
Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti seragam dengan pakaian santai Sella segera turun ke dapur menyiapkan makan malam.
Tak lama Dimas pun turun menuju dapur dengan tampilan yang sudah segar dan rambut yang masih sedikit basah, melihat Sella yang sedang sibuk dengan alat masak tak menyurutkan langkah Dimas untuk semakin mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Kakak, ngagetin aku ikh!"
"Sibuk banget sayang!" ucap Dimas yang sudah menjatuhkan kepalanya ke pundak Sella dan memperhatikan tangan Sella yang sibuk dengan pisau dan sayuran.
"Kak, jangan gini aku lagi masak, mending kakak duduk sana aku buatin kopi ya!"
"Kamu masih lama nggak? kakak kangen tau!"
"Ikh apa sich kak, tiap hari ketemu kangen gimana kalo aku tinggal ngekos coba!" ucap Sella kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Bibir kamu minta di bikin bengkak ya sayang! jangan suka menggoda imanku, kalo aku nggak kuat bisa bahaya loh."
"Kakak aja yang mesum, jangan ajarin aku yang nggak bener ya kak!"
"Tergantung kamu lah, kalo terus meresahkan ya aku eksekusi," ucap Dimas kemudian meninggalkan Sella di dapur untuk melanjutkan kegiatannya.
"Dasar mesum!"
Sella segera menyelesaikan masakannya, perut yang sejak tadi siang kosong sudah berteriak minta segera di isi, gadis itu segera meletakkan semua masakannya di atas meja makan dan memulai melahapnya bersama dengan Dimas.
Setelah selesai makan Dimas mengajak Sella untuk duduk di sofa ruang tamu, tangannya menggenggam tangan Sella dan mulai menjatuhkan tubuhnya di sofa, Sella yang ingin duduk di samping Dimas justru di tarik hingga terduduk di pangkuan pria itu.
"Jangan gini kak, nanti kalo tiba-tiba kak Rika datang gimana? nggak usah cari masalah akh kak!" Sella segera turun dari pangkuan Dimas kemudian duduk di sofa panjang dengan kaki yang ia luruskan.
"Diajak mesra aja susah banget sich dek!" Dimas mulai menggerutu.
"Nggak pakek ya kak! kalo sampe buat kakak tergoda malah aku nanti yang repot!" sewot Sella.
Mereka menonton televisi dengan jarak yang terpisah, sesekali Dimas melirik Sella yang justru membuatnya gelisah. Celana yang pendek menampakkan kaki jenjang Sella, Dimas berusaha fokus ke arah televisi dia tidak ingin membuat dirinya gerah sendiri. Tetapi tetap saja pergerakan Sella membuatnya mati gaya, "ini bocil benar-benar nguji kesabaran banget, di pake nggak boleh di anggurin bikin meleleh," Dimas menggelengkan kepala kemudian melempar bantal sofa kepangkuan gadis itu.
"Apa sich kak, iseng dech!" sungut Sella.
"Katanya nggak menggoda tapi buat otak aku kemana-mana, tutupin itu paha kamu, dan duduk diam jangan kebanyakan gerak!" perintah Dimas membuat Sella melirik ke awah dan segera menutupi pahanya dengan bantal.
__ADS_1
Deru mesin mobil Rika terdengar di telinga keduanya, Sella tampak biasa saja karena memang tak ada yang perlu di khawatirkan. Rika memasuki rumah dengan langkah gontai, melirik ke sofa melihat suaminya yang tengah anteng menonton televisi.
"Mas..." Rika mendekati Dimas dan mencium kedua pipi suaminya. Sella yang mendengar mencoba tak menghiraukan, dia memilih fokus dengan televisi dan berbalas pesan dengan Tiwi dan Tio.
"Kamu udah makan mas?" tanya Rika yang sudah duduk di samping Dimas dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Udah baru selesai, kamu udah makan belum?"
"Udah mas, tadi aku makan bareng client," jawab Rika yang ikut menonton televisi.
"Aku capek banget mas, mau berendam rasanya kamu mau ikut nggak mas? sekalian aku kasih jatah bentar lagi kan aku mau pergi keluar negeri, nanti kamu kangen loh sama aku," rayu Rika yang tidak ada habisnya menuruti kebutuhan biologisnya padahal seharian dia sudah menghabiskan waktu bersama dengan Roy.
Sella yang mendengar itu seakan telinganya gatal dengan hati memanas, tetapi dia sadar akan posisinya yang hanya pengganti sang kakak dan itu tidak lebih dari urusan perut.
"Nanti dech ya, aku lagi asyik menonton televisi, kamu duluan aja," jawab Dimas yang merasa resah dengan adanya Sella disana, dia takut gadis itu akan marah.
"Maunya sama kamu!" rengek Rika yang membuat Dimas melirik ke arah Sella.
