
Sudah hampir seminggu Sella dan kedua putrinya di Jakarta, lusa mereka harus kembali ke sekolah. Dimas pun sudah sejak dua hari yang lalu mulai bekerja kembali.
"Kenapa tak menetap di sini Sell?"
"Sella masih punya tanggung jawab pekerjaan disana Pah, kecuali kalo sudah mengurus perpindahan kesini. Kembar juga harus sekolah Pah. Tapi untuk ke depannya Sella belum tau pasti, karena kak Dimas juga belum memutuskan mau bagaimana. Jadi Sella jalani dulu yang ada."
"Bunda kita kapan pulang?" tanya Naira yang sedang mewarnai bersama adiknya.
"Besok sayang, makanya cepet bobo biar besok bisa bangun pagi, Kaira juga bobo sama kakak ya!"
"Iya bunda," sahut Kaira. Kemudian keduanya masuk ke dalam kamar mereka.
"Nanti kalo udah di sana sering-sering Vidio call mamah ya nak," ucap mamah dengan wajah sendu. Sella yang melihat itupun tak tega kemudian merangkul sang mamah.
"Tentu mah, nanti mamah juga harus sering-sering main ke sana ya. Kembar pasti senang sekali nenek dan kakeknya berkunjung."
"Iya sayang, pasti mamah dan Papah segera ke sana."
"Dimas kenapa belum pulang Sell? tumben sampe malem."
"Kak Dimas lembur Pah, karena besok mau mengantar ke Jogja jadinya mau menyelesaikan pekerjaannya dulu katanya."
"Ya sudah kamu istirahat aja dulu sayang, nggak usah menunggu Dimas, dia bawa kunci sendiri. Besok kan harus berangkat pagi, biar nggak kesiangan ya."
"Baik mah, Pah Sella istirahat duluan ya." Sella segera masuk ke dalam kamar, berganti baju dan rebahan di ranjang. Jam sudah pukul 10 malam tapi Dimas belum juga pulang.
Sella yang nggak bisa tidur akhirnya turun dari ranjang dan duduk di bangku sofa sambil memainkan ponselnya. Melihat-lihat akun sosmed, group WhatsApp sampai akhirnya tertidur juga.
Dimas benar-benar pulang larut, pukul 12 dia baru sampai dan segera masuk ke kamar. Pria itu menatap haru, seakan lupa jika sekarang ada yang menunggu. Lembur-lemburan tanpa memikirkan yang di rumah. Akibat jadwal Minggu depan yang padat harus keluar kota mendatangi sekolah-sekolah miliknya, jadi harus mengejar pekerjaan kantor.
"Maaf sayang..." Dimas mengecup kening dan bibir Sella, rindu tapi karena tanggung jawab harus sedikit sabar. Ini juga yang membuat Dimas membiarkan Sella untuk sementara kembali ke Jogja. Agar dia bisa kembali mengajar dan berkegiatan. Jadi tidak jenuh menunggunya pulang malam-malam di tengah kesibukan yang ada.
__ADS_1
"Pindah ya bobonya sayang...." Dimas mengangkat tubuh Sella untuk tidur ke ranjang. Melirik ponsel Sella yang masih di genggam. Sempat mengecek dan membaca dengan teliti, ternyata ibu guru yang satu ini cukup meresahkan hati.
Setelah membersihkan diri Dimas kembali dengan merusuh masuk ke dalam selimut dan memeluk istri yang besok sudah kembali ke kampung.
Pagi menjelang Sella bersiap untuk segera berangkat, kedua putrinya sudah siap dengan jilbab di kepalanya menunggu dengan nenek kakek yang sejak tadi mendekap karena berat di tinggal cucu kesayangan. Sedangkan Sella masih mengikuti drama Dimas yang tiba-tiba rewel dan menempel tanpa mau beranjak dari ranjang.
"Ayo kak, nanti keburu siang. Besok paginya kan kakak juga harus kembali ke Jakarta. Apa aku pulang sendiri saja?"
"Aku antar sayang, jaga hati ya di sana. Setelah semua beres aku akan jemput kalian lagi."
