Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Sakit


__ADS_3

Setelah sholat subuh, Sella di bantu Dimas berkemas dan memasukkan semua barang di dalam bagasi. Dilanjut mengurus kedua putrinya yang masih terlelap dengan nyenyak. Mengajaknya mandi dan sarapan bersama.


Tepat pukul 7 mereka berpamitan dengan bibi dan Ayu dengan derai air mata. Terbiasa bersama pasti ada kesedihan saat berpisah.


"Hati-hati ya nduk," bibi dan Sella saling berpelukan.


"Bibi juga hati-hati ya, jaga kesehatan. Sella akan sering-sering bertukar kabar dengan kalian. Kembar juga pasti merindukan bibi dan Ayu."


"Iya nduk, jangan lupa sampai Jakarta mengabari ya. Kembar jangan rewel di jalan ya," bibi menciumi kembar yang sudah seperti cucunya sendiri.


Setelah pamit dengan diiringi derai air mata, kini Dimas melajukan mobilnya menuju ibu kota dengan kecepatan sedang. Suara kedua putrinya yang sibuk bernyanyi sambil mengunyah makanan membuat Dimas sesekali tertawa gemas.


Tepat pukul 8 malam mereka sampai di rumah, lelah dan letih Dimas rasakan begitupun Sella yang sejak tadi menemani tanpa memejamkan mata sedikitpun.


Memindahkan kembar yang sudah terlelap lanjut memasukkan barang-barang Sella yang lumayan banyak.


"Capek kak, aku mau mandi dulu ya. Kopinya aku letakkan di sini ya kak." Sella meletakkan kopi untuk Dimas yang baru saja memasukkan koper terakhir miliknya.


"Jangan lama sayang, sudah malam!" ucap Dimas kemudian duduk di sofa sambil menyeruput kopi.


"Siap suamiku." Sella segera masuk kamar mandi. Membersihkan diri lanjut berganti baju tidur dan duduk di samping suami yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Capek banget ya kak?" Sella memijat lengan Dimas, mendapat perhatian dari istri membuat pria itu tersenyum senang.


"Kak, jangan tidur. Mandi dulu ya biar aku siapkan air hangatnya."


"Nggak usah sayang, aku sendiri aja. Kamu juga cepek kan dari tadi nggak tidur di jalan." Dimas mengusap lembut kepala Sella. Memperhatikan wajah istrinya yang natural tanpa make up tetapi semakin membuat gemas.


"Aku nggak secapek kamu kak, nyetir sendiri tanpa pengganti."


"Ya udah kalo gitu aku mandi dulu ya. Kamu rebahan aja, di buat selonjor kakinya di ranjang."


"Iya kak, " Sella beranjak ke ranjang kemudian meluruskan kakinya yang sedikit pegal. Tanpa terasa matanya terpejam saat Dimas pun keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Melihat sang istri yang sudah terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka membuat Dimas tak tega untuk sedikit saja membuat onar. Pria itu mendekat dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Tak butuh waktu lama Dimas pun menyusul sang istri masuk ke alam mimpi.


Sholat subuh di temani istri begitu terasa syahdu di hati, apa lagi sekarang sudah tak akan ada lagi jarak di antara keduanya. Setelah salam Sella segera merapikan mukenah, duduk sejenak di pinggir ranjang merasakan kepalanya yang berdenyut dan perut yang tak nyaman.


"Kenapa sayang?" Dimas ikut duduk di sebelah Sella memperhatikan wajah sang istri yang pucat.


Sella pun hanya diam tak menjawab, untuk membuka mulut saja rasanya tak ingin. Melihat itu wajah Dimas berubah cemas, apa lagi dirinya yang di buat terkejut karena tiba-tiba Sella berlari menuju kamar mandi.


Sella memuntahkan semua isi perutnya hingga tak tersisa, tak cukup sekali dua kali. Hingga hanya air saja yang keluar dari mulutnya. Badannya mendadak lemas, beruntung ada Dimas yang sejak tadi berada di belakangnya.


"Sayang kamu kenapa?" Dimas panik, dia segera mengangkat tubuh Sella dan membawanya kembali ke ranjang.


"Sayang aku panggil dokter ya." Dimas segera beranjak tetapi di tahan oleh Sella, dia menggelengkan kepala.


