
Sepulangnya dari kantor untuk bertemu client yang kebetulan adalah papah dari Tio, Dimas tampak sedikit gelisah dan kacau. Mendengar kabar yang membuatnya tenang tetapi di sudut hatinya ada rasa penasaran yang menjadi gelisah.
Berulang kali mengucapkan istighfar hingga membuat hati sedikit tenang, sampai malam tiba Dimas pun terbangun dan menjalankan dua rakaat. Ingin bertemu tapi ragu, sedangkan Tio yang ingin ia mintai keterangan dan alamat, seperti tak minat.
Dimas memang harus bersabar dan berulangkali mencoba untuk ikhlas. Kembali beraktivitas untuk membuang rasa yang selama ini masih bersemayam di jiwa.
Bukan tak ingin untuk mencari, tapi tak ingin memaksakan takdir. Dia pasrah kemana arah akan membawanya. Cukup kalem dalam bersikap tak sekeras dulu hingga terisak.
Seiring berjalannya waktu semakin merubah keadaan, kehidupan pun jelas berbeda. Tio yang memiliki janji berkunjung minimal setaun sekali pun sudah empat kali ia tepati. Begitupun dengan kehidupan mereka yang kini semakin membaik.
Sella mampu merawat kedua anak perempuannya dengan baik hingga menjadi anak Solehah dan pintar sesuai impian. Begitupun dengan Dimas yang semakin aktif dalam mengajar berbisnis dan mulai mendirikan beberapa sekolah di Jakarta hingga di kota-kota khusunya pulau Jawa.
Dari mulai TK/Ra hingga madrasah, semakin membuatnya aktif dan tentunya tak lepas dari bimbingan ustadz Maulana.
Sella pun kini sudah menjadi guru di salah satu sekolah di kota Jogja yang berbasis Islam. Berbekal S1 Sella mendapatkan gelar sarjana pendidikan di belakang namanya.
Mengarungi 5 tahun merawat anak, kuliah serta bekerja hingga mampu menjadi guru membuatnya tak lepas bersyukur.
Setiap pagi sebelum berangkat mengajar Sella selalu menyempatkan diri untuk memandikan ke dua anaknya dan menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke sekolah yang kebetulan sudah masuk TK 0 kecil.
Sella tugas mengantar dan bibi atau ayu yang akan menjemput mereka pulang sekolah.
"Bekalnya di habiskan ya sayang, di sekolah nggak boleh nakal oke!"
"Oke bunda, Naira nggak nakal dan akan menjaga Kaira dengan baik." Naira sang kakak memang selalu di titipkan oleh bundanya untuk menjaga Kaira sang adik yang hanya berbeda 5 menit.
"Kai, pakai kerudungnya dulu sayang. Kaka sudah rapi, setelah ini kita berangkat sekolah takut bunda telat nak."
"Iya bunda, Kaira tadi masukin buku gambar dulu, hari ini menggambar tentang ayah tapi aku dan kakak tidak pernah melihat ayah, terus bagaimana bisa menggambarnya bunda?"
deg
Ini yang selalu membuat Sella merasa bersalah dan sedih, saat kedua anaknya yang mulai tumbuh besar seiring berjalannya waktu menanyakan sosok ayah yang selalu mereka tunggu kedatangannya.
"Kalian bisa menggambar Daddy, Daddy pasti sangat senang jika kalian mau menggambar dirinya, apa lagi nanti di dalam gambar itu ada gambar kalian juga. Setelah di nilai nanti kita Vidio call Daddy untuk menunjukkan hasilnya."
Naira mendekati bunda yang sedang memakaikan kerudung pada Kaira.
"Bunda, memang bagaimana wajah ayah? apa bunda ada fotonya?"
Sella bingung harus menjawab apa, sedangkan sejak pertama dekat dengan Dimas sampai ia pergi dari rumah tak ada sama sekali momen yang menghiasi galeri ponselnya.
"Nanti biar bunda cari dulu ya sayang, untuk hari ini anak bunda bisa menggambar wajah Daddy," ucap Sella lembut, berharap kedua putrinya mengerti.
"Memang ayah kerjanya jauh ya bunda, kenapa nggak pulang-pulang? apa ayah nggak kangen sama kita bunda?" tanya Naira dengan wajah sendu.
"Anak-anak Sholehah, sayangnya bunda nggak boleh sedih. Ayah pasti pulang, tapi untuk saat ini ayah masih banyak pekerjaan yang belum selesai." Sella memeluk dan mengusap punggung kedua anaknya, ini cara ampuh untuk membuat mereka tenang.
__ADS_1
Setelah melalui drama yang menguras hati dan hampir ingin menangis, kini Sella berangkat mengantar kedua anaknya dengan menggunakan motor matic yang ia beli hasil dari mengajar selama satu tahun.
"Sudah salim bibi dan kak Ayu sayang?" tanya Sella yang sudah duduk di atas motor maticnya.
"Sudah bunda," jawab Naira dan Kaira berbarengan kemudian Kaira duduk di depan sedangkan Naira duduk di belakang punggung Sella.
"Pegangan Nai!"
"Iya bunda," kemudian tangan kecil Naira memeluk perut Sella dengan rapat.
