
"Bibi...." seru Naira dan Kaira yang melihat bibi datang menjemput.
Sekolah sudah tampak sepi karena tadi bibi terlambat datang, beruntung Bu guru setia menemani siapapun murid yang belum di jemput. Dan kebetulan juga ada rapat dengan pemilik sekolah karena besok ada acara wisuda TK 0 besar yang akan di hadiri oleh seluruh wali murid untuk memeriahkan acara tersebut.
"Makasih ya Bu sudah menemani Naira dan Kaira saya tadi agak kesiangan ke pasarnya, jadi telat jemput mereka."
"Nggak apa-apa Bi, owh iya tolong sampaikan pada bunda mereka jika besok ada acara wisuda anak-anak B, di mohon bisa ikut hadir dalam memeriahkan acara tersebut. Dan juga ada pemilik sekolah yang kebetulan bisa hadir, jarang-jarang beliau datang ke Jogja. Mudah-mudahan semakin ramai acaranya," ucap Bu guru tampak antusias.
"Iya Bu guru, nanti saya sampaikan."
"Baik Bi, mudah-mudahan Bu Sella bisa datang karena si kembar besok ikut tampil memeriahkan."
"Wah saya juga mau lihat kalo gitu Bu, ya sudah saya pamit dulu ya Bu. Permisi...."
"Iya Bi...."
Bibi dan si kembar kini tengah duduk di halte sambil menunggu angkot yang lewat. Dengan ceria kedua anak kecil itu menghafalkan lagu yang besok ingin mereka nyanyikan.
Sampai sebuah mobil berhenti tepat di depan halte bis tersebut, dia keluar dari mobil dan segera menghampiri kedua gadis kecil yang sejak tadi mencuri hatinya.
"Naira, Kaira, belum pulang nak?"
"Eh bapak, lagi nunggu angkot sama bibi," jawab Naira.
"Kemana bibinya sekarang, kenapa kalian ditinggal berdua?"
"Bibi sedang membeli minum pak, Kaira haus dan minumnya habis."
"Itu bibi..." seru Kaira dengan senyum senang karena melihat bibi berjalan tergopoh-gopoh membawa botol minum air mineral.
"Ini di minum dulu Kai...."
"Bibi...."
Bibi yang tadi masih tidak engeh akhirnya mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang memanggil.
"Tuan...."
"Iya Bi, masih ingat dengan saya?"
"Iya, tuan yang pernah mencari den Tio waktu itu ya."
Dimas tersenyum ketika si bibi masih ingat tapi dia merasa sangat penasaran kenapa bisa berjumpa disini.
"Bibi udah nggak kerja tempat Tio?"
"Oh iya den, sudah lama bibi nggak kerja disana. Sudah ada lima tahunan."
"Ini siapanya bibi?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Dimas membuat bibi teringat jika ini orang yang mencari Sella waktu itu dan berarti ada kaitannya dengan si kembar saat ini.
"Oh, ini ponakan bibi den," jawab bibi berbohong.
Dimas merasa ada yang di tutupi dari ucapan bibi yang sedikit gugup dan gelagatnya yang kurang nyaman.
"Gimana kalo saya antar pulang Bi, sudah hampir siang kasian anak-anak kepanasan."
"Makasih den, biar kami naik angkot saja," jawab bibi ramah, dia tidak ingin sampai salah langkah takut jika Sella masih belum ingin bertemu.
"Bi, ayo ikut bapak ini aja. Naira kebelet pipis bi," rengek Naira.
"Kaira juga udah capek banget bi, ayo bi angkotnya lama."
Bibi bingung bagaimana harus bertindak sedangkan si kembar sudah rewel minta pulang, angkot yang di tunggu pun belum juga datang. Mungkin karena hari sudah cukup siang sehingga angkot yang biasa mengantar orang-orang kepasar sudah jarang. Maklum di desa, TK si kembar memang tak jauh dari rumah dan cukup jauh dari kota.
"Mari bi, kasian anak-anak...." Dimas tidak tega melihat kedua wajah si kembar yang sudah memerah menahan panas. Tapi saat dia mengamati jelas kedua gadis kembar di depannya ini, dia seperti teringat dengan seseorang.
Wajah kembar yang semakin besar semakin persis dengan bundanya membuat Dimas seperti mengingat akan Sella yang ntah dimana.
Ketika bayi mereka begitu mirip dengan sang ayah, tapi semakin berjalannya waktu wajah Sella seperti menempel pada kedua anaknya.
"Ya sudah den, bibi ikut mobil Aden, ayo nduk cepat naik mobil bapak, nanti keburu tambah terik!" Bibi terpaksa menerima ajakan Dimas karena tak tega melihat si kembar yang sudah merengek minta ikut.
