
Pencarian Sella belum usai, sudah seminggu Dimas mencari Sella tak kunjung menemukan titik terang. Bahkan Dimas sudah mendatangi sekolah, tetapi pihak sekolah pun tak ada yang tau tentang keberadaan Sella, hanya satu kesempatan dan harapan Dimas pada saat hari kelulusan. Dia yakin Sella akan datang, mengambil surat dan ijazahnya ke sekolah.
Keputusan pengadilan sudah dia dapat dan hasil itu membuatnya berstatus duda. Hatinya lega, satu masalah tuntas, tinggal dia fokus mencari keberadaan Sella setiap ia pulang kerja.
"Tanda tangan Dim!" Doni sudah duduk di depan meja kerja Dimas, dia iba menatap Dimas yang semakin berantakan, bahkan jika di lihat mukanya sekarang begitu tampak kacau.
"Hmm...."
"Jangan terlalu di pikirkan, jodoh nggak akan kemana!"
" Gue tau, tapi nggak bisa juga kalo nggak usaha Don!" Dimas menarik nafas dalam, satu Minggu ini terasa sangat berat baginya.
"Bentar lagi jam makan siang, loe mau makan apa?"
"Gue nggak pengen makan, gue mau kerumah Tio, siapa tau kali ini di rumahnya ada orang, gue yakin dia tau kemana Sella."
Doni membuang nafas kasar, selama seminggu ini kerjaannya bertambah, selain ikut mencari Sella, dia juga bertugas membujuk Dimas makan. Walaupun berujung di tolak, mungkin jika yang di hadapinya anak kecil dia lebih baik menggendongnya kemudian menyuapi dari pada harus capek ucapan tapi tak ada balasan.
Dimas sudah sampai di depan rumah Tio, berungkali Dimas menekan bel rumah Tio hingga kemudian seorang pelayan datang membukakan pintu.
"Permisi ..."
"Eh iya den, mau cari siapa ya?"
"Saya mau cari Tio, Tio nya ada Bu?"
"Oh panggil bibi aja, den Tio nya ada di kamar sebentar den saya panggilkan dulu den Tio nya." Bibi dengan sedikit menunduk akhirnya naik ke atas untuk memberitahu Tio, sebelumnya bibi telah mempersilahkan Dimas untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Den...."
tok
tok
tok
"Eugh....."
"Den ada tamu di luar," seru bibi dari balik pintu.
"Iya Bi...." jawab Tio seraya mengucek matanya, dia baru saja tidur dini hari hingga membuatnya siang ini masih tertidur pulas.
Tio bangun dan membuka pintu kamar, "Kenapa Bi?
"Ada tamu yang mencari den Tio di bawah," jawab bibi dengan sopan. Beliau yang selama ini merawat dan mengurus Tio sejak kecil.
"Siapa bi?"
"Bibi nggak kenal den, baru bibi liat hari ini, bibi pikir mencari tuan dan nyonya, eh ternyata mencari Aden."
"Suruh tunggu dulu ya Bi dan buatkan minum, jika dia bertanya apapun tentang Sella jangan di jawab ya Bi," pesan Tio kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Baik den!"
Bibi keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir teh di nampan. Kemudian meletakkannya di atas meja.
"Silahkan di minum dulu den, mungkin den Tio nya sedang mandi dulu."
"Baik bi, terima kasih."
Lima belas menit Dimas menunggu Tio, dia bersabar demi mendapatkan informasi tentang Sella.
"Tumben kesini kak, ada apa?" tanya Tio yang sudah duduk di sofa seberang dimas.
"Aku ingin menanyakan tentang Sella, apa kamu tau dimana Sella?"
Tio sudah menebak tujuan Dimas datang, hanya ingin menanyakan Sella. Hatinya miris melihat penampilan Dimas saat ini, rahangnya yang mulai di tumbuhi rambut yang mulai lebat, serta rambutnya pun yang mulai panjang, dan jangan lupakan badannya yang sedikit kurus dari biasanya. Sangat menyedihkan bagi Tio.
"Maaf kak, tapi aku nggak tau Sella dimana," jawab Tio berdusta.
"Aku tau kamu pasti tau dimana Sella saat ini berada, aku minta tolong katakan dimana dia, sudah seminggu ini aku mencarinya. Dan saat ini aku sudah tidak tau harus mencarinya kemana lagi."
Tio sebenarnya tak tega setelah melihat Dimas yang seperti ini, tapi janjinya pada Sella yang tidak akan memberitahu siapapun tak dapat ia abaikan.
"Sekali lagi aku minta maaf kak, aku tidak tau dimana Sella dan aku juga sama seperti kakak sedang mencari dimana dia berada."
