Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Ikhlas


__ADS_3

Hari ini adalah hari keberangkatan Sella menuju rumah bibi, pelayan di rumah Tio yang akan menemani dan menjaga Sella di sana. Jogja adalah tujuan mereka, kota gudeg yang masih sangat asri adalah tempat Sella menjalani kehidupannya ke depan.


Mereka berangkat dengan menaiki kereta api, sepanjang jalan Sella hanya diam dan terlelap di samping Tio. Hingga malam hari mereka sampai di kediaman bibi yang ditinggali anak perempuan bibi di sana yang bernama Ayu.


"Assalamualaikum...."


"Wa'allaikumsalam, loh Ibu sudah pulang!" seorang gadis berumuran tak jauh dari Sella dan Tio, kira-kira berbeda dua tahun dengan mereka.


"Iya nduk, Ibu sekarang tinggal disini sama kamu, Ibu membawa non Sella yang akan tinggal juga bersama kita disini."


"Kenalin non, ini anak bibi namanya Ayu.."


Sella mengulurkan tangannya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya. "Sella.."


"Ayu..." Ayu menerima uluran tangan Sella dengan senang hati.


"Non Sella cantik Yo Bu...."


"Iyo lah nduk, nanti pemuda sini udah pasti pada seneng sama non Sella." Ucapan bibi membuat Tio mendelik. Kemudian meraih pinggang Sella dan memeluknya dengan posesif.


"Apa sich Tio!"


"Inget pesan gue tempo hari!"


"Suka-suka gue, oh iya Ayu, nanti kita main ya ke alun-alun. Aku pengen tau ramenya kota Jogja di malam hari."


"Siap non, nanti Ayu antar kemanapun non Sella mau," sahut Ayu dengan semangat dan itu membuat Tio sedikit kesal.


"Ikh jangan panggil non, panggil aja mbak ya biar lebih akrab, lagian aku kan bukan siapa-siapa, samping aku nich bosnya. Kita juga kayaknya nggak beda jauh ya umurnya. Ayu kelas berapa?"


"Ayu kelas 1 SMA mbak," jawab Ayu seraya melirik Tio yang kesal dengan Sella.


"Eh ayo masuk den, non Sella, kita istirahat. Bantu non Sella angkat barang-barangnya cah ayu...." ucap bibi mempersilakan untuk segera masuk.


"Nggih Bu." Ayu segera meraih koper Sella dan menariknya menuju kamar tamu.


"Bu, kopere aku taro di kamar tamu yo Bu..."


"Iyo nduk, Ibu tak ke dapur bikin minum, nek uwis nyusul ibu ke dapur Yo...."


Sella dan Tio duduk di sofa ruang tamu, keduanya saling memandang dengan wajah Tio yang masih terlihat kesal.

__ADS_1


"Loe kesel-kesel sama gue, bentar lagi pergi ke Inggris terus kangen sama gue, nggak tanggung jawab loh gue!"


"Ikut gue aja pulang lagi yuk, males gue kalo loe mulai mau main-main disini, apa lagi tadi denger omongan bibi kayak gitu. Sampe ke cantol cowok sini gue culik loe ke Inggris, biar ikut gue aja."


Sella tersenyum melihat Tio yang semakin kesal, takut, cemburu dan posesif jadi satu. Tio tak ingin Sella mendapatkan laki-laki sembarangan yang akan membuatnya sakit hati lagi.


"Loe cemburu kan! gue juga nggak yakin kalo dalam waktu tiga bulan loe disana, bakal inget gue lagi. Apa lagi cewek sana cantik-cantik, bule bening-bening. Udah pasti mata loe nggak tahan liatnya."


"Kenapa loe cemburu juga?" Tio balik tanya dengan wajah meremehkan.


"Nggak ada ya gue cemburu sama loe!" bantah Sella dengan tegas, " yang ada gue seneng, biar loe nggak gabut di sana, kali aja bisa merubah keturunan juga!".


"Maksud loe gue jelek!" Tio memukul kepala Sella dengan bantal sofa yang mengakibatkan keduanya saling pukul.


Bibi dan Ayu yang melihat keduanya dengan rambut acak-acakan menjadi ikut tertawa dan terbawa suasana.


Dimas pun hari ini pamit menuju pondok pesantren, tempat seorang ustadz yang tak sengaja bertemu di masjid dekat sekolah Sella. Dia menyerahkan semua urusan pekerjaan kepada Doni.


Kedua orang tua Dimas pun memutuskan untuk menetap di Indonesia mengingat status Dimas saat ini dan kehidupannya yang sedang tak baik-baik saja.


"Kamu sudah yakin akan kesana nak?"