Kemudian Rika menarik tangan Dimas untuk mengajaknya ke kamar, tetapi dering ponsel Sella membuat keduanya beralih melihat gadis itu. Sella melirik layar ponselnya tenyata panggilan dari Reno yang melakukan vidio call. Sella yang merasa ini kesempatan untuk dia kabur segera menjawab panggilan tersebut, layar nya penuh dengan wajah Reno yang tampan apa lagi terlihat Reno yang cool dengan rambut basahnya.
Rika melirik layar ponsel Sella semakin dibuat tidak dapat menahan gejolak di dadanya, bagian intinya sudah menggelitik manja yang membuat Rika semakin merengek pada Dimas dan meminta pria itu segera beranjak menuju kamar.
"Kak, pacar aku Vidio call aku ke kamar dulu ya," ucap Sella dengan menunjukkan layar ponselnya.
"Oh ok, pacaran jangan sampe malem Sell besok sekolah kamu!"
"Siaaaapp!"
"Makasih kak!" ucap Reno yang mendengar pembicaraan mereka.
"Ok Ren, kapan-kapan main sini ya Ren!"
"Ok kak!"
Sella segera masuk kamar diikuti Rika yang sudah menarik lengan Dimas. Berjalan menaiki anak tangga dengan terburu-buru karena posisi Dimas dan Rika yang berada di belakangnya.
"Sayang apa belum sampai kamar?"
__ADS_1
"Iya sebentar ya, aku lagi naik tangga nich!" ucap Sella yang mampu di dengar oleh Dimas. Pria itu semakin emosi dan menarik tangan Rika agar segera masuk kamar, tubuhnya sempat menyenggol tubuh kecil Sella hingga membuat Sella limbung beruntung gadis itu berpegangan pada pegangan tangga sehingga tubuhnya tidak terjatuh.
"Sayang kamu udah nggak sabar ya, pelan-pelan dong sayang!" seru Rika yang justru merasa seperti di atas awan dengan sikap Dimas padanya.
Sella melihat kedua kakaknya yang tampak sudah tidak sabar dengan kegiatannya yang berisik, hati Sella seakan tersentil, baru saja tadi Dimas memanggilnya sayang tetapi sekarang justru tampak sudah tidak sabar dengan Rika.
Sella segera masuk kamar dan tidak memperdulikan keduanya, dia berusaha tenang dan tetap tersenyum di depan Reno.
"Hay Ren!"
"Hay....udah di kamar?"
"Iya, ada apa Ren?"
"Nggak ada, aku kangen sama kamu, maaf ya tadi aku nggak bisa antar kamu pulang. Jangan marah ya!"
"Oh itu.... nggak apa-apa kok ren, ada Tio yang antar aku pulang!"
"Aku akan menjelaskan semua sama kamu, kalo waktunya pas, besok aku kerumah kamu ya!"
" Iya udah, aku tunggu besok ya!"
"Tidur ya sayang, bye!"
"Bye!"
Setelah mematikan panggilannya Sella segera membuang nafas kasar dan merebahkan tubuhnya, bayangan Dimas yang sedang mencumbu Rika membuat air matanya meleleh, "ternyata udah coba cuek kayak apa masih aja berasa sakitnya!"
Sella segera masuk kamar mandi dan mencuci mukanya, air mata yang ia tahan tampak terus meleleh tak mampu di bendung.
"Kuat Sella, jangan lemah! kalo tau mencintai sesakit ini mending nggak punya hati sekalian!"
"Huuuuhhhffff......."
Sella keluar kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang, telinganya ia tutupi dengan bantal karena suara lenguhan dan erangan dari kamar sebelah membuat hatinya semakin tak tahan.
Dimas meluapkan segala emosinya dengan Rika, pria itu tidak selembut biasanya tetapi justru membuat Rika semakin menjerit keenakan. Hal itu membuat Dimas semakin tidak mampu menahan, lahar panas menyembur membasahi rahim Rika hingga meleleh ke pangkal paha wanita itu saat Dimas mencabutnya. Rika yang merasakan kelelahan dengan permainan Dimas yang kasar segera memejamkan matanya, ada rasa bersalah pada Rika tetapi seketika lenyap saat Rika mengucapkan terima kasih sebelum terlelap.
__ADS_1
"Makasih sayang, kamu sungguh luar biasa, aku suka permainan kamu yang tak seperti biasanya!" lirih Rika kemudian terlelap.
Dimas segera membersihkan tubuhnya, wajah Sella terus terbayang di pikirannya bahkan saat dia berhubungan dengan Rika tadi. Rasa kesal bercampur amarah menghinggapi hati, dia tau gadisnya pasti kecewa tetapi melihat Sella mendapat panggilan dari pria lain membuat emosi menguasai.