Sesampainya di TK tempat kedua putrinya bersekolah Sella menyempatkan diri untuk menitipkan kedua putrinya dengan Bu guru yang mengajar dan lanjut berangkat ke Madrasah Aliyah negeri tempatnya bekerja.
"Selamat pagi Bu Sella," sapa Pak Indra selaku guru fikih yang sudah lama menyukai Sella tetapi hanya sebatas menyapa karena Sella cukup sulit untuk di dapat.
"Pagi pak Indra, baru sampai juga?" tanya Sella yang baru saja memarkirkan motornya.
"Iya Bu, mari bareng ke ruang guru Bu."
"Oh iya pak, mari....."
Sella terkenal guru tercantik dan termuda di sana, berstatus belum kawin sesuai KTP dan belum banyak yang tau juga jika Sella telah memiliki dua orang buah hati.
"Pagi Bu Sella," sapa para murid yang ia lewati, dengan senyum ramah dan manisnya Sella mampu membuat siapa saja yang melihat ikut menghangat.
"Masya Allah cantiknya Bu Sella, mau nunggu gue sampe tamat nggak ya."
"Iya bener banget, astaghfirullah mata gue....."
"Ampun nich mata maksiat terus maunya."
Saat ini Naira dan Kaira menggambar dengan gambar yang sama, gambar Daddy yang sedang bergandengan tangan dengan mereka.
Bu guru tersenyum saat keduanya mengumpulkan tugas, sedangkan murid yang lain tentunya dengan mudah menggambar kebersamaan dengan ayah mereka walaupun gambar mereka tak sebagus Naira dan Kaira. Kemudian segera keluar kelas karena jam istirahat tiba.
"Kaira kamu gambar siapa?" tanya salah satu teman Kaira dan Naira.
"Iya Kai, kalian berdua kan nggak punya ayah!"
"Aku punya ayah, tapi kata bunda hari ini aku di suruh gambar Daddy." Kaira menjawab dengan polos, sedangkan Naira masih diam tak menanggapi.
"Kenapa Daddy? memang dia ayah kandungmu?"
"Iya betul banget, kalian itu nggak punya ayah makanya nggak tau wajah ayah kalian kan!"
Kaira sudah tak mampu menahan air matanya sedangkan Naira segera berdiri menghadap kedua temannya yang sejak tadi membuat kesal.
"Siapa bilang aku dan Kai tidak punya ayah, ayahku akan pulang sebentar lagi, nanti kalo ayahku pulang akan aku tunjukkan pada kalian!
__ADS_1
"Kalau ada ayah, sudah pasti tau wajahnya, lagian aku nggak pernah lihat kalian diantar ayah kalian. Sudah lah Nai, jika tidak punya ya jangan mengaku punya."
"Akan aku buktikan kalo aku punya ayah, sama seperti kalian!" seru Naira yang tidak terima dengan menahan air mata yang sudah menggenang.
Naira segera mengajak Kaira keluar dari kelas dengan membawa bekal yang tadi di siapkan oleh bundanya.
"Sudah jangan menangis, ayo makan! nanti kita tanya lagi sama bunda kapan ayah datang."
"Tapi bagaimana jika memang benar kita nggak punya ayah kak?" tanya Kaira di sela-sela tangisnya.
"Yang lain aja punya masak kita nggak..."
Setelah menghabiskan makan kini keduanya bermain dengan yang lain, Naira bermain kejar-kejaran dengan temannya sedangkan Kaira lebih asyik bermain ayunan.
Brugh
"Aduh...sakit, bunda hiks...."
"Kakak!" Kaira yang melihat kakaknya terjatuh lekas berlari mendekat.
Naira merasakan sakit di kakinya dan mungkin masih terkejut hingga membuatnya terus menangis.
"Ada apa cantik, kenapa menangis?"
"Sakit om, kaki Naira terkena batu itu."
"Coba sini bapak lihat! oh ini hanya lecet nanti pasti sembuh. Bismillah...Anak cantik tidak boleh menangis, nanti cantiknya bisa luntur oleh air mata yang jatuh."
"Kakak kenapa?"
"Sakit dek, kakak jatuh.."
"Kalian kembar?" tanya orang itu yang cukup terkejut karena melihat anak yang sama persis mendekati.
"Naira Kaira kenapa nak?" tanya Bu guru yang segera mendekat setelah mendengar anak muridnya ada yang menangis.
"Eh...maaf Pak, apa anak didik saya merepotkan bapak?"
"Oh tidak bu, biasa anak-anak menangis. Mereka cantik-cantik dan Sholehah, saya cukup terkejut juga tadi melihatnya."
"Iya pak, mereka lahir dari ibu yang cantik dan juga Sholehah tentunya. Maaf pak jika kunjungan hari ini ada yang kurang berkesan." Bu guru sedikit menundukkan kepala.
"Oh tidak bu, saya sangat berkesan apa lagi sekolah ini terawat dengan baik, dan ditambah melihat putra putri yang lucu-lucu seperti mereka. Dan ini si kembar yang buat saya langsung jatuh hati, siapa nama kalian?"
"Naira om...eh pak."
"Dan aku Kaira pak."
__ADS_1
"Kalau begitu kami permisi dulu untuk melanjutkan pelajaran ya pak." pamit bu guru kemudian segera mengajak keduanya untuk masuk ke dalam kelas.
"Baik Bu, silahkan...."