Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Sidang


__ADS_3

Sidang perceraian yang sedikit alot karena Rika yang terus menangis dan tak henti menolak adanya perceraian. Dimas yang terus memikirkan Sella tak menghiraukan Rika, dia hanya ingin fokus dengan segala urusannya agar cepat kelar dan membawa Sella pergi dari rumah itu, karena Dimas tak akan membiarkan Rika menyakiti Sella lagi.


Doni yang sejak tadi mendampingi dengan pengacara yang ia telah bayar mahal, mengurus semuanya hingga benar-benar langkah mereka di percepat, agar segera selesai dan waktu pun tak di tunda-tunda.


Sidang kedua yang di jadwalkan Minggu depan adalah penentu dari keputusan pengadilan, Dimas harus lebih bersabar lagi menunggu hari itu tiba. Dimana statusnya akan resmi sebagai duda.


"Makasih pak, tolong bantu semua hingga tuntas!" ucap Dimas pada pengacaranya.


"Baik Pak Dimas akan saya leksanakan sebaik mungkin."


Dimas hanya bisa membuang nafas kasar saat melihat Rika yang juga keluar dari ruangan.


"Gimana dengan Sella Dim?" tanya Doni yang saat ini sudah berada di mobil bersama dengan Dimas.


"Gue nggak tega lihat dia, saat ini hatinya pasti hancur banget, Rika emang gila dia nyerang si Sella begitu aja tanpa mikir kalo semua ini juga karna dia."


"Semalem kenapa loe masuk ke kamar Sella bukan ke kamar Rika?" tanya Doni yang tadi sudah sempat di ceritakan tentang kejadian semalam oleh Dimas sebelum sidang di mulai.


"Nggak bakal jadi sidang kalo gue ke kamar Rika, lagian loe kenal gue udah berapa lama, loe nggak paham juga?"


" Gue pikir loe ketagihan sama si Sella!"


"Auuww....." Doni yang saat ini sedang nyetir meringis kesakitan karena pukulan dari Dimas di kepalanya.


"Mulut loe tuh..." Dimas mengingat kejadian semalam, tak munafik jika itu sungguh berkesan. " Gue nggak tau obat jenis apa yang Rika kasih, tapi efeknya gila banget sich, nggak cukup dua kali bahkan semakin keluar semakin gejolak itu naik, mungkin kalo Sella nggak lemes masih aja kali gue kerjain."


"Parah loe, dia masih baru butuh bimbingan!"


"Gue juga nggak ngerti apa karena obatnya atau karena lawannya yang bikin gue nggak mau udah..."


"Alasan aja loe, loenya aja kali yang udah keenakan sama yang lebih sempit!" celetuk Doni.


"Sekarang apa rencana loe?" tanya Doni lagi.


"Gue mau bawa Sella dan orang tua gue pergi dari rumah itu, gue nggak mau lagi berurusan sama Rika, udah cukup hari ini dia ngancurin semuanya!"


Dimas teringat lagi dengan Sella, hatinya tak kuat jika harus kembali melihat Sella sakit karena Rika. Sudah cukup baginya hari ini penderitaan yang Sella alami.


Aku akan bawa kamu kemana pun aku pergi, aku akan melindungi kamu dan tak akan membiarkanmu sakit lagi. Tunggu aku sayang....."


Dalam sidang tadi Roy datang dengan hati bahagia. Dia dengan senang hati menerima Rika, apa lagi setelah tadi Rika menelponnya dan memberi kabar jika semua gagal.

__ADS_1


Sesuai janji Rika, dia akan kembali pada roy dan mencoba melepaskan Dimas walaupun di hati masih nyesek dan pasti sakit.


Karena nggak ada perpisahan yang tidak menyakitkan.


Tapi untuk Sella, dia masih begitu marah pada gadis itu, hatinya kembali terusik dan menganggap Sella adalah penghancur dari semuanya. Belum ada kata maaf untuk Sella, bahkan dia tak akan membiarkan Sella masih tetap berada di rumahnya.


Saat ini Rika dan Roy menuju apartemen untuk beristirahat di sana, Rika butuh obat untuk menyembuhkan hati dan pikirannya serta hasrat yang semalam membuat kepalanya ingin pecah. Dan Roy mengerti itu...


"Makasih Roy, kamu selalu ada buat aku.."


"Yes baby, I love you!"


cup


Roy mencium jemari Rika, hatinya yang bahagia membuat dirinya terasa tak sabar untuk pulang ke apartemennya. Dia tau apa yang Rika butuhkan saat ini, obat dari segala obat yang Rika perlukan.


