Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Wanti-wanti


__ADS_3

Kini Sella dan Tio sudah sampai di apartemen, Sella yang sejak tadi menolak ingin di bawa ke rumah sakit membuat Tio khawatir.


"Loe beneran nggak mau gue bawa ke rumah sakit Sell?" tanya Tio yang saat ini sudah membantu Sella duduk di sofa.


"Beneran, orang udah nggak apa-apa juga kok Tio!" Sella tersenyum menjawab pertanyaan Tio, ia tak ingin lebih lagi merepotkan Tio. Sudah cukup hari ini Tio sibuk bersamanya.


"Gue nggak mau loe sakit Sell, apa lagi tadi gue lihat kayaknya loe nahan sakit banget, perut loe kenapa?"


"Mungkin mau pms kali, bulan ini gue belum datang bulan. Jadi loe nggak usah khawatir ya!" ucap Sella mencoba menenangkan Tio.


Tio menetap Sella dengan tatapan berbeda, dia semakin tak tenang dengan keadaan Sella saat ini. Tio menggelengkan kepala kemudian menggenggam tangan Sella.


"Terkadang yang di ucap nggak sesuai realita, yang kita inginkan nggak sesuai yang kita pinta, jika nanti benar adanya dia nyata ada, gue siap bertanggung jawab Sell."


Sella memalingkan wajah, air matanya kembali mengalir, dia tak ingin hal itu terjadi. Tapi dia pun tak munafik jika dia juga khawatir akan itu.


"Sell...." panggil Tio yang membuat Sella segera menghapus air matanya kemudian menoleh.


"Gue nggak apa-apa Tio dan nggak ada yang harus di pertanggung jawabkan, loe udah bantu gue aja udah lebih dari cukup," Sella terus meyakinkan.


Tio menarik nafas dalam, Sella cukup keras kepala, tapi Tio yakin jika Sella mampu menghadapi ini semua.


"Jadi pindah?"


"Jadi donk Tio, gue nggak bisa di sini terus, gue harus lanjutin hidup gue. Gue mau kerja dan mungkin gue bakal nyari kampus yang bayarannya nggak terlalu mahal. Doain gue mampu dan kuat hadapi ini semua ya."


Tio menganggukkan kepalanya, "loe pasti kuat, gue tau loe gimana. Gue dukung semua keputusan loe!"


"Makasih Tio, loe sahabat terbaik yang gue punya."


"Besok gue minta bibi buat kesini dan bantuin loe berkemas, gue harap ini yang terbaik buat loe, gue juga udah minta bibi buat jagain loe disana."

__ADS_1


"Gue bisa sendiri, loe nggak perlu minta bibi buat jagain gue, gue nggak enak sama orang tua loe Tio!"


Tio menyandarkan tubuhnya di sofa, "justru itu permintaan orang tua gue, loe belum begitu paham juga wilayah sana, gue juga nggak mau loe ntar malah di manfaatin orang lagi disana. Udah dech Sell, loe nggak mau kan kalo gue tiap sebulan sekali pulang karena khawatir sama loe dan ninggalin pelajaran gue?"


"Ya udah gimana loe aja dech, tapi makasih ya," ucap Sella dengan senyum yang mengembang.


"Gue wanti-wanti pokonya loe jangan kepincut cowok Yogya aja!"


"Lah kenapa?" tanya Sella dengan wajah meledek. "Katanya loe ikhlas kalo gue sama yang lain, gimana sich loe! gue kan juga butuh penyemangat Tio, gue butuh ada yang antar-jemput gue ngampus, gue butuh ada yang nemenin gue kondangan, gue butuh ada yang ngajak malming. Ya seenggaknya ada yang ngajak gue ke pasar malem naik bianglala terus nyatain cintanya pas di atas!".


