
Pagi ini Sella bangun lebih pagi dari biasanya, setelah bergelut dengan segala pemikiran dan perasaan yang diiringi air mata, kini ia memutuskan untuk kuat mengikhlaskan. Berusaha semampu mungkin untuk bangkit dari keterpurukan, melepas rasa yang selama ini salah singgah.
Mungkin memang ia tak seharusnya hadir di antara keduanya, sadar akan status yang jelas nyata, bukan malah berjalan melawan arah. Terlalu memaksa akan keadaan yang malah justru begitu menyakitkan.
Banyak yang bilang cinta pertama tak akan bertahan, tetapi memang benar adanya, cinta pertama yang harusnya berkesan indah justru berujung kecewa.
"Loh Sell, kok kamu udah rapi pagi-pagi begini?" mamah Dimas melirik meja makan yang sudah lengkap dengan sarapan serta kopi dan minuman yang tertata rapi.
"Kamu bangun jam berapa tadi, kenapa udah siap semua begini Sell?" tanya Mamah lagi.
"Aku mau berangkat lebih awal Tante, ada tugas yang belum selesai semalam," jawab Sella kemudian mengambil tas serta beberapa buku yang ia sudah siapkan di atas meja makan.
"Kamu udah sarapan?"
"Udah Tante, Sella berangkat dulu ya Tan," ucap Sella, gadis itu berpamitan dan mencium tangan dengan tergesa-gesa membuat mamah Dimas mengernyitkan dahinya merasa heran.
Setelah pamit Sella segera berangkat melajukan motornya menuju sekolah, jalanan pagi ini masih begitu lengang dengan udara pagi yang begitu menusuk hingga membuat tubuh Sella sedikit menggigil.
Tok
tok
tok
Mamah masuk setelah berulang kali mengetuk pintu kamar tanpa ada jawaban pemiliknya.
"Dimas, bangun nak sudah siang!" Mamah berjalan menuju pintu balkon lalu membuka tirai yang menutupi hingga mentari langsung menusuk mata yang kini sudah mulai terbuka.
"Mamah nich!" kesal Dimas yang masih sangat mengantuk karena semalam tidak bisa tidur hingga pagi menjelang dia baru terlelap.
"Bangun! nanti kamu kesiangan loh!"
"Iya mah," Dimas segera melesat masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri, Dimas keluar dengan handuk yang melilit di pinggang, matanya melirik baju kerja yang sudah tertata rapi di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Tumben jam segini udah siapin baju, biasanya baru masuk kamar sambil ngoceh-ngoceh," senyum Dimas mengembang ketika membayangkan Sella yang setiap pagi menyiapkan baju kantornya dengan mulut mengomel.
Dimas keluar dari kamar untuk berkumpul dan sarapan dengan yang lain, pria itu menelisik isi cangkir ya sudah dingin dan ini membuatnya mengedarkan pandangan mencari sosok Sella yang sejak tadi belum terlihat.
"Kenapa Dim?" tanya sang mamah yang menangkap kegelisahan putranya.
"Sella mana mah?"
"Sella udah berangkat sejak tadi nak!" jawab mamah dengan wajah sendu.
"Loh kok tumben mah?" Dimas nampak terkejut dan juga heran lalu dia melirik arlojinya.
"Tadi Sella bilang ada tugas yang belum selesai di kerjakan katanya, mungkin mau nyari buku dulu buat referensi mengerjakan tugas," jawab mamah.
Sudah berhari-hari setelah kejadian malam itu Sella nampak terus menghindari Dimas, hal itu membuat Dimas sempat uring-uringan. Tidak ada kontak mata di antara keduanya apa lagi kontak fisik.
Selalu ada cara untuk Sella menghindar, sesekali bertemu tetapi dengan kondisi tidak memungkinkan untuk intens dalam berinteraksi, disapa menjawab, tetapi di diamkan dia akan semakin bungkam.
Dimas sempat berpikir apa mungkin Sella tau tentang pembicaraannya dengan sang papah tempo hari yang membuat gadis itu mundur alon-alon, padahal niatnya memang Dimas yang ingin mengakhiri tetapi malah dirinya yang di buat kesal sendiri.
Hati memang sudah bertaut tapi takdir seakan tak ingin bertemu, lancar sudah rencana Sella untuk memberi jarak aman tetapi tetap menjalankan kewajiban. Setiap hari Sella menyiapkan makanan dan mengurus segala keperluan Dimas serta rumah tanpa ada yang terlewat. Sella tidak ingin karena sikapnya yang menjauh berdampak hubungannya dengan Rika menjadi kisruh.
"Aku ingin bicara sama kamu Rika," ucap Dimas saat Rika yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah beberapa jam lalu tiba di rumah.