Dimas tak lantas percaya begitu saja, tetapi dia pun tak ingin memaksa, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pamit setelah di rasa tak ada hasil.
"Baiklah Tio aku permisi dulu, jika kamu tau dimana Sella, tolong kasih tau aku, aku sangat mengkhawatirkannya." Dimas berkata dengan tulus, ya memang dia sangat mengkhawatirkan Sella dan juga sangat merindukan gadis itu.
"Baik kak!"
Setelah Dimas pergi, Tio segera kembali ke kamar. Beberapa panggilan dari Sella tertera di layar ponselnya saat ini, hingga kemudian panggilan itu berdering lagi.
"Halo Sell."
"Tio loe katanya mau kesini?"
"Iya gue baru bangun, itu juga karna ada orang yang nyari loe kerumah," jawab Tio.
"Siapa?"
"Kak Dimas!"
deg
Satu nama yang masih memenuhi hatinya, air mata itu lolos setiap nama itu kembali terlintas, apa lagi jelas Tio yang mengatakan jika Dimas mencarinya.
"Sell..."
"Eh iya Tio," jawab Sella, menahan Isak tangisnya.
"Gue emang nggak dukung loe sama dia, tapi gue juga nggak tega liat keadaannya sekarang. Kalo emang loe mau pergi, sebaiknya loe pamit sama dia, jangan pergi gitu aja Sell, kasian anak orang. Biar dia ada kepastian dan bisa melanjutkan kehidupannya seperti sedia kala, seminggu ini dia selalu nyariin loe!"
__ADS_1
"Gue nggak sanggup kalo harus ketemu dia Tio, gue takut goyah, gue udah ikhlasin dia sama siapapun itu."
"Gue tau loe Sell, itu cuma di mulut loe doang, hati loe masih ada dia, tapi kalo ini udah keputusan loe gue juga nggak bisa maksa. Mendingan kawin Ama gue aja yuk, ntar ikut gue Inggris."
"Tio, loe jangan bikin gue sedih dech, loe mau pergi sekolah disana aja gue udah sedih banget. Kenapa pake di ingetin terus sich!"
"Setiap enam bulan sekali gue pasti datang Sell dan gue juga pastiin loe aman disini, gue udah minta bibi buat jagain loe!"
"Bener ya, loe emang sahabat gue yang paling-paling dech, gue bersyukur punya loe Tio, jadi bulan depan loe berangkat ke sana?"
"Jadi lah, tapi sebelumnya gue beresin loe dulu, biar gue tenang nanti belajar di sana. Tunggu sampe Abang pulang ya neng!"
Sella tertawa mendengar ucapan Tio, Tio memang bisa mengubah suasana hatinya, dalam sekejap Sella bisa menangis dan tertawa.
"Eh telponan udah lama banget loh, kapan loe kesini nya coba?" tanya Sella yang saat ini sedang menyajikan masakannya di meja makan.
"Bahkan gue udah nyium aroma masakan loe!"
Mendengar itu Sella segera berlari ke pintu dan benar saja Tio sedang membuka sepatunya di sana.
"Dasar loe! gue kira masih di rumah, tau gitu gue matiin tadi. Dijalan kok sambil telponan!"
"Ngoceh mulu loe, udah Mateng kan? laper nich gue!" Tio segera berjalan menuju meja makan dan duduk sambil mengambil ayam goreng yang sudah tersedia di meja.
"Enak, isi kulkas udah pada abis ya?"
"Tinggal dikit, udah sich nggak apa-apa, gue bisa belanja online."
"Nggak usah, nanti biar bibi aja yang belanjain!"
"Nggak enak gue sama loe, udah numpang masih di cukupi semuanya lagi." Sella menyendok kan nasi beserta lauk di piring Tio.
"Nggak enak kasih kucing!"
"Ck, ini makan!" Sella menyodorkan piring yang berisi nasi dan sayur pada Tio.
"Motor gue udah laku?"
"Udah, nanti gue transfer uangnya." Tio makan begitu lahapnya membuat Sella tersenyum.
"Loe nggak makan?"
"Nanti aja, belum pengen!"
Tio menatap wajah sendu Sella, dia tau Sella masih sering menangis.
"Kenapa nggak pengen makan? loe mau gue bawain kak Dimas kesini? biar loe ada yang nyuapin?"
"Apaan sich Tio, nggak usah mulai dech! kapan gue pergi?"
"Setelah ngambil ijazah!"
__ADS_1
"Tapi gue nggak mau datang ke sekolah, Kak Dimas pasti udah tau. Gimana kalo dia datang ke sana juga?"