
Selle cemberut di balik selimut, Dimas benar-benar membantainya habis-habisan, tak ada jeda dan tak ada ampun untuknya. Beberapa Minggu tak bertemu seperti boomerang bagi Sella, balasannya tak kira-kira.
Entah berguru dimana hingga begitu menguasai Medan perang, padahal Sella sudah di lumpuhkan sejak ronde kedua tapi yang katanya dobel berakhir triple. Lagi....lagi.....lagi....dan lagi buat encok dan badan nyeri.
Dimas keluar dari kamar mandi dengan wajah senang sumringah, mendapati Sella yang masih di balik selimut hanya dengan memperlihatkan wajah kesalnya malah membuat Dimas tertawa gemas.
"Keluar sayang, apa aku kurang memuaskan hingga kamu masih anteng dan ingin nambah porsi lagi?"
"Apa sich kak! aku bahkan mau mengajukan puasa untukmu minimal tiga hari, badan aku seperti di lindas tronton kak, remuk seperti tulangku menepi satu persatu."
"Sampai segitunya aku? tapi kamu tadi bilang terus kak terus kak sedikit lagi aku_" Sella bangun dan membekap mulut Dimas yang sengaja mengulang kata-kata yang spontan terlontar.
"Ngeselin!"
"Kamu mau menggodaku lagi?" Dimas menatap Sella yang berdiri di atas ranjang dengan wajah cemberut.
Sella berkacak pinggang tanpa sadar posisi, yang membuat jakun Dimas naik turun. "Menggoda apa? kenapa juga liat akunya begitu?"
"Coba kamu liat cermin, posisi kamu yang mana nggak menggodaku sayang?"
Sella melihat dirinya di cermin, wajahnya memerah menahan malu sedangkan kakinya langsung terduduk menarik kembali selimut.
"Gimana? mau lagi?"
"Kakak....ngeselin ikh, aku mau pulang! dan kita segera balik ke Jakarta nggak usah pake acara pisah-pisah lagi. Kamu bagai drakula yang kehausan. Lihat badan aku nich, nggak ada celah sedikitpun. Aku lebih baik memberi jatah tiap hari dari pada di rapel begini!" keluh Sella merasakan badannya yang tak karuan.
"Ya udah ayo bersiap, aku mau pesan makan dulu, tenaga mu habis dan perut lapar kan? mau jalan sendiri ke kamar mandi atau aku gendong?"
"Dimandiin juga aku mau, lemes bikin mager.." rengek Sella yang sudah tak malu-malu lagi bermanja dengan suami.
"Siap ibu ratu, ayo..." Dimas menggendong Sella dan menurunkannya di bathtub, memandikan dengan sayang walaupun sesekali tangannya iseng meraba.
"Yang bener Kak, jangan buat ulah aku capek!"
"Kamu buat aku ingin terus tapi mau di lanjut kasian sudah tak sanggup, nanti mau beli apa sayang? sebagai imbalan buat badan kamu lemas begini."
"Cuma mau tidur dan nggak mau di ganggu, tapi berlibur juga bagus buat bikin otakku terhibur."
__ADS_1
Dimas kembali membawa Sella duduk di pinggir ranjang, mengambil baju Sella yang tadi sempat di pesan. "Ini sayang pakai dulu."
Sella segera memakai baju, tak perduli ada Dimas, malas melangkah membuatnya memilih terdiam di tempat walaupun sedikit menggoda Dimas yang sejak tadi menatap.
"Kamu mau berlibur?"
"Hhmmm jalan-jalan aja muter-muter kota sambil kulineran, ajak kembar juga boleh?"
"Oke tapi pagi-pagi kita sudah harus balik ke Jakarta ya sayang." Dimas mengeringkan rambut Sella dengan telaten kemudian menyisirnya penuh sabar.
Keluar dari hotel dengan bergandengan penuh mesra hingga membuat iri siapa saja yang melihat. Tersenyum bahagia dan lanjut menuju rumah untuk mengajak buah hati jalan-jalan.
"Ayah......" seru kedua putrinya yang berlari dari dalam rumah saat mendengar mobil ayahnya masuk ke halaman.
"Anak-anak ayah," Dimas menggendong Naira dan Kaira dengan kedua tangannya.
