Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Jodoh Untuk Sella


__ADS_3

Dimas segera pamit berangkat ke kantor di susul oleh Rika yang juga harus segera berangkat ke butik karena sejak tadi ponselnya sudah bergetar dengan panggilan dari Roy.


Keduanya berpamitan kepada orang tua mereka, tetapi saat Rika berjalan keluar sang mamah menahan Dimas yang akan melangkah pergi.


"Kenapa mah?"


"Kenapa sikap istri kamu masih sama saja Dimas bahkan cuek sekali dan sibuk kerja sedangkan ada mamah di rumah, apa nggak ada niatan kamu menyuruhnya untuk dirumah?"


"Sudah mah, tetapi Rika belum mau!"


"Apa mungkin karena kalian belum punya anak, kenapa kamu nggak minta untuk segera program agar Rika cepat hamil?"


Dimas pusing jika mamah sudah membahas masalah momongan sedangkan dari awal Rika saja sudah menolak. Dia sendiri selama ini sudah membujuk dan berusaha agar Rika mau dirumah dan fokus dengan keluarga.


"Mah! sudah.....biarkan Dimas berangkat ke kantor! nggak dapet cucu dari Dimas juga nggak apa-apa nanti papah carikan Sella jodoh agar cepat menikah, Sella anak yang nurut dan pandai lelaki mana yang tidak suka padanya, dia sudah seperti anak sendiri. Jadi tidak usah memusingkan masalah Dimas!"


"Pah!"


"Kenapa? kamu keberatan? apa kamu suka juga sama Sella?"


Dimas terdiam mendengar pertanyaan dari sang papah dan mamah yang sudah memperhatikan dengan muka selidik.


"Dimas berangkat dulu mah Pah!"


Dimas lebih baik menghindar dari pada harus berlama disana dan berujung masuk perangkap pertanyaan papahnya yang secara tidak langsung menyudutkannya.


Terdapat senyum tipis dari sang papah melihat sikap Dimas yang mencoba menghindar, papah tau jalan pikiran kamu Dimas!


Sesampainya di kantor Dimas tampak gelisah, rasanya ingin menarik Sella dari sekolah dan mengukungnya di meja kerja karena mulai berani nakal. Apa lagi setelah mendengar papahnya yang ingin mencarikan jodoh untuk Sella dan dibalas penuh minat oleh gadis itu.


"Kamu minta aku hukum dek kalo sampai berani di luar batas."


Doni yang baru tiba segera memasuki ruangan Dimas tanpa mengetuk pintu membuat Dimas melayangkan tatapan tajam.


"Sorry bro buru-buru gue, maklum kesiangan," ucap Doni dengan wajah meringis.

__ADS_1


"Kebiasaan loe, kebanyakan begadang!"


"Begadangin bini mah nggak salah Dim! dari pada loe begadangin jodoh orang!" ledek Doni.


"Berisik!"


"Gue minta tolong sama loe, bokap datang dan gue minta sama loe apapun yang di minta bokap gue kalo itu berkaitan sama si Sella jangan Loe turutin!"


Doni mengernyit heran mendengar ocehan Dimas, hingga gebrakan meja membuatnya terjingkat.


BRAAKK


"Loe ngerti kagak sich Don?" Dimas yang sudah kehilangan mood nya semakin di buat jengkel dengan Doni yang justru malah diam dengan mulut menganga.


"Emang bokap loe minta apaan sich?"


"Papah mau nyariin jodoh buat si Sella."


"What!! gue nggak salah denger?" tanya Doni tak percaya.


"Hmmm....... gue ngeri aja papah bakal beneran ngelakuin itu, bisa stres gue kalo Sella nerima apa lagi sampai nikah di depan gue!"


Dimas menoleh saat mendengar ucapan Doni semakin liar , matanya menyipit penuh selidik dan mendekati Doni yang memasang wajah cuek.


"Maksud loe apa semakin liar? loe tau apa? ada yang loe sembunyiin dari gue?"


