fakta, Riani."
"Aku tak memutar balikan fakta. Aku tak pernah mengugurkan kandunganku. Kamu menceraikan aku disaat aku sedang mengandung. Ayahku bahkan harus masuk rumah sakit karena tak bisa menahan malu atas gunjingan tetangga yang mengejek aku karena sudah ditinggalkan oleh suami."
Daniel masih tak percaya. "Jadi, kamu tak pernah mengugurkan kandunganmu? Anak kita masih ada?"
"Kamu menikah di saat aku akan melahirkan. Maaf, anak itu meninggal karena aku sangat sakit hati atas pernikahanmu." Riani memejamkan matanya. Maafkan mama, Arma. Kau tak pantas memiliki ayah seperti Daniel.
"Jadi dia sudah tak ada?" mata Daniel jadi berkaca-kaca.
"Ya. Karena itu jauhi aku Dan jangan pernah ganggu aku lagi." Riani akan melangkah namun Daniel menahan tangannya.
"Aku masih mencintaimu, Ri. 7 tahun boleh berlalu namun tak pernah sekalipun aku melupakanmu."
"Sayangnya aku tak mencintaimu lagi." Riani menarik tangannya dari genggaman Daniel.
"Ri....! Riri...!"
Riani melangkah terus. Ia hanya memeluk kantong belanjaannya sambil menahan tangis. Ia benci mengapa di Inggris ini ia bisa bertemu dengan Daniel.
Merasa kalau Daniel tak mengejarnya lagi, Riani pun berhenti di depan sebuah toko. Ia duduk di salah satu bangku yang ada di sana sambil terus terisak.
"Bersihkan air matamu, aku tak mau wanita secantik dirimu merasa sedih."
Riani menatap tangan yang terulur di hadapannya dengan sapu tangan yang ada di sana. Ia kemudian mendongak dan terkejut melihat Clark ada di hadapannya.
"Clark?"
Clark tersenyum. "Hallo kakak ipar. Apakah perlu aku memberi pelajaran pada pria bernama Daniel Atmaja itu?"
"Kamu mengenalnya?"
"Dia menikah dengan sepupuku. Bibiku menikah dengan orang Indonesia. Seorang pengusaha dari Surabaya. Makanya aku tinggal di sana. Satu rumah dengan Dewi Sriyanti yang adalah istri Daniel Atmaja."
Riani terkejut mendengarnya. Apakah benar dunia ini sangat sempit?
********
Selamat pagi .....
Selamat beraktifitas
__ADS_1
dukung emak terus ya guys