"InsyaAllah mah, Dimas ingin mencari ketenangan di sana. Doakan Dimas agar lebih ikhlas menerima semua jalan hidup Dimas."


Dimas tersenyum kemudian memeluk sang mamah, " Dimas nggak lama mah, Dimas hanya ingin belajar nggak minggat!"


"Pah, titip mamahku yang paling aku sayang ini ya," ucap Dimas dengan menatap sang papah yang juga tak kalah sedih seperti istrinya.


Mereka bangga dengan Dimas, tetapi sedikit menyesal karena payah dalam mengajarkan ilmu agama pada anak semata wayang mereka. Beruntung dengan kejadian ini mereka bisa belajar bersama-sama dan mencoba untuk ikhlas.


"Kamu hati-hati di sana, jangan lupa memberi kabar pada papah, jika ada apa-apa segera beritahu papah."


"Iya Pah."


Setelah pamit kepada kedua orangtuanya Dimas segera melajukan mobilnya menuju pesantren yang berada di daerah Pekalongan. Salah satu cabang pesantren yang di miliki Ustadz Maulana, yang dekat dengan Jakarta. Ada beberapa di kota lain dan sekolah Islam serta tempat mengaji anak-anak yang tersebar di beberapa kota.


Beliau tinggal di Pekalongan karena istri dan anaknya ada di sana. Mereka bertemu karena tempo hari ustadz Maulana sedang ada undangan dakwah di salah satu kampus Islam di Jakarta dan beberapa sekolah madrasah di sana.


Selama perjalanan bayangan Sella masih jelas nampak di ingatan, tetapi kali ini Dimas menghentikan pencariannya. Dia ingin lebih ikhlas dan mengikuti arah kemana jodoh itu akan datang.


Sesampainya di sana, Dimas di sambut dengan baik oleh ustadz Maulana dan istri serta keluarga yang juga tinggal di sana.

__ADS_1


"Assalamualaikum Pak ustadz...


"Wa'allaikumsalam nak Dimas, akhirnya sampai juga di kediaman saya yang sederhana ini." Dimas dan ustadz Maulana saling berpelukan.


"Terima kasih atas sambutannya pak ustadz, betul-betul membuat saya tersanjung."


"Oh iya ini istri saya nak Dimas.." Ustadz Maulana memperkenalkan istrinya yang berada di sebelahnya, beliau menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Saya istri dari ustadz Maulana, nak Dimas bisa memanggil saya dengan Umi Kalsum. Karena semua disini memanggil saya dengan sebutan umi."


"Baik umi."


"Semoga selama tinggal disini nak Dimas betah ya, di sebelah kiri ada pondok khusus untuk santri Ikhwan dan sebelah kanan sana pondok untuk santriwati. Nanti biar ustadz Zaki yang mengantarkan nak Dimas kesana."


"Baik pak ustadz, saya mohon bimbingannya. Semoga ilmu yang saya dapatkan disini menjadi berkah untuk kedepannya," Ucap Dimas dengan ramah dan sopan.


"Abi..." sosok perempuan cantik datang memanggil ustadz Maulana dengan suara yang lembut dan kerudung syar'i yang menutupi rambutnya.


"Oh maaf, ada tamu ya Abi," ucap gadis itu saat melihat Dimas disana kemudian menundukkan kepalanya ketiak mata mereka bertabrakan.


"Perkenalkan nak Dimas, ini anak perempuan saya Zahra," ustadz Maulana memperkenalkan putrinya kemudian menolah ke Zahra yang masih tertunduk. "Zahra ini nak Dimas, orang yang Abi ceritakan tempo hari, yang akan belajar disini, mungkin suatu saat bisa menjadi pengajar juga disini."


"Aamiin...." sahut Dimas mengaminkan.


Dimas dan Zahra hanya saling menangkupkan kedua tangan dengan menundukkan sedikit kepala dengan senyum tipis keduanya.


"Zahra tolong buatkan minum untuk nak Dimas!"


"Baik umi," Zahra segera berjalan menuju dapur membuatkan minuman untuk Dimas dan kedua orangtuanya.


Dimas sempat menoleh ke arah gadis yang kini sudah meninggalkan ruang tamu.


"Zahra masih sendiri, jika nak Dimas tertarik bisa segera mengkhitbah anak Abi."


...****************...


Likenya jangan kasih kendor..💃💃


Biarkan meraka terpisah jarak, dekatpun jika mereka tak berjodoh tak akan bisa bersama. Begitupun sebaliknya, sejauh apapun melangkah jika memang jodoh pasti akan bertemu juga......


Jangan lupa coment, ♥️, like, vote

__ADS_1


🌹



__ADS_2