Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Melepas.....


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Dimas terus saja menggenggam tangan Sella dengan sesekali mengecupnya, senyuman terus menghiasi wajah pria itu saat sesekali mata mereka saling menatap.


Lagu romantis yang Dimas putar menambah hangatnya suasana, dia sungguh bahagia serasa jiwa mudanya kembali saat bersama Sella.


"Kak!"


"Kenapa sayang, hmm?"


"Bagaimana kalo Tante dan om curiga aku pulang telat?" tanya Sella ragu, dia mengkhawatirkan semua orang yang berada di sekililingnya mulai dari Rika, Tio, serta om dan tante yang masih di rumahnya.


"Kamu tenang saja, nanti biar kakak yang menjelaskan, jangan memikirkan sesuatu yang akan membebanimu sayang, kakak nggak akan membiarkan kamu kesulitan."


"Makasih Kak!"


"Dan makasih juga untuk yang tadi sayang," Dimas mengecup kembali jemari Sella, tetapi hal itu justru membuat Sella membuang muka ke arah jendela menutupi semburat merah di wajahnya yang membuat Dimas kembali tersenyum melihatnya.


Sesampainya di rumah mamah dan papah sudah menunggu kedatangan keduanya karena hari sudah menjelang malam. Sella segera masuk kerumah tetapi lengannya segera di tarik oleh Dimas yang membuat langkah gadis itu terhenti.


"Kenapa kak?"


"Kita bareng masuknya ya!"


cup


Dimas mencium kening Sella sebelum keduanya masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum Mah Pah!"


"Assalamualaikum Om Tante!"


"Wa'allaikumsalam," ucap mamah dan papah berbarengan.


"Kalian berdua kemana saja? kok baru pulang? apa Dimas jemput kamu telat nak?" tanya mamah yang sejak tadi mengkhawatirkan Sella.


"Nggak donk mah, tadi memang Dimas ajak Sella dulu ke kantor karena ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani."


"Ya sudah cepat kalian bersih-bersih lalu makan malam ya!"


"Iya mah, ya udah aku ke kamar dulu mah," Dimas segera menuju kamar di susul oleh Sella.


Dimas sempat melirik sang papah sebelum melangkah naik pada undakan tangga, mata mereka saling terkunci seakan mengerti jika setelah ini akan ada perdebatan yang terjadi.


"Maaf ya Tante gara-gara Sella telat pulang jadi harus merepotkan Tante untuk memasak makan malam," Sella benar-benar merasa tidak enak membuatnya berulang kali minta maaf pada ibu dari Dimas ini.


"Nggak apa-apa sayang, justru Tante senang bisa bantu kamu, kapan lagi kan di masakin sama Tante, lagian kamu harus fokus sekolah. Sebentar lagi ujian kan?"


"Iya Tante, doain ya Sella bisa lulus dengan nilai baik biar bisa masuk ke universitas yang Sella ingin kan!"

__ADS_1


"Memangnya sudah ada rencana mau nerusin sekolah dimana sayang?" tanya beliau lembut membuat Sella merasakan kasih sayang ibunya yang sudah lama tidak gadis itu rasakan.


"Udah ada Tante, ada beberapa juga di luar kota."


"Mana saja sayang? memangnya nggak apa-apa kalo kamu melanjutkan di luar kota, bagaimana dengan Rika?"


"Belum tanya sich Tante, tapi aku ingin mengejar cita-cita aku, biar aku nggak merepotkan kak Rika terus," Sella mulai duduk di meja makan setelah membantu mamah Dimas menyajikan masakannya.


"Ya sudah jika itu sudah menjadi keputusan kamu, semoga keinginan kamu terwujud ya nak!"


"Aamiin..."


Sejak tadi papah hanya diam menyimak tanpa ingin menyela, ntah apa yang ada dalam pikirannya, tetapi setelah mendengar ucapan Sella membuat raut wajahnya menegang sepeti ada yang beliau pikirkan.


Dimas menuruni anak tangga setelah mandi dan berganti pakaian dengan kaos rumahan kemudian berjalan menuju meja makan untuk segera bergabung dengan yang lainnya.


"Rika nggak kasih kabar kamu nak?" tanya mamah di saat semuanya sedang menikmati makannya.


"Udah tadi mah." jawab dimas singkat.


"Kapan dia pulang Dimas?" tanya papah tanpa melirik anaknya.


"Rika masih banyak pekerjaan katanya pah, biasanya sich Rika kalo ke luar negeri paling lama satu Minggu!"


"Kamu nggak pernah nengokin dia saat lagi pergi ke luar gitu?" tanya mamah lagi.


"Nggak mah, dulu pernah sich sesekali tapi sekarang udah nggak pernah, lagian Rika juga nggak menginginkan, dia bilang baik-baik saja di sana dan nggak perlu di khawatirkan."


"Dimas ke kamar dulu Pah," pamit Dimas.


"Papah ingin bicara Dim!" permintaan papah menghentikan langkah Dimas.


Kini keduanya sudah berada di ruang kerja Dimas, sudah sepuluh menit mereka terdiam hanya saling mengunci pandang. Papah menarik nafas panjang setelah memantapkan hati untuk memulai pembicaraan.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Rika?"


