
Keesokkan harinya dengan berat hati Dimas mengantar kedua putrinya ke sekolah. Karena akan lama tak bertemu dengan kedua putri cantiknya lagi.
"Kalian jangan nakal ya sayang, jagain bunda ya."
"Iya ayah, tapi apa ayah akan lama?" tanya Kaira dengan wajah sendu, begitupun dengan Naira yang sejak tadi memilih diam.
"Sayang, ayah harus bekerja. Tapi nanti ayah usahakan untuk segera kembali kesini lagi setelah pekerjaan ayah selesai ya. Kak Naira jagain bunda dan adik ya. Anak ayah yang Sholehah, pintar, ayah sayang kalian." Dimas mencium kedua pipi putrinya.
Kemudian mengantar mereka masuk ke dalam dan menitipkan kepada guru yang mengajar mereka. Setelah memastikan kedua putrinya aman, Dimas lanjut mengantar Sella bekerja.
"Ngajar dimana sayang?"
"Madrasah Aliyah kak, nanti pas lampu merah ke kanan terus maju dikit."
"Apa namanya?"
"Madrasah Aliyah Qotrunnada Wijaya. Kakak udah tau tempatnya?"
"Oh belum, ikuti petunjuk dari kamu aja ya..." ucap Dimas dan di angguki oleh Sella.
Sesampainya di sana Sella segera pamit dengan Dimas, mencium tangan suaminya kemudian memeluk tubuh pria yang seminggu ini selalu memberi kehangatan untuknya.
"Jaga mata jaga hati ya kak!"
"Iya sayang, kamu juga ya..."
"Kalo gitu aku turun ya, kakak hati-hati di jalan. Kalo sudah sampai segera kabari aku," Sella tampak menahan air mata. Ntah, terasa berat jika sudah kembali bersama tetapi harus terpisah dengan jarak.
"Iya sayang, coba ganti dulu panggilannya ke aku, jangan kakak. aku mau denger sayang..."
Sella tersenyum malu, "Iya sayang.."
cup
"Aku suka di panggil sayang, tunggu aku ya. aku nggak akan buat kamu berat menahan rindu. Cukup dylan aja, kita jangan...nggak akan kuat..."
"Apa sich kak, ya udah aku masuk dulu ya.... assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam.." Dimas tersenyum saat Sella masuk ke dalam dengan senyum ramah ketika banyak murid yang menyapa. Dan beberapa para guru pun dengan ramah menyapa Sella, tetapi mata Dimas seketika menajam saat ada salah satu guru yang sudah menunggu kedatangan Sella. Dia dengan sengaja mendekati Sella dan melangkah bersama menuju ruang guru.
Pemandangan itu jelas mengusik hati Dimas, dia menyalakan kembali mobilnya saat melihat Sella sudah tak terlihat. Dimas pergi dengan perasaan sedikit tak karuan. "Begini punya bini cantik, ada aja yang buat gelisah di hati."
Dimas segera kembali ke Jakarta, banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan karena Minggu depan jadwalnya sangat-sangat sibuk.
Sella mengajar seperti biasa dan Pak Indra pun semakin gencar mencoba untuk mendekat. Guru di sana memang belum ada yang tau jika Sella sudah menikah, Sella pun tak berniat memberi tau karena tak ingin menjadi mendadak heboh. Apa lagi pernikahan itu dilaksanakan dadakan dan tidak memberi undangan.
Hari-hari Sella lalui seperti biasa sebelum dia menikah, bedanya sekarang sudah ada yang menanyakan kabar setiap harinya. Ada yang merindukan dirinya dan ada yang rewel setiap malam.
"Bu Sella motornya kenapa?" tanya pak Indra yang berhenti di pinggir pagar karena melihat Sella yang sedang berusaha menyalakan motornya tetapi tak bisa.
__ADS_1
"Eh pak, ini tiba-tiba mati. Nggak tau kenapa, mana bengkel disini agak jauh lagi ya.."
"Bagaimana jika saya antar ibu pulang? biar nanti saya minta Pak Bagio scurity untuk membawa motor ibu ke bengkel."
"Eh nggak usah pak, saya nggak mau merepotkan. Biar saya nunggu angkot aja di sini." Sella jelas menolak apa lagi harus membonceng motor. Dia sadar akan status dan tak ingin jadi fitnah.
"Tapi sebentar lagi hujan Bu, langitnya sudah gelap. Biar saya antar nanti tas saya di belakang sebagai penyekat agar tidak menempel." Pak Indra walaupun berusaha mendekati Sella, tapi masih menjaga adab. Apa lagi mereka bukan muhrim, jelas harus menjaga jarak.
Sella berpikir sejenak, melihat jalanan yang mulai jarang angkot lewat. Di tambah lagi sejak tadi petir sudah mulai terdengar.
"Ya sudah dech pak, saya ikut bapak. Tapi maaf sebelumnya jika merepotkan ya pak." Sella segera naik ke atas motor Pak Indra, duduk miring dengan sekat tas karena hari ini Sella menggunakan rok panjang.
Sepanjang jalan ponsel Sella terus berdering tetapi tak kunjung di angkat olehnya karena dia tak ingin Dimas salah paham. Namun hati Sella sedikit lega saat sudah sampai di depan rumah bibi.
"Makasih banyak ya pak sudah mengantarkan saya. Sekali lagi maaf jika merepotkan."
"Iya nggak apa-apa Bu Sella, tiap hari juga kalo di ijinkan saya nggak keberatan."
Sella tersenyum tipis, merasa risih tapi jika untuk mengusirpun tak enak hati. Karena sudah baik mengantar sampai di rumah.