Sepanjang perjalanan Dimas mendengarkan ocehan si kembar yang menceritakan tentang bundanya, hal itu membuat bibi yang duduk di belakang ketar ketir. Apa lagi melihat Naira yang duduk di samping kemudi begitu akrab.
"Memang bunda kalian kerja apa?"
"Oke dech! janji ya..."
"Oke!"
"Kalo ayah kalian kerja dimana?"
"Kalo ayah....." wajah Naira berubah sendu, melihat itu Dimas menjadi ikut tak tega ntah apa yang gadis ini rasakan. Tetapi hatinya ikut sakit melihatnya.
"Nduk, siap-siap yuk sudah mau sampai. Den depan belok kiri ya.."
"Oh iya Bi," jawab Dimas kemudian menepikan mobilnya di depan rumah yang sangat asri dengan dinding kayu jati. Tapi tampak bersih dan rapi.
"Dadah pak...." seru Naira dan Kaira ketika Dimas ingin masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Dadah sampai berjumpa besok."
"Makasih ya den sudah mengantarkan kami," ucap bibi dengan ramah.
"Sama-sama bi, ya udah saya pamit ya Bi."
"Makasih pak," seru Naira dan Kaira yang tiba-tiba berlari dan memeluk Dimas.
__ADS_1
deg
Hati Dimas menghangat merasakan getaran yang begitu kuat. Kedua gadis mungil ini memeluk erat seperti sudah lama kenal.
Malam harinya, Sella mengajarkan kedua anaknya belajar. Naira dan Kaira yang sudah lancar membaca membuat bangga karena begitu cepat perkembangannya.
"Bunda, besok bunda datang kan?"
"Mmmm lihat besok ya sayang, bunda kan mengajar nak. Nanti kalo bunda nggak bisa datang biar Tante ayu yang kesana dengan bibi."
"Hari ini Kaira nangis karena di ejek teman tidak memiliki ayah, kalo besok bunda nggak datang terus kami akan semakin di ejek bunda." Kaira sudah kembali menangis membuat Sella tak tega. Dia memeluk kedua anaknya, Sella merasakan kepedihan yang anak-anaknya rasakan, tapi dia tak tau harus bagaimana lagi. Sedangkan kedua anaknya semakin besar.
Keesokkan harinya seperti biasa Sella mengantar kedua anaknya ke sekolah, mereka hari ini datang lebih pagi karena harus bersiap untuk pentas nanti.
"Bunda berangkat kerja dulu ya nak, nanti kalo bunda bisa ijin, bunda akan datang. Anak bunda anak-anak baik, jangan marah jika bunda nggak bisa hadir ya nak!" Sella menahan tangisnya saat melihat wajah sendu kedua anaknya, dia begitu tak tega, tetapi tuntutan pekerjaan membuatnya tak bisa meninggalkan kewajiban.
"Tapi kalo di beri ijin segera datang ya bunda..."
"Iya sayang, makasih ya anak bunda anak-anak pintar," Sella mencium kedua putrinya kemudian segera pamit untuk mengajar.
Kemeriahan acara tak membuat Naira dan Kaira ikut gembira, hampir di pertengahan acara belum nampak sang bunda hadir di tengah-tengah mereka. Sedangkan yang lain sudah duduk bersama bundanya. Bibi pun belum datang, padahal sebentar lagi mereka akan naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu yang sudah ia persiapkan untuk bunda.
"Untuk acara hiburan selanjutnya kita akan menyaksikan penampilan dari si kembar yang menggemaskan, yang akan membawakan lagu berjudul bunda."
"Ayo Naira dan Kaira naik ke atas panggung nak...."
Dimas tersenyum melihat ke dua anak kecil yang berkerudung kini menaiki panggung, tetapi yang dia sedikit heran dengan wajah keduanya yang tampak sendu. Membuat sudut hatinya terasa pilu.
"Hari ini kami akan menyanyikan lagu yang berjudul bunda, bunda yang sangat kami sayangi." ucap Naira dengan mata yang sudah mengembun.
Kaira yang melihat sang kakak terdiam kemudian melanjutkan ucapannya. "Semoga bunda yang sedang bekerja selalu di beri kesehatan. Ini lagu persembahan dari kami..."
"Yang berjudul Bunda...."
...****************...
Pasti kalian sudah menunggu ya momen Dimas dan Sella kembali di pertemukan...
Mau hari ini apa besok nich?
Siap Doble up...
Jangan lupa coment, like, vote.
♥️
🌹
☕
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan kalian 🙏🙏🙏