Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Haidar Aljabar Anggawijaya


__ADS_3

Hari berganti, bulan pun terus bergulir, kini kehamilan Sella semakin butuh atensi. Menunggu hpl yang di jadwalkan akan tiba di akhir bulan. Tetapi cukup siaga untuk memperhatikan. Apa lagi Dimas yang sudah mulai bekerja dari rumah, hanya akan datang pada saat meeting penting saja.


Kunjungan ke sekolah-sekolah yang biasa di lakukan tiga bulan sekalipun untuk saat ini ditiadakan. Tidak ingin mengambil resiko jika harus berjauhan di saat perut sang istri semakin membesar.


Setelah membuatkan bekal untuk kembar dan menyiapkan sarapan pagi ini, mereka sudah kembali berkumpul di meja makan. Sella memang terus aktif bergerak padahal Dimas melihatnya saja tak tega. Tetapi menurutnya ini yang terbaik untuknya karena hamil bukan untuk bermanja ria, ada saatnya bergerak agar lahiran lancar jaya.


"Berangkat dulu bunda...."


"Iya bunda, hati-hati di rumah ya. Kakak sayang dedek." Kedua anaknya mencium perut Sella yang di balut gamis katun agar tidak gerah di rumah.


"Anak-anak bunda sekolahnya hati-hati ya, perhatikan guru yang mengajar. Dan nggak boleh nakal!"


"Oke bunda." Seru keduanya kemudian masuk ke dalam mobil.


"Sayang, aku nganter dulu ya. Istirahat dulu kamu dari pagi belum berhenti bergerak. Bahkan dari malam!" Dimas mengedipkan sebelah matanya kemudian mencium kening istri dan pergi.


"Dasar kak Dimas, jangan teriak aja kalo nantinya bakal puasa."


Sella kembali masuk ke dalam membantu mamah membereskan piring kotor, kemudian membawanya ke wastafel.


"Jangan nyuci piring nak, biar mamah aja, licin! Kalo mau sambil olahraga mending nyapu. Tapi kalo sudah lelah istirahat ya."


"Iya mah," Sella meraih sapu yang tergantung di dinding dapur. Melangkah perlahan membersihkan rumah, dimas yang ingin memperkerjakan asisten rumah tangga di tolak oleh Sella karena dia yang biasa gerak akan menjadi nyantai saat sudah ada yang mengurus rumah. Sedangkan semenjak hamil Sella sudah tak di bolehkan bekerja.


"Mah...." seru Sella saat di rasa perutnya agar nyeri, apa lagi pinggangnya yang berasa panas.


"Kenapa nak?"


"Berasa panas pinggang Sella," keluh ya kemudian sang mamah mengajaknya untuk duduk di di sofa.


"Mules nggak?"


"Lebih ke sakit sich mah, tapi hilang-hilangan. Mungkin kontraksi palsu, cuma pinggangnya begitu panas rasanya. Padahal si kembar dulu nggak gini."


"Setiap kehamilan beda-beda nak, sabar ya. Mamah usap sini pinggangnya.." Sella duduk memunggungi sang mamah, mendapatkan usapan di pinggang cukup meringankan sakitnya.


"Gimana sayang?"

__ADS_1


"Enakan mah," sakit yang sempat hilang kembali datang membuat Sella mendesis menahan.


"Kita ke rumah sakit ya nak, tunggu mamah ambilkan tas kamu dulu di atas!"


"Tunggu Kak Dimas pulang aja mah, Sella masih bisa tahan kok. Ketubannya juga masih aman, cuma kontraksinya sudah lumayan." Sella mendekap tubuh sang mamah, mencari kenyamanan dengan tangan mamah yang terus mengusap lembut pinggang Sella.


Rintihan semakin terus keluar dari mulut Sella, mamah yang tak tega segera memanggil papah untuk segera mengantar mereka ke rumah sakit.


"Pah....papah....." seru mamah, karena papah sedang di halaman belakang mengurus beberapa tanaman sayuran yang ia tanam untuk mengisi waktu luang.


"Iya ada apa mah?" tanya papah yang berjalan tergopoh-gopoh mendekati keduanya. "Sella kenapa mah?" papah terkejut melihat Sella dengan posisi tak biasa.


"Cepat antar ke rumah sakit Pah, Sella mau melahirkan!"


"Oke...mamah segera ambil perlengkapannya biar Sella papah bantu masuk ke mobil."


"Iya Pah," mamah segera ke kamar Sella mengambil dua buah tas yang sudah di kemas, tas bayi dan tas ibunya.


Papah segera membawa Sella ke rumah sakit. Tanpa mengabari Dimas mereka berangkat karena sudah tak tega melihat Sella yang meringis kesakitan.