"Korban Drakor loe ya! kalo loe butuh penyemangat ntar gue semangati, bila perlu gue bawain tim hore sekalian, Kalo loe butuh anter jemput gue bisa nyediain supir. Loe butuh temen kondangan bisa ajak bibi. Loe butuh temen malming nanti tiap 6 bulan sekali gue balik, loe mau naik bianglala kek, jungkat-jungkit kek, apa mau naik odong-odong gue jabanin!"


"Posesif!" celetuk Sella.


"Gue cuma nggak mau loe ketemu modelan Reno lagi, nggak ada gue yang bisa nonjok tuh cowok kalo sampe macem-macem. Nggak ada kak Dimas yang bisa nguatin hati loe biar nggak mleyot kesana sini!"


"Ngapa jadi ngingetin!"


"Loe nggak kasian lihat kak Dimas sampe nangis di pinggir jalan kayak tadi?"


"Gue cuma mau lebih tenang dulu Tio, seandainya memang benar mereka sudah bercerai, bukan alasan tepat untuk gue terus melanjutkan hubungan dengan Kak Dimas begitu aja. Loe tau kak Rika sangat menyalahkan gue dan apa kata yang lain jika mereka melihat kak Dimas dan gue bersama?"


Tio duduk mendekati Sella kemudian mengecup lembut kening Sella.


"Gue sayang sama loe, gue nggak mau loe terus terpuruk kayak gini. Semangat ya Sell, gue harap ke depannya lebih baik lagi, biar gue juga tenang ninggal loe disini." Tio menatap dalam Sella dengan tangan yang mengusap lembut pipi Sella.


Tio pun sudah ikhlas jika suatu saat Sella mendapatkan laki-laki yang tepat, dia hanya ingin Sella bahagia walaupun tidak bersamanya.


"Udah sore, gue balik ya. Loe hati-hati disini!"


"Iya Tio, makasih ya buat hari ini. Sorry gue ngerepotin loe terus Tio!"

__ADS_1


"Minta maaf sana sama tembok, gue nggak terima permintaan maaf loe!"


Sella tertawa melihat wajah kesal Tio, sahabat terbaik yang ia punya. Orang yang ia sayang dan yang paling ia repotkan saat ini.


"Sini gue sayang dulu!"


Tio yang sudah sampai di depan pintu segera menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Sella dengan wajah berbinar.


"Yang bener?"


"Iya sini gue sayang dulu!"


Dengan semangat Tio mendekati Sella dan memejamkan matanya, "ayo cepet! terserah mau dimana, dijamin nggak bisa tidur nich ntar malem!"


"Udah siap?"


"Siap banget malah, ayolah sebagai hadiahnya karena hari ini gue udah bawa loe kabur."


Sella memajukan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan, hembusan nafas yang hangat saling bersambut. Getaran jantung Tio semakin terasa hingga Sella mampu mendengarnya.


Tangan Tio menarik pinggul Sella hingga keduanya tak berjarak. Sella yang mendapat perlakuan seperti itu pun di buat terkejut. Hanya ada bibir mereka yang belum bersentuhan. Tio mengeratkan lagi pinggul Sella, tetapi Sella menahannya dengan kedua tangan yang berada di dada Tio.


Posisi seperti ini juga akhirnya membuat Sella dag Dig dug. Tio tersenyum saat merasakan detak jantung Sella yang benar-benar terasa hingga kedua jantung mereka seperti genderang perang yang saling bersahutan.


Dengan mata terpejam Tio memajukan lagi wajahnya, dengan posisi miring dia ingin meraih bibir Sella.


Sella semakin menjauhkan wajahnya berusaha untuk menghindar. Niat awal hanya ingin mengerjai Tio tetapi justru dia yang terperangkap oleh jebakannya sendiri.


Hal itu tak membuat Tio gentar, tangan Tio sudah sampai di tengkuk Sella mengunci pergerakan dan membuatnya semakin tak dapat menghindar.


Masih dengan mata terpejam Tio dengan sadar dan ingin segera mengikis jarak antara kedua bibir mereka.

__ADS_1


"Auwwhhh.....sakit Sell!"


__ADS_2