
Pagi ini hari yang telah di tunggu-tunggu oleh kedua calon manten yang kini sama-sama sedang bersiap, menjadi ratu dan raja semalam dengan hati berdebar. Pancaran wajah sang Adam begitu bersinar, apa lagi dengan jas yang sudah menambah kegagahan seorang Dimas Angga Wijaya.
Dengan kemantapan hati dan di awali dengan bismillah, Dimas melangkah keluar kamar karena acara ijab qobul akan segera di laksanakan. Bersama sang papah Dimas menuju ballroom hotel yang sudah di penuhi oleh para tamu undangan yang datang untuk menyaksikan berakhirnya status duda yang selama ini ia sandang.
"Sudah siap nak?"
"InsyaAllah Pah, Dimas siap.. bismillahirrahmanirrahim."
Dimas duduk di depan penghulu dan wali nikah yang akan menikahkannya. Nafas dalam beberapa kali berhembus perlahan. Segenap doa sudah dia panjatkan untuk kelancaran proses ijab Kabul. Pernah gagal karena salah sebut nama tak membuat Dimas gentar, karena kali ini ia menikah dengan wanita yang benar-benar terpilih oleh hatinya.
Sella juga sudah rapi dengan riasan di wajahnya yang telah di balut jilbab yang di bumbui sedikit sapuan tangan agar lebih terlihat indah di hari yang sangat bersejarah bagi hidupnya.
"Cantiknya masyaAllah, bidadari dunia. Loe pake apa sich Sell bisa begini, kasih tips lah ke gue. Kali aja nular, nggak apa-apa dapet duda. Yang penting kayak kak Dimas."
"Ini semua cuma titipan Tiwi, akan ada waktunya kecantikan itu hilang." Sella menggenggam tangan Tiwi, rasanya begitu gugup dan berdebar.
"Eh, tangan loe dingin banget. Mau minum nggak?"
"Boleh dech... bismillahirrahmanirrahim," kemudian Sella minum satu gelas hingga habis tak tersisa.
"Loe haus apa nervous, sampe abis." Tiwi menggerakkan-gerakkan gelasnya.
"Dua-duanya! Gue deg-degan Wi," bibir Sella tak berhenti berdzikir meminta kelancaran acara. Saat ini keduanya sedang melihat layar televisi yang memperlihatkan Dimas yang sudah duduk di depan pak penghulu. Kemudian bacaan Alquran serta di lanjut pembacaan surat Ar Rahman yang di bawakan oleh Dimas.
Sella begitu terharu, di pinang dengan sosok Dimas yang sekarang adalah suatu kebanggaan sendiri baginya. Apa lagi perubahan Dimas sekarang yang sangat kentara. Menjadi sosok yang kalem dan lebih agamis, tak meninggalkan 5 waktunya. Jauh dengan Dimas yang dulu, semoga menjadi imam yang baik dalam membimbing keluarga.
Setelah pembacaan surat Ar Rahman dengan setetes air mata yang Dimas keluarkan menjadi awal kesiapannya untuk melanjutkan proses selanjutnya yang merupakan inti dari acara.
" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Dimas Angga Wijaya bin Bapak Setyo Wijaya dengan Sella Sesillia binti almarhum Nugi Prasetyo dengan mas kawin berupa uang 500 juta dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Sella Sesillia binti Nugi Prasetyo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Gimana para saksi?"
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillah..."
"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"
__ADS_1
Dimas tersenyum lega, akhirnya dia telah menikahi wanita idamannya, doa dan harapan telah ia panjatkan, semoga ini untuk terakhir dan selama-lamanya.
Di dalam kamar Sella meneteskan air mata saat Dimas dengan lancar mengucapkan ijab kabul dan kata sah menggema di ruangan yang di penuhi tamu yang juga ikut terharu.
"Alhamdulillah ya Allah....."
"Selamat ya Sell," Tiwi memeluk Sella, Tiwi pun merasakan ke legaan yang Sella rasakan apa lagi setelah mendengar cerita dari Tio.
Kini Sella turun menuju ballroom tempat sang suami yang telah menunggunya dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya. Bersama Tiwi Sella berjalan perlahan, sang mamah tak dapat mendampingi karena sedang bersama kedua cucunya yang sejak tadi ikut menyaksikan acara pernikahan kedua orangtuanya.
Dimas berdiri saat Sella memasuki ruangan, senyumnya tak luntur tetapi air mata itu kembali runtuh saat sang istri mulai mendekat. Sella pun menyunggingkan senyum saat langkahnya sudah berhenti di hadapan Dimas.
"Cantik..."
Tangan Sella terulur untuk mencium tangan Dimas. Air mata haru itu kembali menetes, setelah sekian purnama akhirnya mereka kembali di pertemukan dalam ikatan yang halal.
Dimas meletakkan tangannya di atas ubun-ubun sang istri dengan menyematkan segenap doa.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
"Aku mencintaimu istriku." Sella tersenyum saat kata itu begitu jelas di telinga.