Sesampainya di rumah sakit Sella segera di bawa keruang bersalin. Dokter memeriksa dan memastikan bukaan yang sudah di alami.


"Baik dok."


Dokter keluar meminta perawat untuk menyiapkan apa yang harus di persiapkan. Sementara Sella berjalan perlahan, mondar-mandir dengan sesekali menahan sakit akibat kontraksi. Mendesis menahan, sedangkan mamah ke kantin untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuk Sella. Dan papah sudah mengurus administrasi.


Panggilan telepon dari Dimas membuat mamah yang sudah akan kembali ke ruangan Sella tampak berhenti. Dimas yang pulang ke rumah dalam keadaan sepi cukup heran apa lagi sang istripun tidak ada.


"Halo mah."


"Iya Dimas, kamu di mana?"


"Dimas di rumah mah, ini Sella kemana kok nggak ada. Mamah papah juga lagi dimana?"


"Istri kamu di rumah sakit Dimas, Sella mau melahirkan Dimas, kamu cepat datang kerumah sakit."


"Tapi mah, kok cepet?"

__ADS_1


"Dimas, kamu ini jangan banyak tanya ketika seperti ini kasian Sella kesakitan sendiri. Biar papah nanti yang jemput anak-anak dan mengurus di rumah, yang penting kamu kesini dulu."


Mamah segera memutuskan panggilannya, beliau buru-buru ke kamar Sella. Tak tega melihat Sella yang meringkuk di pinggir ranjang sambil berdiri menahan nyeri yang kembali datang.


"Sayang, minum dulu ya teh manis hangat agar kamu kuat. Makan ini juga ada kurma dan telur rebus." Mamah membantu Sella untuk duduk dan membukakan cangkang telur. Sella makan dengan tenang walaupun sesekali mendesis kembali saat kontraksi yang mulai sering ia alami.


"Sabar sayang ya, sebentar lagi sakitnya hilang." Mamah terus mengusap punggung Sella dan pinggang yang serasa mau copot kata Sella.


Semakin waktu bergulir semakin kontraksi hebat Sella rasakan, Dimas yang sudah datang dari setengah jam yang lalu nampak panik dan tak tega. Sesekali meminta Sella untuk mencengkeramnya saja untuk meluapkan segala rasa. Lanjut ke ruang tindakan karena pembukaan sudah lengkap, Dimas menemani dengan sabar mengusap lembut kepala Sella dan terus berdoa untuk keselamatan istri dan bayi yang kini akan launching.


Perjuangan seorang ibu yang tak ternilai harganya, apa lagi saat harus mengejan di tengah rasa sakit yang belum kunjung pergi.


"Semangat sayang...."


Sella kembali mengejan saat sang dokter kembali memberi aba-aba, hingga tiga kali dorongan dari Sella yang cukup membuat tenaganya terkuras lemah.


Seorang bayi laki-laki menangis di dada Sella, mencari sumber kehidupan disana. Sedangkan Dimas menangis haru dengan mencium wajah Sella dan putranya.


"Alhamdulillah....makasih ya Allah, makasih sayang sudah berjuang."


Setelah bersih Dimas mulai mengadzani putranya serta menyisipkan doa yang kemudian ia bisikkan di telinga anak laki-laki yang begitu mirip dengannya.


Sella sudah kembali ke kamar rawatnya, memberi asi eksklusif yang cukup repot karena anaknya belum bisa meraih.


"Minta di ajari ayah ya nak!"


"Dimas! kamu ini benar-benar seperti papah." Mamah menggelengkan kepala, banyak perubahan setelah Sella kembali. Dimas lebih sering mengajak bercanda ria dan menyisakan waktu untuk keluarga.


"Bunda....." seru Naira dan Kaira memasukki kamar dengan kakeknya.


"Sayang...."


"Wah, adik bayinya udah lahir."


"Lucu ya bunda." Kedua anaknya sangat senang melihat dedek bayi yang kini sudah kembali tertidur. Kecupan sayang mereka layangkan, hingga sedikit membuat adiknya terusik.


"Namanya siapa bunda?" tanya Naira.

__ADS_1


"Namanya......" Sella belum mempersiapkan nama yang pas untuk anaknya. Kemudian dia menatap Dimas yang tampak tersenyum menyapa.


"Haidar Aljabar Anggawijaya... seperti kakak yang sekarang di akte sudah ada nama belakangnya. Naira Putri Anggawijaya dan Kaira Putri Anggawijaya. Semoga anak-anak ayah menjadi anak yang selalu di beri keberkahan dan memiliki ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat."


__ADS_2