"Ada apa mas, sepertinya penting!"
Dimas menatap dalam istri yang sudah dua tahun dia nikahi, membuang ego demi kebaikan rumah tangganya, tak ada lagi getaran saat tatapan keduanya terkunci, tetapi lebih terasa janggal ketika mata Rika yang tampak bergerak gelisah.
"Aku ingin memperbaiki rumah tangga kita!"
"Kan memang baik-baik saja mas, apa yang harus di perbaiki lagi, apa kamu buat masalah?"
"Aku ingin kamu berhenti bekerja dan mengurus aku, serta memberikan aku anak, aku ingin layaknya pernikahan pada umumnya," tegas Dimas dan itu membuat Rika seketika membuang muka.
"Aku nggak mau! aku wanita karir mas, bukan ibu rumah tangga yang bisanya hanya mengurus suami di rumah dan mengandalkan segala apa yang di berikan suami. Ok, mas bisa memberikan aku apapun yang aku mau, mencukupi hidup aku tanpa kekurangan, tapi aku juga punya dunia ku sendiri mas. Lagian kenapa harus bahas ini sich mas?"
__ADS_1
"Memang seperti itu kodratnya seorang istri Rika, menjalani tugasnya bukan menelantarkan suaminya!"
"Aku nggak pernah menelantarkan kamu ya mas!" nada bicara Rika sudah mulai meninggi, dia tidak suka Dimas mencampuri terlalu dalam hidupnya dan dia tidak ingin kebebasannya yang selama ini dia dapat akan terganggu.
"Lalu kapan kamu pernah mengurusi aku? menyiapkan makan untuk aku? menyiapkan pakaian kerja aku? membuatkan kopi untuk aku? kapan?"
"Walaupun bukan dengan tangan aku sendiri tetapi aku nggak pernah lalai akan itu ya mas, kebutuhan kamu selalu aku nomor satu kan meskipun aku menyuruh Sella yang melakukan. Jadi nggak ada alasan kamu nggak di urusin sama aku!"
"Selalu Sella yang kamu andalkan, selalu Sella yang kamu libatkan, sebenarnya yang istri aku itu kamu atau Sella?" bentak Dimas.
Kekacauan di kamar pasutri tersebut mampu menembus telinga kedua orangtuanya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, kegaduhan dikamar tersebut juga tidak luput dari pendengaran Sella yang hanya diam duduk di atas ranjang.
"Dari awal aku udah bilang, aku nggak mau ribet sama semua urusan rumah dan kamu setuju akan itu, lagi pula selama ini memang Sella yang mengerjakan, anggap aja karena numpang hidup sama aku."
"Jaga bicara kamu Rika!"
"Apa yang harus di jaga? memang benar kenyataanya dan aku nggak mau ya mas selalu ribut masalah ini, kalo kamu terima aku apa adanya ya ini aku. Atau kamu masih kurang atas pelayanan Sella? hingga membuat kamu marah kayak gini? Aku yang akan bicara sama dia agar lebih baik lagi dalam mengurus suami aku!"
Dimas menggelengkan kepala mendengar segala macam ocehan Rika, dia sudah seperti tidak mengenal Rika dengan baik.
"Oke semua Sella, lalu kalo aku minta anak apakah juga harus dengan Sella?" bentak Dimas karena otaknya serasa ingin pecah menghadapi Rika.
"Jangan macem-macem ya kamu mas!" teriak Rika "Aku udah pernah bilang, aku nggak mau punya anak, aku nggak mau badan aku rusak, aku nggak mau terkekang terus di rumah! terserah kamu mau terima atau nggak, yang jelas tekad aku udah bulat!"
"Keterlaluan kamu Rika! kamu bukan Rika yang aku kenal, lalu gunanya aku bertahan selama ini untuk apa? kamu nggak lebih hanya berperan sebagai partner ranjang!"
"Terserah kamu mau anggep aku apa, yang jelas aku nggak bisa nurutin semua kemauan kamu, kamu bisa ambil anak dari panti atau yang lainnya tetapi jangan minta dari rahim aku!"
"Oke kalo itu mau kamu, jangan salahkan aku jika aku menghamili wanita lain!" Dimas segera meraih jaket serta kunci mobil.
deg
"Mas jangan bertingkah di luar batas kamu ya!"
"Kamu yang membuat aku seperti ini!"
__ADS_1
Rika berusaha sekuat tenaga menarik tubuh Dimas agar tidak pergi, tetapi dengan kasar Dimas menepis tangan Rika hingga Rika terjatuh di lantai.
"Aku meminta dengan cara baik-baik, tetapi kamu mematahkan semua harapan aku, jangan salahkan aku jika aku mencari sesuatu yang nggak pernah kamu berikan!"