Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Merelakan.....


__ADS_3

BRUGHH


Sella terjatuh di atas tubuh Dimas, matanya menatap mata sendu Dimas yang telah terbuka. Ada rasa tak tega melihat kondisi Dimas yang berantakan seperti ini, dia tau hati Dimas pasti sakit saat ini, tetapi kenapa harus berakhir dengan bermabuk-mabukan.


Nyatanya semua yang ia lakukan tak membuat masalah selesai dan hati menjadi tenang. Andai Dimas berpikir jernih, dia bisa datang ke masjid dan merenungi setiap masalah yang ia hadapi di hidupnya. Walaupun belum terselesaikan tetapi hati akan terasa lebih tenang.


Sadar akan posisinya dengan cepat Sella berusaha untuk beranjak dari tubuh pria itu, tetapi tangan Dimas dengan kuat menahan pinggang Sella hingga membuat gadis itu tak bisa bergerak.


"Kak........" Mata Dimas masih terpejam tanpa berucap. Sella terus berusaha untuk menyadarkan Dimas dengan sesekali menepuk pipinya. Tetapi tak kunjung berbicara.


"Kak lepasin aku jang......"


Belum selesai Sella berucap dengan gerakan cepat Dimas membalikkan tubuh Sella dan menindihnya.


"Kak, kakak mau apa?" tanya Sella dengan sorot mata ketakutan, jantungnya sudah berdebar kencang, dia sangat takut Dimas kalut dan bertindak di luar dugaan.


"Tetap disini aku mohon, aku butuh kamu dek!"


"Jangan gini kak, aku nggak mau mereka salah paham, biarkan aku keluar dari kamar ini kak!" ucap Sella dengan terus meronta.


"Nggak akan, aku butuh kamu, hati aku sakit Sell, tolong temani aku menghadapi semuanya!" lirih Dimas dengan tatapan sendu.


"Tapi nggak begini caranya Kak, udah hampir pagi sekarang lebih baik kakak tidur, tubuh kakak juga masih lemas," Sella memberontak untuk keluar dari kukungan Dimas, tetapi ntah kekuatan dari mana Dimas terus menekan tubuh Sella dan membungkam bibir Sella, Dimas mel.umat menyesap hingga membelit dengan gairah yang membara membuat nafas Sella tersengal, tetapi belum sempat Sella memberontak Dimas sudah kembali memberi serangan hingga Sella menyerah, tangan Dimas mulai menarik jaket Tio yang masih menempel di tubuh gadis itu kemudian membuangnya ke sembarang arah.


Merasa nggak aman Sella kembali mengumpulkan sisa tenaganya untuk memberontak. Tangannya memukul dada Dimas dengan kaki yang sejak tadi menendang ke udara.

__ADS_1


"Lepas kak!" seru Sella sudah tak peduli akan ada yang mendengar. Yang ia pikir sekarang bagaimana bisa keluar dari kamar itu dan terlepas dari Dimas.


Dimas menarik seragam SMA yang masih Sella kenakan hingga beberapa kancing baju itu terlepas dan berjatuhan di lantai. Mereka memang sudah pernah bertukar peluh tetapi saat itu posisi Dimas sangat sadar, tidak seperti saat ini, bahkan Dimas seperti sosok yang tidak Sella kenal.


Kabut gairah di mata Dimas begitu tajam terlihat membuat nyali Sella semakin hilang, serangan yang kasar membuat Sella meringis kesakitan.


"Kak jangan gini kak!" cegah Sella dengan tangan menutupi dadanya karena Dimas yang sudah berhasil membuka seragam Sella. Melihat itu Dimas segera meraih tangan Sella dan ia angkat kedua tangan gadis itu ke atas kepala dengan satu tangan mengunci kedua tangan Sella.


Tanpa menunggu lama Dimas segera menghujani tubuh Sella dengan kecupan hingga hisapan yang mampu meninggalkan jejak kepemilikan yang memenuhi seluruh tubuhnya.


Sella sudah tak mampu memberontak, ntah setan mana yang membuat Dimas bertindak di luar batas. Bibir Sella segera di bungkam saat gadis itu ingin menjerit meminta pertolongan.