"Nggak ada, loe kayak nggak tau mulut gue aja kalo lagi kesel!" Doni mengalihkan pandangannya dengan membuka berkas kerjaan yang sudah minta di jamah.


"Gue curiga sama loe Don, ada yang loe sembunyiin dari gue, tapi kenapa loe nggak mau cerita, padahal gue tau loe nggak pernah bisa bohong sama gue, apa ada kaitannya dengan Rika di luaran sana yang gue nggak tau?"


Dimas segera kembali kemeja kerja nya dengan sesekali melirik ke arah Doni.


"Sorry bro, gue nggak mau nyakitin loe, gue nggak tega, lebih baik loe cari tau sendiri dan liat sendiri dari pada gue yang harus jelasin karena gue yakin seenggak cintanya loe sama Rika tetep aja loe bakal sakit hati kalo tau ini"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hentakan high heels yang membawa kekesalan pemiliknya menimbulkan suara nyaring ditelinga siapapun yang mendengarnya, hingga mengusik pria yang sejak tadi sudah anteng membaca koran di meja kerja kekasihnya.


"Sayang are you oke?" tanyanya saat melihat Rika yang masuk keruangan dengan muka di tekuk.


Roy menarik tangan Rika dan membawanya duduk di pangkuannya.


"Kenapa sich pagi-pagi udah marah-marah gitu, nanti cantiknya luntur loh!"


"Aku kesel! mertua aku dateng, mana besok kita harus pergi kan, nggak bebas banget dech aku!" keluh Rika.


"Hey ...... udah di bikin santai aja, yang penting kan Dimas udah ACC sama kepergian kamu. Jadi nggak usah di pusingin sayang! besok kita have fun..." bisik Roy.


"Tapi udah pasti orang tua itu pada minta cucu, aku nggak mau hamil you know! aku masih pengen terus se,xy biar lebih ho,t di ranjang. Coba bayangin kalo tubuh harus hamil, melar, dada aku kendor, dan ini juga bakal kendor," tatapan Rika turun kebawah bagian intinya membuat Roy mengikuti, " jelas aku nggak mau sayang!"


Tangan Roy mulai nakal masuk kedalam rok Rika dan mencari kehangatan disana.


"Eeggghhh aku lagi kesel loh sayang, mood aku lagi ancur kamu malah buat aku berdebar!"


"Ini bisa menghilangkan rasa kesal kamu sayang, bahkan membuat kamu melupakan semuanya," gerakan jemari Roy di balik rok semakin membuat kain yang menutupi milik Rika semakin terasa lembab.


"Masih pagi sayang! bahkan rasa jemari Dimas yang semalam saja masih tertinggal, please stop! kita bisa lanjut nanti siang oke!"


"Kamu mau nego sedangkan kamu sudah merasakan dia mengeras sejak kamu duduki tadi?"


Dapat Rika rasakan ada yang menonjol di bawahnya, dia memang tergoda tetapi kerjaan yang harus cepat di kerjakan membuatnya menolak.


"Kamu duduk anteng disini ya, aku selesaikan kerjaan dulu baru kita bersenang-senang, aku memang butuh sangat butuh malahan tapi aku harus kerja dulu oke!"


Rika menarik lembut tangan Roy yang masih bersarang di dalam sana dan mulai turun dari pangkuannya.


"Jangan lama-lama sayang, cepat kerjakan karena aku sudah tidak tahan, aku tunggu di kamar oke!"


"Oke!"


Roy memasuki kamar pribadi yang Rika sengaja buat untuk dia beristirahat tepatnya mengistirahatkan otaknya tetapi tidak dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf mas, bukan niat mau mengkhianati kamu tapi aku belum bisa kalo cuma sama kamu, bahkan sehari saja aku tidak bermain-main dengan orang lain rasanya aku ingin selalu marah-marah sama kamu dirumah!" ucap Rika saat mengingat Dimas.


Rika benar-benar di gelapkan dengan naf**nya bahkan dia sekarang mulai berusaha meminta dengan Dimas setiap hari agar suaminya tidak menaruh curiga.


__ADS_2