
"Sella..."
Sella menoleh saat namanya di panggil, cukup terkejut dengan orang yang telah duduk di sampingnya. Apa lagi dengan perut yang sudah membesar.
"Iya, periksa juga?"
"Iya, kamu udah berapa Minggu?" tanyanya setelah melirik perut Sella.
"Baru Lima Minggu, masih muda. Kesini sama siapa?" tanya Sella yang tidak melihat siapa-siapa di dekatnya.
"Aku sendiri, kamu sama suami?" tanyanya lagi.
"Iya, kebetulan lagi nebus obat." mereka saling menatap, cukup berbeda penampilan wanita di depannya ini. Hampir sama seperti dirinya yang mulai tertutup.
Senyum tipis tercetak jelas di wajahnya tetapi ada duka di kedua mata yang terlihat jelas.
"Kebetulan bertemu, aku mau minta maaf atas kesalahan suamiku dulu. Semoga kamu mau memaafkan, agar dia tenang di sisinya."
Sella tertegun mendengarnya, suami? tenang di sisinya? berarti sudah meninggal.....
"Reno?"
"Iya, saat kehamilanku yang menginjak dua bulan dia meninggal karena penyakit yang ia derita. Mungkin ini azab atau ganjaran akan perbuatan, tapi aku takut jika berimbas dengan anak kami."
"Maksudnya? Reno sakit....."
"Iya, Reno terkena penyakit HIV, bodohnya aku yang tak mengira sebelumya. Dan aku berharap akupun bisa selamat dari penyakit itu, setidaknya anakku tidak terkena." Ceri dengan wajah sendu menundukkan kepala.
"Mudah-mudahan kalian di lindungi Allah, maaf juga jika dulu Reno dan kak Rika_"
"Ya, Kaka Rika. Bahkan setelah aku menikah pun mereka masih bermain gila. Cinta yang membodohkanku hingga masih mau menerima. Sampai berapa tahun yang lalu ternyata dia sudah tertular penyakit itu. Tapi Reno menutupinya dari ku."
"Aku turut prihatin, semoga ke depannya kamu bisa melewati dengan baik. Berarti ini anak ke dua?"
Ceri menggelengkan kepala, sedikit meneteskan air mata tetapi tetap tersenyum. "Sebenarnya ini anak ke tiga, tetapi menjadi yang ke dua karena aku sempat keguguran karena Reno yang tidak bisa berlaku lembut denganku."
"Astaghfirullah..." Sella menutup mulutnya, tak menyangka jika kehidupan ceri lebih buruk dari pengalaman yang ia lalui dulu.
"Dia tidak pernah mencintaiku, selalu ada nama kamu di hatinya bahkan setiap dia menjamahku. Aku nggak marah karena memang aku mungkin yang tak sadar sejak dulu. Terlalu menginginkan dia sampai diam saat godaan itu datang."
"Aku minta maaf, aku nggak tau jika itu berefek hingga ke rumah tangga kalian, padahal sejak dulu aku tak pernah ada hati padanya."
"Kamu nggak salah, hati orang tak ada yang tau. Aku cukup tenang bisa bertukar cerita dan meminta maaf, semoga keluarga kalian selalu dalam perlindungan."
Kini keduanya tersenyum tak menyangka akan bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda.
"Sayang..." Dimas datang dengan kantong obat ditangannya, sempat melirik sekilas siapa gerangan yang sejak tadi mengobrol oleh istrinya. Tetapi serasa tak enak kemudian menunggu dan sempat memberi waktu.
"Kak, sudah?"
__ADS_1
"Sudah, mau langsung pulang?"
"Iya sebentar," Sella menoleh kembali ke arah Cika. "Cika maaf ya, aku pulang lebih dulu. Suamiku sudah selesai, semoga kamu sehat selalu dan anak yang ada di dalam janin kamu sehat dan selamat sampai bisa melihat dunia.
"Iya Sella, makasih atas doanya. Semoga kamu pun selalu di limpahkan kebahagiaan."
"Ayo kak."
Dimas merangkul pundak Sella dan beranjak dari sana, ceri melihat keduanya dengan senyum getir. Hidup yang dia pilih terlalu rumit, tapi cukup ikhlas hingga kuat bertahan sampai sekarang.
Fokus menunggu giliran, sampai namanya di panggil untuk menebus obat. Tak fokus dengan jalan membuat dirinya tak sengaja menabrak seseorang yang juga baru datang bersama seorang paruh baya yang di duga adalah mamahnya.
Perut yang membesar membuatnya oleng, beruntung tangan pria itu segera meraih pinggulnya. Matanya membola saat melihat siapa gerangan orang yang berada di depannya.
"Tio."
"Ceri!"
