Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Stok ASI Habis


__ADS_3

Menjadi pusat perhatian di tengah pesta para bintang tentu saja membuat Riani sangat gugup. Tangannya sendiri begitu berkeringat sehingga ia tak sedikit tak percaya diri saat pangeran Philip menggenggam tangannya.


"Jangan gugup. Cukup tatap aku saja. Biarkan yang lain menjadi iri karena memang kamu sangat cantik malam ini." bisik pangeran Philip..


"Maaf pangeran, tanganku jadi berkeringat."


"Tak masalah. Aku menikmati kebersamaan ini. Kau sangat pintar berdansa."


Jack yang melihat itu menjadi semakin panas. Dia yang mengajari Riani berdansa. Dia yang menunjukan cara-cara berdansa ala orang Inggris. Dan lihat sekarang, betapa lincahnya Riani menggetarkan tangan dan kakinya dan betapa senangnya sang pangeran mendapatkan teman berdansa yang sangat menguasai s setiap gerakannya.


Satu persatu pasangan dansa pun ikut turun ke lantai dansa. Riani bernapas lega karena ia tak menjadi pusat perhatian lagi.


Firuse pun menarik tangan Jack untuk ikut berdansa. Jack sebenarnya tak mau namun ia tak ingin membuat Firuse malu. Akhirnya ia pun ikut berdansa.


Saat Riani melihat Jack dan Firuse berdansa, perempuan itu merasakan sesuatu yang menusuk hatinya. Namun dia berusaha membuang perasaan itu karena dia tahu bahwa dia tak punya hak marah pada Jack karena mereka sudah bercerai. Lagi pula Firuse terlihat sangat cocok dengan Jack karena tinggi badan mereka yang hampir sama.


Lagu pun berhenti, pangeran pengantaran Riani kembali ke mejanya. Di belakang mereka ada Firuse dan juga Jack yang sedang berjalan menuju ke meja mereka.


"Caleb, kenapa tak mengajak Grace dansa?" tanya Philip.


"Istriku baru saja selesai melahirkan sehingga aku tak ingin membuatnya lelah, pangeran." ujar Caleb.


"Suami yang baik. Dan Jack, selamat ya, produk alat olahraga mu adalah yang terbaik di Inggris saat ini. Terima kasih juga sudah datang malam ini. Firuse, semoga karir mu semakin sukses di sini."


Jack dan Firuse sama-sama mengucapkan terima kasih.


Pangeran kemudian menghadapkan wajahnya pada Riani. "Riani, terima kasih untuk malam yang sangat berkesan ini. Kau sangat pintar berdansa. Aku merasa beruntung malam ini."


"Sama-sama pangeran."


"Kau tak marah kan Clark karena aku menculik gadis cantik ini?" Philip melirik ke arah Clark.


"Tidak pangeran." Clark tersenyum semanis mungkin.


Philip meraih tangan Riani dan mengecup punggung tangan perempuan itu. "Aku permisi dulu. Nanti aku pasti akan menghubungimu lagi. Itu pun kalau Clark tak keberatan."


Saat pangeran kembali bergabung dengan tamu-tamu yang lain, Riani pun mengajak Clark pulang.


"Kami pamit dulu ya." ujar Clark sambil melingkarkan tangannya di bahu Riani membuat Jack kembali meradang.

__ADS_1


Caleb dan Grace pun ikut pamit karena mereka masih memiliki bayi kecil yang tak boleh ditinggalkan lama.


Ada senyum smirk di wajah Clark saat membayangkan apa yang akan terjadi besok dengan berita hangat seputar teman dansa sang pangeran.


**********


Jack pulang ke rumah dengan suasana hati yang tak baik. Firuse menawarkan Jack untuk minum kopi di kamarnya namun Jack menolak dengan alasan ia sangat lelah.


Begitu ia menaiki tangga terdengar suara tangis Reo, membuat Jack menjadi khawatir.


"Ada apa ini, Hanna?"


Suster Hanna yang sedang menggendong Reo terlihat khawatir. "Baby Reo tak mau tidur, tuan. Dia kan sudah terbiasa ditidurkan oleh nyonya Riani."


"Susunya?"


"Dia nggak mau minum susu formula. Stok ASI yang ada juga sudah habis."


Cassie yang masih bangun pun berkomentar,"Daddy, apakah tidak sebaiknya kita minta mommy untuk datang menidurkan dede Sen?"


Jack menggeleng. "Jangan. Ini sudah malam."


"Baiklah. Panggil paman Leo."


Cassie segera berlari menuju ke lantai satu sedangkan Jack mengambil Reo dari gendongan suster Hanna dan berusaha membujuknya.


Reo yang kini berusia 11 bulan awalnya sedikit tenang saat Jack menggendongnya. Tapi tak lama kemudian, anak itu kembali rewel.