"Hhhmmm anak ayah makan apa ini, lumayan nich ayah sampai nggak kuat. Aduh bunda tolong ayah bunda..." Naira dan Kaira tertawa saat melihat ayahnya yang berpura-pura keberatan.
"Bunda angkat tangan dech, badan bunda masih pegel." Sella segera masuk meninggalkan Dimas yang menggendong kedua putrinya.
"Naira ikut!"
"Kaira juga ikut ayah!"
"Oke, kita solat dulu terus jalan-jalan." Dimas menurunkan kedua putrinya. " Ayo sayang ajak bundanya...."
Mereka masuk kerumah dan di lanjut sholat magrib berjamaah, bibi dan Ayu pun ikut dengan Dimas yang menjadi imam.
"Bi, besok Sella dan anak-anak akan ikut ayahnya kembali ke Jakarta, Sella makasih banyak ya selama ini bibi sudah mengurus Sella dan anak-anak. Makasih juga ya Ayu, udah sayang sama mbak, bantu mbak sampe sekarang. Yang rajin kuliahnya ya, nanti kalo main ke Jakarta jangan lupa kabarin mbak."
"Iya nduk, bahagia ya di sana, nanti kalo bibi sama ayu ke sana pasti ngabarin."
"Iya mbak, hati-hati di sana dan jaga kembar ya, Ayu pasti rindu banget," sahut ayu dengan wajah sendu.
"Nanti kita reunian ya Yu, mudah-mudah sich pas pernikahan kamu nanti."
"Mbak ki opo to, masih lama mbak belum keliatan hilalnya. Lulus dulu baru nikah, nanti mbak orang pertama yang aku kabari!"
__ADS_1
"Sayang...."
"Bunda, ayo kata ayah mau jalan-jalan," rengek Naira yang sudah rapi dengan jaket dan kerudungnya.
"Anak-anak bunda udah rapi, ya udah sebentar ya bunda ambil kerudung dulu. Ayu mau ikut nggak? Mbak pengen kulineran."
"Nggak akh, abis belajar mau Vidio callan sama mas pacar," ucap ayu yang langsung mendapat tatapan tajam dari ibunya.
"Wong kuliah sing bener bukan pacaran aja. Malah bikin keblinger kamu nanti!"
Sella dan Dimas tertawa melihat ayu yang malah di ceramahi oleh bibi sampai masuk ke kamar dan belajar.
"Sayang, aku dan anak-anak tunggu di mobil ya."
"Iya kak." Sella segera masuk ke dalam kamar dan memakai kerudungnya. Setelah selesai segera masuk mobil, mereka berwisata malam menuju alun-alun dengan membeli jajanan di pinggir jalan.
Tawa canda membuat mereka bahagia, senyum pun tak luntur dari wajah mereka. Hingga hampir larut malam mereka sampai di rumah. Setelah memindahkan kedua putrinya ke dalam kamar, Dimas menyusul Sella yang sudah berganti pakaian.
"Udah ngantuk sayang?" tanya Dimas yang sudah ikut merebahkan badannya di samping Sella.
"Lumayan kak," jawab Sella kemudian masuk ke dalam pelukan Dimas dan saling memberi kehangatan.
Kota Jogja malam ini lumayan dingin membuat Sella semakin merapat hingga menempel tak berjarak.
"Kenapa hhmm?"
"Dingin kak, sinian lagi!" rengek Sella.
"Ini udah nempel loh sayang. Aku sampai sesak menahan gerakan yang bawah begitu mendesak."
"Mesumnya besok lagi kak! aku cuma butuh kehangatan bukan belaian. Dan jangan mencari kesempatan aku malam ini mau istirahat," Sella benar-benar tak ingin di jamah, Dimas yang seperti tak makan sebulan sangat meresahkan jika di biarkan. Kalo bisa libur tiga malam itu sudah sangat membantu memulihkan.
"Iya sayang, ya udah tidur, nggak usah di hiraukan yang ada di bawah sana, anggap saja dia juga hanya butuh kehangatan."
Sella akhirnya tidur di dalam pelukan Dimas yang sedang mengatur nafas agar lebih tenang dan damai dalam tidurnya.
"Bismillahirrahmanirrahim...tidur ya, tidur. Si betina lagi mode galak, jadi harap maklum dan paham keadaan oke!"
__ADS_1