Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Keesokkan harinya sahabat serta sanak saudara banyak yang menjenguk Sella serta bayinya. Bibi pun datang jauh-jauh dari Jogja beserta ayu yang kini sudah lulus kuliah.


"Baguse to nduk Iki anakke, cakep!"


"Ibu ki nggak liat tuh bibite unggul, kak Dimas Karo mbak Sella cakep Yo umum to yo..." sahut Ayu membuat Dimas dan Sella tertawa.


Bibi menimang Haidar dengan penuh kasih, tersenyum hangat saat sang bayi menggeliat manja. "Opo, mau mik susu?" tanyanya kemudian menoleh ke arah Sella, "mau mik susu, haus Iki!"


"Iya Bi," Sella segera membuka sedikit resleting gamisnya kemudian menyusui sang bayi dengan sedikit meringis.


"Sakit ya sayang? sabar ya....enak lidahku to?" ledek Dimas membuat Sella mencubit lengan suaminya.


Melihat itu bibi dan Ayu ikut tertawa, memang benar adanya. Karena bayi laki-laki yang begitu kuat minumnya hingga ujung dada Sella tampak memerah dan sedikit luka. Perih setiap kali sedotan yang di lakukan Haidar.


"Kuat mimike to? wah Lanang tenan Iki...."


"Bibi...." Sella malah jadi risih sendiri, wajahnya sudah memerah.


Tak lama ucapan salam terdengar dari pintu, sepasang suami istri datang dengan melangkah berjarak. Dimas meraih kerudung Sella dan menutupi bagian dad yang terbuka.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam...."


Senyuman terbit dari wajah Sella saat melihat siapa gerangan yang datang. "Sini..."


Keduanya saling berpelukan, "Selamat ya Sell..."


"Iya, kok anak-anak nggak ada yang di ajak?"


"Anak-anak di rumah sama opanya yang kebetulan datang dan ingin bermain, jadi aku tinggal kesini dulu." Dengan senyum ceria tapi tidak dengan matanya yang memancarkan luka.


Sella menarik nafas dalam melirik sahabatnya yang diam bersandar dinding, sempat menyapa Dimas tetapi masih memantau Sella karena dirinya yang tak terlalu dekat dengan sang istri.


"Loe kenapa? kesel gue kalo loe gitu!" oceh Sella.


Tio hanya mengangkat kedua pundaknya baru mendekat ke ranjang Sella. Sebelumnya sempat melirik bibi dan Ayu yang juga memperhatikan.


"Bi, yu...apa kabar?"


"Alhamdulillah sehat kak," sahut Ayu.


" Sehat den..."

__ADS_1


"Loe gimana Sell?" tanya Tio yang sudah berada di sisi ranjang sebelah kiri sedangkan istrinya sisi ranjang sebelah kanan.


"Gue sehat Alhamdulillah, loe gimana?"


"Sehat." jawab Tio singkat.


Sella menggelengkan kepala, sempat melirik ke kanan sekilas kemudian kembali fokus ke bayinya yang di timang oleh Dimas.


"Mungkin hati loe yang nggak sehat, gue kenal loe Tio. Please terima, jangan gini...." ucapnya dengan jemari yang sudah menggenggam tangan istri dari sahabatnya itu.


"Ck, gue kesini mau liat ponakan gue, bukan dengerin ceramah loe Bu guru!"


"Tapi loe kesini dengan mengantarkan raga buat gue ocehin, jangan sampe loe nyesel Tio. Karena buat dia juga itu nggak mudah." Sella tersenyum menoleh ke arah kanan.


"Mana tadi ponakan gue, kak Dimas aku mau gendong dong kak!" Tio sengaja mengalihkan pembicaraan, dia mengambil Haidar dari pelukan Dimas. Cukup telaten karena sudah biasa menimang anaknya.


"Sabar ya, Tio itu orang baik. Seiring berjalannya waktu dia pasti mau nerima." Sella berusaha menguatkan, sesama wanita dia tidak akan tega jika melihat temannya merasa tak nyaman dalam pernikahan.


Nasib orang itu memang tak sama dan bagaimana caranya menyikapi dengan baik tanpa harus saling menyakiti. Begitupun dengan ujian rumah tangga, nggak ada yang semulus jalan tol. Tetapi di situ hati akan berperan penting. Mampukah bertahan di setiap kerikil menghadang.