Dengan tangan satu Dimas berusaha membuka seluruh baju miliknya hingga mempertontonkan tubuh gagah dengan roti sobek yang terpampang. Dan pedang yang telah berdiri menantang membuat Sella semakin ketakutan, dengan gerak cepat Dimas menarik kain segitiga milik Sella.


Air mata Sella mengalir saat merasakan tubuhnya seperti terbelah menjadi dua, cairan kental mengalir seiring hujaman yang Dimas berikan hingga Sella pasrah akan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Pelan-pelan kak sakit..." lirih Sella di tengah tangisnya.


Ntah sadar atau tidak Dimas tanpa ampun menghujam inti Sella hingga berulang kali erangan itu lolos dari bibir mungil yang sejak tadi menahan sakit. Sella akui, sakit itu lambat laun hilang tetapi tak ingin larut dengan kenikmatan karena gadis itu sadar akan ada banyak masalah kedepannya yang telah menanti dan dia harus mampu melewati.


Tak cukup sekali Dimas melakukan itu pada Sella padahal waktu sudah menjelang subuh, hingga tubuh gadis itu rasanya sudah remuk tak bertulang.


Begini akhirnya, keperawananku jatuh di tanganmu kak, aku mencintaimu tapi tak pernah terlintas di benakku akan seperti ini jadinya, aku bahkan sudah merelakanmu agar hidup bahagia dengan kakakku. Tapi kalo sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan, haruskah aku kembali bertahan untuk meminta pertanggung jawabanmu, sementara hubungan kalian masih tak berujung. Atau aku harus benar-benar pergi menjauh agar tak semakin membuat keruh.


Sudah tiga kali Dimas mengulang permainan yang sama, bahkan cairan cin.ta itu sudah memenuhi rahim Sella. Hingga hentakan yang semakin kuat pertanda ada sesuatu yang akan menyusul ingin keluar, Sella semakin mengeratkan cengkramannya pada sprei yang sudah tak beraturan.

__ADS_1


"Aaaakkkkkkkhhhhhh...." desa.han panjang keluar dari mulut keduanya, hingga tubuh Dimas terjatuh di pelukan Sella.


Hati Sella semakin sakit saat dia tau Dimas segera memejamkan matanya dan tertidur. Sadar atau tidak Dimas tadi, Sella harus tetap pergi dari sini sebelum orang-orang akan menemukan mereka berdua.


Sella menggeser tubuh Dimas, tubuh polosnya berusaha turun dari ranjang dan melangkah perlahan. Rasa sakit yang luar biasa memenuhi bagian intinya yang membuat air mata itu kembali mengalir, apa lagi di saat matanya tak sengaja melihat darah segar di sprei yang menjadi saksi pergulatan mereka berdua.


"Jahat kamu kak!"


Kaki Sella melangkah perlahan mengambil baju seragam yang berserakan di lantai, kemudian memakainya kembali, jaket Tio pun ia pakai untuk menutupi tubuhnya karena seragam Sella sudah tak bisa di kaitkan lagi kancingnya.


Kejadian yang tak akan Sella lupakan seumur hidupnya, harapan Sella saat ini hanya satu, jangan sampai benih yang sudah Dimas tabur akan berbuah suatu hari nanti.


Karena Sella tidak ingin mengikat Dimas dengan itu, seandainya memang berjodoh dia ingin semua berjalan sebagai mana mestinya.


Setelah membersihkan muka Sella segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju pintu luar, matanya sempat melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi, kemudian melihat Dimas yang masih polos membuat Sella memejamkan matanya, Sella menarik selimut untuk menutupi tubuh Dimas dan segera keluar dari kamar.


Sebelum benar-benar keluar dari kamar, Sella berusaha menguatkan hati dan menarik nafas sedalam-dalamnya. Tangannya mulai terulur membuka handle pintu kamar Dimas.


Matanya melebar saat melihat siapa orang yang sudah berdiri di luar kamar.


...****************...


Makasih yang udah like dan dukung karya aku🙏🙏🙏


tetap di tunggu like dan comentnya....

__ADS_1


karena otakku mulai panas memikirkan nasib Sella dan Dimas 😮‍💨😮‍💨


__ADS_2