Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Bertemu Rika


__ADS_3

Setelah makan siang, Dimas mengajak sang istri menemui kakaknya. Sella begitu senang, walaupun dulu sempat merasa sakit karena kata-kata kakaknya yang membuat perih di hati dan jiwanya. Hingga mental, tapi setelah dia memberanikan meminta maaf dan berdamai dengan keadaan semua rasa sakit yang menyangkut dengan Rika seakan sirna.


"Kita mau kemana kak?"


"Katanya kamu mau ngajak ketemu kakak kamu sayang."


"Tapi ini bukan arah ke rumahnya kak, memangnya kak Rika pindah?" tanya Sella dengan perasaan heran.


"Nanti kamu akan tau sayang, sabar ya istriku..." ucap Dimas lembut dengan mengusap kepala istrinya yang terbalut jilbab warna maroon.


Sella mengangguk dan kembali fokus melihat jalan, dalam hati dia bertanya-tanya hendak kemana suaminya mengajak dia pergi. Dan dimana kak Rika saat ini.


"Masih jauh kak?"


"Lumayan, tidur dulu kalo ngantuk sayang. Nanti aku bangunkan jika sudah sampai." Dimas kembali fokus pada jalan, dia pun menyiapkan hatinya untuk melihat respon istrinya nanti. Tak ada clue apapun padahal sejak tadi istrinya sudah sangat kepo bahkan sampai beberapa kali menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.


Hingga mobil Dimas masuk kesebuah gang besar dengan bertuliskan plang yang membuat Sella sedikit tertegun dan kembali menatap Dimas seakan tak percaya.


Dimas menggenggam tangan Sella, melempar senyum tanda semua akan baik-baik saja. Sella hanya menggelengkan kepala dan kembali fokus ke jalan. Dan lagi-lagi matanya menyipit saat tulisan itu jelas terpampang nyata hingga jantungnya berdebar kencang.


"Kak, ini......"


"Sabar sayang, kita singgah dulu ya."


Dimas memasuki parkiran rumah sakit yang tak terlalu ramai, kemudian turun bersama dengan istrinya melangkah masuk ke dalam. Sella tak berhenti beristighfar kala pikiran buruk itu terus saja berputar di pikirannya.


Dalam genggaman tangan sang suami Sella menumpukan semua perasaan gelisahnya hingga genggaman menjadi cengkraman.


"Sayang, tenangkan pikiran kamu. Jangan gini sayang.."


Sella menarik nafas dalam beberapa kali hingga hatinya mulai tenang kembali. Dalam hati berdoa agar apa yang ia takutkan tidak terjadi. Seorang suster mengantar menuju kamar tempat Rika di rawat, sesuai permintaan Dimas.


"Ayo sayang..."


Sella menurut, ntah apa yang terjadi hingga sang kakak terdampar di sini. Tanda tanya besar memenuhi isi kepalanya. Dan rasa tak percaya dengan takdir yang mulai berbicara pun membuat Sella semakin yakin akan kebesaran Allah.


"Di sini pak, maaf belum bisa masuk dulu... karena pasien tak dapat di temui oleh siapapun. Hanya dokter dan perawat sesuai prosedur yang ada"

__ADS_1


"Baik sus, terima kasih."


"Ayo sayang..." Dimas mengajak Sella untuk mendekat ke sebuah kamar pasien yang tertutup rapat tapi masih bisa melihat dari jendela.


"Kak...." Sella ragu, langkahnya seketika berat dan tubuhnya pun terasa lemas.


"Katanya mau ketemu, ayo sayang! ayo istriku..."


Sella melangkah dengan di bantu oleh Dimas, dia tau tak semudah itu untuk Sella menerima keadaan kakaknya saat ini. Air matanya runtuh saat mata itu benar-benar melihat nyata.


Orang yang dulu begitu cantik dengan segala fashionnya dan begitu arogan dengan segala sesuatu yang ia punya. Kini hanya bisa menghabiskan masa hidupnya si ranjang rumah sakit jiwa. Dengan keadaan acak-acakan, memeluk guling sambil tertawa dan menangis. Bahkan bayangan akan bertemu dan memeluknya saja menjadi semu.


Di luar ekspektasi Sella, Isak tangis begitu terdengar kala Rika tiba-tiba menjerit dan mengamuk. Bahkan dengan sengaja membuka bajunya yang membuat Dimas segera berbalik dan mendekap tubuh Sella dengan erat.


"Kenapa jadi begini kak? kenapa keadaan kak Rika bisa seburuk ini?"


