
"Dek..."
Kedua orang itu terkejut dengan kedatangan Dimas yang tiba-tiba, Sella pun gelagapan ketika Tio menoleh dengan tatapan seperti meminta penjelasan.
"Aku telpon dari tadi nggak di angkat!" ucap Dimas dengan tersenyum.
"Sell......"
Sella menundukkan kepalanya, saat tatapan Tio semakin tajam. Dimas masuk dan menjulurkan tangannya di hadapan Tio.
"Apa kabar?"
"Baik kak.." jawab Tio dengan membalas uluran tangan Dimas.
"Udah lama?" tanya Dimas lagi kemudian duduk di samping Sella dengan berjarak lima jengkal.
"Udah lumayan," jawab Tio singkat, dia masih tak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Tentunya sudah banyak yang ia lewatkan seiring tak bertukar kabar.
"Pantesan aku telpon nggak di angkat, aku mau nanya anak-anak mau makan eskrim rasa apa."
"Oh, maaf kak ponsel ku ada di kamar, jadi nggak tau kalo ada panggilan dari kakak." Sella gugup menjawabnya, kini ada dua pria di hadapannya. Yang ntah akan seperti apa kedepannya.
"Kakak udah sering kesini?" tanya Tio yang sudah tak sabar untuk menjawab rasa keponya, dia benar-benar merasa kecolongan.
Sella seperti orang yang ketahuan selingkuh, sedangkan dia tak berani menatap keduanya. Tio dengan wajah yang berubah tak santai, sedangkan Dimas tetap santai dengan tatap tak biasa.
"Udah dua kali ini, tapi sepertinya setelah ini akan sering."
Tio menganggukkan kepalanya kemudian menatap Sella penuh rasa kecewa, kenapa nggak mau jujur, jika masa lalu sudah kembali bertemu.
"Mmm kak, sudah ketemu dengan kembar?" Sella berharap jika Dimas menepi sejenak, seenggaknya bermain dengan kedua putrinya. Sedangkan dia akan menjelaskan pada Tio, Sella tak nyaman dengan tatapan Tio yang mengisyaratkan kekecewaan.
"Oh, kembar lagi sama tantenya beli eskrim ke depan. Kenapa? butuh bicara berdua?"
Sella menatap Dimas tak menyangka jika Dimas mengerti akan itu, tetapi rasanya Sella takut untuk menjawab. Dimas begitu kalem tetapi justru membuat Sella was-was.
Dimas segera beranjak meninggalkan keduanya, sebelumnya dia berpesan agar tetap menjaga jarak.
Kini keduanya masih terdiam, Sella bingung harus memulai dari mana. Sedangkan Tio berkali-kali mengambil nafas dalam. Hingga pertanyaan Tio memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Untuk kali ini, apa ini alasannya? kenapa nggak bilang kalo dia sudah datang? bahkan loe nggak bilang kalo si kembar udah bertemu dengan ayahnya? apa saking bahagianya sampai nggak ingat sama gue? apa segitu nggak pentingnya gue sampe loe nggak mau berbagi? loe nggak jujur Sell? selama ini loe nganggep gue apa Sell?" Tanya Tio dengan nada agak tinggi. Dia tak mampu menahan kecewa, kesibukkannya membuat banyak hal berlalu tanpa memberi tau.
"Sorry, bukan nggak mau cerita, tapi gue pikir belum saat nya gue ngomong. Loe sahabat gue, nggak mungkin gue mau bohong dan gue nggak pernah lupa sama loe Tio."
"Terus kenapa pas gue tanya tentang ayahnya kembar loe diem aja? kenapa pas gue minta loe buat nerima gue loe juga nggak bilang apa-apa? kenapa Sell?" Tio kecewa, tapi dia tau memang sulit untuk mendapatkan Sella. Bahkan sejak dulu sampai sekarang hati Sella kokoh bertahan, kata sahabat untuk kedunyapun masih terus melekat.
"Maaf Tio, maaf gue udah buat loe kecewa..."
"Makin nggak ada celah buat gue di hati loe Sell," lirih Tio, dia menatap Sella yang sudah menangis dalam diam.
"Bener kata loe, sesakit ini cinta ..."
"Sekali lagi gue minta maaf Tio..."
"Apa kalo kak Dimas yang minta loe jadi istrinya, loe juga akan bilang belum ingin berkomitmen? Apa kalo kak Dimas ngelamar loe, loe juga bakal nolak? apa hati loe membatu hingga loe nggak mikirin kembar?" Tio mengikis jarak, dia duduk mendekat ke arah Sella. Sella yang sudah duduk di ujung sofa tak bisa berkutik.
