
"Kalo Reno nggak ngapa-ngapain terus yang nambahin tanda merah di badan loe siapa?"
deg
Langkah Sella terhenti mendengar pertanyaan dari Tio, tetapi sebisa mungkin dia menetralkan wajahnya agar tetap terlihat tenang.
"Mana ada sich Tio, loe jangan ngarang dech!"
"Loe nggak bisa nutupin dari gue, siapa?" tanya Tio penuh selidik menatap Sella yang sengaja membuang muka dan kembali melangkah.
"Jangan bilang itu ulah kak Dimas!"
Sella kembali di buat terkejut dengan pertanyaan Tio. Jantungnya sudah berpacu dengan wajah yang mulai pucat.
"Loe bisa bohongin yang lain, tapi nggak sama gue Sell! sejak kapan? tanya Tio dingin.
"Gue...."
"Hey loe pada ngapain berenti di sini! udah kayak jalan punya loe pada, ayo masuk kelas aja, bangku banyak juga kalian malah berdiri!"
Sella bisa bernafas lega kali ini, Tiwi datang menyelamatkan Sella dari semua pertanyaan Tio dan itu membuat Tio kesal.
"Ganggu aja loe!" celetuk Tio kemudian berjalan terlebih dahulu.
"Lah dia ngapa?" tanya Tiwi heran.
"Udah biarin aja, ayo masuk kelas!"
Pada jam istirahat kini semua berkumpul di kantin untuk makan siang, begitupun dengan Sella yang sejak tadi lebih memperhatikan kerah seragamnya takut-takut kejadian dengan Tio tadi di ketahui orang lain.
"Sell mau makan apa?"
"Gue lagi pengen spaghetti sich, kalo ada pesenin itu aja tapi kalo nggak ada ya nggak apa-apa yang lain!"
"Siap, loe apa Tio?"
"Samain aja," jawab Tio yang sejak tadi pandangannya fokus ke game yang ada di ponselnya.
"Ya udah gue pesan dulu, " Tiwi segera meninggalkan mereka dan memesan makanan.
"Gue udah ikhlasin loe sama yang lain Sell, tapi kalo loe malah ada hubungan sama kak Dimas gue nggak akan biarin itu!" ucap Tio dengan mata masih mengarah ke ponselnya.
Sella mendengar setiap perkataan Tio yang membuatnya berpikir keras.
"Sejauh mana hubungan kalian?"
"Loe lagi bahas apa sich Tio?" lirih Sella.
"Bahas hubungan terlarang loe sama kakak ipar loe!" jawab Tio dengan suara rendah.
Sella tak habis pikir pada Tio yang sejak pagi terus saja membahas tentang topik yang sama, hal itu membuat Sella sedikit takut, dia sudah memastikan Tio akan marah karena hubungan yang memang di larang, tanpa dia tau alasan lain yang memacu kemarahan Tio.
"Eh loe pada tegang amat! ini makanannya..."
__ADS_1
"Wah.....ada spaghetti, enak banget nich pasti, makasih Tiwi," ucap Sella dengan mata yang berbinar.
"tapi gue lebih berterimakasih lagi karena loe udah dua kali buat gue aman dari pertanyaan Tio!"
Di kantor Dimas segera merapikan meja kerjanya dan menyambar kunci mobil setelah melirik jam di tangannya.
"Eh loe mau kemana bro?" tanya Doni yang baru saja dengan membawa beberapa berkas untuk Dimas tanda tangani.
"Gue mau jemput Sella," jawab Dimas melangkah menuju pintu.
"Terus ini gimana?"
"Taro aja di meja, nanti gue langsung balik kesini."
Doni yang melihat Dimas tergesa-gesa hanya menggelengkan kepalanya, kemudian meletakkan berkas itu di atas meja.
"Dasar bucin!" gumam Doni.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Dimas tampak fokus dengan jalanan, dia segera menambah kecepatan mobilnya tidak ingin jika harus kalah gesit dengan bocah SMA dalam urusan percintaan.
Sella segera memasukkan kembali semua buku serta alat tulisnya saat guru sudah keluar dari kelas.
"Loe langsung balik Sell?" tanya Tiwi yang juga sedang membereskan bukunya.
"Balik lah mau kemana gue," jawab Sella.
Kemudian mereka berjalan menuju parkiran dengan diikuti oleh Tio di belakangnya.
"Nggak bisa gue, Reno ngajakin gue aja gue tolak, masa iya ntar dia malah liat gue nongkrong di cafe."
"Yach......... nggak asik loe Sell!" sindir Tiwi dengan wajah yang di tekuk.
"Sell itu bukannya mobilnya kak Dimas ya?" tanya Tiwi saat sudah sampai di parkiran dan itu membuat Tio mengarahkan pandangannya ke luar gerbang tepat mobil Dimas berhenti.
