
Malam ini menjadi malam penyatuan di luar rencana, berusaha menjauh tetapi justru di buat tak terkendali karena obat perangsang yang ntah tadi di berikan di makanan atau di minumannya.
Dimas seperti kerasukan, dia terus menyerang hingga lawan kewalahan. Nafasnya memburu menyusuri tubuh indah yang ada di hadapannya hingga terbuai membuat pusaka yang sejak tadi berdiri semakin gagah dan kokoh.
Dimas terus menggiring lawan hingga tubuhnya ambruk di atas ranjang, bergerilya menyusuri hingga pakaian itu terhempas jatuh ntah kemana. Dirinya yang sudah tak kuat menahan hasrat membuka lebar kedua paha hingga lembah yang ia rindukan terpampang nyata. Hentakan demi hentakan ia gerakan hingga tak kuasa menahan gejolak.
Erangan serta lenguhan memenuhi kamar walaupun sedikit tertahan. Akal sehat sudah terkalahkan dengan gairaah. Pinggul Dimas terus bergerak menembus kenikmatan yang begitu di dambakan.
Mulut serta tangannya pun tak bisa diam, terus menyerang dua pegunungan yang kian menantang, dengan menghisap kuat hingga lawan tak tahan.
Sebelah tangannya terus mengolah gunung yang tampak diam menunggu, Dimas tak membiarkan semua terlewatkan. Hingga bercak merah sudah memenuhi seluruh tubuh mulus yang begitu putih menggoda.
Dimas menguasai Medan pertempuran, dia tak membiarkan kendalinya tergantikan karena selain dia yang ingin terpu*askan dia juga tak ingin membuat kecewa. Sama-sama bertukar peluh di atas ranjang yang telah basah karena hawa panas yang membuat keringat begitu deras.
"Ugh .....enak sayang!"
Dimas terus bergerak tak henti membuat sang wanita menjerit bergetar mengeluarkan sesuatu yang seakan menyiksa hingga terasa begitu mengesankan.
Sudah banyak gaya yang ia lakukan tetapi tak menyurutkan sang pedang menyembur dan kelelahan, justru semakin dia bergerak menyambut nikmat semakin si pedang berdiri tegap.
Tanpa lelah ia mereguk nikmat, hingga kini sudah kedua kalinya Dimas melakukannya. Dimas sudah membawa sang wanita bermain lincah di kamar mandi, dengan guyuran shower dia terus memompa, memaju mundurkan pinggulnya.
Air shower membasahi tubuh keduanya, menjadi saksi keganasan Dimas yang tak seperti biasanya. Dimas pun tak tau kenapa begitu dia terus menginginkan sampai tak mampu mengendalikan. Ntah obat macam apa yang di berikan membuatnya menggila.
"Sebentar lagi sayang ini sungguh memabukkan...."
Dimas kembali berganti posisi, membawanya duduk di atas wastafel dan kembali pedangnya sudah tak sabar menghujam hingga berulang kali membuat sang wanita menjerit kenikmatan.
__ADS_1
"Maaf sayang membuatmu kelelahan, aku harap kamu suka...."
Hingga tiga jam Dimas terus beraksi membuat sang wanita sudah tak sanggup lagi berdiri. Hujaman terakhir ia layangkan dengan menekan hingga kedalam singgasana dan memuntahkan bisa yang begitu banyak di dalam sana.
"Aaakkkkkkkhhhhh..........." keduanya menjerit dengan posisi Dimas yang sudah menopang tubuh wanitanya yang sejak tadi di buat tak berdaya.
"Makasih......"
Setelah membersihkan diri kini Dimas merebahkan tubuh yang penuh dengan tanda merah di sekujur tubuhnya, menarik selimut dan dia ikut tertidur di sampingnya.
Dimas sudah tak berpikir bagaimana hari esok, tubuhnya lelah dan butuh istirahat. Kini keduanya terlelap dalam satu lembar selimut yang sama, mengistirahatkan diri dari pertarungan sengit yang membuat meringis.
Dia lupa jika esok adalah sidang pertamanya, dia lupa akan posisinya dan dia lupa akan statusnya. Yang Dimas ingat malam ini ia butuh pelepasan, karena terlalu berat menahan.
