Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Cupu Jadi Suhu


__ADS_3

Setelah makan malam Dimas menikmati waktu berdua dengan sang istri yang sudah duduk di sofa panjang dengan Sella yang bersandar di dada Dimas. Sungguh bahagia hati Dimas, dia tak menyangka jika akan ada momen seperti ini berdua dengan Sella.


"Sayang, aku nggak menyangka kita bisa seperti ini. Kembali bersama seperti dulu lagi tapi dalam versi halal. Sulit melalui semua tanpa kamu sayang..." Dimas mengusap lembut Surai hitam milik istrinya. Sesekali merusuh hingga membuat Sella kegelian.


"Maaf ya kak, kalo aku dulu harus pergi dari hidup Kakak. Apa lagi harus menutupi tentang anak kita, aku pun sulit tanpa kakak. Sangat sulit, tapi hati aku dulu belum siap menghadapi kakak dan masa lalu kita."


"Semua benar-benar ada hikmahnya sayang dan aku pun bisa seperti sekarang karena adanya perpisahan kita. Ditambah kata-kata kamu sebelum benar-benar meninggalkan aku, tentang takdir yang akan menyatukan kita. Alhamdulillah itu benar-benar terjadi, kalo tidak mungkin aku akan menduda selalu."


"Apa Kakak nggak mikirin diri kakak? aku pikir kakak justru sudah bahagia dengan yang lain. Kakak nggak ingin menikah memangnya?"


"Sangat ingin, tapi dengan wanita lain aku merasa semua biasa saja tak ada getaran sedikitpun. Berbeda jika denganmu, baru melihatmu saja aku rasanya sudah ingin mendekap. Padahal sebagai lelaki normal pasti tak akan kuat jika melihat wanita sexy menggoda setiap harinya. Tapi nggak tau kenapa, aku sama sekali tak tertarik. Beda denganmu sayang, masih tertutup kerudung syar'i dan gamis saja aku sudah tak kuat melihatnya. Kalo aku belum belajar agama seperti sekarang ini, mungkin kemarin kamu sudah aku culik." Dimas tertawa sendiri jika mengingat hal itu.


"Ikh kakak sungguh meresahkan, bahkan aku nggak menyangka kak Dimas mampu melewati semua tanpa memiliki hubungan dengan yang lain. Pantas saja seperti burung keluar dari sangkar, Kakak sungguh liar!"


"Hahahah tapi kamu suka sayang, bahkan kamu menikmati. Tapi malam ini aku ingin menagih janji, Doble ya?" ucap Dimas dengan menaik turunkan alisnya.


"Kak, aku bisa nggak bisa jalan besok, bahkan ini saja masih sakit, rasanya masih ada yang mengganjal di bawah sana."


"Berarti kamu menolakku sayang?"


"Hah!"


Mana bisa menolak, dosaku pasti akan semakin bertambah. Suami memang paling menang kalo masalah seperti ini!


"Hhmm?" Dimas menunggu jawaban dari Sella dengan sabar.


"Nggak ada penolakan kok kak, aku akan menurutinya...." ucap Sella dengan lembut dengan Rina wajah yang sudah memerah.


Dimas tersenyum gemas melihat tingkah sang istri tanpa aba-aba dia segera menindih membuat Sella gelagapan sendiri.


"Kita akan melakukannya di sini sayang."

__ADS_1


Dimas menyatukan kembali bibir ranum yang menggoda setiap saat sampai Sella serasa tak berdaya. Memberi sentuhan lembut membangkitkan gairah dengan gigitan kecil menggoda hasrat.


"Aku mencintaimu sayang," lirih Dimas di sela-sela kegiatannya. Memadu kasih dibalut gelora yang membuat tubuh semakin panas.


Sella mengalungkan tangannya di leher Dimas, serangan Dimas membuatnya mulai melawan. Tak ada sekat apa lagi tangan pria itu mulai mendekap, bergerilya di punggung Indah yang hanya tertutup baju tidur satin jelas membuat terbuai.


Sofa panjang menjadi sarana berperang malam ini dan ntah dimana lagi mereka tak perduli. Bahkan di tengah-tengah hujaman Dimas yang lincah membuat keduanya berguling di karpet tebal tanpa ingin melepas penyatuan.


Bertukar peluh setiap malam menjadi kegiatan baru untuk mereka, ruangan yang di rancang sesejuk mungkin kini sudah berganti hawa panas karena aktivitas semakin ganas.