Sesampainya di apartemen tanpa menunggu lama, Rika segera menyerang Roy hingga tubuh Roy terpentok ke dinding. Keduanya saling menyesap, Rika menumpahkan semua rasa yang ada di hatinya.


Belitan lidah Rika membuat Roy semakin menggila, Rika akan semakin liar saat sedang marah seperti ini. Roy kembali menyerang hingga langkah Rika mundur dan membalikkan keadaan. Saat ini Rika sudah bersandar di dinding dengan kedua tangan yang Roy angkat hingga ke atas kepalanya.


"Aku butuh kamu Roy..." ucap Rika di sela-sela cumbuan yang menggebu.


"Aku akan buat kamu lupa akan segalanya sayang!" lirih Roy di telinga Rika kemudian dengan ganas menarik telinga Rika dengan lidahnya yang membuat tubuh Rika semakin meremang.


Rika mulai lupa akan masalahnya, dia melepas semua yang menyesakkan hingga tubuhnya kini sudah polos di atas meja makan yang menjadi sarana pertempuran keduanya saat ini.


Ntah sejak kapan tubuh Rika kini sudah terlentang bebas merasakan nikmat yang begitu nyata membuatnya mengerang merasakan belaian serta lidah Roy yang menyusuri tiap inci tubuh polosnya hingga membuat dadanya naik turun.


Roy memang pandai membuat Rika melayang, kini tangan Rika menekan kepala Roy yang sudah berada di bagian inti yang lembab hingga membuat lidahnya semakin masuk ke liang surga dunia.


"Nakal...!" lirih Rika saat merasakan sesapan Roy di bagian daging kecil penguat hasrat.


Rika di buat semakin tak terkendali saat hisapan itu semakin dalam. Hingga jeritan manja mulai keluar dari bibir Rika yang saat ini terbuka dengan mata terpejam menikmati dan gejolak yang meminta lebih.


"Aku nggak tahan Roy, masukan pedang panjangmu yang sudah menantang itu!"


"Yes sayang, akan ku buat kamu semakin liar."


Akhirnya Rika dan Roy kembali menyatu, mereka melepas segala penat yang di rasa dan menyatukan hasrat yang membara.


Sesampainya Dimas di rumah, dia segera masuk tanpa memperdulikan Doni yang masih di dalam mobil.

__ADS_1


"Mah Pah..."


"Bagaimana sidangnya nak?"


"Berjalan lancar mah, pengacaraku dan Doni mengaturnya dengan baik, sidang keputusan di lakukan Minggu depan. Dan saat ini aku mau mengajak mamah dan papah untuk segera pindah ke rumahku, aku nggak mau lama-lama di sini lagi, sudah tidak ada hak juga aku di sini!"


"Lalu Sella gimana nak?" tanya mamah khawatir.


"Sella akan kita ajak mah, aku nggak akan membiarkan Sella disini bersama Rika. Ini bukan tempat yang baik untuknya."


"Mamah lega, mamah dan papah juga nggak akan tega meninggalkan dia disini!"


"Assalamualaikum Om Tante..."


"Doni...kamu ikut kesini juga nak?" tanya papah yang langsung merangkul Doni.


"Iya om, Dimas memintaku untuk membantu pindah dari sini," jawab Doni yang ikut duduk di sofa.


"Bagaiman keadaan Sella mah?"


"Sella sedang istirahat di kamar, mungkin sekarang sudah bangun karena sudah cukup lama mamah meninggalkannya sendiri, karena mamah paham dia butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan."


"Lebih baik kamu temui dia, siapa tau dia butuh kamus sekarang, mamah sangat menyayanginya jangan buat Sella berfikir dia tidak punya siapa-siapa," ucap sang mamah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku ke atas dulu...." Dimas segera berlari, sejak tadi memang dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Sella.


Tanpa mengetuk pintu Dimas segera masuk ke kamar Sella yang tak terkunci.


"Sayang...." Dimas tak melihat ada Sella di ranjang, langkahnya membawa dia untuk mencari ke dalam kamar mandi tetapi tak juga menemukan Sella.


"Sayang...."


"Dimana dia....."


Pandangan Dimas menyapu seluruh ruangan kamar Sella tetapi tak juga dia temukan Sella disana hingga pandangannya berhenti pada lemari yang terbuka.


Langkahnya berat menuju lemari itu, tangannya ragu membukanya, sungguh dia tidak siap dengan segala pikiran yang mengganggu.


deg


Kaki Dimas melemas, lemari Sella kosong dan barang-barang dia serta segala surat-surat yang ia miliki pun tak tersisa.

__ADS_1


"Nggak mungkin....ini nggak mungkin."


"Sella......." teriak Dimas dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


__ADS_2