Tio sepertinya tak perduli, ia memajukan wajahnya hingga mendekati wajah Sella yang sudah menatapnya dengan hati tak karuan. Dia terus mengikis jarak dengan senyum yang tak dapat di artikan. Bahkan kini tinggal satu centi lagi hidung mereka saling menyapa.
"Tio...." lirih Sella, tangannya terkunci karena posisinya yang tak menguntungkan. Perlahan tapi pasti Tio terus maju hingga kerudung Sella sudah menyentuh keningnya.
"Brengs3k!"
Bugh
Melihat itu Sella segera bangkit dan ingin membantu Tio, tetapi langkahnya terhenti saat suara bariton begitu jelas di telinga.
"Tetap di tempat!"
"Tapi kak...."
"Aku sudah memberikan kalian waktu untuk berbicara, bahkan aku diam saat kalian menutupi semua dariku. Selama ini aku tau jika kamu bersamanya, tapi karena kamu ingin memasrahkan semua kepada yang berhak atas diri ini, aku pun pasrah. Dan sekarang, kita di pertemukan kembali. Kamu pikir aku akan kembali diam?"
"Kak....."
"Aku akan menikahi kamu Sella!" tegas Dimas.
Deg
Tio tersenyum miris mendengar penuturan Dimas, sedangkan Sella diam memaku dengan hati yang berdebar tak menentu. Dia tidak tau harus senang apa sedih setelah mendengar ucapan dimas, apa lagi jika mengingat status Dimas yang masih ia pertanyakan.
__ADS_1
"Tapi kak..."
"Apa belum cukup waktu 5 tahun? sedangkan kamu tau tersiksanya hati merindu? Sudah cukup menyiksa dirimu, tunggu aku kembali dengan membawa kedua orang tuaku..." lirih Dimas kemudian meninggalkan keduanya.
Tio berdiri dan melangkah mendekati Sella, dia duduk di sofa dan meraih gelas dan meminumnya hingga tak tersisa.
"Masih ragu sama dia?"
"Maksudnya?
"Hati loe masih ragu kan sama dia? belum cukup bukti? loe nggak liat bibir gue sampe berdarah begini?"
"Jadi loe....."
" Iya, gue tau loe bimbang. Alasan loe tadi sama gue cuma alibi, padahal hati loe nggak ingin beranjak dengan yang lain. Gue ikhlas Sell, walaupun sakit, kecewa, marah. Tapi loe sahabat gue dan cinta nggak seharusnya memaksa."
"Ini cinta bukan obsesi, jadi apapun itu demi kebahagiaan loe, gue coba buat ikhlas. Ikutin kata hati loe, takdir udah bawa kalian bersatu lagi, tinggal loenya gimana. Mau ngikutin apa kembali melawan takdir."
"Tapi Tio, gue masih ragu akan statusnya. Gue nggak mau di cap pelakor."
"Pelakor? loe ngerebut siapa emangnya?"tanya Tio heran.
Sella mengingat jelas nama itu, dan dia pun mengingat jelas pembicaraan mereka. "Zahra..."
"Manding loe tanyain sama orangnya, sedangkan waktu lima tahun itu nggak sebentar. Jelas sudah banyak yang dia lalui di luar sepengatahuan loe."
Keesokkan harinya Sella kembali dengan aktivitas yang cukup padat hingga sedikit melupakan kejadian tempo hari. Sudah dua hari dia dan kedua putrinya di antar jemput oleh Tio. Dan hari ini dia pamit pulang ke Jakarta karena harus mulai bekerja.
Hampir satu bulan Dimas tak ada kabar, Sella dan kedua buah hatinya terus menanyakan kapan datang. Tapi belum ada kejelasan yang membuat hati lega.
"Tunggu ayah, ayah pasti datang...." selalu itu yang ia ucapkan di penghujung telpon.
Hingga Minggu ketiga sudah kembali menyapa, Sella dan kedua buah hatinya tampak sedang asyik bercanda di halaman belakang.
Suara ketukan terdengar dari pintu depan, membuat Sella yang kebetulan hanya bertiga dengan anaknya memutuskan untuk melangkah ke depan.
"Sebentar ya nak, Bunda buka pintu dulu."
"Iya bunda...."
__ADS_1
Sella melangkah segera ketika ketukan itu semakin terdengar. Tangannya membuka pintu tersebut dengan mata berbinar saat tau siapa yang datang.
"Assalamualaikum....."