Dimas benar-benar tak memberi jeda, Sella yang sudah bergetar hebat kembali di hujan dengan tongkat ya begitu gagah. Bergerak mengimbangi Dimas hingga suara decapan di bawah sana begitu indah mengiringi permainan kedua insan yang sedang di mabuk kepayang.


"Kak nggak ingin pindah tempat, lama-lama nggak nyaman di sini kak," rengek Sella di tengah-tengah pacuan yang ia kendalikan.


"Mau dimana sayang, katakan?" Dimas yang terus menyorot istrinya dengan pandangan memuja. Setiap inci tubuh Sella seperti magnet sendiri bagi dirinya.


"Terserah kakak, tapi jangan di sini kak. Bahkan karpetnya sudah basah, aku nggak betah."


"Iya sayang...."


Kembali mengatur posisi dan memberi peluang untuk Sella kembali mengekspresikan gerakannya yang sudah siap membuat Dimas melenguh dengan semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu semakin pintar sayang," kata-kata memuja terus terlontar dari bibir Dimas, hembusan nafas keduanya semakin memburu hingga dada naik turun. Sampai tiga jam mereka bergulat penuh kasih. Hingga berujung di ranjang yang kini sudah berantakan.


"Aku mau sampai sayang, bergeraklah lawan aku baby..."


Semakin meraih puncak, semakin panas. Dimas beralih profesi menjadi guru privat plus-plus untuk Sella, menjadikan sang istri mulai pandai mengimbangi. Bahkan yang tadinya cupu berubah jadi suhu.


Bagaimana tak menginginkan lagi dan lagi jika sang istri berubah menjadi begitu aktif dan semakin mengigit. Semburan yang Dimas layangkan membuat sensasi tersendiri untuk Sella hingga memenuhi tubuhnya.


Keduanya terkapar di atas ranjang, saling memberi kecupan sayang di penghujung sentuhan. Dimas mengambil tisu basah untuk membersihkan sisa-sisa cairan di bagian-bagian inti Sella. Membiarkan Sella terlelap tanpa ingin mengganggu nya.

__ADS_1


Setelah bersih Dimas menarik selimut dan ikut menyusul sang istri di mimpi indah yang telah menanti.


Keesokkan harinya, suara dering ponsel Dimas mengganggu sepasang pasutri yang tengah terlelap di balik selimut dengan saling berpelukan. Tangannya menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas tanpa melihat siapa gerangan sang penelepon.


"Wooooowwww......abis berapa ronde jam segini masih meluk bini." Dimas yang masih setengah sadar segera membuka mata karena suara Doni yang cukup keras. Dimas rasanya ingin mengumpat ketika dia sadar ternyata Doni melakukan Vidio call.


"Loe ganggu dech!"


"Loe yang nggak tau waktu, berasa loe masih pagi padahal matahari udah ngeliatin loe dari tadi. Gue rasa loe nggak inget subuhan."


"Astaghfirullah, nggak mungkin lah, gue baru tidur abis subuh!"


"Parah loe, abis berapa jam loe semalem? kasian bini loe diajak mandi pagi buta mulu!"


Dimas agak menepi, dia tidak ingin Sella terganggu. "Berisik dech loe! kasian bini gue capek. Ada apa loe telpon, emang udah ada kabar?"


"Udah gue share lokasinya, loe bisa buka pesan dari gue. Tapi jangan kaget dan loe harus bisa buat bini loe tenang."


"Ada apa sebenarnya?"


"Nanti loe tau kalo udah sampai sana, siapin aja tisu di dalem tas bini loe!"


"Setengah-setengah loe kalo ngasih informasi, ya udah gue mau siap-siap dulu, makasih ya. Gue kayaknya nambah nich cutinya, udah lama nggak di layani bini, jadi nggak pengen jauh."


"Ngapa? udah ada yang bikin merem melek ya sekarang?"


"Hahahhahah......tuh loe tau, ya udah kerja sana! gue mau lanjut dulu."


Tut


Dimas menarik dalam nafasnya, ntah apa yang ia rasakan tapi cukup yakin jika kabar Rika tak baik-baik saja. Dia mengkhawatirkan sang istri, ada rasa takut jika sang istri tak terima dengan keadaan Rika sekarang. Apa lagi saat Dimas membuka lokasi yang telah di kirim oleh Doni.

__ADS_1


cup


"Apapun yang kamu lihat nanti, aku harap kamu terima dengan ikhlas ya sayang. Semua sudah takdir dari yang maha pencipta."


__ADS_2