Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Talak


__ADS_3

Sejak tadi Dimas berdiri di ambang pintu melihat mamah yang sedang menyuapi Sella makan dengan begitu telaten dengan wajah beliau yang nampak terharu. Hatinya menghangat melihat jelas sang mamah begitu menyayangi Sella, sangat berbeda jauh sikap beliau terhadap Rika yang jelas menantunya. Mamah dan Rika begitu berjarak hampir tak pernah ada perbincangan di antara keduanya, hingga kasih sayangpun tak mereka dapat hanya ada debat setiap kali berpendapat.


Rika berjalan tergesa menaiki tangga tanpa menyapa papah mertua yang ada di depannya, yang dia pikir saat ini hanyalah Dimas, dia ingin secepatnya bertemu dengan Dimas.


Melihat Rika yang tampak cuek dengan langkah terburu-buru membuat mertuanya hanya diam menggelengkan kepala.


"Mas!"


Dimas segera menoleh saat mendengar seruan dari Rika, tidak ingin pembicaraan mereka di dengar yang lain membuat Dimas segera melangkah dan mendahului Rika untuk segera masuk ke dalam kamar.


"Mas...."


"Rika Renata binti Almarhum Pranata hari ini aku jatuhkan talak padamu!"


deg


"Hati-hati loh mas kalo bicara, ini bukan sedang bercanda kamu sudah jatuhin talak ke aku mas!" bentak Rika.


"Ya, aku talak kamu dan mulai hari ini kamu bukan istriku lagi! nanti tinggal kamu tanda tangani surat dari pengadilan. Tunggu saja sampai surat itu datang!"


"Kamu keterlaluan mas!"


"Kamu yang keterlaluan Rika!" sentak Dimas, "aku percaya penuh sama kamu, tapi ternyata kamu membodohiku selama ini! sudah puas kamu? ini kan yang kamu mau? berpisah dari aku agar bisa bebas bermain dengan yang lain? Dan sekarang aku turuti keinginan kamu, bahkan kamu bebas bermain dengan siapapun!" Dimas melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian.


"Aku begini karena kamu mas!" bentak Rika.


"Apa? karena aku, kamu menyalahkanku?" Dimas menggelengkan kepala "kamu yang sejak dulu tidak bisa setia, kamu yang sejak dulu mengedepankan nafsu dari pada cinta dan kamu yang memang suka bermain pria. Andai kamu bisa menurutiku dan menjadi istri yang baik di rumah, kamu nggak akan terus tergoda dengan dunia fantasimu itu!" sentak Dimas dengan nafas naik turun.


"Dan akupun tak akan berujung mencintai adikmu!" batin Dimas.


"Aku ini wanita karir mas, aku ini memiliki keahlian, aku ini pintar tak seperti istri-istri yang hanya memakai daster dan badan bau bumbu karena hanya sibuk di dapur."


"Pikiran kamu cetek Rika! kamu terlalu memikirkan duniamu tanpa kamu memikirkan bagaimana perasaanku!" Dimas di buat semakin emosi dan tak mengerti dengan jalan pikiran Rika.

__ADS_1


"Mas, ayolah berdamai aku juga akan membebaskanmu dengan yang lain jika kamu tetap mempertahankan pernikahan kita," bujuk Rika.


Dimas melebarkan matanya, dia tak menyangka dengan otak Rika yang begitu picik.


"Kamu pikir aku bodoh, tanpa kamu suruhpun aku akan mencari wanita lain, tapi itu nanti setelah kita berpisah. Karena aku tak sepertimu yang mengedepankan nafsu dari pada cinta!" Dimas lebih baik menghindar dan menyudahi pertengkaran dari pada berdebat dengan Rika dan mendengarkan ucapannya yang tak bermanfaat.


"Dan mulai hari ini aku akan pergi dari rumah ini!" Dimas segera meraih koper yang berada di atas lemari, tangannya mulai mengemas dengan hati yang panas, sungguh ini di luar rencana. Menikah lalu bahagia, ternyata tak seindah konsepnya dan semulus bayangan yang ada.


"Stop mas! aku mohon bertahan disini sampai urusan kita selesai, aku akan terima talak darimu dan menandatangani surat gugatan itu, tapi aku mohon tetap disini jangan membuat mamah dan papah tau masalah yang membuat kita pisah. Aku mohon mas!"