"Mana bisa begitu, aku bisa kembali nanti setelah 6 bulan. Liburan semester 1, nggak bisa bolos donk kak. Kecuali kalo aku pindah kesini dan bekerja di sini."
"Bisa aja, apa sih yang nggak bisa buat aku. Dapetin kamu lagi aja bisa. Nanti kalo rindu sebelum tidur Vidio call ya sama anak-anak dan kamu juga. Tapi kalo sama bundanya sampai tidur baru di matiin pokoknya," Dimas menciumi Sella hingga jilbab yang di pakai sedikit berantakan.
"Jilbab aku rusak kak....."
Perjalanan lumayan lama, hampir jam 7 malam mereka sampai, sebenarnya bisa saja naik pesawat. Tapi karena Dimas yang akan repot sendiri jika tak ada kendaraan. Memutuskan untuk memakai mobil agar keesokkan harinya bisa mengantar istri dan anaknya ke sekolah.
"Alhamdulillah sehat nak Dimas, cuma sepi aja nggak ada anak-anak, Ayu juga sibuk kuliah. Bibi jadi cuma melamun aja."
Dimas dan Sella tersenyum mendengar keluhan bibi. Pasti ini juga yang di rasakan mamah dan papah saat ini.
"Aku nitip Sella dan anak-anak untuk sementara ya Bi, nanti jika mereka sudah kembali ke sana lagi, bibi bisa ikut saya untuk membantu merawat anak-anak di Jakarta."
"Bibi sepertinya nanti akan kembali ke rumah den Tio, mereka sudah kembali meminta bibi untuk bekerja di sana. Tapi kata den Tio nanti, jika Sella memang sudah menetap di Jakarta."
"Tio memang nggak berubah, dia masih mikirin aku bi," ucap Sella yang tak sadar membuat Dimas cemburu.
"Iya nak, den Tio memang menyayangi kalian tulus, bibi aja masih di bayar selama ini sama den Tio. Padahal bibi mah kerja apa, cuma suruh merawat kalian yang udah bisa apa-apa sendiri masih di bayar juga," ucap bibi sambil tertawa kecil.
Sella ikut tertawa tetapi seketika diam saat melihat raut wajah Dimas yang berbeda, kemudian memutuskan untuk segera masuk ke kamar. Sedangkan kembar sejak tadi sudah bersama Ayu, efek kangen langsung masuk kamar dan mengajak mereka main bersama.
__ADS_1
Setelah menutup pintu kamar Sella mengikuti Dimas yang merebahkan tubuhnya di ranjang. Dimas hanya diam tak mengucapkan apapun, marahnya nggak seperti dulu, sekarang jika hatinya terusik lebih kearah diam baru setelahnya mengungkapkan.
"Kenapa sich kak, kok diam aja. Aku ada salah?"
Dimas menatap Sella yang sudah ada di sampingnya. Melihat setiap inci wajah cantik Sella yang membuat siapa saja terpesona. Mungkin jika tidak segera di publikasikan akan semakin banyak yang mendekat. Apa lagi mereka taunya di sini Sella sendiri.
"Jangan nakal ya selama aku nggak ada di dekat kamu." Dimas menarik nafas dalam " Hhuuuuhhff apa nantinya aku bisa tidur nyenyak saat jauh dari kalian. Ikut aku pulang lagi aja yuk!"
"Ikh apa sich kak, udah sampai sini loh aku. Besok juga udah harus kerja lagi, nanti kalo aku di keluarin gimana?"
"Ya udah nggak gimana-gimana, Apa kamu lupa jika sudah mempunyai suami. Aku bisa mencukupi kalian tanpa kamu harus bekerja."
"Iya aku tau, tapi masuknya kan dengan cara baik-baik keluarnya juga donk kak. Nggak terus aku di keluarin gitu, masak meninggalkan citra buruk."
Dimas tersenyum melihat Sella, ternyata Sella memang bukan Sella yang dulu, istrinya saat ini lebih dewasa dan ke ibuan. Dimas mencium bibir Sella. Menatapnya dalam, "aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, akan aku tunjukkan siapa aku."
cup
"Kamu suami aku kak dan aku tau itu."
...**********...
Jangan lupa baca karya terbaru aku
"One Night With Duda"
❤️
☕
🌹
__ADS_1