Setelah semua pulang Sella terlelap dalam damai, Dimas cukup berjaga dengan mengerjakan tugas kantor. Sesekali melirik ke arah boks bayi melihat pergerakan dari Haidar yang menggemaskan. Tetap terlelap tetapi cukup rusuh tidurnya membuat Dimas merasa geli sendiri.


Tiga hari Sella dan baby di rumah sakit, hari ini mereka pulang dengan di sambut oleh orang tua dan kedua anak gadis mereka.


"Bunda.." seru keduanya segera berlari menghampiri.


"Aduh pelan-pelan larinya, mmmm anak-anak bunda. Bunda kangen banget sama kalian berdua." Sella memeluk kedua putrinya.


"Kita juga kangen sama bunda." Keduanya melirik Dimas yang menggendong baby Haidar kemudian dengan bahagia mereka meminta Dimas untuk segera menidurkan adiknya untuk mereka ciumi.


Kini Baby Haidar sudah di letakkan di sofa panjang ruang tengah. Dengan nenek kakek mereka dan kedua kakaknya yang sejak tadi begitu gemas.


Sella tampak bahagia, apa lagi perhatian suamipun bertambah. Dimas membawakan susu untuk Sella, agar asi pun tetap lancar. Benar-benar menjaga kesehatan sang istri karena dia lah jantung keluarga.


"Tampaknya Haidar menjadi pusat perhatian, kita yang orang tuanya malah jadi nganggur begini."


"Iya, kehadirannya sangat di tunggu dan membuat semua senang. Mamah papah juga wajahnya begitu berseri. Beliau begitu antusias sampai ingin ikut andil dalam menjaga cucu-cucu mereka."


"Hmmm, aku jadi memikirkan sesuatu sayang."


Sella menoleh menatap Dimas yang begitu serius, bertanya dalam hati apa gerangan yang menjadi pikiran suaminya.


"Mmm..... bagaimana jika kita buat anak lagi?"

__ADS_1


"Hah!" Sella di buat menganga saat pertanyaan yang unfaedah itu terucap cukup serius dan membuat dirinya mendadak kaku.


"Ayo!" Ajak Dimas semangat. Mumpung anak-anak nggak rewel dan dirinya yang sudah rindu karena selama tiga hari libur.


"Ayo? kakak..." lidah Sella seakan kelu. Bahkan suaminya tak mengerti sama sekali. Atau memang lupa dengan kondisi yang ada.


"Sayang..." Dimas mengangguk dengan wajah mesum.


"Kakak nggak tau apa lupa?" lirih Sella.


"Nggak tau apa sayang? dan lupa gimana?" tanya Dimas dengan muka polos.


"Aku baru pulang dari rumah sakit dan kakak harus berpuasa paling tidak dua bulan."


Seakan tersengat ribuan volt listrik tegangan tinggi, Dimas benar-benar tercengang. Sella dengan senyum kaku menatap suaminya yang auto mingkem mematung.


"Du...dua bulan sayang?" tanyanya lagi dengan terbata.


"Selamat berpuasa Dimas, kamu pikir istrimu robot yang dengan sesuka hati kamu kerjai. Dasar anak nakal, bahkan sakitnya saja masih terasa. Jalanpun belum sempurna. CEO tapi tak mengerti situasi!" mamah menjewer kuping Dimas hingga memerah.


"Mamah....sakit ikh, malu anak udah tiga masih di jewer gini!" seru Dimas melirik istrinya meminta pertolongan. Sedangkan Sella hanya diam meraih sang baby untuk segera di ajak ke atas.


"Rasakan! belajarmu kurang jauh Dimas. Hal seperti ini bahkan kamu tidak tau. Memang kamu pikir bayimu keluar lewat pusar!" celetuk papah yang tak menyangka dengan kebodohan anak semata wayangnya. Efek baru mengalami jadi masih butuh materi.


"Ck, benar-benar tak berperasaan. Dua bulan, apa ada undang-undangnya mah?"


"DIMAS........!!!"


Dimas segera kabur mengejar sang istri yang sudah naik ke kamar bersama anak-anaknya.


-tamat-


...****************...


Terimakasih othor ucapkan atas dukungan kalian dan para pembaca yang sudah setia membaca ceritaku iniπŸ™πŸ™πŸ™


Bisa di lanjut dengan karya aku yang lain. Dan di tunggu kelanjutan kisah cinta Tio dalam judul berbeda...


Salam sayang buat kalian😘😘😘


Jangan lupa baca "Terjerat Cinta Gadis Malam"


& "One Night With Duda"

__ADS_1


__ADS_2