Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Semakin Panas


__ADS_3

"Kakak butuh kamu sayang!"


Didalam genggaman Dimas Sella terus melenguh dan mengerang, perlakuan Dimas yang begitu lembut membuatnya seakan terbang ke nirwana. Sella yang dari awal menolak justru saat Ini seakan lebih menurut dan menerima.


Sentuhan yang Dimas berikan membuat akal sehatnya seakan pergi ntah kemana membiarkan Sella dengan rasa yang tak biasa mulai merintih kenikmatan.


Dimas pandai dalam memainkan perannya, lidah yang sejak tadi menyesap benda kecil yang sangat menggoda membuatnya betah tanpa kata sudah.


"Kak..."


Suara itu justru membuat Dimas lebih bergelora, tangannya mulai menyelinap masuk kedalam lembah surgawi yang begitu hangat membuat Sella memekik merasakan getaran aneh menyetrum tubuhnya. Ini bukan hal pertama bagi Sella karena Dimas juga pernah melakukan ini sebelumnya tetapi karena di posisi dan ruangan yang berbeda serta tempo yang begitu tertata membuat Sella semakin melenguh pasrah.


"Basah sayang!" lirih Dimas di sela-sela kegiatannya, tanpa menjawab Sella justru mencengkeram rambut Dimas dan menekannya di da.da.


"Akh ...... kak!" erangan Sella mampu memenuhi ruangan tersebut.


Sama halnya dengan kamar hotel yang di singgahi dua orang yang sedang di mabuk kenik.matan surga dunia. Suara indah Rika mulai memenuhi hotel VIP yang dia pesan sesampainya di sana.


Tanpa menghiraukan lelah yang mendera akibat perjalanan yang tak membutuhkan waktu sebentar, Rika dan Roy yang sudah tampak tak sabar sudah mulai bergulat dengan peluh yang membasahi keduanya.


Sprei yang mulai tak berbentuk kini menjadi saksi peluh yang bercampur dengan suara erangan dan lenguhan yang terus terdengar tak terhenti.


"Oh sungguh nikmat sayang, rasanya lelah perjalanan terbayarkan dengan ini!" lirih Rika saat mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Roy yang sejak tadi bergerak di atasnya dengan semangat menghujam singgasana kenikmatan yang tiada tara.


Tangan Rika menyentuh pinggul Roy yang bergerak teratur, menginginkan Roy lebih menunjukkan lagi aksinya.


"Percepat sayang, lebih dalam lagi sampai aku tak kuasa menahannya Roy!"


"Yes baby.....lebih lebar lagi sayang, aku akan bergerak lincah hingga kamu berteriak bahagia," ucap Roy membuat Rika melebarkan lagi kakinya untuk memudahkan Roy bergerak menembus cakrawala.


"Ough kamu sungguh luar biasa sayang ini, membuatku tambah gila," Roy mulai meracau mereka bahkan saling membalas kata-kata frontal yang semakin membangkitkan gairah.


"Ayo baby pindah tempat sepertinya lebih asik," Roy mengangkat tubuh Rika tanpa melepas senjata yang masih menancap di bawah sana, kaki Rika yang membelit pinggang Roy membuat Roy lebih mudah dalam melangkah mencari spot untuk melanjutkan aksi mereka.


Tangan Roy membuka tirai yang langsung menembus pemandangan indah dan membuka pintu balkon hotel yang menyuguhkan keindahan dengan kolam renang yang luas langsung berhadapan dengan langit yang cerah.


Roy mendaratkan bokongnya pada kursi di pinggir kolam renang private yang terbuka, memberikan akses untuk Rika bergerak lebih liar lagi di bawah langit senja dengan angin yang menyejukkan.


Wanita itu bergerak naik turun dengan teratur membuat Roy semakin mencengkeram pinggulnya membantu gerakan agar sempurna tanpa jeda. Jeritan kecil dari Rika membuat suasana semakin tak terkendali, memberi fantasi liar yang memacu naluri ingin terus bergerak sampai menembus puncak kenikmatan.

__ADS_1


Kedua bukit yang sejak tadi ikut menari tak luput dari serangan Roy yang langsung melahap habis hingga wajahnya terbenam tak terlihat.


"Akh sayang ini enak banget, kamu semakin lincah baby, lebih dalam lagi aku bantu sayang itu akan membuat kamu semakin menggila," ucap Roy dengan wajah berkabut gairah.


Hingga suara erangan dan lenguhan berubah menjadi teriakan panjang keduanya saat sama-sama mampu mencapai tujuan.


"Sayaaannggggg.........."


Sama halnya dengan mereka kini Dimas pun di bakar gelora yang telah membumbung tinggi hingga membuat Sella menggeliat mendapatkan serangan di bagian intinya hingga tak mampu menolak.


Dimas pandai bermain disana membuat sella yang sudah mendapatkan pelepasan pertama kini kembali di buat tak menentu arah nikmatnya.


Seragam putih Sella yang sudah ntah kemana beserta bra yang sudah tak terlihat kini Dimas merebahkan Sella di sofa dan membuka kemejanya hingga menampakkan pemandangan yang membuat sella menelan ludahnya.


Tubuh gagah itu kembali mendatangi Sella dengan wajah berkabut mulai menurunkan resleting celana kerjanya.


"Kak mau apa?" tanya Sella ketika Dimas sudah menanggalkan semua bajunya menyisakan kain segitiga yang juga hendak ia lepas.