"Tenang sayang, sebaiknya kita duduk dulu ya." Dimas mengajak Sella untuk duduk di taman yang ada di sana, kemudian memberikan Sella air minum agar lebih tenang.


"Kakak tau kenapa Kaka Rika bisa seperti ini?"


"Aku nggak tau persis ceritanya gimana, tapi yang jelas ini efek karena obat yang Rika minum. Ntah obat apa hingga membuatnya sampai seperti ini."


"Tapi mana suami kak Rika kak? bukannya kan RIka sudah menikah?"


"Suaminya pergi meninggalkan Rika, sebelum kami bercerai ternyata Rika termasuk orang yang tidak puas hanya dengan satu pria. Bukan hanya mantan kamu dulu yang tidur bersamanya, sejak kami pacaran dulu juga Rika sering melakukan itu. Tapi bodohnya aku, selalu saja memaafkan."


"Rika menikah dengan partner ranjangnya dulu sebelum kami bercerai. Dia mencintai Rika, tapi karena kebiasaan Rika yang terus meminta ingin bermain dengan yang lain membuat suaminya yang awalnya mengijinkan menjadi jengah. Mungkin sakit hati juga, hingga meninggalkan Rika dan pergi ntah kemana."


Dimas menggenggam tangan sang istri sebelum kembali meneruskan ceritanya. "Hingga suatu ketika dia pergi pesta bersama teman-temannya karena frustasi di tinggal oleh suaminya. Dan di sana Rika di cekoki minuman yang mengandung obat dan berakhir seperti ini. Ada juga yang bilang jika di luar sana banyak juga yang sakit hati dengan Rika. Dan membiarkan Rika kesakitan sendiri sampai mental dan jiwanya terganggu."


"Dari mana kakak tau?"


"Siapa lagi kalo bukan Doni yang mencari informasi."


"Kasian kak Rika kak, aku ngga tega. Apa nggak bisa kita bawa dia pulang dan merawatnya?"


Dimas menggelengkan kepala, "Rika juga memiliki penyakit sayang, nggak semudah itu untuk kita merawatnya."

__ADS_1


Dimas mendekap tubuh istrinya, dia tau sella begitu menyayangi Rika. Dia bahkan tidak memikirkan Rika yang sejak dulu tidak pernah menganggapnya sebagai adik.


"Sabar sayang, ikhlas.... mungkin ini jalan terbaik yang sudah di gariskan oleh Allah untuk Rika. Kewajiban kita adalah mendoakan semoga ada mukjizat yang bisa menyembuhkan Rika."


Setelah menjenguk Rika, keduanya memutuskan untuk segera pulang karena sudah sangat merindukan kedua putrinya. Turun dari mobil, Sella segera berlari mendekati kedua gadis kecil yang sedang bermain di halaman.


"Anak bunda......"


"Bunda....." seru Naira dan Kaira, mereka berdua segera berlari dan memeluk Sella.


"Bunda kangen nak," ucap Sella yang menghujani kedua wajah putrinya dengan kecupan.


"Naira juga kangen sama bunda ...."


"Iya, Kaira juga."


"Ehemm....nggak ada yang kangen sama ayah?" tanya dimas yang sudah berada di samping sang istri.


"Ayah......" mereka segera memeluk Dimas, Sella kembali tersenyum setelah hampir seharian menangis. Melihat kedua putrinya yang bahagia di dekat ayah mereka, membuat hati Sella begitu lega.


"Ayah sama bunda kok nggak pulang-pulang kemarin!" oceh Naira.


"Iya, tapi kata nenek ayah dan bunda sedang buatkan kami dedek bayi yang lucu, bener begitu ayah?"


Dimas tertawa geli mendengar penuturan kedua putrinya, sejenak melihat kearah Sella kemudian kembali menatap kedua gadis yang kini sudah duduk di pangkuannya.


"Benar sayang, doain ya supaya adik bayinya cepet jadi."


"Memang dimana adik bayinya ayah? apa kita bisa membantu membuatnya?"


Sella tersenyum melihat tingkah kedua putrinya dan sikap terkejutnya Dimas. Dia memalingkan muka menutupi semburat merah yang ada di wajahnya.


Dimas menyentuh perut Sella, sontak membuat Sella segera menoleh dan di sambut senyuman serta sebelah mata Dimas yang berkedip.


"Dedek bayinya nanti kalo udah jadi ada di sini, di perut bunda. Jadi kalian harus banyak berdoa biar cepet jadi ya. Lalu biarkan ayah dan bunda yang usaha membuatnya setiap hari. Kalian anak-anak ayah hanya bertugas untuk mendoakan, oke!"


"Oke ayah!"

__ADS_1


__ADS_2