"Seperti yang papah lihat, aku dan Rika masih sama saja!"


"Lalu bagaimana dengan Sella?"


Dimas tidak terkejut saat sang papah menanyakan tentang Sella, karena dia tau jika pembicara ini pasti berujung membahas hubungan mereka.


"Semakin dekat Pah!" ucap Dimas jujur.


"Kamu telah membuat kerumitan di kehidupan kamu dan Sella, apa tidak ingin menyelesaikan yang satu baru mulai dengan yang baru?"


"Aku belum ada jalan untuk itu Pah!" tegas Dimas.

__ADS_1


"Tapi dengan hubungan kalian yang seperti ini hanya akan menghancurkan Sella, papah saja iba dengan anak itu, lalu dimana hati kamu?"


deg


"Kamu mementingkan diri kamu sendiri tanpa memikirkan nasib dan hati Sella! Jika kamu tulus dengannya, selesaikan dulu hubungan kamu dengan istri kamu!"


"Tapi nggak semudah itu Pah, aku dan Rika bukan hanya sekedar pacaran yang gampang saja untuk putus!" kekeh Dimas.


"Kalo begitu selesaikan hubungan kamu dengan Sella yang memang lebih mudah karena kalian hanya pacaran."


skakmat


Dimas memijit pelipisnya, kepalanya berdenyut setiap kali memikirkan hubungan percintaan mereka.


"Tapi aku cinta dengan Sella Pah," lirih Dimas yang masih tertangkap jelas di telinga papah.


"Cinta aja nggak cukup untuk Sella, apa lagi sampai kamu berbuat lebih dengannya hanya karena dasar cinta, itu hanya alibi kamu semata, kamu harus bisa membedakan mana cinta mana nafsu dan mana obsesimu!"


" Jangan kerena alasan cinta yang kamu agung-agungkan membuat kamu menyakiti salah satu di antara mereka Dimas!"


"Sudah cukup sejak dulu Rika memperbudak Sella, Papah akan bertindak lebih jika anak itu kembali menderita!" tegas sang papah kemudian meninggalkan Dimas yang sudah tampak kacau.


Dimas mengacak rambutnya, dia tau apa yang ia lakukan salah tetapi rasa cintanya dengan Sella membuatnya melakukan kegilaan ini.


"Gue harus gimana? apa gue harus memperbaiki hubungan dengan Rika yang udah terlanjur hambar, terus hubungan gue sama Sella gimana?"


SHIIITT


Dimas melempar barang-barang yang ada di meja kerjanya, kegaduhan itu pun membuat Sella yang kebetulan ingin ke bawah mengambil minum di buat penasaran dengan apa yang terjadi di ruang kerja Dimas.


Sella melangkah pasti untuk mencari tau, pintu yang tidak tertutup rapat membuat Sella dengan mudah mendekat tanpa membuat Dimas terusik.


Sella melebarkan matanya saat melihat ruang kerja Dimas begitu berantakan dengan penampilan Dimas yang acak-acakan.


"Apa benar kata papah, gue harus ngelupain Sella dan mengakhiri hubungan yang salah ini!"


deg


Hati Sella seakan tercabik mendengar ucapan Dimas, setelah hubungannya yang semakin jauh dengan gampangnya Dimas menyudahi semuanya. Sedangkan Sella yang sudah meminta sejak awal tetapi tidak diindahkan olehnya dan sekarang giliran hati bahkan tubuhnya sudah Dimas nikmati lalu dengan seenaknya lelaki itu ingin menyudahi.


Sella melangkah mundur, air matanya jatuh tanpa permisi, hatinya jauh lebih sakit setelah mendengar ucapan Dimas yang dia rasa begitu egois.


Langkahnya gontai masuk kekamar dan segera mengunci pintu, tubuh gadis itu seketika luruh dengan Isak tangis mengandung pilu.


"Kenapa baru sekarang Kakak melepas aku setelah semua yang telah terjadi di antara kita? apa kakak nggak mikirin perasaan aku?aku tau hubungan ini salah, aku udah minta dari awal untuk jangan di teruskan, tapi kenapa baru sekarang giliran aku sudah benar-benar menaruh harapan!"


Sedangkan Dimas yang tidak tau keberadaan Sella tadi, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dimas berdiri di depan bingkai foto pernikahannya bersama Rika yang terpajang di dinding kamar dengan ukuran yang besar.

__ADS_1


Ekor matanya nampak basah, ia teringat semua kenangan manis bersama Rika hingga menikah dan kemudian tersakiti atas sikap istrinya.


"Maafin aku jika belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu, aku kasih kamu kesempatan sekali lagi, tetapi jika sikap kamu tidak berubah, aku akan pergi dan membawa serta Sella. Kali ini aku berusaha untuk hubungan kita, karena aku tidak ingin melukai hati Sella lebih dalam lagi, apa lagi jika kamu bongkar semuanya tentang dia, cukup aku yang menyakiti hatinya, jangan sampai kamu juga akan menyakiti dia karena yang dia tau kamu kakak terbaik untuknya!"


__ADS_2