Dimas membalikkan tubuhnya melihat wajah Rika yang mengiba, dia paham jika Rika pasti akan malu jika orangtuanya tau dia berselingkuh di luar sana, tapi apa bedanya dengan dirinya yang justru sudah memperkos* adik iparnya sendiri.


Merasa dia juga butuh waktu untuk kembali membujuk Sella perihal masalahnya dengan gadis itu, akhirnya Dimas menyetujui permintaan Rika.


"Oke, aku turuti permintaan kamu, tapi ada syaratnya!"


"Apa syaratnya mas?" tanya Rika dengan senyum yang mulai terbit di wajahnya.


"Sial, lalu bagaimana aku akan kembali membuatnya jatuh di pelukanku," batin Rika.


"Oke, aku setuju mas dan aku mohon jangan cerita masalah kemarin dengan orangtuamu mas, biarkan mereka tau jika kita berpisah secara baik-baik."


"Hmmm......" Dimas segera melangkahkan kakinya keluar kamar meninggalkan Rika yang tampak kesal.


"Brengs*k!" umpat Rika kesal dengan nafas memburu, "aku akan berusaha untuk membuatmu membatalkan perceraian itu mas!"


Rika segera masuk ke kamar mandi, dia memutuskan berendam untuk mendinginkan otaknya.


Dimas berjalan kembali ke kamar Sella, tangannya membuka sedikit pintu kamar untuk melihat kondisi Sella saat ini. Dimas menarik nafas dalam saat melihat Sella yang tertidur pulas dengan selimut yang membungkusnya, sungguh hatinya kelu kenapa bisa ia sejahat itu.


Tak ingin mengganggu akhirnya Dimas menutup kembali pintu kamar Sella dan membiarkan dia tidur dengan lelap.


Pria itu memutuskan untuk pergi ke pengadilan, mengambil kunci mobil serta dompet dan berganti pakaian dengan yang lebih rapi kemudian keluar lagi dari kamar tanpa sepengetahuan Rika.

__ADS_1


"Mau kemana Dim?" tanya sang mamah yang sedang duduk di halaman rumah bersama suaminya yang sedang membaca koran.


"Mau keluar sebentar mah, nitip Sella mah takut butuh sesuatu, kasian dia tidak ada yang mengurus," ucap Dimas dan di balas dengan tatapan menyelidik dari mamah.


"Harusnya Rika yang memperhatikan kenapa jadi kamu yang begitu khawatir nak?"


"Karena kakaknya tak peduli mah, kalo bukan aku siapa lagi." Dimas berusaha memberi alasan agar mamahnya lebih mengerti dan mau memahami.


"Sebenarnya tanpa kamu pinta pun mamah pasti menjaganya, dia sudah seperti putri mamah sendiri, jadi kamu tak perlu khawatir."


"Makasih mah!"


Dimas mencium tangan kedua orangtuanya, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga sang papah yang di jawab anggukan oleh papahnya.


"Ya udah Dimas jalan dulu mah Pah!"


"Hati-hati nak, jangan pulang larut usahakan kamu makan malam di rumah!"


"Iya mah!" kemudian Dimas melangkah menuju mobil yang terparkir, matanya menyipit saat langkahnya mulai mendekati mobil kesayangannya.


Dilihatnya body mobil yang tergores bahkan nampak penyok tak mulus lagi kemudian tangan Dimas menyentuh beberapa titik kerusakan di mobilnya.


"Kenapa sama mobil gue? perasaan kemarin baik-baik aja, ini kenapa mobil gue tiba-tiba minta ke salon."


Dimas melangkah mengitari mobilnya, hampir semua bagian tampak cacat bahkan banyak sekali yang minta perawatan khusus. Dimas memijat pelipisnya, dia berpikir siapa yang membuat mobilnya sampai parah begini.


Kemudian dia memutuskan untuk masuk kedalam mobil dan mengecek mesin.


"Bisa!" Dimas bernafas lega saat mengecek bagian dalam dan mesin yang tampak baik-baik saja.


"Ini mobil kenapa jadi kayak abis tawuran, penyok dimana-mana," Dimas berpikir keras dengan memijat pelipisnya hingga terlintas sesuatu di pikirannya yang menjadi jawaban atas semua kerusakan yang ada.


Sella!

__ADS_1


__ADS_2