Keduanya saling bergandengan tangan melangkah menuju kursi pelaminan. Banyak tamu undangan yang mulai mengucapkan selamat dan doa agar rumah tangga mereka selalu di beri keberkahan.
Begitupun dengan kedua orang tua Dimas yang sejak tadi menangis haru melihat prosesi sakral itu berlangsung. Kedua putri mereka sudah berlari mendekati bunda dan ayah yang telah duduk di pelaminan.
"Selamat ayah bunda," seru keduanya kemudian mencium ayah dan bunda yang sedang di limpahi kebahagiaan.
"Selamat Sell, semoga loe selalu bahagia," ucap Tio yang datang dengan gagahnya.
"Makasih Tio, semoga loe juga cepet nyusul."
"Aamiin." Kemudian Tio beralih ke Dimas, mereka saling berjabat tangan. "Selamat ya kak, jaga Sella, dia berharga lebih dari apapun di dunia. Aku ikhlas asal kakak membahagiakannya dan nggak akan pernah menyakitinya," ucap Tio dengan serius.
"Insyaallah dan terima kasih dengan semua yang pernah kamu berikan pada Sella dan kembar, terima kasih karena sudah membantu mereka selama ini."
"Iya kak," Tio tersenyum, ada luka di dalam dadanya tapi tak mengapa asal orang yang ia cinta bahagia.
__ADS_1
Setelah Tio turun, naiklah keluarga ustadz Maulana, mereka mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Sella tertarik dengan wanita hamil dengan gamis maroonnya yang sangat cantik, berjalan dengan di gandeng oleh pria yang kemungkinan suaminya.
"Selamat mas Dimas, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah."
"Terimakasih Zahra, kenalkan ini istriku Sella."
"Ini yang namanya Zahra sayang," lirih Dimas.
Sella tersenyum dan mereka saling berjabat tangan, "istri mas cantik, selamat ya mbak semoga pernikahannya di berkahi Allah, mbak orang yang tepat untuk mas Dimas. Dia sangat mencintai mbak."
"Aamiin...makasih mbak Zahra."
Sampai malam tiba keduanya baru benar-benar bisa beristirahat, tamu yang di dominasi oleh rekan bisnis Dimas dan papah membuat kedua mempelai kewalahan karena tamu tak kunjung usai. Apa lagi di jam pulang kerja, sangat meriah karena banyak yang datang.
Sella menjatuhkan bobot tubuhnya di pinggir ranjang, kakinya serasa mau copot karena berdiri seharian dengan menggunakan high heels. Dimas yang baru menutup pintu kemudian memperhatikan Sella begitu lekat, tak ada batasan sekarang karena kata halal sudah jelas ia dapatkan.
"Sayang..."
Sella terperangah saat Dimas mendekat, suasananya menjadi sangat canggung. Sella yang gugup segera melangkah menuju meja rias lalu perlahan menyibukkan diri untuk membuka aksesoris yang menghiasi jilbabnya.
"Mau aku bantu?" Dimas saat ini sudah berada di belakang tubuh Sella dengan memandang wajahnya melalui pantulan cermin.
"E...enggak kak, aku ...bisa sendiri." Sella yang gugup membuat ucapannya pun ikut terputus-putus. Mendengar itu membuat Dimas mengulum senyum.
"Kenapa berhenti? Apa kamu nggak ingin memperlihatkan mahkota mu dengan suamimu sayang?" tanya Dimas yang sudah membuka jas nya, kemudian perlahan membuka kancing kemeja yang ia gunakan.
Melihat itu membuat Sella semakin gugup, "kakak mau apa?"
"Kenapa, apa ada yang salah?"
"Oh.. enggak kak cuma.." Sella menundukkan kepalanya. Dia benar-benar canggung kali ini. Jantungnya berdebar dengan hati berdesir tak karuan. Melihat semburat merah di wajah Sella membuat Dimas semakin gemas, tangannya meraih kedua lengan Sella kemudian memintanya untuk berdiri.
"Kenapa sayang? kamu malu? aku sekarang sudah menjadi suamimu bahkan halal bagiku melihat semua yang ada di dirimu." Dimas benar-benar lembut memperlakukan Sella. Tangannya mengusap lembut pipi Sella dengan sayang.
"Hanya sedikit canggung kak...maaf..."
"Aku bantu membuka jilbabmu ya?" tanya Dimas dan di jawab anggukan oleh Sella, tangan Dimas membantu membuka jilbab Sella hingga terlepas dan jatuh ke lantai.
Senyum Dimas mengembang dengan sempurna, dia benar- benar lupa akan sosok Sella 5 tahun yang lalu. Karena yang ada di depannya saat ini adalah bidadari surga yang memenuhi hatinya.
"Indahnya ciptaanmu ya Allah....."
__ADS_1