
Raini yang sedang menyiram bunga di halaman depan, kaget melihat Cassie yang pulang dengan mata yang bengkak.
"Baby, what happen to you?" tanya Riani sambil melepaskan selang air yang ada di tangannya. Ia meminta Lessi untuk melanjutkan kerjanya.
"Cassie.....!"
Cassie langsung memeluk Riani sambil menangis. Tangisnya sangat dalam sampai bahunya ikut terguncang sangat keras.
"Sayang, ada apa?" tanya Riani langsung menjadi khawatir melihat keadaan anak sambungnya ini.
"Aku......aku......!" Cassie bingung antara ingin menceritakan atau tidak. Ia melepaskan pelukannya lalu menatap wajah ibu sambungnya yang penuh kasih itu. "Aku sedih mommy."
"Sedih kenapa?"
"Teman-temanku di sekolah semuanya punya mommy. Jika ada kegiatan seperti ini, mereka semua pasti dijemput oleh daddy atau mommy mereka. Sedangkan aku tidak. Aku sedih karena tak pernah tahu wajah ibuku."
"Sayang.....!" Riani langsung memeluk Cassie kembali.
"Jangan bersedih sayang, ada mommy di sini yang menyayangimu. Mommy akan selalu berada di sisimu."
"Terima kasih mommy!"
Riani mengajak Cassie untuk masuk ke dalam. Ia meminta pelayan untuk membuatkan secangkir teh hangat dan menyiapkan kue coklat yang tadi dibuatnya.
"Mommy, terima kasih." ujar Cassie saat merasakan betapa besar kasih sayang Riani untuknya.
"Cassie, mommy memang tak dapat menggantikan mommy kandung Cassie. Namun mommy dapat memberikan kasih sayang sebesar kasih sayang yang pasti akan diberikan oleh mommy kandung Cassie jika dia masih hidup."
Cassie menyandarkan kepalanya di bahu Riani. "Mommy, apakah daddy pernah cerita siapa mama kandung Cassie?"
Riani menarik napas panjang. Ia tak ingin berbohong pada Cassie. "Ya."
"Apakah Camila Smith saudara kembar dengan Cecilia Smith?" tanya Cassie.
"Dari mana Cassie tahu? Kan di pusara mama Cassie namanya adalah Camilan Almond."
Cassie kembali duduk tegak. Ia menatap Riani. "Cassie sudah besar, mommy. Cassie berhak tahu siapa mama kandung Cassie yang sebenarnya."
"Biar saja daddy yang menjelaskannya, nak. Dan jika daddy belum sempat menjelaskan nya, berikan daddy waktu yang terbaik. Karena pasti ada alasan tertentu sampai daddy tak menceritakan siapa mama kandung Cassie."
Cassie mengangguk. "Jangan dulu bilang sesuatu pada daddy ya?"
"Baik, sayang."
Cassie kembali meletakan kepalanya di bahu Riani. Ia memejamkan matanya, menikmati rasa damai yang ia rasakan saat bersama ibu sambungnya ini. Yang pasti Cassie tak ingin menceritakan pertemuannya dengan Cecilia Smith. Perempuan yang mengaku sebagai bibinya. Karena Cassie tahu bahwa menceritakan tentang Cecilia, akan menyakiti Riani karena Cecilia mengaku sedang mengandung anak dari daddy Jack.
*********
Akhirnya, Cassie tertidur dengan nyenyak setelah Riani menemaninya di kamar setelah makan malam.
Jack belum pulang. Riani merasakan kalau suaminya itu pasti menghindar darinya.
__ADS_1
Saat meninggalkan kamar Cassie, Riani melihat bahwa sudah jam 11 malam. Ia pun menuju ke kamar mereka yang berada di ujung lorong.
Ketika pintu kamar terbuka, nampak Jack sudah tidur.
"Jack.....!" panggil Riani.
Jack tak bergeming saat Riani menyentuh tangannya. Riani pun memilih tak menganggu suaminya itu. Ia hanya berharap agar Jack tak marah lagi karena ia ingin berdiskusi tentang Cassie.
Keesokan paginya, Riani bangun lebih dulu dari Jack. Ia menyiapkan pakaian Jack dan meletakannya di atas sofa seperti biasa.
Jack bangun saat Riani masih ada di kamar. Tak ada ucapan selamat pagi dan ciuman hangat seperti yang biasa lelaki itu lakukan setiap kali bangun pagi. Jack langsung ke kamar mandi dan melakukan ritual paginya.
"Jack, aku ingin bicara." ujar Riani saat dilihatnya Jack mulai mengenakan kemeja yang sudah Riani siapkan.
Jack diam.
