Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Hamil...


__ADS_3

Menunggu dengan gelisah, langkah mondar-mandir tak karuan. Sella yang sudah masuk ke kamar mandi cukup membuat Dimas resah. Sedangkan mamah yang sejak tadi menemani Sella selama Dimas pergi kini sudah ke kamar sebelah mengurus si kembar yang memanggil meminta bantuan.


"Sayang kok lama banget? emang belum keluar juga pipisnya?" seru Dimas yabg sudah tidak sabar.


Sella yang berada di kamar mandi cukup geli mendengar seruan Dimas, tapi paham karena menantikan ini adalah hal yang pertama baginya.


"Istri ku ...." Dimas kembali memanggil Sella yang tak kunjung keluar, hingga tak sabar mulai mengetuk pintu dengan rusuh.


"Sayang lama! kamu ngapain?" tanya nya lagi.


ceklek


Sella membuka pintu dengan wajah sembab, melihat itu membuat Dimas termangu sejenak kemudian menuntun istrinya untuk duduk kembali ke ranjang.


"Sayang, udah jangan sedih begitu. Aku nggak apa-apa kalo memang belum di beri rejeki. Toh kita masih bisa terus berusaha, aku masih mampu apa lagi jika kamu semangat."


bug


Sella memukul lengan Dimas, di kondisi seperti ini masih saja suka bercanda. Tak mengerti situasi terlalu mesum dalam menanggapi.


"Eh kok mukul sayang, memang iya. Sini aku sayang dulu, kamu terlalu berharap hingga sedih begini." Dimas mengecup wajah Sella dengan sayang. Tak ingin membuat istrinya semakin kepikiran dan menjadi beban. Tugasnya cukup menghibur jiwa yang sedang kesakitan.


"Kak...." lirih Sella menatap wajah Dimas yang sejak tadi tersenyum.


"Iya sayang...kenapa hhmm?" tanyanya lembut.


"Kembar mau jadi kakak," Sella tersenyum melihat wajah bingung Dimas.


Pria itu mencerna kata-kata istrinya yang membuat tanda tanya. "Jadi kakak....."


Sella mengangguk dan menyodorkan testpack yang tadi di beli oleh Dimas. Tak cukup satu bahkan ketiga alat itu dengan berbagai merk tapi tercetak hasil yang sama.


"Sayang, kamu....." Dimas melihat lagi hasilnya, air mata itu runtuh seketika. Dengan haru dan bahagia menarik tubuh Sella untuk mendekap dan tak lupa bersyukur atas amanah yang di titipkan.


"Alhamdulillah kamu hamil sayang. Aku bahagia...."


Keduanya saling berpelukan sambil menangis bersama, suatu rejeki yang tak ternilai harganya. Dan Sella bersyukur bisa kembali mengandung benih dari pria yang sangat ia cinta. Apa lagi sekarang kondisinya berbeda, sang suami ada di sisi menemani dan berbagi masa kesulitan bersama.


Setelah mandi dan memakai kemeja yang sudah di siapkan oleh Sella, Dimas kemudian berjalan ke balkon kamar. Menelpon Doni untuk menghandle semua pekerjaan hari ini.


"Halo bro."


"Handle kerjaan hari ini ya, gue mau nganter Sella kerumah sakit."


"Sella sakit? wah parah loe.....sekalinya ketemu langsung masuk rumah sakit, jangan di hajar aja bro. Dia masih butuh banyak bimbingan."


"Ngelantur dech, Sella hamil makanya mau gue bawa ke sana buat periksa."


"Alhamdulillah selamat bro, tuh kecebong gesit ye...sat set sat set langsung tepat sasaran."


"Itu yang harus di banggakan, gue berhasil nyalip loe kan?"


"Iye.."

__ADS_1


"Ya udah gue mau jalan, hati-hati jangan deket-deket sama sekertaris gue mulu. Konslet loe ntar!"


"Diem loe!"


Tut


Setelah menelpon Doni, Dimas segera turun ke bawah menyusul istri dan anaknya yang sudah lebih dulu turun untuk sarapan.


"Naira Kaira....makan apa nak?" tanya Dimas yang sudah duduk di depan mereka.


"Ayam kecap buatan bunda enak ayah."


"Iya, mana ayah coba. Suapin ayah donk Bun."


"Nggak malu sudah mau punya anak tiga!" sahut papah yang sejak tadi memperhatikan.


"Nggak apa-apa Pah, anggap aja punya anak 4 ya nggak sayang?" alis Dimas naik turun menggoda Sella. Tak ingin panjang urusannya, Sella hanya mengangguk dan menyodorkan satu sendok nasi berisi potongan ayam kecap yang menggugah selera.


"Enak sayang!"


"Makan aku ambilkan ya kak," Sella segera meraih piring Dimas kemudian melayani Dimas.


"Hari ini kakak berdua di rumah sama nenek dan kakek ya, besok baru kita masuk ke sekolah yang baru. Ayah mau mengantar bunda ke rumah sakit dulu."


"Kakak nggak kerja?"


"Ngga sayang, aku mau periksakan kehamilan kamu dulu."


"Iya ayah, apa kita nggak boleh ikut?" sahut Kaira.


"Lain kali ya sayang, ayah mau periksakan dedek bayi yang ada di perut bunda. Kalian anteng di rumah ya."


