Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Cincin


__ADS_3

Setelah Tio pulang, Sella yang merasa tak aman dengan sikap dimas, segera berlari menuju kamar. Tetapi saat hendak menutup pintunya tangan Dimas menahan pintu tersebut membuat Sella kesulitan, dia tidak menyangka jika Dimas akan mengikutinya.


"Kakak ngapain?"


"Buka pintunya!" tegas Dimas.


"Aku mau mandi kak!" Sella sudah ketar ketir melihat sorot mata Dimas yang begitu tajam menatapnya.


"Buka dulu sayang!" lirih Dimas yang mengerti jika Sella ketakutan.


"Jangan marah," rengek Sella, kemudian membuka pintu kamarnya.


Dimas mengunci pintu dan duduk di pinggir ranjang Sella. Melihat gadis itu yang sama sekali tidak ada pergerakan membuat Dimas gemas lalu menarik tangan Sella hingga terduduk di pangkuannya.


"Kak!"


"Tadi dari mana sama Tio? kenapa jam segini baru pulang?" tanya Dimas dengan mode dingin.


"Tadi mampir cafe dulu kak," Sella mengalungkan tangannya di pundak Dimas berusaha membuat kakak iparnya agar tidak marah berkelanjutan.


"Kakak buru-buru sampe rumah biar cepat ketemu kamu, malah kamunya nggak pulang-pulang!"


"Kenapa Kaka nggak kirim pesan aku biar aku nggak main dulu tadi?" tanya Sella.


"Kakak pikir mau kasih kejutan buat kamu," Dimas mengambil sesuatu dari saku celananya kemudian menyodorkan ke hadapan Sella.


"Ini apa kak?"


"Buka dong sayang!"


Sella segera membuka kotak beludru berwarna biru tersebut, seketika bola matanya melebar saat melihat isi dari kotak itu.


"Kak......"


"Sini kakak pakaikan!" Dimas mengambil cincin berlian dan meraih jemari tangan Sella, tetapi saat ingin memasukkan cincinnya pria itu menatap Sella dengan penuh selidik.


"Ini dari siapa?"


"Oh ya ampun gue lupa masih pakai cincin dari Reno, bisa ngamuk ini orang."


"Dari siapa dek?" tanya Dimas lagi.


"Oh ini..... da..dari Reno kak," Sella memejamkan matanya seraya menundukkan kepalanya.


"Sejak kapan?" Dimas berubah menjadi dingin lagi setelah tau ada cincin yang sudah melingkar di jemari manis Sella.

__ADS_1


"Sejak jadian kak!" Dimas mengamati cincin dari Reno.


Masak gue kalah sama anak SMA, ini cincin harganya nggak main-main.


"Kak! jangan sedih ya, tangan aku kan ada dua, cincin dari kakak bisa di pasang di tangan satunya kak!"


Dimas hanya menatap datar tanpa mau menjawab. Dengan cepat Sella segera mengambil cincin itu dan memakainya.


"Aku bisa pakai sendiri, jadi kakak nggak perlu repot-repot kan?" ucap Sella dengan senyum imutnya.


"Menang banyak ya kamu, lepas yang dari dia!"


"Ya nggak bisa gitu donk kak, aku kan belum putus sama Reno nanti kalo orangnya nyariin gimana?"


"Kamu sebenarnya cinta sama aku apa dia sich dek?" Dimas mulai frustasi menanggapi sikap Sella.


"Aku cinta sama kakak, tapi aku masih ada hubungan dengan Reno kak!"


"Ya nggak bisa gitu donk dek..."


"Kalo gitu kakak juga pilih salah satu!" tegas Sella.


"Maksud kamu?" Dimas mengernyitkan dahinya.


"Kakak pilih aku apa kak Rika?" tanya Sella walaupun di hatinya tak tega pada kakaknya tetapi mengingat kelakuan Rika yang tidak jauh dari Dimas dia seakan mulai ingin bersikap tegas.


"Kakak di suruh pilih juga nggak bisa kan? aku bisa aja milih kakak, tapi kakak sendiri aja begitu," sewot Sella yang kesal akan sikap Dimas.