"Jack, sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini padaku? sikapmu ini sangat kekanakan."
Jack diam sambil terus mengenakan dasinya. Tak lama kemudian ia sudah mulai menyisir rambutnya.
"Jack....!"
Kali ini Jack menatap Riani saat mendengar teriakan kesal istrinya itu.
"Aku sudah terlambat. Selamat pagi." ujar Jack dan langsung keluar kamar sambil memakai jasnya.
"Ih......!" Riani mengeram kesal. Ingin rasanya ia berteriak. Ia tahu kalau ia memang sudah melakukan kesalahan tapi apakah dia harus diacukan seperti ini?
************
Jack masih tidur. Sudah 5 hari ini ia mengacuhkan Riani dan Riani sendiri sebenarnya sudah tak tahan ingin protes namun akhirnya ia memilih diam.
Semalam Jack pulang sudah jam 2 dini hari. Mereka dari London mengikuti pertemuan dengan kolega perusahaan di sana.
Riani pun enggan membangunkan Jack. Ia akan menemani Cassie di gereja. Ia tahu di tempat seperti itu, para wartawan biasanya tak ada.
Jack bangun pukul 10 pagi. Saat ia turun ke bawah, ruang tamu nampak sepi.
"Kemana istri dan anakku?" tanya Jack kepada Leo.
"Sedang ke gereja, tuan. Hari ini nona Cassie akan tampil dengan tim koornya. Misa dimulai jam 8. Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang."
"Tolong diapakan kopi untukku dan bawa ke teras belakang."
"Baik, tuan."
Jack melangkah menuju ke teras belakang. Ia suka duduk di sana sambil menatap beberapa peliharaannya di sana seperti burung, kelinci dan beberapa jenis ular. Jack bahkan punya pelayan khusus untuk memelihara beberapa hewan peliharaannya ini.
Tak lama kemudian, Cassie pulang.
"Daddy, apakah mommy sudah tiba?" tanya Cassie
__ADS_1
"Bukankah kalian pergi bersama?"
"Mommy tadi pamit mau pergi lebih dulu. Katanya mau mampir ke toko kue. Mommy naik taxi dan aku pulang bersama sopir karena masih ada beberapa penyampaian dari pelatih."
"Mungkin sebentar lagi mommy datang."
"Ya, sudah. Aku mau ganti baju dulu karena sudah lapar." Cassie meninggalkan Jack sendiri di teras belakang.
Untuk sesaat Jack merasa khawatir. Sekarang sudah jam 11. Jam pulang gereja biasanya jam 10 pagi. Sementara jarak toko kue dari gereja hanya 10 menit saja.
Jam 1 siang......
"Cassie, mommy belum pulang juga?" Tak tahan rasanya Jack bertanya.
Cassie yang baru memasuki ruangan kerja papanya menggeleng. "10 menit yang lalu mommy telepon. Katanya ia sedang berada di toko Asia. Mungkin sedikit lagi mommy datang."
Jack hanya mengangguk walaupun kenyataannya ia sudah mulai khawatir.
Pukul 3 sore.....
Jack mencoba menghubungi ponsel Riani. Nomor Riani aktif namun ia sama sekali tak mengangkatnya. Sampai 10 kali Jack memanggilnya namun Riani masih belum menjawabnya.
"Cassie, apakah mommy telepon?"
Cassie yang baru bangun tidur. "Nggak. Memangnya mommy belum datang?"
"Belum."
Cassie mencoba menghubungi Riani. "Ponsel mommy nggak aktif."
"Tadi masih aktif."
Cassie menghubungi lagi. Namun nomor Riani memang sudah tak aktif.
"Mengapa kamu membiarkan mommy pergi sendiri sih?" tanya Jack mulai tak tenang.
"Toko kuenya hanya dekat, dad. Mommy sendiri yang ingin pergi."
"Sesuatu pasti sudah terjadi padanya." ujar Jack. Ia memanggil para bodyguard nya untuk mencari istrinya ke kompleks toko Asia dan sekitarnya. Sementara ia sendiri melacak GPS dari ponsel Riani.
"GPS nya masih di kompleks toko Asia." guman Jack.
"Mungkin banyak yang mommy belanja."
Jack memeriksa pemberitahuan penggunaan kartu kreditnya. Riani memang menggunakan kartu itu sekitar 2 jam yang lalu.
Selama 2 jam, anak buah Jack berputar untuk mencari sang nyonya namun tak ada satu pun yang menemukannya. CCTV menunjuka. kalau Riani sudah naik taxi sekitar pukul 13.45 menit.
Jack mulai panik.
**********
__ADS_1
Nah, mommy Riani menghilang lagi. Kali ini kemana ya guys?
Dukung emak terus ya