"Iya kalian sama kakek aja ya, nanti kita main di taman belakang mendirikan tenda sambil belajar."


"Betul itu, nenek buatkan kalian kue dan jus strawberry kesukaan kalian, gimana?" bujuk mamah.


"Horeeee....kita camping ya, nenek dan kakek ikut juga. Tapi ayah, ada syaratnya!"


"Apa itu Naira?"


"Pulang nanti ayah sama bunda harus bawakan dedek bayinya ya."


Dimas dan Sella saling memandang, tak lama kemudian tawa Dimas pecah karena kepolosan anaknya.


"Tunggu perut bunda besar ya sayang, baru nanti dedek bayinya kita bawa pulang."


Setelah sarapan dan drama si kembar yang tiba-tiba rewel minta main dengan dedek bayi akhirnya keduanya dengan sabar memberi pengertian dan segera pergi menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana Dimas menggenggam tangan Sella, melangkah masuk dan menuju bagian dokter spesialis kehamilan hingga menunggu antrian dengan senyum yang mengembang.


"Maaf ya, dulu aku nggak bisa memperhatikan seperti ini. Kamu pasti sedih ya saat yang lain pergi ke bidan bersama suaminya dan kamu tidak." Dimas menyesal jika mengingat perjuangan Sella, ingin menebusnya dengan selalu ada setiap di butuhkan.


"Nggak apa kak, semua sudah berlalu. Sekarang lebih baik karena ada kamu di sisi."

__ADS_1


"Aku akan menjadi suami siaga sesuai keinginan kamu." Dimas mengusap lembut Surai hitam milik Sella dengan sayang. Pemandangan banyak pasang suami istri yang juga mengantri menghangatkan hati keduanya.


Hingga nama Sella di panggil dan segera masuk ke ruangan. Bertemu dengan dokter yang kebetulan adalah wanita membuat Sella dan Dimas lega.


"Ibu Sella, perkenalkan saya dokter Mira. Ada yang di keluhkan Bu?"


"Hanya mual dan pusing dok, kebetulan tadi pagi sudah mencoba test mandiri dan hasilnya positif."


"Baik, biasa ya di semester pertama mual muntah, tapi jika berlebih saya akan memberikan obat peredanya. Tensinya rendah ya, makanya tambah pusing. Ayo ibu Sella silahkan merebahkan tubuhnya di atas ranjang."


Di bantu oleh Dimas sella sudah merebahkan tubuhnya lanjut suster mulai memberi cairan gel di perut Sella yang masih datar. Meletakkan alat di atas perut sella dengan sorot mata fokus ke layar. Dokter tersenyum saat melihat lingkar kecil seperti biji kacang merah mulai terlihat di layar.


"Nah ini dedeknya, selamat Bu pak." Dokter memusatkan pada titik di mana bentuk kacang itu terlihat jelas. "Masih sangat kecil ya, kehamilan ibu juga baru menginjak hampir lima Minggu, harus terus di jaga karena masih rentan."


Dimas menggenggam tangan Sella dengan air mata yang mengalir. Melihat Sella yang kembali hamil dan keinginan mendapat sejuta pengalaman dalam membersamai menjadi moment yang mengharukan untuknya.


"Kita jaga sama-sama ya, aku akan berusaha menjadi suami siaga." Dimas mengecup kening Sella dengan sayang..


"Dok, ada pantangan nggak sich?" Dimas mulai aktif bertanya.


"Baik kita duduk kembali, untuk pantangan tidak ada pak, hanya saja lebih meminimalkan kegiatan yang membahayakan."


"Kegiatan yang membahayakan...maksudnya dok?"


"Kegiatan yang membuat sang ibu kelelahan hingga berpengaruh pada janin yang ada di rahimnya."


"Kegiatan malam juga membahayakan dok?" tanya Dimas tanpa malu tapi mampu membuat Sella tersipu.


"Boleh, tapi pelan saja ya pak Dimas, di harapkan tetap menjaga keamanan. Dan di sarankan untuk tidak mengeluarkan di dalam."


"Makasih dok, saya minta vitamin yang bagus ya dok!"


"Baik pak," dokter Mira segera menuliskan resep kemudian memberikannya pada Dimas, karena yang sejak tadi riweh itu Dimas.


"Makasih dokter...." ucap Dimas dan Sella yang segera beranjak.


"Sama-sama pak dimas dan Bu Sella."


Dimas kembali menggenggam tangan Sella keluar ruangan berjalan menuju tempat pangambilan obat yang cukup mengantri. Sella menyorot Dimas dengan pandangan mata tajam setelah kembali duduk di kursi tunggu.


"Kenapa sayang?"


"Kak Dimas nggak malu nanya masalah itu sama dokter Mira?"


"Mana ada malu, kan untuk kebaikan kita bertiga. Tetap main asal aman."


Sella menggelengkan kepala, Dimas menjadi tambah mesum setelah menikah. Membuat sella kesal-kesal gemas. Menunggu obat yang akan di tebus hingga panggilan atas namanya membuat Dimas segera beranjak.


"Aku ambil obatnya dulu sebentar," Dimas mengecup kening Sella sebelum melangkah.


Sella diam memperhatikan suaminya yang maju ke depan dan fokus dengan penuturan dari petugas bagian obat. Hingga tak sadar orang yang ia kenal menghampiri dan duduk di sebelahnya.


"Sella....."

__ADS_1


__ADS_2