Obat itu begitu hebat, padahal sebelum dia memutuskan untuk mendatangi kamar ini, dia sudah menuntaskan dengan lima jarinya. Bahkan itu ia lakukan hingga dua kali semburan tapi tak kunjung menyurutkan gelora yang ada di tubuhnya.
Entah esok harus menyesal atau harus bersikap bagaimana nyatanya memang dia membutuhkan. Dia sudah pasrah jika esok akan mendapat amukan, dia sudah pasrah jika orang yang ia cintai kecewa, dia sudah pasrah jika esok sang Papah murka.
Di dalam apartemen, Roy berulang kali menghubungi Rika tapi tak kunjung ada jawaban. Hingga sudah menghabiskan tiga bungkus rokok dan beberapa botol minuman yang ia tenggak sejak tadi.
" Apakah kamu berhasil Rika, aku menunggu kabar darimu, aku pasrah jika memang kamu berhasil menjeratnya, aku pasrah jika terus kamu jadikan selir di ranjang kedua."
"Aku memang bodoh, nyatanya memang cinta membuatku bodoh...."
Roy kembali meminum air beralkohol yang memabukkan. Jika hanya hasrat mungkin Roy lebih memilih untuk pergi ke klub malam dan bermain dengan wanita lain. Tetapi nyatanya memang setelah kembali dengan Rika belum pernah Roy menyentuh wanita manapun.
"Aku merindukanmu sayang, apakah saat ini kamu sudah puas atau bahkan kalian masih saling bercumbu mesra..."
__ADS_1
Seonggok daging yang bernama hati begitu terasa perih, itupun yang dirasakan oleh Tio saat ini, melihat perlakuan Dimas pada Sella tadi di sekolah jelas membuatnya gelisah. Apa lagi pancaran mata Sella yang tersirat akan kecemburuan membuat Tio paham akan hati keduanya.
Dibalik sikap cuek dan mengesalkan nyatanya hati berpusat hanya pada satu wanita. Dia akan mengikhlaskan Sella dengan yang lain dari pada harus dengan Kakak iparnya sendiri. Di teras balkon kamarnya Tio sedang memandang wajah ayu yang selama ini menghiasi dompet dan hatinya. Dia bahkan bersedia jika Sella membutuhkan dirinya apapun kondisi Sella nanti.
" Gue akan nunggu loe Sell, gue tau cinta loe tertuju pada kak Dimas tapi jika gue mau egois gue nggak ikhlas loe sama pria itu. Kenapa nggak pernah loe mau menoleh ke gue, rasa ini bahkan udah lama tumbuh sebelum orang tua loe nitipin loe sama gue."
" Gue cinta sama loe Sell, gue harap suatu saat loe tau jika rasa ini nyata.."
Tio tersenyum getir, hanya menunggu keajaiban untuknya bersama Sella ,tapi yang terpenting saat ini dia akan terus melindungi wanita itu, walaupun rasanya tak berbalas.
Tak ada kedekatan dua insan yang berbeda jenis tanpa menimbulkan sesuatu diantara keduanya. Jika memang tidak dapat di simpulkan jika lisannya berdusta. Tapi tak selamanya cinta itu berujung Indah, tak selamanya cinta itu menyisakan bahagia dan tak selamanya cinta itu meninggal senyum dan tawa.
Nyatanya cinta menyakitkan kedua pria itu, mereka harus merasakan hati yang tak bersambut, diam padahal hati tak tenang, kuat padahal hati tak siap, hingga di saat sendiri keduanya mampu meneteskan air mata.
Kini pagi sudah menjelang, kedua insan yang masih bergelung di bawah selimut masih tampak nyenyak dan nyaman. Mereka masih sangat kelelahan, membutuhkan tenaga untuk menyambut resiko yang akan datang , hingga suara ketukan yang tak biasa terus berbunyi mengusik keduanya.
"Dimas......"
...****************...
Ini si Dimas masuk ke kamar siapa lagi...🤔🤔
Ayo donk enaknya masuk ke kamar Sella apa Rika?
Othor bengek nich, bikin yang hot di judul "Terjerat Cinta Gadis Malam"
jadi yang ini slow dulu ya...karena masih menunggu dukungan kalian mau milih Rika apa Sella....😱😱😱
__ADS_1