"Tidak akan menembus batas pertahananmu sayang, kita hanya sama-sama memberi sentuhan yang mengasikkan, bantu kakak ya sayang!" ucap Dimas lembut dengan suara yang tertahan.


Sella melebarkan matanya saat melihat milik Dimas yang sudah gagah berdiri menantang membuat muka Sella semakin memerah dan membuang muka tak ingin melihat.


Dimas tersenyum tipis melihat ekspresi dari Sella hingga kini dia sudah mengukung dan menindih Sella.


Suasana ruangan semakin panas, beruntung ruang kerja Dimas kedap suara, bahkan ini hal gila pertama yang Dimas lakukan di kantor.


Bergerak mengimbangi setiap sentuhan yang Dimas berikan membuat Sella lebih terlihat menantang bagi dimas hingga rasanya sesuatu akan keluar deras di bawah sana.


"Terus sayang bantu kakak, sebentar lagi kakak sampai!"


Keduanya hanyut dengan pergerakan lembut tetapi membuat peluh semakin bersambut. Hingga Sella sudah tak mampu lagi bergoyang saat di rasa tubuhnya ingin kembali bergetar hebat.


"Kak......."


"Ya sayang kakak sampai aakkkhhh Sella....."


Dimas jatuh menindih tubuh Sella dengan nafas tersengal dan membiarkan cairan keduanya kini membasahi dan menempel di tubuh mereka.


"Makasih sayang!"

__ADS_1


Sella tak menjawab ucapan Dimas, dia masih berusaha menguasai diri setelah sama-sama polos dan bermain mencari kepuasan.


cup


Dimas mencium bibir Sella, dia mengangkat sedikit tubuhnya dan mengamati wajah Sella yang begitu merah.


"Kamu memberi warna di hidupku sayang!" bisik dimas "bahkan aku belum pernah merasakan sebahagia ini, jangan takut sayang ini aman, kakak nggak melebihi batas, kamu masih utuh dek."


"Ayo kakak bantu membersihkan ca.iran ci.nta kita..." Dimas mengangkat tubuh Sella menuju toilet, Sella yang sudah kepalang malu membiarkan Dimas sesuka hati melakukan apapun padanya.


"Lengket ya sayang? mandi ya biar kakak bantu membersihkan!" ucap Dimas saat sudah sampai di kamar mandi dan di angguki oleh Sella.


"Kamu se.xy!" bisik Dimas saat tangannya bergerak menyabuni Sella yang sejak tadi hanya diam membuang muka, dia masih teramat malu tapi badannya yang terasa lemas tak mampu memberontak. Dua kali pelepasan membuat Sella seakan ingin diam dan tidur tanpa melakukan pergerakan tapi mengingat ini masih di kantor Dimas dan mereka harus pulang jadi lebih baik pasrah dengan Dimas.


"Kita pulang?" tanya Dimas saat sudah rapi kembali dengan seragam kantornya begitupun dengan Sella.


"Aus kak!" rengek Sella yang membuat Dimas gemas dan menciumi pucuk kepala gadis berseragam SMA itu.


Dimas melangkah menuju meja kerja hendak menelpon Doni meminta petugas pantry membawakan minum dan membawa alat kebersihan ke ruangannya.


Setelah menghubungi asisten sekaligus sahabatnya tak lama pintu di ketuk dari luar, Dimas segera melangkah membuka pintu meninggalkan Sella yang sejak tadi hanyut dalam dunia medsos yang awalnya hanya menutupi rasa risih dan malah berlanjut asik.


"Wow....abis terjadi gunung meletus yang menimbulkan guncangan dan lelehan larva dimana-mana?" Doni terkejut saat masuk dan melihat kursi sofa yang sudah tak beraturan serta cai.ran ci.nta yang telah tumpah ruah.


Dimas yang mendengar ocehan Doni hanya cuek lalu duduk di sisi sofa singel yang Sella duduki dengan membelai rambut Sella dengan sayang dan sesekali meninggalkan jejak di kening Sella. Membuat Doni yang melihatnya menggelengkan kepala.


"Mas tolong rapikan dan bersihkan kekacauan ini ya! nanti saya kasih lebih buat beli kopi di Starbuck," ucap Doni memerintah petugas kebersihan yang datang membawa minuman pesanan Dimas dan alat kebersihan.


Sella yang melihat itu di buat semakin malu dan ingin rasanya segera pulang meninggalkan Dimas disana. Melihat Sella yang nampak gelisah membuat Dimas paham dan mengajaknya segera pulang.


"Minum dulu sayang, tadi katanya haus setelah ini kita pulang ya!" Dimas mengambilkan minum untuk Sella dan tidak lama gelas itu sudah kosong tak berisi.


"Haus banget Sell? Dimas keterlaluan ya?"


Mendengar pertanyaan Doni membuat Sella hampir saja tersedak kemudian menundukkan kepala, dia seketika di buat takut jika Doni akan melaporkannya pada Rika.


"Kak....." lirih Sella menatap dimas yang sedang menghabiskan minumnya, Dimas yang mengerti kemudian menjelaskan pada Sella.


"Doni sudah tau hubungan kita dan jangan khawatir jika dia akan membocorkan pada Rika, karena jika itu terjadi surat pemecatan sudah menanti!" mata Dimas menatap tajam Doni yang hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Gue balik, kalo udah kelar loe buru balik sana! diem-diem nahan kan loe!"


"Bang.ke!" umpat Doni melihat Dimas yang sudah keluar dari ruangannya.


__ADS_2