*********


"Leo, Cassie, ada apa?" tanya Riani kaget begitu membuka pintu apartemennya.


"Mommy, ade Sen menangis terus tak mau tidur. Stok ASI bahkan sudah habis. Kami datang menjemput mommy untuk membujuk ade."


"Baiklah. Mommy ganti baju dulu."


15 menit kemudian, mereka sudah tiba kembali di mansion.


Saat melihat Riani, baby Reo langsung mengulurkan tangannya dan minta di peluk. Riani langsung mengambilnya dari pelukan Jack dan membawanya ke kamar Reo untuk disusui.

__ADS_1


"Kangen mommy ya?" tanya Riani sambil mencolek pipi putranya.


"Ma....ma...ma...." ujar baby Reo sambil tersenyum senang.


"Ini sudah hampir jam 12 tengah malam dan Reo belum bobo? Bobo ya nak?" ujar Riani sambil membaringkan Reo di tempat tidur lalu membuka kancing kemejanya dan mulai menyusui putranya.


Tak lama kemudian, baby Reo tertidur. Cassie pun langsung pamit ke kamarnya karena ia memang sudah sangat mengantuk.


Riani perlahan bangun dan mengangkat Reo lalu memindahkannya ke box bayinya. Ia menepuk-nepuk pantat Reo sebelum akhirnya mengambil selimut kecil dan menyelimuti tubuh Reo.


Setelah itu, Riani mengambil air minum karena ia sangat haus. Namun entah karena apa, air itu tumpah ke bajunya dan membuat kemejanya menjadi basah.


Reo pun kembali menangis. Sepertinya ia belum nyenyak. Riani menjadi bingung. Bagaimana bisa menyusui Reo dengan baju yang basah. Ia pun mengeluarkan kemejanya dan kembali mengangkat Reo dari box nya. Ternyata underwear nya juga ikut basah. Riani pun mengeluarkan kain penutup gunung kembarnya itu karena ia berpikir sangat aman menyusui Reo di kamarnya.


Kali ini, Riani menyusui Reo sambil duduk dengan bagian atas tubuhnya yang polos. Ia tahu kalau Reo sedikit merajuk karena Riani tak datang. Makanya ia menjadi rewel.


Jack yang ada di ruang kerjanya segera ke atas. Ia pikir kalau Riani sudah pulang makanya ia ingin masuk ke kamar putranya untuk memberikan kecupan selamat malam. Namun alangkah terkejutnya ia saat membuka pintu dan menemukan Riani masih ada di kamar dalam keadaan yang sangat eksotik untuk dilihat.


Riani yang sedang menyusui Reo tak menyadari bahwa pintu terbuka karena memang pintu kamar Reo dirancang saat dibuka atau ditutup tak mengeluarkan suara.


Jack menelan salivanya dengan gugup saat melihat bagian tubuh Riani yang sebenarnya sangat ia sukai itu.


Tepat disaat itu, Riani mengangkat wajahnya dan ia berteriak dengan suara tertahan sambil kebingungan mencari kain untuk menutupi dadanya.


"Maaf .., aku pikir kamu sudah pulang."kata Jack lalu segera pergi ke kamarnya.


Riani sebenarnya ingin berteriak namun ia takut Reo akan terbangun lagi. Makanya Riani berusaha menahan suaranya. Hanya matanya yang melotot ke arah Jack sambil ia sendiri menahan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak dua kali lebih cepat karena tatapan Jack itu.


Riani segera meletakan Reo ke tempat tidurnya. Ia memakai kembali bajunya dengan cepat. Walaupun basah ia memutuskan untuk segera pergi setelah memanggil Hanna agar segera tidur di kamar Reo.


Salah satu bodyguard mengantarkan Riani pulang ke apartemennya. Sedangkan tanpa Riani sadari, Jack melihat kepergiannya dari kaca jendela. Setelah mobil yang mengantar Riani pergi, Jack pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Namun rasa kantuknya seakan hilang. Ia justru membayangkan apa yang ia lihat tadi di kamar Reo.


Jack bangun, mengusap wajahnya kasar. Ia lelaki normal. Sudah berbulan-bulan ia menahan hasrat dalam dirinya, berusaha menyibukkan diri dengan bekerja tanpa henti namun jauh di dalam hatinya, ia merindukan keintiman bersama seorang perempuan.


Aku tak boleh menginginkan Riani. Dia bukan milikku lagi. Dia juga telah mengkhianati kepercayaan ku. Mungkin sebaiknya aku mencoba membuka hati bagi yang lain. Tapi apakah bisa? Mengapa aku sulit melupakan Riani?


************


Selamat pagi, selamat beraktifitas.

__ADS_1


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2