"Nggak usah kak, cuma masuk angin biasa. Mungkin karena kecapekan kemarin perjalanan jauh. Nanti di buat istirahat juga hilang kak." Dengan suara lirihnya, Sella benar-benar membuat Dimas tak tega.


"Aku buatkan teh hangat dulu ya sayang, kamu tunggu sebentar ya."


Tanpa menunggu jawaban Sella, Dimas ngacir turun ke dapur. Membuatkan secangkir teh hangat dengan irisan jahe di dalamnya.


"Sella sakit mah, Dimas mau buatkan dia teh hangat."


"Sella sakit apa Dimas? kenapa nggak panggil dokter?" tanya mamah yang ikut mencemaskan menantunya.


"Katanya hanya masuk angin biasa mah, Sella nggak mau di panggilkan dokter. Padahal badannya lemas, hampir tadi jatuh di kamar mandi jika Dimas tidak segera menolongnya."


"Kamu apakan dia sampai lemas begitu?" mamah menggelengkan kepala, ntah apa yang mamah pikirkan tetapi cukup kesal dengan anaknya yang tak peka.


"Dimas apakan sich mah, mungkin karena perjalanan jauh juga. Makanya Sella mabuk, tadi pagi setelah sholat subuh dia muntah-muntah mah."


"Muntah? mamah mau lihat Sella sekarang." mamah segera melangkah menuju kamar anaknya, yang segera di susul oleh Dimas.


Sesampainya di kamar, mamah segera masuk tanpa mengetuk pintu. Melihat menantunya yang pucat beliau segera menghampiri. Mengecek suhu tubuh Sella yang normal mambuat beliau semakin penasaran.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang? apa yang di keluhkan?"


"Mamah, pasti kak Dimas ya yang buat mamah sampai panik begini. Sella nggak apa-apa mah, hanya masuk angin biasa aja. Nanti juga sembuh. Memang sedikit pusing dan mual, mungkin efek perjalanan."


Mamah menatap Sella penuh selidik, senyumnya mengembang membuat Dimas yang sudah berdiri di samping istrinya merasa heran.


"Minum dulu sayang!" Dimas memberikan secangkir teh untuk Sella kemudian kembali menatap sang mamah, "mamah kenapa kok orang sakit malah seneng begitu?"


"Kamu memang jadi suami nggak peka! Sella kamu sudah datang bulan belum?" pertanyaan mamah membuat Sella yang sedang menyeruput teh langsung berhenti. Ia mengingat kembali masa periodenya, tangannya menutup mulut dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kamu kenapa sayang? ada yang sakit? mau muntah lagi?"


Sella menggelengkan kepala, mamah yang mengerti segera meminta Dimas untuk membelikan alat tes kehamilan. "Coba kamu ke apotik Dimas, mumpung masih pagi jadi bisa segera di pakai."


"Mau ngapain mah?"


"Beli testpack Dimas, kamu ini nggak mengerti juga!" ucap mamah yang geregetan sendiri melihat anaknya yang benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan mereka sejak tadi.


Dimas tertegun kemudian menatap Sella dengan tatapan penuh tanda tanya. "Sayang, kamu_ tunggu sebentar ya aku mau ke apotik dulu!" Dimas segera menyambar kunci mobil kemudian dengan langkah panjang keluar dari rumah dan pergi ke apotik terdekat. Hingga tak menghiraukan sang papah yang menanyakan keberadaan istrinya.


"Ini anak kenapa lagi sich!"


Sella menatap mamah penuh haru, jika memang benar berarti dia akan kembali memberikan cucu untuk mertuanya.


"Semoga positif ya nak, mamah dan papah pasti sangat bahagia. Rumah ini akan semakin ramai dengan suara anak-anak."


"Mudah-mudahan ya mah," jawabnya. Sebenarnya dia masih tak menyangka jika memang nanti benar adanya. Benar-benar bibit unggul yang Dimas taburkan, baru sebulan saja sudah berkembang.


...****************...


Bibit Dimas emang bukan kaleng-kaleng.


Ayo mana coment nya, Like & vote...

__ADS_1


enaknya di lanjut season 2 apa tamat nich?


__ADS_2