"Sorry," Tio membantu ceri untuk berdiri dengan benar, suatu kebetulan yang ntah termasuk sekenario Tuhan atau tidak hingga bertemu dengan Ceri yang dulu merupakan gadis cantik yang tertutup karena fokusnya hanya pada satu orang pria, yaitu Reno.
"Maaf Tio..." Ceri sedikit menundukkan kepala.
Tio melirik perut Ceri kemudian fokus kembali pada wanita di depannya.
"Hhmm ...."
Sedikit menunduk kemudian segera maju ke loket pembayaran obat.
"Iya, dia temanku SMA dulu mah." Tio menatap punggung Ceri kemudian duduk di kursi tunggu.
"Kasian ke rumah sakit sendiri, suaminya benar-benar tidak pengertian!"
"Biarin aja mah, kenapa jadi membahasnya!" celetuk Tio yang sempat melihat Ceri yang melangkah menuju ruang rawat.
Sepanjang perjalanan Sella hanya diam, membuat Dimas yang berada di sampingnya memperhatikan.
"Kenapa sayang? apa ada yang di keluhkan?" tanya Dimas dengan mengusap kepala Sella yang tertutup kerudung navy.
"Kasian Ceri kak, dia menjadi janda ketika anaknya masih di dalam kandungan. Pasti berat banget melaluinya sendiri. Sepertiku dulu, bedanya dia di tinggal mati suaminya. Itu pasti sangat menyakitkan."
"Teman sekolah?"
"Iya, istrinya Reno."
Mendengar itu Dimas sempat menoleh sekilas, kemudian kembali fokus ke jalan.
"Reno..."
"Iya, mantanku sekaligus selingkuhan kak Rika. Dia meminta maaf padaku atas perilaku suaminya. Tapi yang lebih membuatku terkejut, ternyata setelah mereka menikah Reno masih berhubungan dengan kak Rika. Dan dia dengan cintanya bisa menerima. Sampai Reno meninggal karena penyakit yang sama dengan yang kak Rika alami."
__ADS_1
"Mereka tertular karena Rika yang memang sering berganti teman ranjang."
"Mungkin ia kak, aku cukup khawatir dengan kondisi Ceri dan anak yang ada dalam kandungannya. Semoga mereka tak terkena dampak. Karena mereka nggak salah kak, bahkan Ceri sudah berubah. Dia menjadi sosok wanita kalem dan sepertinya penyabar.
"Ceri tak tau jika Reno mengidap penyakit itu, tapi semoga ada keajaiban dari Allah."
"Aamiin....."
"Jangan terlalu di pikirkan sayang, cukup di doakan. Karena sekarang sudah ada Dimas junior di sini, jadi bunda nggak boleh banyak-banyak pikiran ya."
Sella menatap Dimas penuh cinta, rasa syukur begitu besar ia ucapkan. Memiliki suami yang penyayang dan insyaallah jodoh dunia dan akhirat.
"Makasih sudah menjadi suami idaman, Sella sayang sama kakak."
Sella mencium pipi Dimas, mendapat ciuman hangat dari sang istri membuat hati Dimas berbunga-bunga.
"Eh kok mendadak ngebut?"
"Biar cepat sampai rumah, masih siang kembar pasti udah bobo siang."
"Memang mau apa?" Sella menatap waspada pada suaminya.
"Olahraga di siang hari pasti lebih syahdu, lebih banyak keluar keringatnya di jamin makin sehat." Dimas tersenyum dengan wajah mesum.
"Sungguh meresahkan jiwa dan raga, menolak pun dosa. Tapi sepertinya dedeknya mendukung."
"Jadi...."
"Jadi, gas lah......"
Mendengar itu membuat Dimas semakin semangat, sepertinya kehamilan Sella memberikan hormon positif untuknya yang sangat ingin dimanjakan.
Tanpa pikir panjang sesampainya di teras rumah yang tampak sepi, Dimas turun dan segera membuka pintu mobil untuk Sella. Tanpa menunggu Sella turun, dia segera mengangkat tubuh Sella dan membawanya masuk ke dalam.
"Kakak aku bisa jalan sendiri, tidak enak nanti kalo ada yang melihat!"
"Diam sayang nanti jatuh!"
Benar saja saat mereka masuk rumah, papah baru saja turun dari tangga setelah memastikan kedua cucunya yang tertidur pulas.
"Dimas itu Sella kenapa?"
"Nggak apa-apa Pah, kembar tidur kan Pah?" tanyanya sambil terus melangkah sedangkan Sella sudah menyembunyikan wajahnya di dada dimas.
"Baru tidur, jangan aneh-aneh Dimas!"
" Cuma mau nengokin cucu papah sebentar!" seru Dimas yang sudah di undakan tangga atas.
"Dasar anak itu!" sang Papah menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang tak jauh beda dengan dirinya dulu.
__ADS_1
"Like Daddy like son....."
"Mamah."