"Oke terserah kamu mau lepas cincin dari dia apa nggak, yang penting dari aku jangan di lepas!"


cup


"Aku sayang sama kamu, bahkan aku cinta sama kamu, aku juga tetap memilih kamu, tapi kalo untuk menceraikan Rika aku belum bisa sayang, aku harap kamu mengerti!"


"Kalo begitu kakak juga harus mengerti posisi aku!"


Sella segera melangkah menuju kamar mandi, dia tidak ingin berdebat lagi dengan Dimas yang akan berujung sama.


"Dasar egois maunya menang sendiri, disuruh milih nggak bisa tapi giliran di suruh lepasin nggak mau! kalo tau kelakuan kak Rika udah pasti murka kamu kak!"


Sifa memutuskan untuk berendam tak peduli dengan Dimas yang kadang bersikap semaunya hingga menghabiskan waktu dua puluh menit Sella baru keluar dengan handuk yang melilit ditubuhnya.


"Loh kakak masih disini?" Sella terkejut melihat Dimas yang masih anteng duduk di ranjangnya.


SSHHIIIT

__ADS_1


"Pemandangan apa ini!" keluh Dimas yang melihat tubuh Sifa yang hanya terbungkus handuk sedang sebatas paha.


"Udah mandinya?"


"Ya udah, ini udah kelar kak, mending kakak balik kamar nanti kalo kak Rika tiba-tiba pulang gimana!" Sella masih belum sadar dengan dirinya yang justru membuat Dimas semakin betah di kamarnya.


"Rika pulang malem!" jawab Dimas dengan mata yang kembali melihat pemandangan yang membuat tubuhnya merespon dengan sempurna.


Sella berjalan santai menuju lemari dan mengambil baju ganti serta dalaman, posisi dalaman yang berada di atas membuat kaki Sella berjinjit untuk mengambilnya dan itu membuat handuk yang ia kenakan semakin terangkat yang membuat semua pahanya hampir terlihat.


Dimas di buat panas dingin dengan pemandangan yang ada, hingga bagian inti tubuhnya sejak tadi ikut meronta di dalam sana.


"Akhirnya ke ambil juga, kenapa jauh banget sich perasaan kemarin naronya aman." Sella bernafas lega saat dalaman yang tiba-tiba menjadi susah di raih sudah berada di tangan tetapi saat dia ingin memakai, otaknya yang terputus kembali tersambung lagi.


Sella melirik tubuhnya yang hanya menggunakan handuk kemudian melihat Dimas yang sejak tadi diam memperhatikan.


"Hahaaaaahhhhhh kak Dimas keluar!!" teriak Sella histeris.


"Apa sich dek jangan teriak-teriak, ntar di dengar tetangga!"


"Kakak liat apa? cepet keluar sekarang kalo nggak mau aku teriak!" kesal Sella yang menutupi dadanya dengan baju yang ia ambil tadi.


"Aku liat dikit doank aja galak banget sich dek! padahal aku nggak minta, kamunya aja yang ngasih cuma-cuma!" ucap Dimas berkelit.


Sella segera meraih bantal dan memukul Dimas berkali-kali agar pria itu segera keluar dari kamarnya.


"Cepet keluar aku bilang!" Sella sudah benar-benar malu, yang ia inginkan sekarang Dimas segera pergi dari hadapannya.


"Diem dek jangan banyak gerak!" ucap Dimas saat melirik lilitan handuk Sella yang akan terlepas.


"Keluar kak!"


bugh bugh


"Dek kamu sungguh meresahkan membuat aku semakin panas, mau minta tanggung jawab tapi belum halal, dianggurin tentu sayang dan sekarang lihat handuk kamu terlapas sayaaaang!"


Sella melihat tubuh polosnya dan handuk yang sudah terjatuh ke lantai , "Aaaaaaaaaaaaaa............."


Dimas yang mendengar jeritan Sella segera melesat keluar dari kamar dan segera masuk ke kamarnya sendiri.


"Gila liat apa gue tadi!" nafas Dimas memburu bercampur dengan hawa panas yang Sella buat.


"Indah....Sella bener-bener nggak bisa di sepelein, pantes aja pada suka sama nich anak! nggak yakin gue bakal kuat kalo sering di bikin panas begini."


"Sekarang giliran gue yang repot sendiri kan!" Dimas melihat celananya yang sudah menonjol.

__ADS_1


"Aakkhhhh Sella......"


__ADS_2