"Iya, ya udah gue balik ya!" Sella segera bergegas menuju mobil Dimas meninggalkan kedua sahabatnya yang masih memperhatikan.
"Kak.."
"Iya sayang," Dimas mencium pipi Sella.
"Ikh kak, banyak orang ntar kalo ada yang liat gimana?" tegur Sella.
"Biarin aja, kalo ada yang nanya tinggal bilang pacar baru." ucap Dimas santai.
Sella tidak menanggapi ucapan Dimas, dia hanya diam dengan bibir mengerucut memasang sabuk pengaman.
cup
"Kakak! dibilang jangan masih di kawasan sekolah!"
"Oke kita jalan!" Dimas melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Sella. Dan meninggalkan pemuda yang sejak tadi melihat interaksi keduanya dengan mengepalkan tangannya.
"Kita mau kemana kak?" tanya Sella saat tau Dimas tidak melewati jalanan kerumah mereka.
__ADS_1
"Ikut kakak balik ke kantor dulu, ada berkas yang harus kakak tanda tangani," jawab Dimas santai.
"Ikh tau gitu mah aku pulang aja Kak sendiri, Kakak juga masih ada kerjaan kan? ngapain jemput segala kak!"
"Nggak apa-apa kakak lagi pengen deket-deket sama kamu, dirumah ada mamah papah udah pasti nggak bisa deketin kamu."
"Dasar modus, padahal aku kan akan aman kalo ada mereka, " sahut Sella.
"Kakak yang nggak aman!" celetuk Dimas yang tidak di tanggapi oleh Sella.
Kini keduanya sudah sampai di kantor Dimas, sejak memasuki kantornya Dimas menggandeng tangan Sella tanpa ingin melepaskan, hingga semua karyawan sempat memperhatikan mereka dan bertanya-tanya siapa gerangan gadis cantik berseragam SMA yang bosnya bawa. Karena mereka tau betul jika Dimas sudah memiliki istri walaupun memang jarang datang ke kantor menemui bosnya.
"Lepas apa kak, sepanjang jalan aku mendengar cibiran karyawan kakak, dikira aku sugar baby kali!"
Dimas tidak menanggapi ocehan Sella, dia hanya tersenyum dan itu membuat Sella gemas.
Dimas mengajak Sella masuk kedalam ruangannya yang di dalamnya sudah ada Doni yang sedang mengecek pekerjaan bosnya yang sesuka hati di tinggalkan demi menjemput sang pujaan hati.
"Sella ya?"
"Iya, kak Doni ya... udah lama nggak main kerumah kak?"
"Iya, sibuk sama bocil di rumah jadi pulang kerja langsung pulang dech." Doni melirik Dimas yang sangat perhatian dengan Sella.
"Duduk sini sayang, tasnya taro di sofa aja, mau makan apa hmm?" tanya Dimas yang berjongkok di hadapan Sella yang sudah duduk di kursi kerja Dimas.
"Apa aja, bareng kakak tapi kalo nggak di rumah aja dech kak nanti Sella masak!"
"Kalo laper makan dulu, nanti di rumah makan lagi, terus istirahat di kamar kakak aja!" Dimas mengusap lembut kepala Sisil.
"Aku istirahat aja dech kak, makannya nanti aja bareng kakak sama yang lain di rumah, tapi mau minum yang seger-seger," ucap Sella, kemudian Dimas segera memesan minuman pada petugas pantry.
"Ayo ke ruangan kakak!" ajak Dimas menarik tangan Sella masuk ke kamar yang ada di ruang kerjanya.
"Hati-hati Sell, sedang dalam mode modus!" seru Doni yang sejak tadi memperhatikan.
"Beres kak!" seru Sella.
"Loe keliatan sayang banget sama Sella Dim, tatapan mata loe beda saat ngeliat Sella" gumam Doni.
"Ini kamar kakak?" tanya Sella langsung berbaring di kasur yang ada di kamar itu.
"Iya, kamu nyaman?" Dimas berjalan mendekati Sella, membuka kancing dan menggulung lengannya.
"Kakak mau ngapain? ikut aku tidur? nggak kerja?"
"Banyak banget pertanyaan kamu, kakak lagi pengen sama kamu sayang!"
Dimas naik keranjang kemudian mengukung Sella yang sudah berada di bawahnya. Mata keduanya saling terkunci dan Dimas menyatukan bibirnya dengan bibir Sella.
Kakak butuh ketenangan dan itu ada di kamu sayang.
Keduanya hanyut dalam ciuman hangat penuh kasih sayang, kali ini Dimas benar-benar melakukannya pakai hati, menghirup aroma tubuh Sella membuat otaknya yang kusut mulai fresh lagi.
__ADS_1