"Mbak, ada telpon dari mas Dimas." Ayu yang sejak tadi juga mendapatkan telpon dari Dimas merasa tak enak jika mengabaikan. Kebetulan sekali Sella sudah sampai di rumah.
"Oh iya....."
Sella melirik ke arah pak Indra, "kenapa nggak pulang-pulang to, bakal jadi masalah ini."
"Assalamualaikum kak..."
"Iya tadi lagi di jalan kak."
"Pulang sama siapa?"
"Pulang....."
"Bu Sella, kalo gitu saya pulang dulu ya. Besok pagi jika tidak ada yang mengantar bisa hubungi saya. Dengan senang hati saya akan menjemput ibu dan anak-anak."
"Oh iya pak Indra terima kasih banyak atas tumpangannya," dalam hati Sella tak tenang, jelas Dimas pasti mendengar perbincangan mereka.
"Assalamualaikum Bu sella."
"Wa'allaikumsalam .."
"Siapa?"
"Oh itu pak Indra kak, dia mengantarku pulang karena motorku tadi tiba-tiba mati." Sella masuk ke dalam rumah dan melangkah menuju kamar setelah melirik kedua putrinya yang belum bangun tidur siang.
"Kamu buat aku nggak tenang dek, cepat urus surat resign dan pindah ke Jakarta. Aku gelisah jika kamu terus saja di dekati pria."
"Tapi kan harus menunggu guru pengganti dulu kak, jadi sabar ya..."
__ADS_1
"Kamu buat aku gelisah sayang, sedangkan aku masih banyak kerjaan dan belum bisa kesana.
"Tapi kan aku nggak nakal sayang. Suamiku, aku cuma cinta sama kamu." Wajah Sella sudah memerah, tak ada jalan selain merayu Dimas jika sudah mode ngambek dan kesel seperti ini.
"Kamu ngerayu aku?"
"Nggak cuma merayu, bahkan kalo Kakak datang nanti aku kasih bonus dobel-dobel," lirih Sella ragu. Kalo tidak kepepet dia tidak akan berucap demikian apa lagi Dimas yang sudah seminggu lebih tak mendapat asupan, sudah di pastikan acara malam bisa berlanjut sampai pagi. Dan apa kuat jika akan dobel-dobel.....
"Istri aku mulai nakal ya, pokoknya kalo ketemu nggak ada ampun buat kamu sayang!"
"I...iya kak...."
Selama tiga hari Dimas tak ada kabar sama sekali, setelah ngambek karena di antar oleh pak Indra dan berakhir menjanjikan Dimas untuk memberi jatah dobel. Kini nomornya sulit di hubungi. Hingga membuat kedua putrinya rewel merindukan sang ayah.
" Ayah kemana sich bunda?"
"Iya bunda, Kaira kangen ayah. Biasanya ayah telpon bunda kalo malem, tapi ini kok sampai pagi nggak ada kabar."
"Sabar ya nak, ayah itu kerja. Jangan ngambek ya sayangnya bunda...." Sella mendekap tubuh kedua putrinya.
"Sekarang kita sekolah dulu ya, nanti pulang sekolah bunda coba telpon ayah lagi." Sella terus membujuk kedua putrinya. Cukup khawatir juga dengan suaminya, tapi rasa kesal tentu ada karena nggak biasanya Dimas sampai lost contacts seperti ini.
Setelah mengantarkan anaknya sekolah, Sella segera meluncur untuk mengajar. Hari ini kegiatannya cukup santai. Setelah mengajar di kelas XII, Sella berbincang dengan guru matematika yang kebetulan juga sedang tidak ada jadwal.
Tetapi tiba-tiba ada yang memanggil Sella dari arah pintu masuk ruang guru.
"Bu Sella ada yang manggil tuh!"
Sella segera berbalik, di jam yang sudah menjelang istirahat itu menjadi momen untuk pak Indra yang sebelumnya sudah meminta ijin pada kepala sekolah dan guru lainnya untuk mengungkapkan isi hatinya.
Beliau berniat untuk melamar Sella setelah merasa kedekatan keduanya akhir-akhir ini yang membuatnya semakin yakin.
Mata Sella membola saat pak Indra terus mendekati dengan membawa bunga lalu bersimpuh di depan Sella yang sudah berdiri dengan wajah heran. Dia tak menyangka pak Indra akan melakukan ini.
"Bu Sella, mungkin ibu terkejut dengan aksi saya ini. Tapi ini adalah wujud dari keseriusan saya. Saya mencintai Bu Sella sejak pertama Bu Sella mengajar di sini. Dalam kesempatan ini saya Indra Nugraha ingin melamarmu dan menjadikan kamu istriku satu-satunya yang aku cintai." Kemudian pak Indra mengeluarkan kotak yang berisi cincin emas.
Suara dari semua guru yang sudah berkumpul seketika riuh apa lagi ada anak murid juga yang tak sengaja melintas dan ikut berkumpul membuat Sella semakin risih.
"Mau kah Bu Sella menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak saya?"
"Terima Bu...."
"Ayo Bu Sella terima aja..."
"Terima....Terima....terima..."
Sella menunduk memijat pelipisnya, di saat seperti ini yang membuat Sella sulit menjawab karena begitu banyak yang menyaksikan. Hal itu membuat Sella tak tega jika harus menolak dan membuat pak Indra malu, sedangkan menerimanya pun tak mungkin. Sella benar-benar bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana Bu Sella?" tanya pak Indra yang sudah penasaran akan jawaban Sella.
__ADS_1
"Mmmm.......saya..."
"Ada apa ini?"